Aceh, Cara yang Indah Ingatkan Kita pada Rohingya

KIBLAT.NET – Allah SWT punya cara yang indah untuk mengingatkan kembali pada Rohingya. Suatu kaum yang disebut PBB sebagai etnis paling teraniaya di muka bumi.

Pertengahan Mei 2015 lalu, didamparkannya perahu bermuatan ratusan orang itu ke Aceh. Bukan ke Jawa, bukan Bali atau Papua. Mungkin secara jarak, Aceh memang yang paling dekat dari laut Andaman, tempat di mana konon kabarnya masih ada 7.000 manusia perahu Rohingya menanti takdirnya.

Jika boleh berandai-andai. Apa jadinya jika 1.700 manusia perahu seluruhnya terdampar di Pantai Sanur atau Pantai Kuta yang terkenal indah itu?

November 2014 lalu misalnya, perahu Rohingya terdampar di pesisir pantai Krabi, Phuket, Thailand. Sebagaimana Bali, Phuket dikenal akan keindahan alamnya sehingga menjadi destinasi wisata mancanegara.

Tapi naas bagi Rohingya, bukannya disambut bak turis asing, mereka diturunkan paksa aparat militer. Tak kenal usia, pria ataupun wanita, mereka dijemur siang bolong tanpa busana di atas pasir putihnya yang terkenal hingga Benua Eropa. Bahkan, kejadian itu dilakukan hanya beberapa puluh meter dari lokasi tempat berjemurnya para turis.

Tapi Aceh berbeda. Tradisi keislamannya yang kental membuat masyarakatnya memiliki keluhuran moral.

Setelah terombang-ambing selama dua bulan di tengah lautan, dipingpong kesana kemari oleh patroli laut militer Thailand, Malaysia dan Indonesia, masyarakat Aceh, khususnya nelayan memutuskan untuk bertindak.

Mereka membantu manusia perahu Rohingya dengan memberikan kepada mereka air minum dan makanan secukupnya. Kendati patroli laut Indonesia, pada awalnya sempat mengancam para nelayan jika mereka bersikeras membantu manusia perahu. Mereka bergeming. Bagi masyarakat Aceh, ini bukan hanya urusan kemanusiaan tapi keimanan.

BACA JUGA  Suripto: Gerakan Dakwah Harus Andalkan Mata dan Telinga Intelijen

Tengku Malikul Saleh Al-Allubi, salah seorang pakar kemaritiman Aceh punya cerita. Menurutnya, nelayan Aceh memang terikat dengan adat laut yang masih dipegang teguh hingga kini. Tradisi yang diwariskan secara tutur dari generasi ke generasi itu menjunjung tinggi kemanusiaan meski mereka berada di tengah luasnya samudera.

Salah satu contoh tradisi laut nelayan Aceh, adalah ketika hendak mencari ikan namun kapal tersebut menemukan mayat manusia di tengah lautan, pantang bagi kapal tersebut untuk mencari ikan sebelum kembali ke darat dan mengembalikan jasad tersebut ke tempat selayaknya.

Keluhuran Budi Warga Aceh

Tapi, keluhuran budi masyarakat Aceh bukan hanya di tengah laut saja. Di darat pun mereka menunjukkan karakter yang sama.

Zulkifli, sebagai seorang Mukim yang membawahi secara adat sejumlah desa di Aceh menuturkan, kedatangan pengungsi Rohingya ini bagaikan kedatangan orang-orang muhajirin. Oleh karena itu, dengan senang hati masyarakat Aceh akan membantu. “Kalau ada orang kesusahan datang kepada kami, sementara anak kami di rumah belum makan. Maka kami akan dahulukan mereka,” kata Zulkifli.

Zulkifli sedang tak berwacana. Kisah-kisah yang menyentuh hati kerap mudah ditemui di Aceh. Misalnya, kisah seorang nenek yang diceritakan oleh Fahri, seorang relawan lokal di kamp pengungsian Bireun Bayeun, Aceh Timur.

Ketika sedang bertugas di tenda belajar bagi pengungsi Rohingya, beberapa waktu lalu, Fahri mengaku melihat seorang nenek tergopoh-gopoh turun dari angkot. Dengan membawa kantung plastik yang tak begitu besar ukurannya, sang nenek mendatangi petugas sosial. “Ini nenek tak punya banyak, hanya punya beras satu bambu, tolong diberikan pada Rohingya,” ujarnya. Meski tak terlihat berkecukupan, nenek itu merasa tak ada batas dalm beramal.

BACA JUGA  Din Dituduh Radikal, Abdul Mu'ti: Jelas Salah Alamat

Kisah lainnya datang dari kamp pengungsi Rohingya di Desa Lapang, Kuala Cangkoi. Saat itu para pengungsi Rohingya tengah mengular dalam satu barisan. Mereka sedang menunggu diberi jatah makanan.

Antiqoh, seorang wanita berusia 70 tahun terlihat meneteskan air mata, tak jauh dari antrian panjang para pengungsi. Mawardi, aktivis Aceh yang kerap mengantar Kiblat.net selama di Aceh bertanya, “Ada apa gerangan, nek?”

Nenek Antiqah
Nenek Antiqah

Dengan nada lirih, Antiqoh menjawab, “Saya sedang memerhatikan antrian panjang ini, memori saya telah kembali, ingatan tentang kejadian sebelas tahun silam telah menyesakkan dada, sehingga air mata tak sanggup saya bendung,” lanjutnya.

“Ketika kami di barak pengungsian korban Tsunami dulu,” Nek Antiqah melanjutkan,”Nasib kami masa itu persis seperti yang saya lihat di depan mata saya hari ini,” lirihnya.

Rohingya memang begitu akrab dengan derita. Sejak kerajaan Arakan diserang Budha pada abad 17, sejak itulah mereka ternista. Hidup dalam pelarian, tak pernah dihargai sebagai seorang manusia. Dan, kita pun sering lupa dengan Rohingya.

Tapi, Aceh dan segenap tradisi dan ragam kisah warganya menawarkan seteguk air pelepas dahaga. Meski telah digulung oleh bencana dahsyat Tsunami dan ditindas oleh perihnya penindasan rezim berkuasa, Aceh tak pernah lupa dengan ikatan iman dan kemanusiaan.

Sebagaimana kata-kata hikmah yang sering terdengar di Bumi Serambi Mekah, “Geutanyong Aceh Meutalo Wareeh, Gasih Meugasih Bila Meubila”. Kita orang Aceh bertali-waris saling kasih-mengasihi saling bela-membela.

 

Oleh: Fajar Shadiq

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat