... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Belajar Syariat Islam (4): Memahami Karakteristik Syumuliyah

KIBLAT.NET – Setelah dijelaskan karakter Rabbaniyah dari syariat Islam, selanjutnya karakter kedua adalah syumuliyah. Secara harfiah, syumul berarti universal atau mencakup segala sesuatu. Syariat Islam bersifat syumul, artinya ia mencakup segala zaman, tempat, umat, dan aspek kehidupan manusia.

Syariat Islam, Risalah Segala Zaman

Syariat Islam adalah risalah Allah untuk segala zaman dalam sepanjang sejarah manusia. Syariat Islam tidak terbatas untuk satu zaman tertentu, yang mana masa berlakunya akan berakhir seiring dengan berakhirnya zaman tersebut.

Para nabi dan rasul terdahulu diutus secara khusus kepada suatu kaum tertentu dan untuk satu periode zaman tertentu. Apabila periode zaman tersebut berakhir, maka masa berlakunya syariat nabi dan rasul tersebut akan berakhir. Nabi dan rasul tersebut  akan digantikan oleh Allah dengan nabi dan rasul yang lain.

Adapun syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW adalah risalah Allah yang berlaku untuk semua zaman. Syariat Islam berlaku untuk periode zaman diutusnya Rasulullah SAW, yaitu periode abad 1 H / 7-8 M hingga periode zaman berakhirnya dunia dan seisinya, karena terjadinya kiamat.

Setelah Rasulullah SAW wafat, tidak ada lagi nabi dan rasul yang diutus Allah ke dunia. Setelah datangnya syariat Islam yang dibawa Rasulullah SAW, tidak ada lagi syariat Allah yang diturunkan kepada umat manusia. Sebab, syariat Islam yang dibawa Rasulullah SAW adalah syariat pamungkas yang menjadi penutup seluruh syariat para nabi dan rasul terdahulu.

crowd of people on London Bridge

Syariat Islam bagi seluruh umat manusia

Secara substansi, yaitu pokok-pokok ajaran akidah dan akhlak, syariat Islam adalah risalah Allah untuk masa depan, sebagaimana ia adalah risalah Allah untuk masa yang telah lalu. Pokok-pokok akidah dan akhlak yang terkandung dalam syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah juga pokok-pokok akidah dan akhlak yang dibawa oleh para nabi dan rasul terdahulu.

Dari sisi ini, substansi syariat Islam telah diturunkan Allah sejak zaman Nuh AS hingga zaman Rasulullah SAW. Dari sisi ini pula, substansi syariat Islam adalah kesamaan ajaran wahyu yang diajarkan oleh para nabi dan rasul pada setiap periode zaman.

Hal itu sebagaimana firman Allah SWT:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul yang menyeru umatnya, “Beribadahlah kepada Allah semata dan jauhilah thaghut!” (An-Nahl: 36)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang rasul pun melainkan Kami mewahyukan kepadanya (untuk menyeru umatnya), “Bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Aku (Allah), maka beribadahlah kalian kepada-Ku semata!” (Al-Anbiya’ : 25)

Perbedaan risalah di antara para nabi dan rasul hanyalah pada perkara tata cara ibadah dan muamalah. Adapun secara akidah dan akhlak, risalah mereka semua adalah sama. Mereka semua berada di atas agama Islam dan mengajak kepada agama Islam. Maka, syariat Islam adalah risalah bagi setiap nabi yang diutus dari sisi Allah sejak zaman Nabi Nuh AS sampai Nabi Muhammad SAW. Syariat Islam adalah risalah bagi seluruh zaman.

tolalinssan

Syariat Islam berlaku sejak diutusnya Rasul sebagai pemberi petunjuk

Syariat Islam Risalah bagi Seluruh Makhluk

Syariat Islam adalah risalah Allah yang tidak terbatas pada suatu suku, bangsa, atau status sosial tertentu. Syariat Islam adalah risalah Allah yang ditujukan kepada seluruh umat, suku, bangsa, kasta, dan status sosial. Syariat Islam bukan risalah bagi suatu bangsa tertentu, yang mengklaim bahwa mereka adalah bangsa pilihan Allah dan semua bangsa lainnya di dunia harus tunduk kepada mereka.

Syariat Islam bukan risalah bagi suatu tempat tertentu, yang semua tempat lainnya di muka bumi harus tunduk kepada tempat tersebut, atau semua tempat lainnya di muka bumi bebas tidak terikat dengan risalah Allah tersebut. Syariat Islam bukan risalah untuk suatu kasta atau status sosial tertentu, yang dalam aktivitasnya menundukkan dan memperbudak kasta-kasta lainnya atau status-status sosial lainnya.

BACA JUGA  Isu Radikalisme Ibarat Menggaruk yang Tak Gatal

Syariat Islam adalah risalah untuk semua umat manusia; orang yang kaya dan orang miskin, orang pintar dan orang bodoh, penguasa dan rakyat, laki-laki dan wanita, anak-anak dan orang dewasa, orang berkulit putih dan orang berkulit hitam.

Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan Kami mengutusmu tidak lain hanyalah untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam (makhluk). (Al-Anbiya’: 107)

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

Katakanlah (wahai Muhammad); “Wahai umat manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah bagi kalian semua.” (Al-A’raf: 158)

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (Al-Furqan: 1)

images

Syariat Islam juga berlaku untuk bangsa jin

Bahkan, syariat Islam juga merupakan risalah bagi seluruh bangsa jin. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT,

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya), mereka berkata: “Diamlah kalian (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan Al-Qur’an telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.

Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya, lagi menunjukkan kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.

Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan melepaskan kalian dari azab yang pedih. (Al-Ahqaf: 29-31)

Syariat Islam risalah bagi totalitas manusia

Syariat Islam adalah risalah Allah bagi manusia dalam kapasitasnya sebagai makhluk yang utuh dan sempurna. Syariat Islam bukan saja sebagai risalah bagi akal manusia tanpa ruhnya, bukan untuk ruhnya tanpa jasadnya, bukan pula untuk pikirannya tanpa perasaannya. Tidak juga sebaliknya. Syariat Islam benar-benar merupakan risalah bagi manusia secara total; ruh, akal, fisik, nurani, insting, dan kemauannya.

Syariat Islam berbeda dengan agama, isme, filsafat, dan sistem buatan manusia lainnya yang memilah-milah manusia menjadi dua unsur yang saling terpisah; jasmani dan ruhani. Agama, isme, filsafat, dan sistem buatan manusia di luar syariat Islam membagi manusia menjadi dua unsur  yang tidak saling berkaitan:

  • Unsur ruhani atau spiritual yang diarahkan oleh agama dan dilaksanakan sebatas di rumah-rumah ibadat. Pemegang otoritasnya adalah para paus, pastur, uskup, pendeta, rabbi, dan semisalnya yang membuat aturan-aturan keagamaan yang harus ditaati oleh para pengikutnya. Unsur ruhani hanya mengatur hal-hal yang berkaitan dengan masalah pribadi dan dunia akhirat.
  • Unsur jasmani atau material, yang agama dan para pemukanya tidak memiliki kekuasaan sama sekali atasnya. Unsur ini berkenaan dengan ekonomi, politik, pemerintahan, budaya, militer, hubungan masyarakat, dan negara. Unsur ini merupakan sebagian besar aspek kehidupan manusia. Pemegang otoritas dalam unsur ini adalah para pemegang kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Mereka memiliki keleluasan penuh untuk membuat aturan dan hukum, yang merealisasikan kepentingan dan hawa nafsu mereka, tanpa sedikit pun terikat dengan hukum Allah SWT.
Sekuler-Musuh-Islam-Kontemporer

Syariat Islam tidak memisahkan unsur agama dengan unsur-unsur selainnya

Agama, isme, filsafat, dan sistem buatan manusia di luar syariat Islam sangat jelas sekali bertentangan dengan fitrah manusia. Manusia, sebagaimana diciptakan Allah, tidaklah terpecah-beah dan terbagi-bagi. Manusia adalah kesatuan yang sempurna dan satu eksistensi; ruhnya tidak terpisah dari materi, materinya tidak terpisah dari ruh, akalnya tidak terpisah dari perasaan, dan perasaannya tidak terpisah dari akal.

Manusia adalah satu kesatuan yang tidak terbagi-bagi menjadi jasad, ruh, akal, dan hati nurani. Oleh karenanya, tujuan, sasaran, dan jalannya harus satu. Inilah yang telah ditetapkan syariat Islam. Syariat Islam menjadikan tujuan manusia adalah ridha Allah, dan sasarannya adalah kebahagiaan abadi di akhirat.

BACA JUGA  Menag Diimbau Tak Langgar Kebebasan Beragama Demi Keamanan

Dengan syariat Islam, manusia tidak akan terpecah menjadi dua “Tuhan” yang berbeda, atau antara dua kekuatan yang saling bertentangan. Tanpa syariat Islam, manusia adalah laksana seorang budak yang memiliki dua tuan yang saling bertentangan keinginan-keinginan dan perintah-perintahnya. Tanpa syariat Islam, manusia akan menjadi budak yang dipermainkan dan diperebutkan oleh kepentingan banyak “Tuhan”: Tuhan “akhirat”, Tuhan hawa nafsu, Tuhan setan, dan Tuhan manusia penguasa. Sebagaimana firman Allah SWT:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki saja; Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Az-Zumar: 29)

Syariat Islam Risalah bagi Semua Fase Kehidupan Manusia

Syariat Islam merupakan risalah Allah bagi manusia dalam semua fase kehidupannya. Syariat Islam senantiasa menyertai manusia semenjak manusia masih bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, dan sampai masa tua. Dalam semua periode kehidupan manusia tersebut, syariat Islam telah menetapkan manhaj terbaik yang dicintai dan diridhai Allah.

Syariat Islam berjalan di semua fase kehidupan manusia

Syariat Islam berjalan di semua fase kehidupan manusia

Dalam syariat Islam, kita mendapatkan hukum-hukum dan tuntunan-tuntunan yang berhubungan dengan bayi sejak belum dilahirkan, misalnya memilih suami dan istri yang shalih; lalu saat bayi dilahirkan, misalnya mengumandangkan adzan di telinganya, memilih nama yang baik, menyembelih kambing untuk aqiqah, dan lain sebagainya sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab fiqih.

Dalam syariat Islam, kita mendapatkan hukum-hukum dan tuntunan-tuntunan yang berhubungan dengan penyusuan, berapa lama, siapa yang menyusuinya, kapan seharusnya disapih, siapa yang berkewajiban memberi nafkah kepada sang ibu khususnya ketika terjadi perceraian. Al-Qur’an turun dengan penjelasan yang rinci dalam masalah tersebut.

Dalam syariat Islam, kita mendapatkan hukum-hukum dan tuntunan-tuntunan yang berhubungan dengan masa anak-anak; kewajiban mengenalkan tauhid dan akhlak mulia, mengajarkan shalat, menutup aurat, memisahkan tempat tidur antara anak laki-laki dan anak perempuan, dan lain sebagainya. Rasulullah SAW bersabda,

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat mereka berusia tujuh tahun dan pukul-lah mereka jika belum mau shalat pada saat mereka berusia 10 tahun, serta pisahkanlah tempat tidur diantara mereka.” (HR. Abu Daud) 

Dalam syariat Islam, kita mendapatkan hukum-hukum dan tuntunan-tuntunan yang berhubungan dengan manusia ketika remaja dan dewasa; dimulainya taklif pada saat tanda-tanda baligh telah terjadi, kewajiban menutup aurat, kewajiban menjaga pergaulan dengan lawan jenis yang bukan mahram, anjuran menikah, perintah mencari nafkah, dan lain sebagainya.

Saat mencapai usia baligh, manusia mulai mendapatkan taklif.

Saat mencapai usia baligh, manusia mulai mendapatkan taklif.

Dalam syariat Islam, kita mendapatkan hukum-hukum dan tuntunan-tuntunan yang berhubungan dengan manusia ketika kecil, muda, dewasa, dan tua. Tidak ada fase kehidupan manusia yang berlalu begitu saja, kecuali syariat Islam telah mempunyai arahan dan tuntunan di dalamnya. Lebih dari itu, syariat Islam memberikan perhatian dan tuntunan kepada manusia sejak sebelum dia lahir, dan sampai setelah ia meninggal.

Dalam syariat Islam, kita mendapatkan hukum-hukum dan tuntunan-tuntunan yang berhubungan dengan pemeliharaan janin, kewajiban terus-menerus memberinya asupan gizi yang cukup baginya dan ibu yang mengandungnya, keharaman aborsi, dan kewajiban membayar diyat bagi orang yang melakukan aborsi atau menjadi penyebab aborsi.

Syariat Islam memperbolehkan bagi wanita yang hamil untuk tidak berpuasa Ramadhan jika khawatir janin yang sedang dikandungnya akan kekurangan zat makanan atau kesehatan dan keselamatan nyawanya terganggu. Dan tuntunan-tuntunan lainnya yang berkenaan dengan janin.

Dalam syariat Islam, kita mendapatkan hukum-hukum dan tuntunan-tuntunan yang berhubungan dengan orang yang meninggal, wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan secara terhormat. Disyariatkan pula takziyah, mendoakannya, melaksanakan wasiatnya, melunasi hutang piutangnya, dan lain sebagainya, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab fiqih. Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Penulis: Fauzan

Editor: Rudy

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Mualaf Center: Lawan Kristenisasi dengan Ukhuwah Islamiyah

KIBLAT.NET, Jakarta – Sekjen Mualaf Center, Hani Kristianto mengaku sedih dengan kondisi ukhuwah Islamiyah yang...

Kamis, 06/08/2015 09:00 0

Rusia

Menteri Luar Negeri Rusia Temui Pemimpin Hamas di Qatar

KIBLAT.NET, Doha – Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menjumpai pemimpin Hamas, Khaled Meshaal di Qatar...

Kamis, 06/08/2015 08:33 0

Afrika

Dewan Muslim Uganda Desak Polisi Serius Tangani Pembunuhan Beruntun Ulama

KIBLAT.NET, Uganda – Para pemimpin Muslim Uganda mengecam meningkatnya pembunuhan yang menargetkan ulama dan kurangnya...

Kamis, 06/08/2015 08:00 0

Indonesia

Kerap Diintimidasi, Pemerintah Harus Lindungi Mualaf dengan Regulasi

KIBLAT.NET, Jakarta – Sekjen Mualaf Center, Hani Kristianto mengatakan pemerintah perlu membuat regulasi perlindungan beragama...

Kamis, 06/08/2015 07:20 0

Palestina

Pasca Bentrokan, Israel Tangkap 4 Warga Palestina di Masjid Al-Aqsa

KIBLAT.NET, Al QUds – Polisi Israel pada hari Senin (03/08) menahan seorang anggota lembaga Wakaf...

Kamis, 06/08/2015 07:00 0

Indonesia

TPF Komat: Orang Luar Terlibat dalam Tragedi Tolikara

KIBLAT.NET, Jakarta – Juru Bicara TPF Komite Umat untuk Tolikara, Adnin Armas mengatakan diduga kuat...

Kamis, 06/08/2015 06:30 0

Indonesia

Ini Tiga Catatan Penting TPF Komat pada Tragedi Tolikara

KIBLAT.NET, Jakarta – Juru bicara Komite Umat untuk Tolikara (Komat), Adnin Armas menegaskan dalam peristiwa...

Kamis, 06/08/2015 05:49 0

Indonesia

Sekolah Siaga Bencana Didirikan di Jakarta

KIBLAT.NET, Jakarta – Siapa yang mengira Daerah Khusus Ibukota Jakarta ternyata rentan juga terkena dampak...

Kamis, 06/08/2015 05:42 0

Indonesia

Ini Nama-nama Ulama AHWA Muktamar NU

KIBLAT.NET, Jombang – Setelah sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) ditetapkan untuk digunakan dalam pemilihan...

Rabu, 05/08/2015 16:08 0

Indonesia

Jadwal Molor, Muktamirin Akan Pulang Sebelum Penutupan

KIBLAT.NET, Jombang – Penundaan agenda Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama terus terjadi. Sidang pleno rekomendasi komisi...

Rabu, 05/08/2015 15:30 0

Close