... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Murah: Alasan AS Pilih Drone dalam “Perang Melawan Terorisme”

KIBLAT.NET – Biaya adalah faktor paling utama yang mempengaruhi keberlangsungan peperangan.  Meski sadar biaya perang tidak sedikit, Amerika bersikeras memutuskan untuk campur tangan dalam konflik Timur Tengah. Kemudian dengan alasan terorisme, negeri Paman Sam ini mengerahkan kekuatan militernya ke Afghanistan, Irak dan Suriah sampai detik ini.

Baik pertempuran darat maupun udara ternyata membutuhkan dana yang tidak sedikit. Lama kelamaan Amerika terkena dampak kesulitan ekonomi.  Maka dari itu, muncullah pesawat tanpa awak atau drone untuk menghemat biaya perang.

Drone adalah cara terlicik yang dilancarkan Amerika untuk melawan para mujahidin. Namun, alasan yang paling mendasar dari penggunaan drone sebenarnya bukanlah terkait efektivitas kinerjanya. Melainkan dana yang dibutuhkan lebih murah daripada menggunakan tentara manusia.

Drone itu Tidak Mahal

Permasalahan biaya adalah salah satu poin penting yang diperdebatkan dalam penggunaan drone. Sebenarnya banyak  yang keberatan karena alasan hukum dan kemanusiaan. Namun, Amerika adalah salah satu  negara yang mempunyai hak veto di PBB. Jadi, walaupun dikecam atau dilarang, Amerika akan tetap bertindak seolah-olah sebagai polisi dunia.

Dalam sebuah laporan menunjukkan, drone Reaper MQ-9 yang digunakan di Pakistan bernilai satu unit sebesar US$ 6,48 juta dan biaya operasional sekitar US$ 3 juta.

trauma-e1423064594993

Namun, angka-angka ini hanyalah tipuan. Sebuah sistem drone memiliki infrastruktur yang lengkap. Contohnya pada jenis Reaper, setiap kali misi dalam empat grup, hanya dibutuhkan dua pilot, stasiun dan koneksi data yang aman.Dengan infrastruktur yang sedemikian lengkap, hanya dibutuhkan US$ 3250 per jam waktu penerbangan.

BACA JUGA  PKS Dukung Aturan Pemabuk Dilarang Menjadi Pemimpin

Kita bandingkan dengan F-35 Joint Strike Fighter yang baru saja dibeli oleh Australia. Negeri Kanguru ini membutuhkan dana sebesar US$ 91 juta per unit dan mereka membeli 58 unit F-35. Dana operasional per tahun mencapai US$ 5 juta  dan per jam penerbangan memakan biaya $16.500 per jam.

Jika kita bandingkan dengan biaya tentara manusia, maka akan lebih mahal lagi. Sebagai contoh, dana yang dikeluarkan Amerika untuk setiap prajurit yang dikirim ke Afghanistan pada tahun 2012 adalah US$ 2,1 juta. Biaya ini yang tertera ini hanyalah yang tertera di atas kertas saja, pasti lebih banyak dalam kenyataannya.

Operasi Amerika di Timur Tengah selama 13 tahun mengakibatkan 1558 kasus amputasi ekstremitas utama, 118.829 kasus pasca trauma dan 287.911 cedera otak traumatis. Tentu saja, semua biaya pengobatan tersebut ditanggung pemerintah Amerika. Sebagai contoh kasus polytrauma membutuhkan biaya perawatan kesehatan tahunan US$ 136, 000. Biaya untuk kaki bionik memakan biaya  hingga US$ 150,000.

Pengaduan klaim cacat mulai dari trauma seksual militer hingga  mesothelioma, mencapai nominal 50% dari veteran Irak dan Afghanistan (lebih dari 780,000) pada akhir 2012. Selain itu para veteran mengalami berbagai problem yang rumit. Sebanyak 20% dari mereka melakukan bunuh diri, hampir 50.000 veteran nyaris menjadi tunawisma dan satu dari delapan veteran antara 2006 dan 2008 dirujuk konselor dalam penyalahgunaan alkohol.

CombatStress_1247271c

Ketika semua biaya ini digabungkan, maka biaya pengeluaran medis untuk veteran Irak dan Afghanistan diperkirakan sebesar $ 836.1 miliar. Bandingkan dengan penggunaan drone, tentu sangat jauh dalam segi pembiayaan. Maka dari itu, Amerika menggunakan cara licik ini untuk menjalankan agendanya.

BACA JUGA  KH Luthfi Basori Nilai Penolak Muslim United Kelompok Liberal

Kecaman dan tudingan keras tidak berlaku bagi Amerika atas penggunaan drone. Yang terpenting baginya adalah menekan biaya serendah mungkin dengan manfaat yang lebih besar tanpa mengindahkan rasa kemanusiaan. Lantas, sebenarnya siapakah yang layak disebut sebagai teroris?

Bentuk kekejaman drone pun sangat mengerikan. Penggunaan drone di sejumlah negara di Timur Tengah disetujui oleh beberapa negara di sana. Salah satunya adalah Pakistan, Yaman dan Somalia. Dengan izin dari pihak pemerintah, maka Amerika bisa leluasa membunuh siapa saja dengan dronenya.

Sebuah contoh, adalah klaim dari pemerintah Pakistan atas terbunuhnya 80 militan Taliban di sebuah madrasah. Serangan ini terjadi pada 31 Oktober 2006 dan mendapat kecaman dari berbagai pihak. Pasalnya, banyak yang meragukan bahwa 80 orang yang tewas adalah semuanya militan. Faktanya, selain 80 korban tersebut masih ada 18 korban dari pihak sipil yang tidak disebutkan.

Sebuah kejahatan kemanusiaan yang tersusun dan terencana dengan baik. Dengan dalih memerangi terorisme dan mendapat persetujuan dari pemerintah setempat, Amerika leluasa bermain dengan drone-nya.

Ketika orang-orang berpikir bahwa Amerika adalah negara yang paling menjunjung HAM, ternyata itu hanyalah isapan jempol belaka. Bahkan mereka menggadaikan nilai-nilai kemanusiaan dengan harga murah berbentuk drone. Benar-benar menggunakan prinsip ekonomi dalam kejahatannya, sama halnya lebih menghargai uang daripada nyawa manusia.

Penulis : Dhani El_Ashim

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Palestina

Lancarkan Aksi Mogok Makan, Pemimpin Jihad Islam Dibebaskan Israel

KIBLAT.NET, Jenin – Israel membebaskan seorang pemimpin Palestina, Khader Adnan dari penjara pada hari Ahad (12/07),...

Senin, 13/07/2015 16:27 0

Wilayah Lain

Pendukung ISIS Berencana Meracuni Waduk, Kosovo Putus Pasokan Air

KIBLAT.NET, Pristina – Pihak berwenang Kosovo telah memutus pasokan air untuk puluhan ribu warga di...

Senin, 13/07/2015 16:00 0

Afrika

Pasca Serangan Bom di Ibukota, Chad Larang Penggunaan Cadar

KIBLAT.NET, N’Djamena – Polisi Chad menyatakan akan menangkap siapa saja yang mengenakan cadar, sehari setelah...

Senin, 13/07/2015 15:11 0

Mesir

Daulah Bertanggung Jawab Serangan Bom di Konsulat Italia di Kairo

KIBLAT.NET, Kairo – Daulah Islamiyah mengaku, Ahad (12/07), bertanggung jawab atas serangan bom di depan...

Senin, 13/07/2015 10:00 0

Arab Saudi

Proyek Perluasan Masjidil Haram Diresmikan

KIBLET.NET, Mekah – Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz, Ahad (12/07), resmi membuka proyek...

Senin, 13/07/2015 09:00 0

Palestina

Lagi, Pemukim Yahudi Bakar Ladang Zaitun Warga Palestina

KIBLAT.NET, Tepi Barat – Pemukim Yahudi kembali membakar ladang Zaitun milik warga Palestina. Kali ini,...

Senin, 13/07/2015 08:00 0

Analisis

Strategi Tumpul AS untuk Melemahkan ISIS dan Assad

KIBLAT.NET – Kebijakan pemerintahan Obama merespon konflik Suriah dinilai oleh Kepala Hubungan Politik Ahrar Syam,...

Senin, 13/07/2015 07:37 0

Afghanistan

Bom Meledak di Dekat Pangkalan AS di Afghanistan, Puluhan Tewas

KIBLAT.NET, Kabul – Sebuah bom mobil meledak di dekat pangkalan udara Amerika Serikat di kota...

Senin, 13/07/2015 07:00 0

Konsultasi

Rajin Puasa Tapi Jarang Shalat, Apa Hukumnya?

KIBLAT.NET – Pertanyaan: Salah seorang sahabat saya tidak mau melaksanakan shalat padahal umurnya sudah sangat tua....

Senin, 13/07/2015 00:52 0

Amerika

Bukan Rusia, ISIS dan Al-Qaidah Musuh Prioritas AS

KIBLAT.NET, Washington – Juru bicara Departemen Luar Negeri AS pada hari Jumat (10/07) mengatakan bahwa...

Ahad, 12/07/2015 19:06 0

Close