Arah Kebijakan AS di Iraq dan Strategi Perang Jarak Jauh Al-Qaidah

KIBLAT.NET – Serangan udara di Iraq oleh Angkatan Udara AS yang didukung negara-negara Arab telah berlangsung sejak 22 September 2014 lalu. Namun, hingga kini serangan udara AS tersebut masih belum memberikan hasil maksimal dalam pertempuran di Iraq.

Hal ini bisa dilihat dari banyaknya kekalahan militer Iraq di berbagai front pertempuran seperti Kirkuk, kegagalan invasi Mosul dan runtuhnya ibukota Fallujah, Ramadi ke tangan IS (Daulah).

Sebuah pertanyaan penting atas ‘pembiaran’ AS terhadap invasi IS di Iraq adalah jika Iraq memang begitu penting bagi Amerika Serikat, kenapa AS mau “berjudi” di Iraq dengan hanya mengandalkan militer Iraq, milisi Syiah dan serangan udara yang selama ini dikenal payah untuk menghancurkan kekuatan milisi di darat. Serangan udara tanpa memberi dukungan langsung di darat hanya dianggap menghambat. Tapi, AS tidak ingin terlihat mengimpor strateginya di Afghanistan dengan melancarkan serangan darat ke Iraq, meski kondisi dan kepentingan AS di kedua negara tersebut hampir sama.

Mungkinkah Amerika Serikat sengaja membiarkan konfrontasi bersenjata ISIS-Iraq terus berlanjut? Sangat sulit untuk berasumsi seperti itu. AS tidak akan mendapatkan banyak keuntungan dengan konflik ISIS – militer Iraq yang berkepanjangan. AS akan lebih diuntungkan jika Iraq berada di tangan pemerintah yang berada di bawah kendali mereka.

Lantas apa yang sebenarnya dipikirkan atau direncanakan oleh para pembuat kebijakan di Washington terhadap perkembangan ISIS dan kondisi yang sedang terjadi di Iraq?

BACA JUGA  Dari Pembubaran ke Pembaruan

Untuk menjawab ketidakjelasan sikap AS atas konflik di Iraq, ada baiknya melihat kembali nasihat dari pengamat dan analis Barat untuk pemerintah AS, rezim Syiah dan sekutunya dalam menghadapi ISIS seperti yang pernah diucapkan analis kontra-terorisme ternama AS, Clint Watts kepada The Long War Journal.

Menurut Watts, AS seharusnya tidak gegabah dalam mengambil keputusan militer di Iraq. Ia menjelaskan bahwa serangan darat meski efektif, hanya akan mampu menimbulkan masalah serius bagi arah konflik di Iraq. Hal tersebut, lanjut Watts, akan membuat petinggi ISIS berpikir serius untuk menjalin hubungan dengan kelompok-kelompok rivalnya di Suriah dan Iraq (sesama Sunni) untuk membentuk koalisi anti-Amerika di Iraq. Meskipun, hanya sebatas kesepakatan gencatan senjata dan tidak pula terlampau jauh dalam mendikte dan mendukung Iraq. Jika itu terjadi, akan sangat beresiko mempercepat kejatuhan rezim Syiah Iraq.

AS sengaja mempertahankan konflik internal antara Mujahidin di Iraq dan Suriah.
AS sengaja mempertahankan konflik internal antara Mujahidin di Iraq dan Suriah.

 

Dengan kata lain, Clint Watts mencoba menyarankan pemerintahan Obama untuk memberi dukungan ke Iraq dengan cara efektif dan menjaga konflik internal pejuang Sunni di Iraq dan Suriah tetap membara. Saran yang cerdas sekaligus licik dari Watts tersebut mungkin telah diambil para pembuat kebijakan di Washington.

Faktor lain yang bisa menjadi asumsi atas ketidakjelasan sikap AS adalah faktor ekonomi. Amerika Serikat meskipun dipercaya memiliki sumber daya dan ekonomi yang sangat besar. Namun faktanya, AS masih cenderung merasa kewalahan dengan strategi lama Al-Qaidah yang nampaknya akan digunakan IS, yaitu strategi “perang jarak jauh”.

BACA JUGA  Netanyahu Perintahkan Pembangunan Rumah di Tepi Barat Dilanjutkan

Penerapan “perang jarak jauh” tersebut akan menguras sedikit demi sedikit kemampuan ekonomi AS hingga tersedot untuk kepentingan perang jangka panjang. Seperti yang telah diketahui, kenekatan AS dalam menginvasi Iraq tahun 2003, kegagalan untuk membuktikan kepemilikan senjata pemusnah massal Saddam Hussein dan kekalahan di Afghanistan telah memicu protes keras dari warga AS akibat besarnya dana pajak yang digunakan untuk kepentingan perang yang berujung kegagalan.

Strategi “perang jarak jauh” telah lama diterapkan oleh Al-Qaidah sejak kepemimpinan Syaikh Usamah bin Laden. Meski metode tersebut tidak memberikan arti kemenangan secara taktis, namun dari sudut pandang perang asimetris, metode perang Al-Qaidah ini mampu memberikan kemenangan strategis. Terbukti, hingga kini strategi tersebut dapat memberikan kerugian terhadap kepentingan dan keuangan AS. Wallahu’alam.

 

Penulis: Angga Saputra, anggota Bina Qolam Indonesia.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat