... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Bukan Pendapat Ahli Tsughur, Abaikan Saja?

Foto: Ilustrasi

KIBLAT.NET – Sebagian orang meyakini hidayah atau bimbingan kepada kebenaran dalam masalah ilmiah yang terjadi perselisihan pendapat harus dirujuk kepada mujahidin. Tepatnya mujahidin yang berperang di perbatasan yang dikenal dengan istilah ahli tsughur.

Hal itu kemudian berkembang menjadi fanatisme yang berdampak pada penolakan nasihat dan pendapat para ulama, dengan tolok ukur ia “bukan ahli tsughur”. Pada akhirnya, banyak orang menjadi “latah” dan mudah sekali menampik nasihat. Juru bicara resmi organisasi Daulah Islam, dalam pidato terakhirnya, juga berpesan sama kepada pendukungnya untuk menolak perkataan siapa pun yang tidak pergi berjihad alias bukan ahli tsughur.[1]

Pengertian Ahli Tsughur

Tsughur adalah wilayah yang berbatasan dengan darul harbi.[2] Ibnu Al-Atsir berkata, “Tsughur  adalah tempat yang menjadi batas pemisah antara negeri kaum muslimin dan kafir.[3]

Sedangkan ahli tsughur adalah orang-orang yang mengintai musuh agar tidak menyerang mereka karena lalai. Bila mereka melihat musuh, mereka menginformasikan kepada rekan-rekannya untuk mengusirnya.[4] Tempat mereka berjaga-jaga inilah yang disebut dengan istilah tsughur. Ia seperti lubang di dinding yang dikhawatirkan pencuri masuk darinya.[5]

Kedudukan Pendapat Ahli Tsughur

Allah memang mengutamakan mujahid di atas orang-orang yang duduk (tidak berangkat untuk berjihad), dalam firman-Nya:

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (An-Nisa: 95).

Allah juga  akan memberikan hidayah atau tuntunan kepada mujahid, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69).

Ya, itulah sebagian keutamaan bagi mujahid di jalan Allah. Namun, apakah keutamaan itu bisa menjadi legitimasi untuk menolak pendapat ulama, dan kita katakan:  La yufti qaid limujahid (Orang yang tidak berjihad tidak berfatwa untuk mujahid)?

Keyakinan untuk merujuk kepada pendapat ahli tsughur, umumnya dikuatkan dengan atsar:

Bila manusia berselisih, maka lihatlah apa pendapat ahli tsughur—atau bertanyalah kepada ahli tsughur—karena Allah berfirman, ” Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”

Perkataan tersebut dinisbatkan kepada Ibnu Mubarak, Ahmad bin Hambal, dan Sufyan bin Uyainah. Setelah ditelusuri, riwayat tersebut bersumber ke Sufyan bin Uyainah, lalu dinisbatkan kepada lainnya.

Sebagian ahli tafsir menyebutkan ungkapan tersebut di akhir surat Al-Ankabut dari Sufyan bin Uyainah. (Bada’i Al-Fawaid, III/110). Ats-Tsa’labi dalam Al-Kasyfu wal Bayan, VII/290 mengatakan, “…. saya mendengar Sufyan bin Uyainah berkata, “Bila manusia berselisih, lihatlah apa kata ahli tsughur karena Allah SWT berfirman, ‘Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”

Analisis menyatakan bahwa riwayat tersebut lemah.[6] Seandainya sahih, pemahaman terhadap ungkapan tersebut adalah keutamaan ahli ilmu yang mengumpulkan jihad, ribath, dan ilmu. Bukan keutamaan mujahid yang tidak berilmu di atas ahli ilmu. Sebab perintah Allah adalah “Bertanyalah kepada ahli ilmu bila kalian tidak mengetahui.” (Al-Anbiya’: 7).

Lebih lanjut, kelemahan keyakinan seperti itu dapat dilihat dalam beberapa catatan berikut:

Pertama: Ungkapan la yufti qaid Ii mujahid bukanlah kaidah fikih yang memiliki dasar yang jelas dari Al-Qur’an maupun Sunnah.

Ahli ilmu telah meletakkan syarat-syarat yang jelas untuk berfatwa yang dilandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka tidak meletakkan syarat mufti harus seorang mujahid, atau harus tinggal di wilayah tsughur.

Perkataan orang yang berilmu patut didengar di mana pun ia berada, sedangkan pendapat orang yang bodoh tidak pantas diambil di mana pun ia tinggal. Benar dan tidaknya suatu fatwa tidak ditentukan dari status dan di mana tempatnya, tetapi dilihat dari dalil dan cara menyimpulkan hukum.

Banyak imam dan ahli ilmu yang bukan ahli tsugur, seperti imam madzhab yang empat. Namun karya tulis dan fatwa-fatwa mereka dalam perkara jihad telah dan masih menjadi pilar yang kokoh dalam fikih Islam dan sumber referensi bagi para ulama setiap zaman.

Ibnu Qayyim mengatakan, “Seorang mufti atau hakim tidak mungkin berfatwa dan menentukan hukum dengan benar kecuali memahami dua hal:

  1. Memahami realitas dan mampu mengumpulkan informasi yang benar atas apa yang terjadi melalui kaitan-kaitan, gejala, dan tanda-tandanya hingga benar-benar menguasai masalah
  1. Mmahami hukum atas suatu kasus. Yakni memahami hukum Allah yang berlaku dalam Kitab-Nya atau menurut lisan Rasul-Nya atas kenyataan yang terjadi, kemudian menerapkan salah satunya.” (I’lamul Muwa’qiin, I/96).

Kedua: Seandainya mujahidin lebih tahu tentang realitas, tidak berarti ia otomatis mengetahui hukumnya, atau dialah yang lebih berhak untuk berfatwa. Sebab hukum yang benar itu didasarkan kepada Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Allah berfirman:

BACA JUGA  Penembakan Terbaru di Klub Malam AS, Polisi Sebut Bukan Terorisme

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa’: 59).

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43)

“Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka.” (An-Nisa’: 82).

Dalam masalah syariat, bukan posisinya sebagai mujahid yang dilihat, melainkan keilmuannya. Perkataan mujahid diambil ketika ia mampu secara ilmu dan memiliki kemampuan berfatwa. Jadi, tidak ada prioritas kepercayaan kepada perkataan yang didasarkan oleh keberadaan, tetapi kapasitas keilmuan.

Hal ini berbeda dengan keahlian militer di lapangan, seperti  strategi perang, pelatihan militer, pembagian pasukan, jenis-jenis senjata dan semacamnya yang berkaitan dengan proses perang dan komandonya, maka tidak dipungkiri, orang yang di lapangan lebih tahu.

Ketiga: Fanatisme terhadap perkataan tersebut bisa menyebabkan seseorang menolak perkataan ulama yang tsiqah dan dikenal keilmuannya. Sisi lain, ia akan lebih percaya kepada perkataan orang yang tidak layak diprioritaskan dalam masalah ilmu, bukan seorang yang fakih bukan pula ulama. Hasilnya adalah penyimpangan.

Rasulullah bersabda, “Allah tidak mencabut ilmu secara langsung dari manusia, tetapi dengan mencabut ilmu dengan mencabut (nyawa) ulama. Hingga ketika tidak ada lagi seorang alim, manusia mengambil pemimpin yang bodoh, maka mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut sangat jelas, siapa pun yang mengklaim berilmu, lalu berfatwa sembarangan, bisa berakibat sesat dan menyesatkan. Maka mufti yang dipercaya adalah ahli ilmu yang telah diakui kemampuan ilmunya dan mampu berfatwa. An-Nawawi berkata, “Janganlah belajar kecuali dari orang yang sempurna keahliannya, tampak jelas keagamaannya, dan nyata pengetahuannya, dan populer perbuatannya. Muhammad bin Sirin dan Malik bin Anas dan ulama salaf lainnya telah berkata, ‘Ilmu ini adalah agama. Maka lihatlah dari siapa kalian  mengambil agama kalian.

Keempat: Surat An-Nisa’ ayat 95, tentang keutamaan mujahid atas orang yang duduk tidak berjihad perlu dipahami dengan benar. Ini bukan keutamaan mutlak atas selain mereka, termasuk ulama. Ayat itu menjelaskan keutamaan orang yang keluar berjihad di jalan Allah di atas orang-orang yang yang duduk/tidak berjihad, dan keutamaan orang yang berjihad dengan harta dan jiwa di atas orang yang berjihad dengan jiwa saja. Ayat tersebut menjelaskan derajat-derajat mujahidin, bukan keutamaan mujahidin di atas ulama.

Ath-Thabari mengatakan, “Allah mengabarkan bahwa keutamaan itu milik mujahidin. Bahwa mereka dan orang-orang yang tidak berangkat berjihad (qa’idin) sama-sama memiliki kebaikan. Kalau saja orang-orang yang tidak berangkat jihad menyia-nyiakan kewajiban, niscaya mereka mendapatkan keburukan, bukan kebaikan.” (Tafsir Ath-Thabari, IV/296).

Al-Qurthubi berkata, “Shahih dan jelas dalam hadits bahwa Nabi saw bersabda saat pulang dari salah satu peperangannya, “Sesungguhnya di Madinah ada orang-orang yang tidaklah kalian mengarungi lembah dan melewati suatu perjalanan kecuali mereka bersama kalian. Mereka itulah orang-orang yang ditahan  oleh uzur (untuk berjihad).” (Tafsir Al-Qurthubi, V/342).

Hadits tersebut menunjukkan bahwa orang yang memiliki uzur mendapatkan pahala seperti orang yang berangkat berjihad, ada yang mengatakan bahwa bisa jadi pahalanya sama. Karunia Allah itu luas.   Ada juga pendapat bahwa ia mendapatkan pahala tetapi tidak dilipatkan seperti pahala yang berangkat langsung. Semua Allah yang menentukan.

Dari sini, dapat diketahui bahwa orang yang tidak berangkat berjihad belum tentu seorang yang enggan berjihad. Orang yang sibuk menuntut ilmu, mengajari manusia, maka ilmu mereka bagian dari jihad. Pahala mereka bisa jadi lebih besar, mencakup siapa saja yang bekerja untuk mendukung jihad dan mujahidin, seperti penggalangan dana, medis, media dan semacamnya.

Jadi, itu bukanlah keutamaan mujahidin atas selain mereka secara mutlak, melainkan keutamaan mereka di atas orang yang tidak ikut berjihad dan tidak ikut andil apa pun.

Kelima: Ayat “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Al-Ankabut: 69), tidaklah dikhususkan untuk mujahid di medan jihad saja.

Akhir surat Al-Ankabut tersebut adalah ayat Makkiyah, turun sebelum turunnya syariat jihad dalam arti perang, berdasarkan perkataan para ahli tafsir. Jihad dalam ayat tersebut bermakna umum, yakni memerangi orang kafir dengan semua bentuk perlawanan.

BACA JUGA  Netizen: Sekolah Islam Berizin Ditolak, Patung tak Berizin Dibiarkan

Ibnu Juzi berkata, “Yakni jihad jiwa dalam bentuk kesabaran atas gangguan orang kafir,  dan sabar untuk keluar dari negeri seniri atau lainnya. ada juga yang mengatakan maknanya adalah perang, namun ini lemah. Karena perang belum disyariatkan ketika ayat ini turun.” (Tafsir Ibnu Juzi, At-Tashil li Ulumit Tanzil, II/129).

As-Sudi dan lainnya mengatakan, “Ayat ini turun sebelum kewajiban perang diturunkan.”

Ibnu Athiyyah berkata, “Ayat ini (turun) sebelum jihad dalam arti perang. Maksudnya adalah jihad dalam makna umum dalam agama Allah dan mencari keridhaan-Nya.” (Tafsir Al-Qurthubi, XIII/364).

Abdullah bin Abbas berkata, “Orang-orang yang berjihad dalam ketaatan kepada Kami, niscaya kami bimbing mereka kepada jalan-jalan pahala Kami. Ini mencakup ketaatan secara umum.” (Tafsir Al-Qurthubi, XIII/365).

Ibnu Qayyim berkata, “Dan orang-orang yang berjihad di (jalan) Kami” Allah mengaitkan hidayah dengan jihad. Maka manusia yang paling sempurna bimbingannya adalah yang paling besar jihadnya. Dan jihad yang paling wajib adalah jihad dengan jiwa, jihad melawan nafsu, jihad melawan setan, dan jihad melawan godaan dunia. Maka siapa yang berjihad dengan empat itu di jalan Allah, Allah akan menunjukkan jalan-jalan menuju keridhaan-Nya yang bersambung ke surga-Nya. Siapa yang meninggalkan jihad, ia kehilangan bimbingan sebesar apa ia meninggalkan jihad. Al-Junaid berkata, ‘Orang-orang yang berjihad melawan hawa nafsu mereka dengan bertobat niscaya Kami membimbing mereka ke jalan ikhlas.” (Al-Fawaid, I/59).

Keenam: Hidayah dan bimbingan berkaitan dengan syarat-syaratnya, bukan hak otomatis eksklusif bagi setiap orang yang berjihad. Jihad bagi seorang mujahid adalah ibadah yang tidak lepas dari ujian, ada yang ikhlas dan ada pula yang celaka (kita berlindung kepada Allah darinya). Ini menguatkan bahwa tolok ukurnya adalah kapasitas ilmu.

Ibnu Taimiyyah berkata, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” Muadz bin Jabal berkata, ‘Mencari ilmu adalah jihad.’ Allah berfirman, “Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).’ (Asy-Syura: 13). Allah mengaitkan hidayah atau bimbingan dengan pertobatan. Allah berfirman, ‘Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan.’ (Al-Maidah: 16). Allah berfirman, “Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).’ (An-Nisa’: 66).  (Jami’ul Masail, VI/82).

Ketujuh: Dalam kondisi ada kekhilafahan Islam, mujahid ahli tsughur berada di bawah perintah Amir, maka di pundaknya ada kewajiban taat (sam’u wa tha’ah) kepada pemimpin. Bukan menjadi pemutus perkara bagi manusia. Selama bukan maksiat, ia wajib taat kepada Amir.

Kedelapan: Dalam sejarah, ahli tsughur merujuk kepada ahli fikih arus utama untuk mengetahui perkataan yang lebih kuat. Ibnu Asakir meriwayatkan dalam Tarikh Dimasq, 35/167, dari Muhammad bin Abdul Hukm yang berkata, “Ahli Tsughur datang kepada Imam Malik dan berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya pendapat dua laki-laki ini mengungguli ahli tsughur: Sufyan Ats-Tsauri dan Al-Auza’i. Menurut Anda, pendapat siapa yang harus kami ambil?” Imam Malik menjawab, “Al-Auzai bagi kami adalah seorang imam!”

Sejarah juga mencatat bahwa ijtihad ahli tsughur pernah dikoreksi oleh orang yang bukan ahli tsughur. Seperti dilakukan Umar terhadap Abu Ubaid Ats-Tsaqafi dalam Perang Jisr. Abu Ubaid mengalami kekalahan ketika itu. Maka Umar berkata, “Kalau mereka datang kepadaku, aku akan menjadi bagian dari mereka.” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, XII/536).

Imam Ahmad pernah merasa aneh terhadap pendapat ahli tsughur dalam masalah jihad! Yaitu anak terluka yang ditahan bersama kedua atau salah satu orang tuanya (apakah status agamanya mengikuti orang tua atau tidak). Imam Ahmad berpendapat menyelisihi pendapat mereka dan berhujjah dengan hadits, “Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi atau Nasrani.” (Al-Istidzkar, III//117). Ia menertawakan pendapat mereka dan berkata, “Ahli Tsughur membuat sesuatu yang saya tidak paham apa maksudnya!” (Ahkam Ahli Dzimmah, II/193). Hal ini menguatkan bahwa tolok ukur kebenaran pendapat—yang pantas diikuti adalah kekuatan dalil, bukan status sebagai ahli tsughur atau tidak!

Sebagai catatan, Syaikh Athiyatullah Al-Libbi, salah satu ulama Al-Qaidah, pernah menyampaikan kalimat “la yufti qa’id li mujahid” dalam konteks mengkritisi ulama su’, yang sering berfatwa tentang jihad dan mujahidin tanpa pengetahuan yang detil tentang realitas di lapangan. Dapat disimpulkan bahwa ungkapan ini bisa digunakan sesuai porsinya, namun bukan alat untuk menolak perkataan yang benar dari ulama. Wallahu a’lam.

Penulis: Agus Abdullah

___________________________

[1] https://isdarat.tv/16479, diakses 12 Juli 2015

[2] Lihat Lisanul Arab, IV/103.

[3] Tajul Arus, X/322.

[4] Aunul Ma’bud, 11/216.

[5] Al-Iqna’, IV/292.

[6] Lihat ulasannya di forum Ahli Hadits: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=146873

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Rohah

Hei…! Aku Bukan Budak

KIBLAT.NET – Ummu Salamah RA mengatakan bahwa Abu Bakar RA pergi ke Basrah untuk berdagang....

Ahad, 12/07/2015 03:45 0

Arab Saudi

Antisipasi Jemaah Umrah, Saudia Airlines Tambah 60.000 Kursi

KIBLAT.NET, Riyadh – Selama bulan suci Ramadhan, maskapai Saudi Arabian Airlines (Saudia) telah menambahkan lebih...

Sabtu, 11/07/2015 18:01 0

Palestina

Tim Radio Suara Palestina Salurkan Zakat Fitrah Tahap Keenam di Gaza Palestina

KIBLAT.NET, Gaza – Tim Radio Suara Palestina (RSP) pada Jumat, (10/07) membagikan Zakat Fitrah tahap keenam dengan...

Sabtu, 11/07/2015 17:29 0

Indonesia

Soal Pilot Indonesia Gabung ISIS, CIIA: Australia Paranoid

KIBLAT.NET, Jakarta – Dua penerbang asal Indonesia, Tommy Abu Alfatih alias Tomi Hendratno dan rekannya Ridwan...

Sabtu, 11/07/2015 16:40 1

Yaman

Syeikh Qasim al-Raymi, Pemimpin Baru AQAP Tegaskan Baiat pada Al-Qaidah

KIBLAT.NET – Melalui pesan audio, Al-Qaidah cabang semenanjung Arabia (AQAP) merilis pernyataan terkait penunjukan pemimpin baru...

Sabtu, 11/07/2015 16:00 0

Turki

Tuai Gelombang Protes, Kedutaan Thailand di Turki Ditutup

KIBLAT.NET, Ankara – Thailand menutup kedutaan serta kantor konsulatnya di Turki pada hari Jumat (10/07),...

Sabtu, 11/07/2015 15:17 0

Turki

Turki Izinkan AS Gunakan Pangkalan Udara NATO

KIBLAT.NET, Ankara – Pertemuan dua hari antara Wakil Menteri Luar Negeri Turki, Feridun Sinirlioglu yang...

Sabtu, 11/07/2015 14:17 0

Yaman

Amir Baru AQAP Ancam AS, Namun Tak Lupakan Syiah

KIBLAT.NET, Hadramaut – Pemimpin baru Al-Qaeda in the Arabian Peninsula (AQAP), Syaikh Qasim Al-Rimi, baru-baru...

Sabtu, 11/07/2015 08:00 0

Video Kajian

[Video] Korelasi Keadaan Umat dan Pertolongan Allah Bersama Ust. Abu Rusydan Part 1

KIBLAT.NET – Apabila kita memperhatikan kondisi kekinian umat Islam saat ini, kita akan menyaksikan kondisi yang...

Sabtu, 11/07/2015 07:13 0

Suriah

Hari Ketujuh, Perang di Kota Zabadani Masih Sengit

KIBLAT.NET, Damaskus – Pertempuran di kota Zabadani, pedesaan Damaskus, masih berlangsung sengit hingga memasuki hari...

Sabtu, 11/07/2015 07:00 0