... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Invasi AS di Afghanistan: Mengakhiri Jauh Lebih Sulit dari Memulainya

KIBLAT.NET – Pekan lalu, Presiden AS Barrack Obama menutup rapat-rapat harapan mayoritas rakyat AS yang menginginkan penarikan pasukan AS dari Afghanistan. Obama memutuskan untuk tetap mempertahankan sejumlah 9.800 tentara AS di Afghanistan di sisa masa jabatannya, jumlah yang akan berkurang menjadi 5.500 pasukan pada tahun 2017.

Untuk Afghanistan, Obama tidak mau mengambil risiko dengan menerapkan skenario yang sama dengan di Iraq; mengandalkan polisi dan militer lokal untuk melawan mujahidin yang berujung pada kekalahan telak milisi didikan AS di negara-negara tersebut. Di Iraq, hampir setiap hari AS dihadapkan dengan berbagai masalah yang disebabkan oleh kekalahan pasukan keamanan Iraq yang dilatih AS. Akhirnya, AS terpaksa untuk mengirim pasukan Amerika tambahan dan pesawat tempur untuk memerangi militan Islamic State (IS).

Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Obama menegaskan bahwa ia tidak kecewa terhadap keputusannya tersebut, dan malah mengatakan dia benar-benar yakin bahwa ia membuat langkah yang tepat.

“Sebagai Commander in Chief, Saya percaya misi ini sangat penting untuk kepentingan keamanan nasional kita dalam mencegah serangan teroris terhadap warga negara kita dan bangsa kita,” kata Obama.

Keputusan Obama ini didasarkan pada situasi keamanan di Afghanistan yang semakin memburuk. Akhir bulan lalu, Taliban merebut wilayah Kunduz, sebuah wilayah penting di Afghanistan utara. Meskipun pasukan pemerintah Afghanistan mampu merebut Kunduz kembali, pertempuran di Kunduz tersebut banyak menunjukkan kelemahan pasukan keamanan Afghanistan, meskipun telah dilatih oleh AS dan menerima bantuan miliaran dolar.

BACA JUGA  Mengenal Ulama Bersama KH. Hasyim Asy’ari

Senator John McCain, Ketua Komite Angkatan Bersenjata di Senat AS, memuji keputusan Obama untuk memperpanjang misi militer. Tapi ia juga mengatakan bahwa ia khawatir jumlah pasukan tersebut tidak akan cukup.

“Intinya adalah bahwa 5.500 tentara hanya akan cukup untuk melakukan salah satu dari operasi kontra-terorisme atau misi pelatihan dan bimbingan, tetapi tidak untuk melakukan keduanya secara bersamaan,” kata McCain.

“Komandan militer kami telah mengatakan bahwa keduanya penting untuk mencegah Afghanistan masuk ke dalam kekacauan yang berlarut-larut,” tudingnya

Setali tiga uang, dalam konferensi pers di Pentagon, Menteri pertahanan AS, Ashton Carter mengatakan bahwa keputusan presiden justru menunjukkan upaya militer AS untuk “menyelesaikan apa yang sudah dimulai.”

“Apa pun yang diperlukan untuk melindungi negara kita dan memastikan bahwa Afghanistan tidak lagi menjadi panggung terorisme, saya yakin kami akan mengambil tindakan yang tepat,” kata Carter. “Saya yakin bahwa presiden berikutnya akan melakukan hal yang sama saat menghadapi situasi ini.”

Di Afghanistan, meskipun pemerintahan Afghanistan masih mengontrol pusat-pusat kota-kota penting, tetapi bagian pedesaan-pedesaan dikendalikan oleh Taliban dan kelompok-kelompok pejuang lainnya, termasuk jaringan Haqqani dan beberapa milisi yang telah menyatakan kesetiaan kepada IS. Kelompok-kelompok pejuang ini memiliki kontrol dan leluasa bergerak di daerah-daerah pedesaan.

Pekan lalu, Obama mengakui kemajuan Taliban dan kelemahan pasukan tempur pemerintah Afghanistan, meskipun telah menghabiskan USD 60 miliar dan pelatihan lebih dari satu dekade. Kini, dia mengingkari janjinya untuk membawa pasukan AS pulang ke tanah airnya.

BACA JUGA  Terkait Kepulangan WNI Eks Wuhan, Menko PMK: Masyarakat Tidak Perlu Khawatir

“Seperti yang sangat kalian tahu, saya sangat tidak setuju dengan gagasan perang tanpa ujung,” kata Obama, terdengar sedikit membela diri, ketika ia membuat pengumuman minggu lalu.

Saat dia harus meninggalkan Gedung Putih pada bulan Januari 2017 nanti, Obama akan mewariskan kepada penggantinya dua perang di mana pasukan AS masih berkubang di dalamnya. Hal ini mungkin tidak ia perkirakan delapan tahun yang lalu ketika ia berjanji untuk mengakhiriperang di Irak dan Afghanistan, yang ia warisi dari presiden AS sebelumnya, George W. Bush.

Presiden AS, komandan militer yang konon memiliki kekuatan paling ampuh di dunia, dengan jangkauan global dan kapasitas destruktif yang tak tertandingi, dapat memulai perang di mana saja dan kapan saja. Namun para calon Presiden AS berikutnya harus belajar satu hal: mengakhiri perang jauh lebih sulit daripada memulainya.
Sumber: latimes.com, theglobeandmail.com
Penulis: Multazim Jamil

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Artikel

Perbedaan Antara Ahlussunnah dan Ahlul Bathil

KIBLAT.NET – Sungguh kebenaran dan kebathilan memiliki sisi perbedaan yang sangat jelas, dan mudah untuk...

Selasa, 27/10/2015 14:23 0

Indonesia

Keputusannya Diserang, Bima Arya: Mereka Tak Paham Latar Belakang dan Konteksnya

KIBLAT.NET, Bogor – Wali Kota Bogor Bima Arya menegaskan ia mendapat serangan bertubi-tubi dari sebagian kecil golongan lantaran...

Selasa, 27/10/2015 13:23 0

Suriah

Dalam 24 Jam Rusia Bombardir 94 Posisi Pejuang Suriah

KIBLAT.NET, Damaskus – Jet tempur Rusia membombardir 94 posisi pejuang Suriah dalam rentang waktu 24 jam....

Selasa, 27/10/2015 11:13 0

Wilayah Lain

Sudan: Kami Bergabung Koalisi Teluk Karena Kewajiban Regional

KIBLAT.NET, Khurtum – Pemerintah Sudan menegaskan bahwa negaranya bergabung dengan operasi koalisi negara-negara Arab, Ashifatul...

Selasa, 27/10/2015 10:35 0

Prancis

Prancis Gelar Pertemuan Bahas Krisis Suriah

KIBLAT.NET, Paris – Prancis akan menggelar pertemuan untuk membicarakan masalah Suriah. Pertemuan yang akan diadakan...

Selasa, 27/10/2015 10:10 0

Suriah

PBB: Agresi Rusia Sebabkan 120 Ribu Pengungsi Baru

KIBLAT.NET, Aleppo – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan agresi Rusia selama tiga pekan terakhir di Suriah...

Selasa, 27/10/2015 09:37 0

Suriah

Rusia Mengaku Jalin Komunikasi dengan FSA

KIBLAT.NET, Moskow – Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Mikhail Bogdanov, Senin (26/10), mengaku terus menjalin...

Selasa, 27/10/2015 08:52 0

Video Kajian

[Video] Kiblat Mimbar : Potret Ulama Oleh : Ust. Abu Rusydan

KIBLAT.NET – Saat ini ada kegelisahan diantara aktifis muda, bahwa sekarang banyak ulama yang menjadi selebriti...

Selasa, 27/10/2015 07:00 0

Arab Saudi

Mahkamah Saudi Tegaskan Vonis Mati terhadap Pemuka Agama Syiah

KIBLAT.NET, Arab Saudi – Mahkamah Agung Arab Saudi menetapkan hukuman mati terhadap pemuka agama Syiah di...

Selasa, 27/10/2015 06:41 0

Artikel

Sama-sama Wafat Terbunuh, Kenapa Husein Diratapi Namun Ali Tidak?

KIBLAT.NET – Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah SAW ini meninggal tepat hari...

Senin, 26/10/2015 17:00 0

Close