... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

5 Kegagalan Strategi AS Di Iraq: Kerja Sama dengan Iran (Bag. 3)

Baca artikel sebelumnya

KIBLAT.NET – Sejak tahun 1990, AS telah terlibat dalam perang Iraq dalam berbagai macam bentuk dan skalanya. Bahkan bukan sekedar terlibat, Amerika merupakan pihak yang pertama kali menyulut api peperangan dengan melakukan invasi militer secara masif dan agresif, termasuk invasi militer tahun 1991 dan 2003 ketika Amerika menggelar pasukan dan mengerahkan kekuatan militernya dengan skala penuh.

Selama seperempat abad, Washington beberapa kali memaksakan perubahan pemerintahan di Baghdad, menghabiskan biaya trilyunan dolar, serta harus bertanggung jawab atas kematian ratusan ribu hingga jutaan rakyat Iraq.

Berbagai macam usaha dan kebijakan yang dilakukan oleh Amerika itu, satupun tidak ada yang bisa dikatakan berhasil menurut definisi apapun yang bisa diajukan oleh pemerintah AS.

Berikut ini adalah strategi ke-3 dari lima kemungkinan strategi yang bisa dilakukan oleh negara (Amerika) dengan satu jaminan: bahwa tidak ada satupun dari kemungkinan-kemungkinan strategi itu akan bisa berjalan:

3. Kerja Sama Dengan Iran
Keengganan di kalangan internal militer AS untuk mengerahkan pasukan darat ke Iraq menabrak kebijakan hipokrit para politisi yang gemar menabuh genderang perang di arena politik. Dan kini, bekerja sama lebih erat dengan Iran sudah menjadi langkah kebijakan yang terus meluas yang sudah diprediksi, akan mengalami kegagalan.

Langkah atau kebijakan tersebut terkait dengan siapa yang akan mengambil peran mengerahkan pasukan darat, bahwa jika tidak mungkin tentara Amerika karena alasan strategi “tanpa pasukan darat”, bagaimana dengan tentara Iran?

Kisah yang melatarbelakangi pola pendekatan ini cukup aneh, seaneh dan serumit hikayat tentang Timur Tengah yang bisa anda temukan.

Pada mulanya, rencana Washington adalah memanfaatkan negara-negara Arab, bukan Iran, untuk dijadikan proksi pasukan infanteri. Namun demikian, sambutan awal yang begitu gegap gempita 60 negara Arab anggota koalisi terbukti tidak lebih dari sekedar reaksi para oportunis untuk cari nama.

Kalaupun dibilang ada, hanya sedikit pesawat tempur negara-negara Arab itu yang masih mengudara. Sementara Amerika, sebagai pemimpin koalisi sudah banting tulang mengambil porsi kasarannya 85 persen dari keseluruhan misi dengan mengerahkan armada skuadronnya untuk berperang melawan ISIS, bersama sekutu Eropa Barat mereka yang mengisi sisa 15 persen peran secara signifikan.

BACA JUGA  Bertemu Perwakilan AS di Qatar, Taliban Ajukan Sejumlah Tuntutan

Sebagai rekan dan anggota koalisi, negara-negara Arab adalah dilema dan sulit dikendalikan. Jika Amerika menerapkan strategi ‘no-boots-on-the-ground’, maka Arab pun ingin cara yang sama, tidak mau dimanfaatkan Amerika dengan mengorbankan tentara mereka.

Ironisnya, saat Amerika mengerahkan lusinan jet-jet tempurnya, Arab juga tidak mau ketinggalan dengan ‘menerbangkan’ satu – dua pesawat mereka. Yordania bahkan membuat publikasi luas bahwa Raja Abdullah akan memiloti sendiri jet tempurnya, namun tidak ada laporan detil selanjutnya. Demikian juga, tidak ada pasukan darat negara-negara Arab yang kelihatan di lapangan, justru negara-negara kunci anggota koalisi kini secara terbuka bersikap acuh terhadap Washington atas kesepakatan nuklir dengan Iran.

Yang pasti bahwa Amerika sudah lama berada dalam suatu pola hubungan “perang dingin” dengan Iran sejak tahun 1979, yaitu pasca kejatuhan Syah Iran diikuti dengan pendudukan kedutaan AS di Teheran oleh para mahasiswa radikal. Pada tahun 1980an, AS membantu pemimpin Iraq Saddam Hussein saat perang melawan Iran.

Sementara itu, beberapa tahun pasca invasi AS ke Iraq tahun 2003, Iran secara efektif memberikan dukungan kepada para milisi Syiah Iraq melawan pasukan Amerika yang menduduki negeri itu. Komandan pasukan Quds Iran, Qassem Soleimani, yang saat ini menjadi pengarah upaya/misi negaranya di Iraq, pernah masuk dalam daftar pembunuhan dan paling dicari Amerika.

Saat kelompok Daulah (ISIS) mengalami kemajuan signifikan tahun 2014 dengan merebut kota Mosul dan sejumlah kota lainnya di Iraq bagian utara, Iran meningkatkan intensitas peran dengan mengirimkan para instruktur/pelatih militer, penasehat, senjata, bahkan pasukan reguler untuk mendukung milisi Syiah. Hal ini menyebabkan Baghdad menganggap Iran sebagai satu-satunya harapan. Pada mulanya AS menutup mata atas itu semua, bahkan ketika para milisi bentukan Teheran, atau bahkan milisi Iran sendiri, mendapat keuntungan secara langsung dari dukungan serangan udara Amerika.

Saat ini di Washington, ada pengakuan secara diam-diam yang terus berkembang bahwa bantuan Iran merupakan salah satu dari sedikit hal yang mungkin bisa mengalahkan ISIS tanpa harus menerjunkan pasukan darat AS. Satu hal kecil tetapi bisa menjelaskan adanya peningkatan intensitas di lapangan yang terus berulang. Sebagai contoh, saat terjadi pertempuran memperebutkan kembali kota Sunni di bagian utara, Tikrit, Amerika mengerahkan jet tempurnya untuk mendukung para pejuang milisi Syiah. Dalam kasus itu, Amerika berdalih atau berlindung di balik alasan bahwa mereka beroperasi di bawah koordinasi dengan pemerintah Iraq, bukan Iran.

BACA JUGA  Sebab Kelemahan Umat, Cinta Dunia dan Takut Mati

“Kami akan memberikan perlindungan udara bagi setiap pasukan yang beroperasi di bawah perintah dan kendali pemerintah Iraq,” kata seorang juru bicara Komando Pusat AS, penjelasan yang sama juga untuk memberikan pernyataan terkait rencana serangan berikutnya ke kota Ramadi. Hal ini memberi sinyal adanya perubahan yang signifikan sebagaimana komentar mantan pejabat Departemen Luar Negeri, Ramzy Mardini, “AS secara efektif telah mengubah posisinya, dengan menyadari bahwa milisi Syiah merupakan ‘penjahat’ yang kita butuhkan untuk memerangi ISIS.”

Pengertian tersebut bisa diperluas kepada pasukan darat Iran, di mana saat ini ada bukti bahwa mereka (pasukan darat Iran) sudah terlibat dalam pertempuran di luar kompleks kilang minyak strategis di Beiji.

Banyak hal bahkan akan menjadi lebih nyaman dalam hubungan antara AS dengan milisi Syiah dukungan Iran dari apa yang pernah kita fikirkan sebelumnya. Bloomberg melaporkan bahwa tentara-tentara Amerika dan beberapa kelompok milisi Syiah sudah menggunakan pangkalan militer Taqaddum. Di Taqaddum inilah Presiden Obama baru saja mengirim 450 personil militer tambahan.

Apa sisi buruknya? Bahwa mendukung Iran hanya akan menjadikan Amerika berada dalam posisi blunder yang disebabkan oleh semakin besarnya hegemoni Iran di kawasan regional tersebut. Apakah di Suriah, bisa jadi.

 

Penulis: Yasin Muslim
Sumber: Middle East Eye

 

Baca selengkapnya:

5 Kegagalan Strategi AS di Iraq: Pengiriman Instruktur Militer (Bag.1)

Kegagalan Strategi AS di Iraq: Menggelar Pasukan Darat (Bag. 2)

5 Kegagalan Strategi AS di Iraq: Kerjasama dengan Iran (Bag. 3)

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Guru Agama: Metode Training Al-Kahfi Kosongkan Konsep Tuhan, Baru Ditanamkan Kembali

KIBLAT.NET, Jakarta – Guru Agama SMA Negeri 28 Jakarta, Mahfudin menilai konsep training motivasi Yayasan...

Sabtu, 05/09/2015 18:31 0

Foto

Begini Ekspresi Seniman Ungkapkan Kepedulian Mereka pada Pengungsi Suriah

KIBLAT.NET, Ankara – Meski konflik telah memasuki tahun kelima, nasib warga Suriah tak banyak mendapatkan...

Sabtu, 05/09/2015 18:05 0

Wilayah Lain

Kabinet Argentina: Pengungsi Suriah Akan Disambut Sebagai Bagian Tradisi

KIBLAT.NET, Buenos Aires – Pemerintah Argentina menyatakan kesediannya untuk menerima kedatangan pengungsi Suriah. Hal itu...

Sabtu, 05/09/2015 17:38 0

Inggris

Inggris Siap Tampung Ribuan Pengungsi Suriah

KIBLAT.NET, Lisbon – Inggris menyatakan kesediaannya untuk menampung ribuan pengungsi Suriah. Hal itu diungkapkan oleh...

Sabtu, 05/09/2015 17:18 0

Eropa

Swedia: Rezim Uzbek Dibalik Penembakan Imam Nazarov

KIBLAT.NET, Stromsund – Jaksa Swedia menegaskan terdapat sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa pihak berwenang Uzbekistan...

Sabtu, 05/09/2015 16:32 0

Palestina

Menteri Kebudayaan Zionis Minta Tentara Israel Tembak Wanita Palestina

KIBLAT.NET, Tel Aviv – Menteri Kebudayaan Israel, Miri Regev mengatakan tentara Israel harus menembak wanita...

Sabtu, 05/09/2015 15:59 0

Afrika

Angola Jadi Negara Afrika Pertama yang Melarang Islam

KIBLAT.NET, – Angola menjadi negara di benua Afrika pertama yang melarang Islam dan umat Islam,...

Sabtu, 05/09/2015 14:56 1

Indonesia

Tahlilan Disebut Ukuran Setia Pancasila, Komisi Hukum MUI: Saya NU, Saya Kecewa dengan Pernyataan Itu

KIBLAT.NET, Jakarta – Anggota Komisi Hukum dan Undang-undang MUI, Dr Abdul Choir Ramadhan mengaku kecewa...

Sabtu, 05/09/2015 13:52 1

Profil

Biografi Dr. Aiman Az-Zawahiri (2): Rihlah ke Afghan Hingga Kasus Penahanan

KIBLAT.NET – Pada biografi Dr. Aiman Az-Zawahiri seri 1, diceritakan masa kecil dan silsilah keluarganya....

Sabtu, 05/09/2015 13:00 0

Mesir

Bom Meledak di Sinai, Empat Tentara AS Terluka

KIBLAT.NET, Sinai – Sedikitnya empat tentara Amerika Serikat luka-luka akibat ledakan ranjau di timur laut...

Jum'at, 04/09/2015 16:00 0

Close