Pengungsi Rohingya di Fajar Ramadhan

KIBLAT.NET – “Aamiiiiiiin..” teriak Kiblat.net saat shalat Subuh pertama di pusat karantina pengungsian Muslim Rohingya, di Bireun Bayeun, Aceh Timur.

Beberapa detik kemudian, kami baru tersadar hanya seorang diri yang mengucapkan ‘Aamiin’ saat sholat berjamaah.

Di dalam benak, kami semakin yakin para pengungsi Rohingya juga bermazhab Hanafi sebagaimana dianut masyarakat Muslim di Asia Selatan seperti di Pakistan, Afghanistan, India, dan Bangladesh.

Ya.. Di dalam Mazhab Hanafi memang tidak mengeraskan ‘Aamiin’ usai membaca surat Al-Fatihah ketika shalat berjamaah.

Suasana masjid berbentuk panggung di pengungsian itu, ramai diisi jamaah pengungsi Rohingya dan Bangladesh. Para jamaah hampir memenuhi ruang masjid seukuran 60 meter persegi itu.

“Biasanya, awal-awal Ramadhan para pengungsi shalat sampai ke luar masjid, sekarang agak berkurang,” kata Muhammad, santri Pondok Pesantren Bin Baz Yogyakarta yang menjadi relawan di pengungsian.

Suasana Ramadhan di kamp pengungsi Rohingya Bireun Bayeun, Aceh Timur, Foto: Bilal/Kiblat.net
Suasana Ramadhan di kamp pengungsi Rohingya Bireun Bayeun, Aceh Timur, Foto: Bilal/Kiblat.net

Meski demikian, tidak mengurangi kekhusyukan jamaah saat mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran dari imam shalat Rohingya.

Setelah shalat usai, jamaah tidak langsung beranjak dari masjid. Mereka masih mendengarkan taushiyah dari Muhammad Nur, seorang warga Rohingya yang pandai ilmu agama.

Tapi, untuk kali ini saya tidak bisa menangkap isi ceramah Muhammad Nur, karena dia mengisi kultum dengan bahasa Rohingya dengan mengutip sejumlah ayat Al-Quran dan Hadis. Tidak begitu lama, Muhammad Nur menutup ceramahnya itu dengan doa bersama yang diamini oleh para pengungsi.

BACA JUGA  PKS Pertanyakan Strategi Pemerintah Atasi OPM

Setelah itu, sebagian jamaah mengambil posisi untuk membaca Al-Quran, sementara sebagian lainnya belajar membaca Al-Quran kepada dua dai dari ponpes Bin Baz dan beberapa relawan Hilal Ahmar Jakarta.

“Sudah ada kemajuan bacanya, dari iqro satu sekarang sudah iqro empat,” ujar Muhammad yang ditugaskan mengajar baca Al-Quran kepada pengungsi kepada Kiblat.net.

Di sela-sela belajar Al-Quran, sebagian pengungsi bekerja membersihkan halaman kamp. Ada yang memungut sampah menggunakan keranjang plastik, ada juga yang menyapu halaman. Setidaknya, 10 pengungsi ambil bagian dalam bersih-bersih.

“Mereka ada jadwal bekerja membersihkan kamp, itu diatur oleh mereka sendiri,” ungkap Muhammad.

Beberapa remaja pengungsi, mengisi pagi Ramadhan dengan riangnya bermain bulu tangkis. Sementara ratusan pengungsi lainnya, menikmati pagi Ramadhan dengan tidur bersama di tenda-tenda.

Sebelumnya, saat saya tiba di camp karantina pada malam hari, seorang pengungsi terdengar menggunakan pengeras suara masjid menyanyikan senandung-senandung berbahasa Rohingya.

“Itu bukan pengajian, tapi lagu-lagu mirip India. Hampir tiap malam mereka bersenandung di masjid,” kata Rahmat, salah seorang relawan Hilal Ahmar.

Tidak sedikit juga, dari pengungsi Bangladesh mengisi malam ramadhan dengan bermain pingpong di depan tenda mereka. Ketika Kiblat.net hendak mengambil gambar mereka, tiba-tiba dua orang remaja Bangladesh memanggil-manggil.

Pengungsi Rohingya menghabiskan waktu dengan berolahraga.
Pengungsi Rohingya menghabiskan waktu dengan berolahraga.

“Abang-abang, foto-foto,” lontar mereka meniru bahasa Indonesia.

“Cheerss..” gambar dua remaja berkulit gelap dengan bedak tebal pun kemudian tersimpan di ponsel Kiblat.net.

BACA JUGA  Penusuk Syekh Ali Jaber Dituntut 10 Tahun Penjara

 

Ditulis oleh: Bilal Muhammad dari kamp pengungsi Rohingya, Aceh Timur

Editor: Fajar Shadiq

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat