... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Revolusi Mental, Mampukah Wujudkan Perubahan Hakiki?

KIBLAT.NET – Belakangan ini, pemerintah tengah sibuk menggencarkan program revolusi mental. Anggaran yang dikucurkan untuk program ini sebesar Rp140 miliar, dialokasikan untuk pembuatan iklan, film, dan dialog publik, untuk memberikan ruang para tokoh agama agar lebih banyak membicarakan perubahan perilaku yang mengarah ke positif.

Program ini akan berjalan lintas sektor di bawah Kementerian Agama, Kementerian Sosial, dan Kementerian Pendidikan, yang dipimpin oleh Puan Maharani. Sesmenko PMK Sugihartatmo dalam jumpa pers di Kantor Kemenko PMK, Kamis (27/8/2015), mengatakan revolusi mental diterjemahkan Kemenko PMK sebagai upaya mengubah cara pandang, pola pikir, sikap-sikap, nilai-nilai, dan perilaku bangsa Indonesia. Selain itu juga untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian.

Menurutnya, penggunaan instrumen website hanya salah satu dari sejumlah program Gerakan Nasional Revolusi Mental. Program-program yang lain meliputi sosialisasi dan komunikasi publik, koordinasi pusat dengan daerah, kesekretariatan dan operasional. Gerakan revolusi mental adalah gerakan nasional yang memiliki tiga nilai. Ketiga nilai tersebut adalah integritas, etos kerja, dan semangat gotong royong. Sebagai pedoman bagi masyarakat terkait gerakan revolusi mental, telah disusun Buku Landasan Filosofis dan Buku Panduan Umum Revolusi Mental (www.news.detik.com).

Slogan revolusi mental yang kini tengah didengungkan memang seolah indah dan efektif bagi perubahan pola fikir dan pola sikap seluruh elemen masyarakat negeri ini agar terjadi perubahan menjadi lebih baik. Tapi bisakah hal ini terjadi?, Padahal negeri ini masih menganut dan mengacu interaksi sosial di dalam masyarakatnya, serta nilai sosial budayanya, seperti kebanyakan bangsa di dunia (termasuk bangsa barat), yang minim bahkan kosong muatan nilai ruhiyah, dan lebih mengedepankan logika materialisme serta memisahkan antara agama dengan kehidupan (ini sering disebut paham sekulerisme).

Implikasi yang bisa dirasakan namun jarang disadari adalah, munculnya degradasi moral yang dialami masyarakat negeri ini. Banyak kasus buruk yang mencuat di permukaan yang dimuat beberapa media massa serta cukup meresahkan semua pihak, sekaligus menunjukkan kegagalan pemerintah dalam pembinaan pola fikir dan pola sikap generasi negeri ini.

Indonesia diketahui sebagai negara pada urutan ketujuh dunia, sebagai negara pengakses situs-situs porno. Lebih jauh lagi, ternyata sebagai pengakses situs porno di Indonesia dari kalangan pelajar. Prosentase terbesar diduduki oleh pelajar SMA sejumlah 38% diikuti oleh mahasiswa sebesar 33,6% dan ternyata dari kalangan siswa SMP juga menjadi pengakses situs porno17,3% sisanya sebesar 11% ditempati oleh masyarakat non pelajar. Kasus lainnya yang tampak sebagai indikator degradasi moral, adalah tawuran yang sering dilakukan di kalangan pelajar, juga merambah di kalangan mahasiswa. Padahal idealnya, semakin tinggi jenjang pendidikan yang dilalui oleh generasi negeri ini, semestinya mengedepankan etika dan logika-rasional akademisi, tidak seharusnya terbawa emosi sehingga berujung pada tawuran.

Beberapa contoh diatas, hanyalah sedikit dari beberapa efek negatif pola interaksi serta sosial dan budaya yang diadopsi negeri ini. Meskipun pemerintah sudah melakukan berbagai cara untuk mengubah pola fikir dan sikap masyarakat negeri ini agar menjadi lebih baik lagi dalam segala aspek, termasuk membuat lembaga pengawasan dan peraturan tertentu, seperti menutup situs porno, perizinan tertentu bagi tempat tempat hiburan malam, sosialisasi bahaya miras dan narkoba serta hukuman bagi pelaku juga pengedarnya, razia miras dan narkoba serta PSK, perlindungan terhadap kekerasan dan pelecehan seks pada anak serta wanita melalui pengawasan oleh lembaga tertentu dan pembuatan undang-undang mengenai hal ini, termasuk gebrakan dibidang pendidikan dengan melakukan perubahan kurikulum bahkan dimasukan juga didalamnya pelajaran budi pekerti, pendidikan karakter, dll. Tapi semua itu ternyata tidak mampu menghentikan degradasi moral yang semakin memprihatinkan, serta penurunan pola fikir dan sikap masyarakat negeri ini.

BACA JUGA  Gara-gara Algoritma

Ini tentu membuat tanda tanya besar, mengapa berbagai upaya yang sudah dilakukan bertahun-tahun, bahkan selama negeri ini merdeka, tidak juga membuahkan hasil ke arah yang lebih baik?. Hal ini terjadi karena negeri ini belum lepas dari kungkungan jeratan sekulerisme yang berdasarkan kerangka berpikir ideologi kapitalisme yang dianut negeri ini dalam segala aspek kehidupan. Padahal sudah banyak diketahui dan dikupas habis kelemahan dan keburukan ideologi kapitalisme sebagai buah tangan manusia. Arus berfikir dan bersikap berdasarkan sekulerisme dan kapitalisme, akan membuahkan pola fikir dan sikap yang materialisme (mengukur segala sesuatu dengan materi semata), dan liberalisme (kebebasan dalam perilaku, berfikir, dan dalam segala aspek kehidupan). Sehingga semua itu akan memunculkan sikap dan gaya hidup hura-hura, konsumeristik, rakus, boros, cinta mode, pergaulan bebas, individualistik, kebebasan yang salah arah dan lepas kendali, tampilan sebagai generasi permisif, dan lainnya.

Jika menghasilkan output yang bisa menyebabkan kerusakan masal ditengah masyarakat dalam pola fikir dan pola sikap, masihkan kita sebagai kaum muslimin berharap bahkan mengadopsi sekulerisme dan kapitalisme? Terlebih itu semua menanggalkan prinsip yang berasal dari Islam. Dari sinilah problem sosial kemasyarakatan muncul dan maraknya kerusakan di berbagai tatanan kehidupan, termasuk dalam pola fikir dan pola sikap masyarakat. Memang benar, jika segala urusan dunia solusinya diserahkan pada hasil pemikiran manusia tanpa melibatkan hukum-hukum Allah didalamnya, maka tentu solusi tersebut tidak bisa menuntaskan masalah secara total. Sehingga yang terjadi adalah fenomena tambal sulam ataupun gali lubang, tutup lubang atas masalah yang ada. Maka dari itu jika ingin menjadikan seluruh elemen di negeri ini memiliki pola fikir dan pola sikap yang baik dan benar, maka haruslah menggalinya dari Islam.

Islam diturunkan Allah SWT melalui Rasulullah Muhammad SAW tidak sekadar melakukan perbaikan moral/mental/akhlaq. Namun lebih jauh lagi, turunnya Islam menjadi penyempurna dari semua agama yang ada, dan memuat semua tata aturan kehidupan secara paripurna. Islam menjelaskan aturan mulai dari masuk kamar mandi hingga urusan politik dan negara. Demikian pula, Islam menjelaskan secara total bagaimana kaidah hukum, sosial, budaya, pendidikan, dll sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist. Jadi sangat disayangkan, jika kaum muslimin berpaling dari Islam, dan malah meniru total hal-hal diluar Islam, termasuk dari Barat, hanya karena silau dengan kemajuannya yang semu. Ini semua sebagaimana firman Allah SWT : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, Maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS.Al-Ahzab : 36).

Sepanjang sejarah dunia, Islam telah terbukti sukses dan mampu membangun generasi terbaik (dalam pola fikir dan pola sikap), dengan peradaban manusia yang khas, bahkan menjadi pencerah serta penerang hampir seluruh dunia dari masa-masa kegelapan dan kejayaannya kurang lebih 13 abad lamanya. Faktor paling menentukan atas kegemilangan Islam dalam membangun peradaban dunia adalah keimanan ,keilmuan, dan kepribadiannya. Tidak ada pemisahan ataupun dikotomi atas semua faktor tersebut dalam sistem sosial budaya, termasuk sistem pendidikan yang diterapkan. Sehingga generasi yang dihasilkan juga tidak diragukan dalam kehandalannya/pola fikirnya, termasuk pola sikapnya hingga kini. Kita mengenal dan mengetahui tokoh Ibnu Sina sebagai sosok yang dikenal peletak dasar ilmu kedokteran dunia, namun beliau juga faqih ad-diin terutama dalam hal ushul fiqh. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh dunia dengan perannya yang penting dan hingga kini masih menjadi acuan berfikir serta perkembangan sains dan teknologi, sekaligus memiliki sikap islami.

BACA JUGA  Kasus Ratna Sarumpaet Tak Dapat Diperluas, Pelaporan Prabowo dkk Dipertanyakan

Itulah keberhasilan Islam dalam mempersiapkan masyarakat berkepribadian Islam, dimana tsaqofah Islam berupa Aqidah, pemikiran, dan perilaku Islami benar-benar tertancap dan teraplikasi kedalam akal dan jiwa masyarakat, sehingga mampu menghasilkan orang ‘alim dan faqih di setiap aspek kehidupan, baik ilmu diniyah (Ijtihad, Fiqh, Peradilan, dll) maupun ilmu terapan dari sains dan teknologi (kimia, fisika, kedokteran, dll). Maka output yang didapatkannya pun mampu menjawab setiap perubahan dan tantangan zaman dengan berbekal ilmu yang berimbang, baik diniyah maupun madiyah-nya, disertai sikap yang mencerminkan akhlaq terpuji.

Hal semua itu bisa terlaksana karena ditopang dengan pilar yang akan menjaga keberlangsungannya, dan bekerja secara sinergis, baik di keluarga, masyarakat dan negara. Masyarakat yang dibangun dengan pilar Islam tidak berhenti dan terbatas hanya mendapat pendidikan formal (sekolah), namun justru pendidikan generasi Islami yang bersifat non formal di tengah keluarga dan masyarakat harus beratmosfer Islam pula. Beberapa peran yang bisa dimainkan masyarakat sebagai pilar penopang membentuk generasi kepribadian Islami, yaitu sebagai kontrol penyelenggaraan sistem oleh negara dan laboratorium permasalahan kehidupan. Dimana negara sebagai pilar penopang bisa mewujudkan sistem Islam yang lebih optimal, efektif dan sempurna, jika semua aspek kehidupan berlandaskan syari’at Islam.

Pembangunan dan pembentukan masyarakat Islam berkualitas sebagaimana para sahabat, tabi’in, tabi’in-tabi’it dan ulama-ulama kenamaan merupakan bukti keberhasilan penerapan sistem masyarakat islam dalam bentuk Daulah Khilafah Islamiyyah. Karena masyarakat Islam dinilai berkualitas, apabila terbentuk pola pikir dan pola sikap berlandaskan pada aqidah dan syariat Islam yang kuat, sehingga mampu mengintegrasikan keimanan dan perilaku pada dirinya. Masyarakat Islam yang menerapkan Islam kaffah sudah ada semenjak Rasulullah SAW hidup, dan beliaulah yang meletakkan pondasinya dengan banyak keteladanan yang bisa diambil. Disanalah didapati peradaban mulia seperti yang sudah tercatat dalam sejarah dunia, tentang kegemilangan peradaban Islam mengubah dunia dari kegelapan menuju pencerahan hakiki, sebagai umat terbaik melalui peradaban gemilang dan tak tertandingi dengan peradaban manapun.

Maka sudah saatnya kita semua kembali pada tatanan kehidupan yang didasarkan pada syariah Islam yang akan menyelamatkan dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Sebab, hanya Islamlah dengan serangkaian sistemnya yang merupakan satu-satunya solusi bagi seluruh problem dan persoalan hidup manusia, termasuk pembenahan masalah revolusi mental. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.

 

Ditulis oleh: Lina. H (Praktisi pendidikan, tinggal di Bandung)

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Rohah

Inilah Perilaku Arab Badui di Malam Hari

KIBLAT.NET – Beberapa orang shalih sedang bercengkerama dengan seorang Arab Badui. Salah satu dari mereka...

Ahad, 06/09/2015 06:14 0

Indonesia

Muslim Tolikara Bisa Shalat Idul Adha, Tapi GIdI Minta Syarat Ini

KIBLAT.NET, Jakarta – Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan pada siang ini, Sabtu, (05/09) mengadakan pertemuan...

Sabtu, 05/09/2015 20:34 3

Suriah

SNHR: Januari-Agustus 2015, Sebanyak 2.209 Bocah Suriah Terbunuh

KIBLAT.NET, Damaskus – Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SNHR) mengungkapkan bahwa dalam rentang Januari...

Sabtu, 05/09/2015 19:38 0

Analisis

5 Kegagalan Strategi AS Di Iraq: Kerja Sama dengan Iran (Bag. 3)

Baca artikel sebelumnya KIBLAT.NET – Sejak tahun 1990, AS telah terlibat dalam perang Iraq dalam...

Sabtu, 05/09/2015 19:00 0

Indonesia

Guru Agama: Metode Training Al-Kahfi Kosongkan Konsep Tuhan, Baru Ditanamkan Kembali

KIBLAT.NET, Jakarta – Guru Agama SMA Negeri 28 Jakarta, Mahfudin menilai konsep training motivasi Yayasan...

Sabtu, 05/09/2015 18:31 0

Foto

Begini Ekspresi Seniman Ungkapkan Kepedulian Mereka pada Pengungsi Suriah

KIBLAT.NET, Ankara – Meski konflik telah memasuki tahun kelima, nasib warga Suriah tak banyak mendapatkan...

Sabtu, 05/09/2015 18:05 0

Wilayah Lain

Kabinet Argentina: Pengungsi Suriah Akan Disambut Sebagai Bagian Tradisi

KIBLAT.NET, Buenos Aires – Pemerintah Argentina menyatakan kesediannya untuk menerima kedatangan pengungsi Suriah. Hal itu...

Sabtu, 05/09/2015 17:38 0

Inggris

Inggris Siap Tampung Ribuan Pengungsi Suriah

KIBLAT.NET, Lisbon – Inggris menyatakan kesediaannya untuk menampung ribuan pengungsi Suriah. Hal itu diungkapkan oleh...

Sabtu, 05/09/2015 17:18 0

Eropa

Swedia: Rezim Uzbek Dibalik Penembakan Imam Nazarov

KIBLAT.NET, Stromsund – Jaksa Swedia menegaskan terdapat sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa pihak berwenang Uzbekistan...

Sabtu, 05/09/2015 16:32 0

Palestina

Menteri Kebudayaan Zionis Minta Tentara Israel Tembak Wanita Palestina

KIBLAT.NET, Tel Aviv – Menteri Kebudayaan Israel, Miri Regev mengatakan tentara Israel harus menembak wanita...

Sabtu, 05/09/2015 15:59 0

Close