Di Penjara Al-Sisi, Para Pemimpin Islam Ini Dibiarkan Mati Pelan-Pelan

KIBLAT.NET – Banyak pihak mempertanyakan kematian Dr Isham Dirbalah, tokoh pergerakan Islam Mesir, yang diumumkan pada Ahad 9 Agustus 2015 lalu. Ada dugaan kuat ke arah kelalaian medis yang disengaja dan pembiaran sistematis oleh otoritas penjara, yang menyebabkan kematiannya. Apalagi itu terjadi menyusul kematian beberapa tokoh Islam lainnya dengan dugaan sebab yang sama.

Jamal Sulthan, seorang aktivis Mesir, mengatakan bahwa, “Dirbalah telah mengalami perlakuan yang sangat buruk, bahkan untuk mendapatkan obat-obatan yang diperlukan pun dilarang. Ia telah menderita diabetes dan tekanan darah tinggi selama bertahun-tahun di penjara rezim Mubarak. Oleh sebab itu, kondisinya terus memburuk hingga pagi ini dunia harus mendengar kabar kematiannya.” Meninggalnya Dirbalah benar-benar membuat shock dan perihatin.

Sulthan menolak alasan manajemen pemerintah yang mengatakan bahwa Dirbalah meninggal dunia karena sebab alamiah. “Sudah jelas ia menderita penyakit gula dan tekanan darah tinggi, tidak diberi obat sama sekali, itu sama saja Anda menyetorkannya kepada kematian pelan-pelan,” ungkapnya marah.

Yang lebih disayangkan, menurut keterangan Sulthan, pada malam kematiannya, Dirbalah harus menghadapi kemungkinan perpanjangan penahanannya. Dan sejak ditahan, ia tidak pernah dibawa ke dokter atau upaya untuk menyelamatkan hidupnya atau memberikan pengobatan yang diperlukan. Padahal ia dalam keadaan kelemahan total, di tepi jurang kematian.

Dirbalah, yang pernah menjadi sekutu mantan Presiden Muhammad Mursi, telah ditahan atas tuduhan bergabung ke dalam kelompok yang “dilarang”. Sebelum kematian Dirbalah, dalam waktu yang berdekatan, sekurang-kurangnya empat pemimpin pergerakan Islam telah dibiarkan meninggal secara pelan-pelan di penjara.

BACA JUGA  Din Syamsuddin Nilai Pemanggilan Anies Oleh Polisi Tak Wajar

Pertama: Syaikh Mirjan Musthafa Salim pemimpin gerakan Salafi Jihadi Mesir
Salim meninggal di penjara Al-Aqrab, menyusul memburuknya kondisi kesehatannya. Ia menjadi tahanan kedua yang meninggal di penjara setelah kematian Izzat As-Salamuni. Salim dikenal sebagai Syaikh Abdul Hakim Hasan, ditangkap pada November 2013. Setahun setelah pembebasannya.

Kedua: Dr Izzat As-Salamuni di rumah sakit penjara Liman Turah, 2 Agustus 2015. Sumber lokal mengatakan bahwa As-Salamuni –yang telah ditahan karena dugaan melakukan tindakan kekerasan— juga meninggal dunia karena kelalaian medis. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Manshur Muhammad, pengacara Izzat bahwa kematiannya disebabkan oleh kelalaian medis dan keterlambatan penanganan.

Ketiga: Sekitar waktu yang sama, tahanan lain, Ahmad Husein Ghazlan, meninggal di sebuah penjara di provinsi Behira. Menurut pengacara, ia juga meninggal dunia sebagai akibat dari kelalaian medis oleh pihak berwenang.
Ghozlan, 52, telah dipenjara atas tuduhan bergabung Ikhwanul Muslimin, yang telah ditetapkan oleh penguasa sebagai “kelompok teroris” di akhir 2013.

Keempat: beberapa bulan sebelum peristiwa beruntun itu, pemimpin Ikhwanul Muslimin Dr Farid Ismail meninggal dunia sebagai akibat dari kelalaian medis di penjara. Dr. Farid Ismail, meninggal dunia Rabu 13 Mei 2015 di penjara Aqrab di daerah penjara Liman Turah, setelah mengalami koma. Ia menderita stroke di otak. Manajemen Penjara menolak izin pemindahan untuk perawatan di rumah sakit khusus, hingga menyebabkan kematiannya.

BACA JUGA  Slamet Maarif: Reuni 212 Tahun Ini Ditunda
Dari kiri atas searah jarum jam: Dr Isham Dirbalah, Dr Farid Ismail, Syaikh Mirjan Salem, Ghazlan, dan Dr Izzat As-Salamuni.
Dari kiri atas searah jarum jam: Dr Isham Dirbalah, Dr Farid Ismail, Syaikh Mirjan Salim, Ahmad Husein Ghazlan, dan Dr Izzat As-Salamuni.

Puluhan Ribu Lainnya Berpotensi Sama

Komisi Mesir untuk Hak dan Kebebasan (ECRF) mengatakan telah mendokumentasikan hampir 270 kematian akibat penahanan di Mesir sejak mantan presiden Muhammad Mursi terguling pada Juli 2013. ECRF juga mengatakan 143 dari kematian itu disebabkan kelalaian medis yang disengaja dan sistematis oleh otoritas penjara.

Dalam catatan Ahmad Manshur, wartawan Al-Jazeera asal Mesir, sudah lebih daripada 300 orang mati dengan cara yang sama hingga hari ini. Dr. Isham Darbalah, menurutnya, hanyalah satu di antara puluhan ribu tahanan yang bisa jadi akan menghadapi nasib yang sama, dibiarkan mati pelan-pelan dalam penjara Al-Sisi tanpa ada seorang pun yang bergerak untuk menolong mereka.

Dalam konteks yang sama, Presiden Muhammad Mursi di depan persidangan terakhir, mengungkapkan lima upaya di penjara untuk membunuhnya. Ia mencurigai makanan yang disajikan telah ditambahi racun. Gula darahnya tiba-tiba turun drastis secara tidak wajar dan meminta dihadapkan kepada Komite Medis. []

Reporter: Salem
Editor: Abdullah
Referensi:
1. http://mubasher.aljazeera.net/news/2015/05/201551320128399987.htm
2. http://www.youm7.com/story/2015/8/9/الجماعة-الإسلامية-تتسلم-جثمان-عصام-دربالة-وتتجه-إلى-المنيا-ل/2298526
3. https://www.middleeastmonitor.com/news/africa/20311-another-islamist-leader-dies-in-egyptian-prison
4. http://almesryoon.com/المقالات/جمال-سلطـان/791489-الصدمة-والذهول-في-وفاة-الدكتور-عصام-دربالة
5. http://almesryoon.com/دفتر-أحوال-الوطن/789349-وفاة-«مرجان-سالم»-القيادي-الجهادي-داخل-«سجن-العقرب»
6. http://www.tahrirnews.com/posts/269487
7. http://www.egyptwindow.net/news_Details.aspx?Kind=7&News_ID=84992

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat