Ali Abdullah Saleh dan Impian Perdamaian di Yaman

KIBLAT.NET – Delapan bulan lebih sejak jatuhnya Sana’a ketangan milisi Syiah Hautsi pada September 2014, Yaman masuk kedalam pusara konflik yang semakin parah. Ketika konflik tidak terlihat membaik, Arab Saudi bersama koalisi Arab-nya datang membawa “bingkisan” berupa Operasi Badai Pengharapan di Yaman. Kerajaan Arab Saudi mendesak pemberontak Syiah Hautsi keluar dari ibukota dan kembali ke basis mereka di utara Yaman.

Syiah Hautsi dengan keras menolak, operasi militer pun terus berlangsung. Saudi tetap dengan pendiriannya untuk mengembalikan Presiden Abdu Rabbuh Manshur Hadi yang saat ini sedang berada di pengasingan di Arab Saudi sedangkan Houthi masih keras untuk menguasai Sana’a dengan dalih merekalah yang didukung oleh rakyat Yaman.

Di awal invasi udara koalisi Arab, pemberontak Hautsi dengan tegas menolak segala bentuk perundingan dengan negara-negara yang terlibat pemboman di Yaman seperti AS, Arab Saudi, Pakistan, Maroko, Mesir, Yordania dan akan masuk kedalam perundingan jika Saudi dan koalisinya berhenti melakukan serangan udara terhadap posisi mereka di Yaman.

Namun di luar dugaan, pemberontak Syiah Hautsi kini mau menerima ajakan komunitas internasional untuk masuk meja perundingan. Pembicaraan dengan Syiah Hautsi direncanakan digelar di Genewa, Swiss pada 14 Juni namun ditunda menjadi 28 Juni akibat kondisi lapangan yang memburuk.

Apa yang membuat Syiah Hautsi nampak berubah pikiran, apakah kekuatannya kini telah menurun akibat serangan udara koalisi Arab? Apakah ini bagian dari strategi Syiah Hautsi? Harus dipahami bahwa apa yang terjadi di Yaman saat ini lebih banyak dilihat dari sisi “dualisme“ perang dua kubu, meski kenyataan di lapangan, konflik yang terjadi jauh lebih kompleks daripada yang dibayangkan.

BACA JUGA  Dari Pembubaran ke Pembaruan

Tulisan singkat ini bukan untuk menganalisis penyebab Syiah Hautsi mau mengambil kebijakan untuk berunding dengan pihak luar, namun untuk mendalami apakah perundingan di Genewa tersebut mampu membawa perdamaian yang signifikan untuk masa depan Yaman.

Sudah umum diketahui bahwa mantan Presiden Ali Abdullah Saleh yang kini berkoalisi dengan pemberontak Syiah Hautsi merupakan tokoh politik di Yaman yang terkenal oportunis dan memiliki sikap paranoid, meskipun terhadap mitranya sendiri.

Diawali dengan menjabatnya Ali Abdullah Saleh menjadi presiden Yaman bersatu (Republik Arab Yaman) pada awal 90-an saat dua Yaman, yaitu Yaman Utara dan Yaman Selatan sepakat untuk bersatu dan diwakili Ali Salim Beidh yang berhaluan sosialis, Presiden Saleh terlibat ketegangan dengan pihak sosialis. Ali Abdullah Saleh pun menjalin hubungan dengan IM dan memanfaatkannya untuk kepentingan melawan kubu sosialis.

Entitas Ikhwanul Muslimin akhirnya berbalik melawan Ali Abdullah Saleh dan membentuk aliansi dengan kubu sosialis akibat sikap Abdullah Saleh yang cenderung paranoid akibat banyaknya pos-pos penting di pemerintahan yang dikuasai Partai Islah yang notabene-nya IM. Posisi-posisi strategis yang jatuh ke tangan IM seperti menteri pendidikan, yang menyebabkan IM banyak berpengaruh kedalam sistem pendidikan di Yaman, menteri keuangan dan menteri dalam negeri serta jabatan-jabatan penting di dalam militer dan intelijen.

Krisis menjadi semakin rumit saat wakil presiden, Ali Salim Beidh mengundurkan diri tahun 1994 dan mendukung pemberontakan bersenjata terhadap pemerintahan Ali Abdullah Saleh yang dinilai tidak berlaku adil dan diskriminatif serta tidak mampu memberikan pelindungan terhadap rakyat Yaman.

BACA JUGA  Dualisme Penanganan Perkara Penembakan Pengawal HRS

Hingga tahun 2004, kelompok Syiah Hautsi mengangkat senjata terhadap pemerintahan pusat yang menyebabkan konflik berdarah dengan korban tewas kurang lebih 5000 orang dari kedua belah pihak. Konflik keduanyapun terhenti pada 2008. Yang perlu menjadi perhatian bahwa saat menghadapi pemberontakan Syiah Hautsi 2004-2008, Saleh mendapat dukungan dari Arab Saudi yang notabene-nya juga sering bersitegang dengan pemerintahan Saleh saat ia berkuasa.

Presiden Ali Abdullah Saleh juga pernah memecat jenderal yang sangat loyal padanya dan menjadi salah satu penyokong utamanya, Mayor Jenderal Ali Muhsin al-Ahmar hanya gara-gara ketakutan Ali Abdullah Saleh akan kudeta jika kekuatan Jenderal al-Ahmar tidak dilucuti.

Ketika Arab Spring, Ali Abdullah Saleh akhirnya terguling dan memilih melarikan diri ke Arab Saaudi akibat tekanan dalam negeri yang kuat. September 2014, Syiah Hautsi kembali melancarkan sikap ofensif terhadap pemerintahan pusat dan berhasil menguasai Sana’a setelah berhasil menyusupkan orang-orangnya didalam pemerintahan Abdu Rabbu Manshur Hadi. Hingga kini korban tewas dalam konflik Yaman telah mencapai setidaknya 1.000 orang.

Rekam jejak presiden Ali Abdullah Saleh yang cenderung sering berganti arah politik dan dilingkupi sikap paranoid serta mudahnya mengganti arah kebijakan memang cukup riskan untuk masa depan politik dan keamanan di Yaman. Sikap Houthi yang mudah memberontak dan sulit memberikan sikap yang loyal pun ikut menjadi penghalang masa depan yang baik di Yaman. Wallahu’alam.

 

Oleh: Angga Saputra, penulis Bina Qalam

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat