Lisan Mujahid di Dunia Nyata Maupun di Alam Maya

KIBLAT.NET – Salah satu keberhasilan terbesar yang dicapai seorang hamba adalah ketika mampu menjaga lisannya. Lebih khusus, menahan lisan dari perkataan sia-sia dan dilarang oleh syariat. Selain itu, menjaga lisan merupakan salah satu pertanda lurusnya keimanan seseorang kepada Allah dan hari akhir. Bahkan, Imam Al-Ghazali menyebut bahwa salah satu penyebab seseorang masuk ke dalam Jannah Allah adalah karena lisan yang terjaga.

Telah termaktub jelas di dalam Al-Qur’an, makna dari menjaga lisan terdapat dalam surat Qaf ayat 18,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan makna dari kata {مَا يَلْفِظُ } adalah keturunan Adam, sedangkan { مِنْ قَوْلٍ } adalah apapun yang diucapkan, dan { إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ } kecuali pasti ada malaikat  yang senantiasa dekat dan tidak pernah lepas dari seorang hamba yang akan mencatatnya. Jadi, malaikat pasti akan mencatat perkataan apa saja yang keluar dari lisan anak Adam.

Menjaga lisan merupakan salah satu perkara besar dalam dinul Islam. Semua perkataan yang keluar dari lisan kita akan dimintai pertanggungjawaban. Apalagi Rasulullah SAW telah bersabda,

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Lisan adalah Kunci Keselamatan

Seseorang akan dianggap sebagai insan yang mulia dalam pandangan Allah dan manusia karena lisannya. Lisan yang tidak terkontrol dengan baik, akan merendahkan muru’ah bagi sang pengucap kata. Ketinggian ilmunya seolah tidak ada harganya jika lisan dibiarkan berkeliaran mengucap kata tanpa batas.

BACA JUGA  Habib Rizieq dan Menantunya Dipanggil Polisi Atas Tiga Tuduhan

lidahkita

Imam An-Nawawi mengatakan bahwa seseorang akan terjerumus ke dalam neraka jika tidak bisa mengontrol perkataan lisannya. Dalam artian, ketika berkata ia tidak paham perkataannya serta tidak berpikir dampak baik buruknya setiap kata yang terucap.

Maka dari itu, Rasulullah SAW mengajarkan resep yang manjur untuk menjaga lisan-lisan kita, yaitu berkata yang baik atau diam. Kemudian selalu berpikir dengan semua kalimat yang keluar dari lisan. Juga, menimbang maslahat dan mafsadat seluruh perkataan yang keluar dari lisan.

Terlebih lagi bagi para mujahidin yang berjuang Fi Sabilillah. Di mana Allah telah memuliakannya dengan ibadah yang paling agung, yaitu jihad. Tentunya harus lebih menjaga lisan dari perkataan yang sia-sia. Senantiasa menggunakan lisan untuk berdzikir kepada Allah, dan menyibukkan diri dari perkara yang tidak berguna.

Media Sosial, Wujud Lain dari Lisan

Perkembangan teknologi yang begitu pesat membuat dunia telekomunikasi berada di genggaman.  Sekumpulan orang tidak perlu bertatap muka untuk bertukar pendapat. Seseorang tidak perlu mengumpulkan orang untuk mengutarakan gagasannya. Cukup lewat dunia maya,  semua keperluan itu akan berjalan dengan baik.

Dengan kehadiran media sosial ini, seolah eksistensi lisan teralihkan. Seseorang dapat berdebat, berdiskusi dan tukar pikiran lewat tulisan di media sosial; yaitu semisal di facebook, twitter dan lainnya. Tulisan-tulisan kita akan dibaca sekian banyak orang. Cerminan diri kita terpercik dari kata-kata yang tergoreskan. Jadi, kita harus tetap menggunakan resep nabi dalam hal ini, yaitu berkata yang baik atau diam.

BACA JUGA  Tak Masuk Kepengurusan MUI, Din: Saya Memang Mau Berhenti

Osama-bin-Laden-001

Syaikh Usamah bin Ladin Rahimahullah telah memberikan rambu-rambu bagaimana kita bermain di media sosial sebagai wasilah dakwah. Rambu-rambu jihad media yang dituliskan Syaikh Usamah dapat kita jadikan acuan pula ketika kita menggunakan media untuk berdakwah. Salah satunya tertulis dalam poin ketiga,

Hendaknya tidak menggunakan kalimat yang buruk, berisi celaan, kotor dan berlebihan dalam penulisan. Menggunakan kata-kata yang tidak menabrak pagar syariat, sehingga muru’ah (kehormatan) para mujahidin atau segenap kaum muslimin tetap terjaga. Karena pada dasarnya,  dakwah lewat media ditujukan untuk segenap elemen masyarakat. “

Kata-kata celaan, hinaan dan cercaan terkadang mewarnai halaman-halaman sosial media. Alih-alih menunjukkan diri sebagai aktivis, kadangkala justru kurang bisa menjaga lisan ketika di dunia maya. Setiap kata yang tertulis di sosmed, mewakili gagasan yang kita utarakan. Jadi,  kualitas diri tergantung dari apa yang kita tuliskan.

Maka, berhati-hatilah ketika mengetik kata demi kata di dalam sosial media. Jangan sampai terlontar kata-kata yang seharusnya tidak pantas keluar dari lisan seorang mukmin. Bukankah Rasulullah SAW telah mengajarkan nilai kesantunan dalam berbicara. Semua keteladanan itu seharusnya meresap dalam diri kita sebagai umatnya.

Marilah sebagai umat dari Nabi Muhammad SAW, kita teladani nabi kita dalam menjaga lisan. Entah dari kata-kata yang terlontar langsung dari lisan, atau tulisan yang terpampang dalam media sosial. Kualitas diri tergantung pada lisan, keselamatan seorang hamba di akhirat pun salah satunya juga dengan terjaganya lisan.

 

Penulis : Dhani El_Ashim

Editor: Rudy

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat