Tahlilan Disebut Ukuran Setia Pancasila, Komisi Hukum MUI: Saya NU, Saya Kecewa dengan Pernyataan Itu

KIBLAT.NET, Jakarta – Anggota Komisi Hukum dan Undang-undang MUI, Dr Abdul Choir Ramadhan mengaku kecewa dengan pernyataan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj bahwa tahlilan sebagai ukuran setia kepada pancasila.

“Saya orang NU, saya kecewa dengan pernyataan itu. Saya Nahdliyin, tidak benar bicara begitu” katanya saaat dihubungi kiblat.net, pada Kamis (03/09), Jakarta.

Menurut dia, tidak relevan Pancasila yang merupakan falsafah ideologi negara dikaitkan dengan tradisi satu kelompok keagamaan.

“Di mana sambungannya? Pancasila itu falsafah ideologi negara mengapa dikaitkan ke tahlilan? Dikaitkan ke tauhid mungkin iya, kalau tahlilan itu kan tradisi Nahdlatul Ulama,” kritik Abdul Choir.

Pernyataan tersebut, lanjut Abdul Choir, berbahaya. Alasannya karena, seolah-olah kalangan di luar NU, tidak setia pada pancasila. Pernyataan tersebut, menurutnya juga hanya menunjukkan kegalauan.

“Dia tidak pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya, dia bingung seolah-olah hanya orang tahlilan yang Pancasilais,” ujar anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Jakarta itu.

Sebenarnya, sambung Abdul Choir, pernyataan itu ingin menunjukkan bahwa orang-orang yang tidak sepemikiran dengan Said Aqil adalah intoleran. Pernyataan tersebut berpotensi menimbulkan disintegrasi masyarakat.

“Baik disadari atau tidak pernyataan dia memecah belah masyarakat,” ungkapnya.

Abdul Choir berpendapat, Pancasila merupakan idelisme bangsa yang tidak memandang masyarakat berdasarkan suku, agama, golongan, ras, dan pilihan politik. Semua warga negara diharuskan setia kepada Pancasila sebagai sumber hukum atau dasar negara.

BACA JUGA  Mahfud MD: Pendirian Front Persatuan Islam Tidak Dilarang

“Pancasila itu kan falsafah atau dasar negara, mana bisa dihubung-hubungkan dengan tradisi tahlilan. Tahlilan itu ada subjeknya yaitu Nahdliyin. Apa dia tidak membaca sejarah, bahwa yang membuat Pancasila bukan hanya yang tahlilan,” tandas Abdul Choir.

Seperti diketahui, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj terus mendengungkan Islam Nusantara. Dia menyebut dalam politik sosial Islam Nusantara mengerucut menjadi nilai-nilai Pancasila.

“Pancasila ini hakikatnya adalah intisari Islam Nusantara,” kata Kyai Said dalam Halaqoh Kebangsaan yang digelar di Gedung PBNU Jakarta, Rabu (26/08).

Dia menyebutkan bahwa sila pertama Pancasila merupakan perwujudan dari tahlil. Selain itu, sila keempat tercermin dalam tradisi tahlilan sehingga nilai Pancasila ada di dalam tradisi itu.

“Pokoknya yang tahlilan mantap sekali pancasilanya, kalau anti tahlilan kita ragukan Pancasila-nya,” ujarnya.

 

Reporter: Bilal
Editor: Fajar Shadiq

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat