MaSSSA: Kita Siap Kirim Misi Penyelamatan ke Arakan

KIBLAT.NET, Aceh – Sekjen Malaysian Civil Society Solidarity Association (MaSSSA) Mustapa Mansor menilai penyelesaian masalah Rohingya tidak cukup hanya dengan memberi bantuan kepada pengungsi.

Menurutnya, diperlukan bentuk perlawanan lain untuk mendesak Myanmar mengembalikan hak-hak Muslim Rohingya.

“Kita mau Myanmar mengakui Rohingya sebagai warga negara mereka,” katanya saat berbincang dengan Kiblat.net dalam kunjungannya ke pengungsian Bireun Bayeun, Aceh Timur, Ahad sore (05/07).

Ditambahkannya, apabila Myanmar enggan memenuhi tuntutan tersebut, MaSSSA akan menggalang kekuatan umat Islam di negara-negara mayoritas Muslim untuk mengirim misi kapal penyelamatan seperti misi menembus blokade Gaza dengan kapal Freedom Flotilla.

“Dulu-dulu kita menolerir, tidak apa-apa, tidak apa-apa. Sekarang kita bertekad Rohingya harus kembali ke tanah air mereka dengan terhormat,” ucap Mustapa.

Mustofa mengapresiasi sikap tiga negara ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand yang mau menampung para pengungsi Rohingya selama satu tahun. Namun, dia menilai perlu ada penyikapan situasi selanjutnya, setelah satu tahun berlalu.

“Pengungsi berharap akan mencari negara lain, tapi itu tidak pasti. Terkadang mengurusnya bisa bertahun-tahun. Seperti di Malaysia bisa sampai 10 tahun,” ungkapnya.

Jika itu terjadi, lanjut Mustopa, yang paling dirugikan adalah Muslim Rohingya. Sebab, mereka harus meninggalkan tanah air, harta benda, sanak saudara mereka. Bahkan, tanah dan harta benda mereka juga dirampok.

“Inilah gambaran betapa kejamnya Myanmar kepada saudara-saudara kita. Kalau PBB, ASEAN, dan OIC tidak ada tindakan riil, sekarang tidak ada kompromi lagi. Kita sudah memutuskan, akan menggerakkan umat,” pungkas Ketua Road 4 Peace itu.

BACA JUGA  Pria Palestina Ini Dipenjara Israel Selama 39 Tahun

Sekedar diketahui, Mustapa bersama rombongan menghadiri musyawarah “Pertemuan LSM se-Nusantara untuk Selamatkan Rohingya” di Pondok pesantren Darul Mujahidin pada Sabtu, 4 Juli 2015, di Lhokseumawe.

Dalam pertemuan itu, disepakati pembentukan Gerakan Nusantara Selamatkan Rohingya (GENUSRA) dan 11 resolusi tuntutan kepada Myanmar, OIC, dan PBB.

Pada kunjungannya ke kamp pengungsi Rohingya, Mustapa ditemani dua orang putrinya yang beserta aktivis Muslim Patani, Syarif dan aktivis Muslim Kamboja, Rasyid.

Mustapa dan rombongan dijamu buka puasa bersama di tenda relawan FPI Aceh. Kemudian, sempat berkunjung ke tenda relawan Hilal Ahmar Jakarta.

 

Reporter: Bilal Muhammad

Editor: Fajar Shadiq

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat