Analisis Wawancara Al-Jaulani (Bag.2): Strategi Revolusioner Al-Qaidah di Suriah

Sambungan dari bagian satu

KIBLAT. NET – Para analis Barat menilai, tentu saja bagi Syeikh al-Jaulani tidak ada keuntungannya dengan mengakui adanya para agen Al-Qaidah yang mengincar target Barat saat mereka bertempur bersama pasukannya. Karena hal itu hanya akan menjadi pembenaran bagi serangan udara Amerika.

Lebih lanjut para pengamat Barat melihat bahwa di luar pengamatan secara langsung di lapangan, klaim Syeikh al-Jaulani tersebut mereka anggap tidak sesuai dengan fakta. Nama “kelompok Khurasan” tidak banyak membantu dalam kasus Amerika, karena hal itu hanya akan kembali menyebabkan kebingungan. Mengingat bahwa Syeikh al-Jaulani secara terbuka menyatakan kesetiaan kepada Dr. Aiman ad-Dzawahiri, maka Amerika tidak perlu lagi menciptakan narasi baru untuk menjustifikasi serangan-serangannya. Lagi pula, Amerika bisa saja mengatakan bahwa mereka mengebom Al-Qaidah dan akan dibiarkan seperti itu.

Yang lebih penting, AS dianggap belum terlibat dalam kampanye serangan udara secara total terhadap Jabhah Nusrah (JN). Koalisi internasional pimpinan Amerika mengaku hanya menargetkan para komandan Al-Qaidah yang sudah diseleksi, bukan terhadap operasi-operasi militer JN melawan Assad.

Para analis itu mencoba menampilkan contoh, sejumlah pengeboman oleh AS dengan intensitas relatif kecil terjadi saat para pejuang JN menghalau pasukan Assad keluar dari kota Idlib pada bulan Maret yang lalu, atau saat mengusir pasukan Assad keluar dari area di sekitar wilayah-wilayah yang dibebaskan pada beberapa minggu berikutnya. Jika memang Amerika ingin menghambat gerak laju tekanan JN terhadap rezim Assad, tentu kampanye serangan udara akan diperluas.

Malahan, CENTCOM (Central Commando) harus kembali menjelaskan bahwa militer AS tidak menargetkan operasi-operasi anti-Assad oleh Jabhah Nusrah. Dalam proses selanjutnya, CENTCOM bahkan membuat blunder tatkala mereka keliru mengklaim bahwa ada pemisahan yang tegas antara model perlawanan Al-Qaidah dengan rencana anti-Amerikanya.

Oleh karena itu, penjelasan Syeikh al-Jaulani tentang tujuan di balik bombardir Amerika, menurut analis Barat tidak sesuai dengan pengalaman aktual di lapangan selama kurun waktu delapan bulan terakhir sejak dimulainya kampanye serangan udara Amerika. Amerika hanya melancarkan sedikit serangan untuk menghentikan gerak maju JN.

Syeikh Al-Jaulani mengakui adanya orang-orang dari Khurasan yang pernah bekerja di Afghanistan dan Pakistan dan sekarang berada dalam barisannya. Namun, beliau menegaskan bahwa Amerika tidak bisa membuktikan orang-orang tersebut menebar ancaman terhadap Barat. Para analis mencoba menampilkan bukti yang secara substansi membantah argumentasi Syeikh al-Jaulani.

Salah satu figur kunci dari apa yang dinamakan dengan “kelompok Khurasan” adalah seseorang yang berasal dari Kuwait bernama Muhsin al-Fadhli. Ada setumpuk berkas yang mengaitkan dirinya dengan rencana serangan terhadap kepentingan Barat sejak 2002. Menurut pemerintah AS, Fadhli punya prediksi akan adanya serangan 11 September 2001.

Pada tahun 2004, The Long War Journal (TLWJ) mengkonfirmasi bahwa Fadhli telah berada di Suriah pada tahun sebelumnya. Hal ini membawa spekulasi bahwa kemungkinan ia berada di balik rencana serangan pada bulan Mei 2013 terhadap kedutaan AS dan kepentingan Barat lainnya di Kairo. Otoritas Mesir berhasil menggagalkan rencana tersebut yang nampaknya baru dalam tahap perencanaan. Kemudian Amerika menargetkan Fadhli pada bulan September lalu, namun belum ada indikasi kuat yang menunjukkan ia telah terbunuh.

TLWJ pertama kali melaporkan bahwa Sanafi al-Nasr, sepupu ketiga Syeikh Usamah bin Ladin juga merupakan anggota “kelompok Khurasan”. Nasr aktif dalam berbagai peran di dalam tubuh Al-Qaidah. Ia merupakan ahli strategi senior JN sekaligus kepala komite Al-Qaidah yang khusus menangani urusan perencanaan strategis dan pembuatan kebijakan.

Nasr tidak lagi merahasiakan keinginannya untuk menyerang kepentingan Amerika. Ia secara terbuka menyinggung mengenahi serangan-serangan tersebut di akun Twitternya. Hal ini menjadi fakta yang diidentifikasi oleh departemen keuangan Amerika sehingga kemudian memasukkannya secara resmi ke dalam daftar teroris.

Para pejabat intelijen Amerika telah menyampaikan kepada media bahwa agen-agen Al-Qaidah lainnya termasuk para ahli pembuat bom telah dikirim al-Qaidah cabang semenanjung Arab (AQAP) untuk bergabung dengan “kelompok Khurasan”. Menurut informasi, mereka dikirim ke Suriah karena memiliki keahlian dalam membuat bahan peledak yang tidak bisa dideteksi untuk digunakan dalam jenis serangan-serangan dengan target maskapai penerbangan atau target lainnya.

BACA JUGA  Disuntik Vaksin Sinovac, Jokowi Mengaku Agak Pegal

Ada alasan tambahan bagi sebagian analis tersebut untuk meragukan keterangan Syeikh al-Jaulani yang menegasikan keberadaan “kelompok Khurasan”. Beliau mengatakan bahwa situasi di lapangan bisa dilihat sepenuhnya oleh semua orang, dan tidak ada kelompok rahasia seperti “Khurasan”.

Sebaliknya, yang ada adalah kelompok-kelompok terbuka. Syeikh Al-Jaulani melanjutkan, ”Seluruh kelompok bersifat terbuka dan bisa dilihat. Dan hanya ada JN.” Oleh karena itu, Syeikh Al- Jaulani berpendapat bahwa al-Qaidah tidak memiliki kelompok-kelompok rahasia apapun di dalam wilayah Suriah. Bagi para analis Barat, hal itu tidak benar.

Pada tahun 2013, Syeikh Aiman ad-Dzawahiri menegur Syeikh al-Jaulani karena membuka ke publik tentang hubungan JN yang telah berbaiat kepada al-Qaidah. Syeikh Ad-Dzawahiri menjelaskan bahwa ia tidak ingin al-Qaidah mengumumkan kehadirannya di Suriah. Al-Qaidah juga diketahui menanam agen-agen seniornya termasuk Syeikh Abu Khalid as-Suri yang menjadi kepala perwakilan Syeikh ad-Dzawahiri di Suriah hingga kesyahidannya (insyaAllah, red) pada bulan Februari 2014.

Fakta ini dinilai bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh Syeikh al-Jaulani kepada Mansur di Al jazeera kemarin, bahwa Al-Qaidah sengaja menyembunyikan kehadirannya pada organisasi-organisasi jihad tersebut.

Analis Barat menyimpulkan, apakah orang akan menyebutnya sebagai “kelompok Khurasan” atau hanya dengan nama “Al-Qaidah” saja, faktanya tidak berubah, bahwa mudah untuk mengetahui keberadaan agen-agen Al-Qaidah di Suriah yang berpotensi melakukan serangan terhadap Barat.

Strategi Revolusioner Al-Qaidah di Suriah
Sejumlah dokumen yang ditemukan di komplek rumah Syeikh Usamah bin Ladin saat operasi penyergapan mengungkap bahwa Al-Qaidah memiliki beberapa cabang atau wilayah dengan amirnya masing-masing. Para amir ditunjuk untuk mengorganisirprogram yang dilakukan oleh organisasinya pada masing-masing wilayah yang telah ditentukan.

Secara terpisah, Al-Qaidah juga mempunyai satu unit yang secara khusus diproyeksikan untuk pekerjaan-pekerjaan eksternal, atau untuk merencanakan serangan-serangan terhadap kepentingan Barat di luar masing-masing wilayah. Syeikh Usamah Bin Ladin memerintahkan amir wilayah untuk membantu divisi pekerjaan eksternal, namun amir wilayah tersebut tidak mengawasi pekerjaan divisi eksternal itu. Struktur semacam itu masih ada hingga sekarang, berarti bahwa Syeikh al-Jaulani tidak secara langsung bertanggung jawab untuk melakukan serangan terhadap Barat, kecuali jika ia diperintahkan untuk membantu rencana serangan tersebut.

Hal ini tidak mengagetkan, oleh karena itu, dalam wawancara dengan Al-Jazeera secara khusus lebih banyak menyorot tentang strategi Jabhah Nusrah dalam jihad melawan rezim Bashar Assad.

Dalam hal ini, wawancara tersebut memberi kita sudut pandang yang unik tentang pemikiran Al-Qaidah. Para pemimpinnya termasuk Syeikh al-Jaulani berusaha untuk menanamkan ideologi mereka ke dalam hati dan pikiran para generasi penerus yang akan datang.

Dalam wawancaranya bersama Al-Jazeera, Syeikh al-Jaulani berkesempatan untuk membedakan JN dengan Daulah (ISIS) yang punya reputasi buruk di mata internasional karena cara pendekatan oleh Daulah (ISIS) yang tanpa kenal kompromi dalam berperang.

Jabhah Nusrah (JN) bekerja sama erat dengan kelompok-kelompok oposisi yang lain, termasuk dengan kelompok-kelompok yang secara manhaj tidak sama dengan Al-Qaidah. Sementara di bawah kepemimpinan al-Baghdadi, tandzim Daulah (ISIS) tidak akan pernah seperti itu. Para bawahan al-Baghdadi bahkan menjuluki organisasi-organisasi jihad selain mereka dengan sebutan “kafir” karena tidak mau menerima cara pendekatan Daulah yang totaliter.

Mansur ingin mengetahui bagaimana pandangan Syeikh al-Jaulani tentang faksi-faksi lain, termasuk yang tidak memiliki kesamaan ideologi. Syeikh Al-Jaulani berkata,”Mereka adalah muslim dan tidak berbeda dengan kita”. Ketika mereka punya kekurangan, JN tidak melabeli mereka sebagai “kafir” serta akan mentoleransi mereka karena situasi pertempuran (saat ini) yang begitu intens melawan rezim Assad.

BACA JUGA  Pengacara HRS: Putusan Hakim Tunggal Sesat Menyesatkan

Hal ini juga sesuai dengan arahan-arahan dari Syeikh Aiman ad-Dzawahiri. Dalam wawancaranya dengan Al-Jazeera pada bulan Desember 2013, Syeikh al-Jaulani menjelaskan bahwa Syeikh ad-Dzawahiri “selalu memberitahu kami untuk bertemu dengan faksi-faksi lain”. Syeikh Al-Jaulani menambahkan, “Kami berkomitmen terhadap masalah ini, dan hal ini merupakan bagian mendasar dari prinsip-prinsip beramal para mujahidin secara umum, termasuk Al-Qaidah.”

Mansur menanyakan apa yang akan dilakukan JN terhadap para penganut sekte Alawiyin yang tinggal di pesisir propinsi Latakia. Capaian JN baru-baru ini memberi satu landasan yang jelas bagi para mujahidin terhadap sejumlah perkampungan sekte Alawiyin yang para penduduknya mendukung rezim Assad.

Mansur juga ingin mengetahui bagaimana JN akan memperlakukan mereka para penganut sekte Alawiyin yang notabene Syiah, apakah perang akan dibawa ke desa-desa itu?

Syeikh Al-Jaulani menjelaskan bahwa para penganut sekte Alawiyin itu “berhutang darah” atas segala kejahatan mereka memerangi Sunni di Suriah. Namun demikian, Syeikh al-Jaulani berusaha meredakan kekhawatiran bahwa para mujahidin akan menahan diri untuk membalas. “JN tidak memerangi mereka yang tidak memerangi kami,” kata Syeikh al-Jaulani. Hal ini berarti, jika mereka (Alawiyin) dan yang lainnya meletakkan senjata-senjata mereka, maka mereka tidak akan dibunuh. Hal ini konsisten dengan strategi al-Qaidah di Yaman dan di tempat-tempat lainnya. Syeikh ad-Dzawahiri memerintahkan para pejuang al-Qaidah untuk menghindari serangan terhadap orang-orang sipil Syiah, serta memfokuskan serangan terhadap target militer dan aparat keamanan.

Sementara Daulah (ISIS) menolak cara pembatasan semacam ini, mereka melancarkan serangan dengan tanpa pandang bulu terhadap target Syiah di Iraq, Suriah, Arab Saudi, dan Yaman.

Hal lain yang juga kontras terlihat pada pernyataan JN tentang kebijakan mereka terhadap orang-orang Kristen. Para pengikut Daulah (ISIS) melakukan pembunuhan/penyembelihan massal terhadap orang-orang Kristen dan mereka mengatakan tindakan tersebut sebagai “pesan yang ditandai dengan darah kepada negara-negara salib.”

Pernyataan Syeikh al-Jaulani cenderung ke arah rekonsiliasi. “Kita tidak sedang berperang dengan orang-orang Kristen,” kata Syeikh al-Jaulani kepada Mansur. “Kami tidak menganggap orang-orang Kristen bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan oleh Amerika. Kami juga tidak menganggap orang-orang Kristen bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan oleh orang-orang Koptik di Mesir”. JN hanya akan memerangi orang-orang Kristen yang mengangkat senjata, dan bahkan kata Syeikh al-Jaulani bahwa JN belum memungut pajak terhadap orang-orang Kristen yang tinggal di wilayah yang dikuasai para mujahidin.

Dan masih terlihat di lapangan bahwa para pejuang JN menaati kebijakan tersebut. Para mujahidin dinilai gagal menerapkan standar semacam ini di masa lalu. JN juga menghindari penerapan hukum Syariah secara kaku di wilayah-wilayah yang telah dibebaskan, karena sudah pasti akan menimbulkan banyak pihak menjauh. Tambahan, pernah ada juga protes secara sporadis terhadap organisasi al-Jaulani.

Namun, penjelasan Syeikh al-Jaulani bisa dipahami. Al-Qaidah sedang berusaha untuk meraih dukungan masyarakat terhadap ideologi yang diusungnya. Dan jihad di Suriah merupakan pusatnya hari ini. JN telah meraih sejumlah keberhasilan dalam hal ini, sebagaimana mereka masih sangat populer di kalangan kelompok oposisi lain dan juga di kalangan penduduk sipil.

Akhirnya, keberhasilan ataupun kegagalan strategi yang diterapkan al-Qaidah akan tergantung pada kemampuan mereka dalam meraih berbagai dukungan di wilayah-wilayah Sunni di Suriah.

Terakhir, Mansur pun bertanya apakah donasi-donasi yang berasal dari para individu Muslim, atau adakah donasi yang berasal dari suatu negara yang berjumlah lebih besar sehingga cukup untuk menopang perjuangan JN.

”Kaum muslimin mencintai JN dan al-Qaidah, dan mereka bersama kami dalam masalah ini. Kami berharap seluruh kaum muslimin bisa membantu para mujahidin,” jawab Al-Jaulani diplomatis. Tamat

 

Alih bahasa: Yasin Muslim

Sumber: The Long War Journal

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat