... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Strategi Baru Amerika dan Dampaknya terhadap Al-Qaidah dan ISIS (Bag.1)

Foto: Syaikh Usamah bin Ladin dan Al-Qaidah berusaha merontokkan hegemoni Barat.

KIBLAT.NET – Pasca peristiwa 11 September 2001, Amerika mulai menginvasi dunia Islam dengan segenap kekuatan bala tentara dan pesawat tempur yang mereka miliki. Aksi Amerika itu kemudian menyulut api jihad dan perlawanan kaum muslimin di seantero planet bumi. Dan setelah peristiwa pengepungan Tora Bora yang terkenal itu, ratusan mujahidin melakukan reposisi menyebar ke penjuru dunia untuk membuka pintu-pintu neraka bagi Amerika dan sekutu-sekutunya, di antaranya di: Afghanistan, Pakistan, Iraq, Yaman, Maroko, dan Somalia.

Amerika lalu berusaha memadamkan api jihad tersebut namun sia-sia, dan juga mereka berusaha dengan menyerang kekuatan mujahidin namun tidak berhasil. Setiap kali Amerika meningkatkan kekuatan invasi militernya, saat itu juga sumber daya ekonominya terkuras. Hingga lebih dari satu dekade kemudian Amerika terjerumus ke dalam situasi krisis ekonomi yang menyebabkan Amerika sudah tidak mampu lagi melanjutkan kampanye militernya.

Maka para politisi mereka memutuskan bahwa penting bagi Amerika mundur dari wilayah-wilayah konflik tersebut dalam rangka menyelamatkan sisa-sisa kekuatan yang masih mereka miliki.

Obama terpilih memimpin Gedung Putih, dia dituntut supaya Amerika bisa segera meraih kemenangan, meskipun hanya sebatas kemenangan media. Sehingga dengan alasan itu mereka bisa menarik pasukannya dari Afghanistan dan Iraq tanpa menanggung rasa malu. Kemudian pemerintahan Obama berusaha supaya bisa meraih kemenangan militer dengan cara menambah jumlah kekuatan tentara mereka, namun ternyata gagal. Setelah itu mereka tetap berusaha untuk mengakhiri perang dengan mengintensifkan kemampuan perang intelijennya, namun lagi-lagi gagal.

obama002

Episode pertama
Setelah bertahun-tahun “bereksperimen” dengan perang intelijen, akhirnya Amerika berhasil melacak lokasi Syeikh Usamah Bin Ladin rahimahullah, dan membunuhnya di Abbottabad. Bersamaan dengan itu, propaganda media dibuat dan Amerika memanfaatkan “kemenangan” media tersebut untuk mulai mundur teratur secara bertahap dari Afghanistan.

Tidak lupa sambil terus menerus membuat propaganda di media-media mereka bahwa al-Qaidah sudah berakhir dengan gugurnya pemimpin sekaligus pendiri organisasi tersebut, Syeikh Usamah bin Ladin. Namun, beberapa tahun pasca gugurnya pemimpin al-Qaidah itu berlalu, tingkat bahaya dan ancaman organisasi itu terhadap Amerika ternyata belum berakhir.

Pasca revolusi Arab Spring kekuatan dan kemampuan organisasi al-Qaidah bukan hanya meningkat, bahkan lebih jauh telah mampu melebur ke dalam kekuatan revolusi rakyat, serta dapat mengarahkan rakyat tersebut kepada tujuan-tujuan yang telah ditetapkan oleh pemimpin organisasi mereka. Al-Qaidah telah mampu mengekploitasi situasi “chaos” dalam waktu yang relative singkat, serta meraih kemenangan baik secara moral maupun taktik pertempuran di Libya, Yaman, Tunisia, dan Suriah.

Perkembangan itu membuat Amerika semakin galau, karena merasa bahwa perang melawan organisasi itu tidak bisa dengan begitu mudahnya diselesaikan. Oleh karena itu, AS harus menyusun strategi baru untuk mengakhiri dilema yang besar itu selama-lamanya.

Dilema Amerika dengan al-Qaidah terletak pada fakta bahwa al-Qaidah mengelola taktik dan strategi perang mereka melawan Barat dengan menganut filosofi dasar “menggetok“ atau menyerang kepala ular. Sedangkan kepala ular yang dimaksud adalah Amerika.

Menurut al-Qaidah, Amerika bertanggung jawab terhadap bercokolnya para penguasa tiran di negeri-negeri Muslim, dan Amerika sendiri merupakan suatu entitas negara yang melindungi Israel, serta selalu menghalang-halangi setiap usaha yang bertujuan untuk mendirikan negara Islam. Maka menjadi tidak mungkin membebaskan dunia Islam dari dominasi pasukan salib sebelum bisa mengalahkan tiran abad ini yaitu Amerika. Berangkat dari prinsip ini, al-Qaidah memandang bahwa berperang melawan tiran lokal yaitu para penguasa negeri Muslim sebagai usaha yang membuang-buang waktu dan energi. Dan hal itu hanya akan semakin memperpanjang fase dominasi Barat terhadap dunia Islam.

BACA JUGA  Menag: Negara Tidak Mentolelir Keberadaan Khilafah

Terutama karena masyarakat Muslim secara umum masih belum bisa menerima jika ada kelompok yang menentang atau memerangi penguasa tiran yang memerintah negeri mereka. Berdasarkan kenyataan ini, maka al-Qaidah menunda sub-pertempuran melawan musuh dari penguasa lokal (penguasa negeri Muslim, Rafidhoh, kaum sekuler) sampai Amerika jatuh atau mengalami kemunduran.

Maka al-Qaidah tidak menceburkan diri kepada peperangan sampingan itu, kecuali terpaksa, karena al-Qaidah meyakini bahwa para musuh lokal itu sebetulnya bukan apa-apa, kecuali hanya sebagai boneka dan kaki tangan Amerika. Amerika mengatur para boneka itu sesuai dengan apa yang dikehendakinya, maka menjatuhkan pihak yang mengatur para boneka itu menjadi hal yang amat penting. Dan setelah Amerika berhasil dijatuhkan berbarengan dengan akhir pengaruh mereka di kawasan itu, maka peran tersebut akan digantikan oleh para agen dan kaki tangan Amerika.

Karena stategi inilah, maka Amerika sangat getol ingin menghancurkan infrastruktur al-Qaidah, serta menempatkan rencana penghancuran tersebut ke dalam daftar tujuan-tujuan mereka: seluruh ikon yang menerapkan strategi ini.
Menghilangkan ikon-ikon tersebut berarti berpotensi akan mengubah strategi awal organisasi itu menjadi strategi lain yang baru, yang dirumuskan di belakang layar dinas intelijen!

Ilustrasi

Ilustrasi

Sejak perang dunia kedua, Barat telah menghadapi suatu fase sejarah terburuk karena keberhasilan organisasi al-Qaidah dalam memindahkan medan pertempuran dari tanah Muslim ke wilayah negara-negara Barat. Hal itu berarti al-Qaidah telah mampu memindahkan kerusakan infrastruktur dan kematian dari wilayah Muslim ke negara-negara Barat.

Medan pertempuran berhasil dipindahkan dari jalanan di Afghanistan dan Iraq dipindahkan ke lokasi di jalanan Washington, London, Madrid, dan Paris. Al-Qaidah mampu memindahkan rasa ketakutan di hati para wanita dan anak-anak Muslim menjadi rasa ketakutan di hati para wanita dan anak-anak pasukan salib. Sebelumnya, anak-anak kita hidup di tengah-tengah bombardir, sementara anak-anak di Barat hidup dengan aman. Maka saat ini, baik anak-anak kita maupun anak-anak di Barat sama-sama hidup di tengah ketakutan, ancaman kematian, dan keterusiran. Ini adalah strategi yang membuat Amerika dan Eropa tidak bisa tidur! Sampai mereka berusaha mati-matian untuk mengubah dan berusaha menghapus pola strategi ini di kalangan gerakan jihad.

Amerika dan negara-negara Barat tahu persis bahwa terus menerus bertempur secara langsung dengan mujahidin akan menguras sumber daya ekonomi mereka dan akhirnya akan bisa menyebabkan mereka tumbang. Mereka juga tahu persis, bahwa mundur dari wilayah perang yang saat ini dihadapi sebelum berhasil menghabisi al-Qaidah dan mengeliminasi strategi yang mereka terapkan, hanya akan meningkatkan bahaya dan resiko bagi Barat.

Hal itu juga akan menyebabkan dominasi mereka (AS dan Eropa) di dunia Islam dalam keadaan bahaya. Maka Barat melihat adanya kebutuhan yang sangat urgen untuk memulai strategi baru supaya bisa keluar dari jebakan peperangan di wilayah-wilayah Muslim dengan aman.

Strategi baru Amerika itu nantinya harus mampu meraih tujuan-tujuan yang spesifik, di antaranya: Menciptakan kekacauan di negara-negara Muslim, menyulut perang sektarian antara Sunni dan Syiah. Jika tidak bisa dengan perang sektarian antara Sunni dan Syiah – di mana ini hanya bisa dilakukan di negara dengan populasi Syiah cukup signifikan –, maka akan disulut perang antara gerakan Islam dengan kelompok-kelompok lain (1), atau dengan kelompok-kelompok separatis kesukuan. Maka dengan demikian, kaum mujahidin akan disibukkan dengan peperangan “sekunder” tersebut dan akhirnya mengabaikan serangan terhadap Amerika dan negara-negara Barat lainnya.

BACA JUGA  Menag Fachrul Razi, Jerami Terakhir di Punggung Jokowi?

Strategi ini dinilai berhasil diterapkan di Yaman, setelah Amerika memberikan Yaman kepada Hautsi, hal itu menyebabkan organisasi al-Qaidah sibuk berperang menghadapi Hautsi dan “sedikit” mengalihkan mereka dari tujuan-tujuan strategis yang telah mereka terapkan.

Bagusnya adalah, organisasi al-Qaidah menyikapinya dengan sangat proporsional di mana mereka tidak mengarahkan senjata-senjata mereka kepada kelompok Zaidiyah secara keseluruhan, namun al-Qaidah hanya memerangi para milisinya saja. Meskipun Amerika tidak akan pernah berhenti menghasut perang sektarian yang membabi buta dengan menyasar siapa saja dan apa saja, dengan cara mengarahkan atau mendorong pihak-pihak yang menjadikan warga Zaidiyah secara umum sebagai sasaran/target di pasar-pasar dan masjid mereka.

Lalu muncul pertanyaan: Hubungannya apa antara perang Amerika melawan al-Qaidah dengan upaya penerapan strategi baru Amerika terkait isu terorisme?

Hubungannya adalah, sebenarnya Amerika ingin menarik diri secara militer dari wilayah konflik di dunia Islam, namun mereka tahu keputusan mundur itu hanya akan menjadi bencana bagi mereka, Israel, dan negara-negara Barat lainnya. Makanya Amerika menjadi merasa sangat perlu untuk mengatur ulang situasi di kawasan tersebut. Hal ini untuk memastikan bahwa Barat aman dari al-Qaidah sebelum menarik pasukan militernya. Untuk bisa meraih tujuan ini, maka AS perlu memperoleh dua hal penting.

Yang pertama: Mendorong kaum mujahidin supaya terjebak ke dalam peperangan yang terus menerus dengan Syiah supaya menguras energi dan kekuatan mereka. Diharapkan hal itu akan mencegah mereka dari berfikir untuk menyerang Amerika atau Israel.

Yang kedua: Untuk mempengaruhi mujahidin al-Qaidah dan gerakan-gerakan jihad lainnya supaya tidak lagi menerapkan strategi lama mereka yang dideskripsikan dengan strategi “menggetok kepala ular”. Lalu meyakinkan mereka supaya menerapkan strategi baru yang lain yang menjamin “kenyamanan” Amerika pasca mundur dari wilayah konflik itu.

Supaya Amerika berhasil meraih poin pertama: Menyulut peperangan yang hebat dengan Syiah, Amerika harus menempuh dua langkah berbahaya sebagai berikut:

1. Mendorong dan mendukung Syiah Rafidhoh mencapai posisi tampuk kekuasaan di negara-negara Sunni di mana terdapat komunitas Syiah, seperti di Yaman dan Arab Saudi. Meniru model pengalaman yang telah berhasil di Iraq dalam di mana perang sektarian meletus hebat setelah Syiah Rafidhoh berkuasa.

2. Mengebom tempat-tempat ibadah dan pasar-pasar orang Syiah, atau tempat-tempat berkumpulnya orang-orang Syiah oleh tentara unit bayaran mereka Blackwater. Setelah itu menuduh mujahidin sebagai pelakunya. Pola seperti ini seperti yang sudah pernah diterapkan sebelumnya di Iraq dan Pakistan.

Amerika akan berhenti menggunakan jasa Blackwater ketika merasa sudah bisa menipu Mujahidin dengan strategi baru mereka, lalu tugas Blackwater akan dilanjutkan dan diselesaiakan oleh para pemuda Muslim yang naïf. Dan kami mencatat bahwa Amerika sudah memulai menerapkan strategi ini di Yaman di mana Amerika telah “menyerahkan” kekuasaan kepada Hautsi dan diikuti dengan keberhasilan mereka menjabak al-Qaidah berperang melawan Hautsi sehingga hal itu cukup menyibukkan mereka dan tidak sempat berfikir untuk menyerang Amerika.

Dan juga ada tanda-tanda bahwa upaya Amerika menyulut perang sektarian di Yaman telah berhasil, setelah pengeboman sejumlah masjid dan tempat ibadah Hautsi terlaksana dengan tujuan memobilisasi kelompok Zaidiyah supaya mendukung dan berada di belakang Hautsi. Bersambung..

 

Penulis: Yasin Muslim

Sumber: Al-Minara

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

AS-Iran Bersepakat Soal Nuklir, Bashar Assad Ucapkan Selamat pada Khamenei

KIBLAT.NET, Damaskus – Pemimpin rezim Suriah Bashar Assad mengucapkan selamat atas kesepakatan nuklir yang dicapai...

Kamis, 16/07/2015 12:00 0

Suriah

Lawan ISIS, Pasukan Kurdi Suriah Gunakan Anak-anak untuk Berperang

KIBLAT.NET, Kobani – Organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) internasional pada Rabu (15/07) menyatakan bahwa milisi...

Kamis, 16/07/2015 11:22 0

Amerika

Pekan Depan, DK PBB Lakukan Voting Terkait Penghentian Sanksi Iran

KIBLAT.NET, New York – Dewan Kemanan PBB diperkirakan akan melakukan voting terkait resolusi terhadap Iran...

Kamis, 16/07/2015 11:00 0

Indonesia

Sinergi Foundation Sosialisasikan WAZIN Lewat Street Campaign

KIBLAT.NET, Bandung – Sinergi Foundation (SF) sosialisasikan Wakaf, Zakat, Infaq, dan Shadaqah (Wazin) lewat strategi...

Kamis, 16/07/2015 10:30 0

Info Event

Sinergi Foundation Buka Layanan Konsultasi 24 Jam & Jemput Zakat

KIBLAT.NET, Bandung – Di Pengujung Ramadhan 1436 H, yang tinggal hitungan hari, Sinergi Foundation (SF)...

Kamis, 16/07/2015 10:10 0

Artikel

Ketika Ramadhan Akan Meninggalkan Kita

KIBLAT.NET – Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Hari-hari yang telah kita lewati telah menggoreskan...

Kamis, 16/07/2015 09:47 0

Artikel

Meskipun Kaya, Boleh Menerima Zakat

KIBLAT.NET – Zakat adalah bagian dari kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim, ia merupakan...

Kamis, 16/07/2015 08:07 0

Konsultasi

Zakat Fitri dengan Uang Tunai, Apa Hukumnya?

KIBLAT.NET – Asal muasal zakat Fitri adalah dengan makanan. Ini sebagaimana yang diwajibkan Rasulullah SAW...

Kamis, 16/07/2015 06:00 0

Artikel

Hari Raya Idul Fitri Jatuh Hari Jumat, Haruskah Shalat Jumat?

KIBLAT.NET – Hari Jumat merupakan salah satu hari raya umat Islam. Dalam Islam dikenal ada...

Rabu, 15/07/2015 19:00 2

Indonesia

Menag: Idul Fitri Tahun Ini Bisa Bersamaan, Bisa Tidak

KIBLAT.NET, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memprediksi Idul Fitri tahun ini bisa saja...

Rabu, 15/07/2015 18:35 0

Close