Kepada Kelompok Mana Kita Harus Bergabung (1)

KIBLAT.NET – Tulisan di bawah ini adalah karya dari Syaikh Abu Abdillah Asy-Syami, salah satu Dewan Syariah Jabhah Nushrah. Berisi penjelasan tentang makna dari sebuah kelompok beserta hukum-hukum seputarnya. Tanpa menganggap diri telah bergabung bersama sebuah kelompok yang paling baik, beliau menjelaskan dengan detail kriteria kelompok yang seharusnya diikuti.

Judul asli dari karya beliau adalah “Al-Lathaif Fi Mafhumi wa Ahkami Ath-Thawaif” (Kelembutan dalam Menjelaskan Makna dan Hukum Thaifah). InsyaAllah akan kami hadirkan satu persatu tulisan beliau sebanyak lima seri. Selamat membaca!

 

Untitled-1

اللطائف في مفهوم أحكام الطوائف

الشيخ أبو عبد الله الشامي


Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barangsiapa mendapat petunjuk dari Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan Allah, tidak ada lagi yang sanggup memberinya petunjuk.

Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Beliaulah penyampai risalah, menunaikan amanah, membimbing umat serta berjihad di jalan-Nya dengan sebenar-benarnya jihad hingga akhir hayat. Beliaulah yang menghantarkan cahaya petunjuk, sehingga malam tampak seperti siang. Orang yang menyimpang dari ajaran beliau akan binasa, dan mereka yang menyelisihinya pasti akan tersesat. Barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya akan mendapat petunjuk dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya, maka akan tersesat dengan kesesatan yang nyata. Amma ba’du!

Ketika saya berinteraksi di tengah-tengah para ikhwan, saya merasakan adanya kekurangan dalam mengajarkan serta membimbing mereka di tengah corak perkembangan pemikiran, konsep, terminologi serta syubhat yang bermacam-macam. Selain itu, saya juga merasakan adanya model pemikiran yang mengkhawatirkan bagi mayoritas ikhwan yang lemah daya pikirnya.

Problematika yang muncul di medan jihad lebih banyak daripada sekedar teori ilmiyah yang diipelajari, sehingga tidak ada perbedaan lagi antara yang awam dengan orang yang berwawasan luas. Mereka yang berwawasan luas dalam persoalan dunia, kita lihat dangkal terhadap ilmu syariat. Bahkan ikhwan yang menempuh kuliah pada bidang studi syariat pun sadar, bahwa tuntutan mereka dalam medan jihad hari ini sangat jauh jika dibandingkan dengan teori yang mereka pelajari di universitas.

Siapakah di antara kita yang belajar di universitas tentang bagaimana hukum isti’anah (meminta tolong) dan perbedaannya dengan hukum saling loyal (wala’) dan saling menolong? Siapakah di antara kita yang mempelajari hukum berkenaan dengan jamaah, bendera golongan, baiat, imamah, dan persoalan seputar thaifah mumtani’ah atau yang semisalnya? Siapakah di antara kita yang mempelajari tentang asma’ wa shifat?

Terkadang kami hanya bisa diam menghadapi permasalahan semacam itu, karena kami takut jika perkataan kami disalahpahami. Kadangkala kami juga berharap munculnya para ulama yang menjelaskannya secara rinci. Seperti itulah yang terdetik dalam hati kami, sehingga terkadang kami takut untuk menjawab permasalahan yang tidak kami ketahui. Bahkan dalam beberapa kondisi, kami tidak paham jelas terhadap sebuah persoalan. Sehingga bukan lagi aib ketika kami berkata, bahwa di medan jihad banyak sekali problematika yang membutuhkan peran para ulama, sedangkan kami bukan dari kalangan mereka.

الجهاد-سوريا-المجاهدين-620x330

Pada saat ini kami mendapati mayoritas ikhwan dan para pemuda hanya mencukupkan diri dengan permasalahan yang rumit serta bersandar pada kesimpulan yang dipenuhi dengan syubhat. Atau mengambil kesimpulan dari salah satu hasil pemikiran tertentu di antara sekian banyak corak pemikiran yang berkembang dalam medan ini. Baik dari pemikiran sebuah jamaah, dari para penuntut ilmu atau kadang dari seseorang yang berpengaruh.

Kami melihat bahwa jumlah para ulama kami dan apa yang diajarkan oleh para penuntut ilmu itu sangat tidak memadai jika dibandingkan dengan kondisi yang dihadapi oleh para mujahidin secara umum. Seperti banyaknya probematika penyelewengan makna, dasar pemahaman yang rusak, dan praktek menyimpang yang dilakukan oleh Jamaah Daulah—Khawarij—dalam permasalahan yang cukup rentan dalam agama ini, yakni permasalahan terkait asma’ wal ahkam (penamaan dan hukum-hukum). Akibatnya, mereka sangat mudah mengafirkan kelompok lain tanpa petunjuk dalil dari Allah, tanpa melihat kondisi atau mempertimbangkan keadaan yang sebenarnya tidak boleh dikafirkan.

Kami melihat sikap ghuluw yang telah menjadi karakter pemikiran Jamaah Daulah, sehingga menyebabkan munculnya sekelompok orang yang menolaknya dengan sikap berlebihan. Mereka akhirnya berada pada titik ekstrem yang berlawanan, dan meremehkan serta menolak setiap pemikiran yang diyakini oleh Jamaah Daulah, Mereka menjadi berlebihan dalam mensikapi Jamaah Daulah, sehingga bukan lagi menolak apa yang dipraktekkan oleh Jamaah Daulah atau kelompok ghuluw lainnya, namun secara tidak sadar mereka menjadi alergi dengan ajaran Islam itu sendiri.

Tidak diragukan lagi, agama Allah adalah agama yang berada di antara sikap ghuluw dan sikap meremehkan. Manhaj Ahlus Sunnah berada di pertengahan, antara ifrat (berlebihan) dan tafrit (meremehkan). Tidaklah setiap orang yang mengafirkan atau yang membicarakan masalah takfir dapat langsung dianggap kelompok takfiri (Khawarij). Demikian pula tidak semua yang berhati-hati dalam masalah takfir atau tidak terlalu banyak membahas permasalahan ini, lantas kemudian dianggap kelompok Murji’ah yang meremehkan syariat atau menyelewengkan syariat! Akan tetapi, penilaian terhadap suatu hal harus sesuai dengan kaidah Ahlus Sunnah, baik dalam manhaj maupun dalam pengamalan.

Sungguh, pemikiran ghuluw sama halnya dengan keyakinan kelompok Murji’ah yang telah menjangkiti sebagian generasi muda kita. Saya tidak bermaksud untuk menyatakan pemikiran suatu jamaah, sehingga jangan sampai timbul persepsi bahwa saya sedang menilai Jabhah Nushrah, atau karena perkataan tersebut saya dianggap menilai jamaah tertentu. Namun saya ingin membahas jamaah secara umum atau lebih umum dari itu, yaitu setiap mujahidin yang tulus dalam berjuang di negeri Syam, baik dari Jabhah Nushrah atau jamaah-jamaah lainnya.

Di antara yang harus menjadi perhatian setiap jamaah Ahlus Sunnah adalah membentengi para anggotanya dengan benteng ilmu sebagai lawan dari setiap kebodohan. Bersamaan dengan itu, juga harus diiringi dengan tarbiyah (pendidikan dan pembinaan). Jika kita mengatakan bahwa kebutuhan ilmu itu penting, maka kebutuhan kita terhadap tarbiyah jauh lebih penting. Kesungguhan untuk memperhatikan masalah ini akan menjadi pagar yang bisa menjaga pemahaman para mujahidin dari segala bentuk ketergelinciran atau penyimpangan dari manhaj Ahlus Sunnah dari ifrat (berlebih-lebihan) maupun tafrit (meremehkan). Pada saat itulah umat membutuhkan peran kita, di mana saat ini amal jihad ini telah berubah menjadi jihad umat secara global.

Ditambah lagi dengan kondisi mayoritas generasi umat ini yang jauh dari pengajaran agama yang benar. Kondisi tersebut terjadi karena faktor dekatnya masa yang mereka alami dengan pemerintah thaghut dalam negara kaum muslimin, di mana pemerintah tersebut sengaja membangun politik pembodohan serta menjauhkan mereka dari agama dan ilmunya.

Kemudian perhatian terhadap ilmu dan tarbiyah juga sangat penting ketika mayoritas generasi kita ini sangat merindukan kembalinya nilai-nilai Islam di dalam kehidupan kaum muslimin dalam bentuk negara. Juga, ketika semangat mereka telah menggebu-gebu untuk mengembalikan khilafah dan rela mengerahkan segala upaya untuk mencapai tujuan tersebut.

Oleh karena itu, yang harus dilakukan adalah membimbing rasa semangat tersebut dengan ilmu yang bersandar pada manhaj Ahlus Sunnah, agar semangat yang sudah ada akan terarah pada tujuan yang lurus serta dalam bentuk amalan yang benar. Sehingga rasa semangat ini tidak menjadi layaknya wabah penyakit yang merusak setiap apapun yang dilewatinya.

Medan jihad di Syam saat ini dipenuhi dengan kelompok yang begitu banyak. Banyak kekuatan yang bermain dan setiap kelompok memiliki aturan-aturan yang berbeda-beda. Saya tidak bermaksud ingin menjelaskan aturan masing-masing setiap kelompok. Akan tetapi kita ingin memahamkan hakikat dari sebuah kelompok dalam diri mujahidin beserta ketentuan-ketentuan di sekitarnya, yaitu setiap peraturan yang berlaku kemudiandan dapat mensterilkan pemahaman ini dari setiap hal-hal yang bukan bagian darinya.

Berikutnya, juga kami sertakan penjelasan tentang realitas yang harus disebutkan dalam pembahasan ini. Meskipun seharusnya menjadi pembahasan khusus, akan tetapi sekilas kami menyebutnya di sini agar bisa menghubungkan pengetahuan kita dan pemahaman menjadi utuh. Dengan mengharap karunia dari Allah ta’ala dan dengan kemulian-Nya, kita memohon agar dilindungi dari setiap fitnah, baik yang nampak maupun tidak tampak.

Risalah bersambung ini saya beri judul “Al-Lathaif Fi Mafhumi wa Ahkami Ath-Thawaif” (Kelembutan dalam Menjelaskan Makna dan Hukum Thaifah). Saya memohon kepada Allah SWT agar usaha ini mendapat kemudahan dan pertolongan-Nya.

A. Memahami Hakikat Kelompok

Definisi kelompok (thaifah) adalah sekumpulan manusia yang bergabung dalam satu tujuan, sehingga mereka saling menolong satu sama lain untuk meraih tujuannya tersebut. Baik dengan kekuatan politik, militer atau bahkan  melindungi diri dengan segenap kekuatan mereka. Ataupun secara bahasa, mereka disebut dengan Thaifah Mumtani’ah (kelompok yang membela diri).

BACA JUGA  Komnas HAM Klaim ICC Tak Bisa Gelar Peradilan Penembakan Laskar

Penjelasan Definisi:

Poin pertama dalam memahami thaifah (kelompok) adalah dari maknanya, yaitu sekumpulan manusia yang berkumpul sehingga menjadi sebuah jamaah.

Sebuah jamaah sendiri, harus terdapat unsur-unsur berikut ini:

Pertama: Kepemimpinan jamaah, komandan dan ketuanya. Mereka terdiri dari amirnya, majlis syura dan dewan penetapannya. Kedua: Adanya pasukan dan orang yang mengikuti kepemimpinan tersebut. Ketiga: Adanya hubungan antara pemimpin dengan pengikutnya atau pengikut dengan pemimpinnya, yaitu hubungan untuk selalu mendengar dan taat. Sehingga para tentara mendengar setiap ketetapan yang ada dalam kepemimpinan tersebut, menaatinya, serta ikut merasakan bagian dari keanggotaan dalam kelompok tersebut. Yang paling penting adalah selalu taat terhadap perintah-perintahnya.

maxresdefault

Tidak diragukan lagi, setiap kumpulan yang tidak berdiri di atas tiga unsur di atas, maka tidak bisa disebut jamaah. Perkumpulan yang tidak ada pemimpinnya adalah kumpulan berantakan, tidak mungkin bisa maju. Kepemimpinan yang tidak memiliki pengikut, tentu tidak ada nilainya sama sekali. Ini sama halnya ketika anggota kelompok tidak memiliki keterikatan untuk selalu mendengar, taat serta loyal terhadap pemimpin, maka pasti akan kacau dan tidak akan bertahan lama.

Rasulullah SAW bersabda:

وأنا آمركم بخمس الله أمرني بهن: بالجماعة والسمع والطاعة والهجرة والجهاد في سبيل الله

“Saya memerintahkan kepada kalian dengan lima perkara yang diperintahkan Allah kepadaku, yaitu berjamaah, mendengar dan taat, hijrah dan jihad di jalan Allah.”

Umar bin Khattab berkata, “Tidak ada Islam kecuali dengan berjamaah, tidak ada jamaah kecuali dengan kepemimpinan dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan.”

لا يحل لثلاثة نفر يكونون بأرض فلاةٍ إلا أمَّروا عليهم أحدهم

“Tidak halal bagi tiga orang yang berada di suatu daerah kecuali mereka mengangkat salah seorang dari mereka menjadi pemimpin.” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda:

إذا خرج ثلاثة في سفر فليُؤمِّروا أحدهم

“Jika tiga orang berada dalam sebuah perjalanan, hendaknya mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin.”

Ketika mengamati dua hadits di atas, Ibnu Taimiyah berkata, “Rasulullah SAW mewajibkan untuk mengangkat pemimpin dalam kumpulan kecil saat dalam perjalanan maka hal itu menunjukkan sebagai bentuk penegasan terhadap setiap bentuk kumpulan-kumpulan yang lain.”

Maknanya yaitu, jika ada tiga orang yang berkumpul saat safar saja diperintahkan untuk mengangkat pemimpin—agar tidak timbul perselisihan dalam meraih kemaslahatan dan tujuan dari safar tersebut—maka perintah untuk mengangkat pemimpin dalam urusan jihad—yang lebih banyak jumlahnya daripada jumlah dalam safar dan maslahatnya lebih besar daripada maslahat safar kemudian masa waktunya juga lebih panjang daripada safar— tentu lebih wajib dan lebih utama.

Kemudian terkait ketaatan, perkara ini jelas merupakan ibadah yang agung. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah riwayat dari Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

من أطاعني فقد أطاع الله ومن عصاني فقد عصى الله، ومن يطع الأمير فقد أطاعني ومن يعصِ الأمير فقد عصاني

“Barangsiapa yang taat kepadaku, maka sungguh ia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang mentaati amirku maka sungguh ia telah mentaati aku dan barangsiapa yang bermaksiat kepada amirku maka sungguh ia telah bermaksiat kepadaku.” (HR. Bukhari-Muslim)

Ibadah dalam bentuk ketaatan merupakan dasar pijakan dalam pengambilan baiat, karena intisari baiat dalam sebuah jamaah adalah untuk senantiasa mendengar dan taat demi meraih tujuan dari tegaknya jihad.
Walaupun, pada dasanya setiap bahasan tentang jamaah, kepemimpinan, As-Sam’u wa Tha’at serta baiat memang butuh pembahasan tersendiri untuk mengungkapkan makna dan penjelasan hukumnya, terutama ketika tidak adanya Khilafah Islamiyah. Semoga kita bisa membahas itu—jika Allah memudahkan.

1427733339549380200
Pembahasan kita di sini pada hakekatnya tidak bergeser dari makna sebuah thaifah (kelompok) yang terorganisir itu sendiri, yaitu sebuah jamaah yang memiliki pemimpin, anggota, serta adanya hubungan keterikatan antara pemimpin dan pengikutnya. Dari makna yang umum tersebut, maka sebuah thaifah (kelompok) tidak hanya terbatas pada kelompok jihad atau pada kelompok Islam saja. Akan tetapi unsur tersebut juga terdapat pada kelompok orang-orang murtad atau pasukan kufur sekalipun.

Kita ambil contoh Jabhah Nushrah, sebuah jamaah jihad yang memiliki kepemimpinan, pasukan, serta pengikut yang taat dan loyal terhadap kepemimpinan tersebut. Mereka senantiasa mendengar serta patuh terhadap kepemimpinannya. Begitu juga ketika kita melihat pasukan Nushairiyah, mereka juga berada dalam satu jamaah yang memiliki pemimpin yang satu dan pasukan yang senantiasa taat terhadap kepemimpinan tersebut. Terlepas tentang sejauh mana perhatian mereka dalam ketaatan, kenyataannya mereka tetap taat terhadap pemimpinnya. Inilah yang mereka sebut sebagai komando militer.

Mendengar serta taat dalam berjamaah adalah bentuk ibadah yang kita tujukan kepada Allah. Sikap mendengar serta taat juga tertanam dalam jiwa pasukan thaghut, yaitu mereka selalu taat kepada pemimpin pasukan atau perintah komandan. Mereka menjalankan ketentuan tersebut demi beribadah kepada thaghut mereka, “Laksanakan kemudian Pertahankan.” Mereka berkata, “Allah hanya ada di langit sedangkan Basyar ada di bumi.” Semoga Allah membalas perkataan mereka itu.

Tujuan dari penjelasan tiga unsur di atas—Kepemimpinan, Pengikut, serta Peraturan yang didengar dan ditaati—adalah untuk menegaskan jika ketiganya tidak ada dalam sebuah jamaah, maka jamaah tersebut tidak masuk dalam pembahasan kita tentang thaifah ini. Hal tersebut merupakan perkara yang sangat jelas bagi mereka yang mengetahui konsep taqdir, karena ketika kita membangun sebuah jamaah, maka tentu tidak lepas dari ketentuan fitrah kauniyah.

Oleh karena itu, sangat tepat pernyataan Umar bin Khattab, “Tidak ada Islam kecuali dengan jamaah, tidak ada jamaah kecuali dengan kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan.” Perkataan beliau mengandung makna syar’i yang sesuai dengan hakikat serta fitrah kauniyah. Hal ini sama dengan yang terjadi pada diri orang kafir, walaupun dengan berbagai istilah yang berbeda. Maka dari itu, mendengar dan taat itu adalah istilah syar’i yang terdapat dalam jamaah yang syar’i, wujud hakikatnya sama dalam setiap jamaah. Kita pun juga bisa melihatnya dalam pasukan Nasrani, yaitu apa yang mereka namakan dengan komando militer.

Poin kedua dari pemahaman thaifah (kelompok) setelah adanya jamaah adalah adanya tujuan (ghayah) yang jelas dalam diri mereka.

Kita telah menyebutkan di atas bahwa kelompok adalah sebuah perkumpulan manusia. Makna lain dari kata ghayah (tujuan) adalah panji yang dihasung. Sebagaimana telah jamak diketahui bahwa sebuah panji memiliki konsep dan nilai-nilai lain yang membutuhkan pembelajaran khusus—semoga Allah memudahkan kita untuk bisa membahasnya pada kesempatan yang lain.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa makna dari panji adalah tujuan, yaitu sabda Rasulullah SAW dalam haditsnya tentang peperangan besar pasukan Romawi Bani Asfar,

يأتونكم تحت ثمانين غاية -وفي رواية- تحت ثمانين راية

“Akan datang pasukan yang memerangi kalian di bawah delapan puluh tujuan (ghayah) dalam riwayat lain di bawah delapan puluh panji.”

Sebagian orang menyamakan antara bendera dengan panji. Hal itu tidak masalah, semuanya tergantung dengan kebiasaan masing-masing tempat. Akan tetapi, tetap saja makna dari sebuah panji adalah ghayah (tujuan atau visi). Maka ketika kami mengangkat panji kalimat La Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah, maknanya adalah setiap tujuan jihad yang kami lakukan adalah demi kalimat tersebut. Tujuan kami dalam jihad fi sabilillah adalah tujuan syar’i sebagaimana yang telah diperintahkan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Di antara perintah tersebut adalah:

  • Meruntuhkan pemerintah thaghut
  • Membebaskan hamba dan negara yang terjajah
  • Membebaskan tawanan kaum muslimin dari penjara orang-orang kafir
  • Menegakkan syariat Allah di muka bumi
  • Menegakkan pemerintahan Islam atau Daulah Islamiyah
  • Mengembalikan Khilafah Islamiyah
  • Mengembalikan negara-negara kaum muslimin dan kesucian mereka dari tangan orang-orang kafir dan murtad. Serta tujuan-tujuan jihad lainnya.

Ketika tujuan-tujuan ini berjalan sesuai dengan bimbingan syariat yang lurus, maka panji yang yang bertuliskan kalimat Laa ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah’adalah wujud makna dari setiap tujuan-tujuan yang disebutkan di atas. Kami mengangkat panji yang bertuliskan kalimat tauhid adalah sebagai bentuk ungkapan dari seluruh tujuan tersebut.

Ks3tO

Syiar tersebut merupakan syiar yang paling suci di antara syiar-syiar yang ada. Seorang mujahidin rela mempersembahkan nyawanya serta menumpahkan daranya di bawah panji itu, yakin dengan kebenaran manhaj dan ketulusan perjuangannya. Semua itu ia peruntukkan agar bisa berjumpa dengan Allah ta’ala dalam keadaan Allah tersenyum kepadanya. Dan kita memohon kepada Allah agar kita juga diberi rezeki yang demikian.

Jika kita memiliki tujuan jihad yang seperti ini, maka seharusnya setiap kelompok juga miliki tujuan atau visi-misi yang dapat mempersatukan di antara mereka. Panji atau tujuan ini akan menjadi dasar pijakan setiap kelompok, agenda yang diikuti bersama, serta garis ketentuan yang menjadi peraturan bersama. Karena visi tersebut akan menjadi tujuan yang akan dijalankan bersama, dapat menjadi dasar pijakan bersama, bisa mempersatukan syi’ar atau kemaslahatan bersama dan tak jarang hal ini kadang juga menjadi pengikat hubungan di antara mereka.

BACA JUGA  Peristiwa 21-22 Mei dan Penembakan Laskar Dibawa ke ICC

Perlu diperhatikan, sebuah tujuan terkadang harus ditentukan, yaitu terkait melakukan ataupun  meninggalkan sesuatu. Tujuan untuk melakukan sesuatu misalnya seperti berkumpulnya sebuah kelompok untuk merampok di jalanan demi memperoleh harta yang ingin dicapai. Sedangkan tujuan untuk meninggalkan sesuatu seperti halnya orang yang menolak zakat, mereka berkumpul demi satu tujuan, yaitu untuk menolak syariat zakat atau demi meninggalkan perintah tersebut.

Permasalahan ini—tujuan untuk melakukan sesuatu dan meninggalkannya—harus mendapat perhatian khusus. Hal tersebut sebagaimana halnya keimanan yang mencakup perkataan dan perbuatan—baik perkataan hati dan lisan atau perbuatan hati dan anggota badan. Demikian juga dengan kekufuran, ia adalah perkataan dan perbuatan, perkataan hati dan lisan serta perbuatan hati dan anggota badan. Jika iman itu terdiri dari ashlul iman, iman wajib, dan iman mustahab, maka demikian juga dengan kekufuran. Allah ta’ala berfirman:

وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ

“Dan menjadikan kamu itu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan.” (Al-Hujurat: 7)

Kekufuran juga bertingkat sebagaimana keimanan. Ketika mereka bersatu di dalam satu tujuan yang bisa menyebabkan kekafiran, maka hal itu tidak sama seperti berkumpulnya orang dalam satu tujuan dalam perbuatan yang hanya tergolong amalan kemaksiatan. Sama halnya dengan orang yang meninggalkan suatu perintah yang tergolong dalam permasalahan kufur, hal itu tidak sama dengan orang yang meninggalkan sesuatu yang hanya termasuk dalam perbuatan maksiat, atau meninggalkan sesuatu yang disunnahkan—semoga pembahasan tentang Kelompok Mumtani’ah bisa kita bahas lebih detail dalam kesempatan yang lain, insyaAllah!

Berkaitan dengan ghayah (tujuan), kadangkala ada tujuan yang dibangun atas dasar agama dan terkadang ada juga yang dibangun atas dasar kepentingan dunia. Sebagaimana halnya cara mengamalkan agama atau dalam melakukan agenda bersama. Dalam meraih tujuan kemaslahatan duniawi, terkadang juga dicampuri oleh berbagai macam tujuan yang berkumpul di dalamnya. Seseorang ada yang berjuang demi mempertahankan hartanya, demi keluarganya, demi kehormatannya dalam beragama. Maka barangsiapa yang memiliki tujuan yang benar —sesuai dengan syariat— akan tetapi hanya bermasalah pada tahap pencapaiannya saja, maka tujuan mereka tidak boleh dicela. Seperti kelompok Jaisul Hur yang berkata, “Kami berperang untuk melengserkan pemerintah.”

Melengserkan pemerintah pada saat ini adalah bagian dari maslahat agama dan dunia. Orang yang meneriakkan slogan ini harus diberi tahu tentang tujuan syar’i setelah runtuhnya rezim, sehingga musuh tidak merampas hasil dari jihad yang mereka lakukan. Kadang sebuah tujuan itu benar seperti tujuan yang diinginkan dalam aksi jihad mujahidin di Syam dan negara lainnya. Namun terkadang, ada juga sebuah tujuan yang dibangun untuk merusak, dan tingkatan kerusakan itu berbeda-beda. Di antaranya ada yang pada tingkatan maksiat, seperti bughat pada zaman terakhir masa khilafah yang disebut dengan perbuatan fasik dan zalim.

Kesimpulan ini diambil dari catatan yang disampaikan Ibnu Taimiyah terhadap Ibnu Aqil Al-Hambali. Ibnu Taimiyah memberi catatan kepadanya yang menilai bahwa setiap bughat itu fasik. Beliau berkata, “Semoga Abu Wafa’ (Ibnu Aqil) hanya menilai hal itu pada zamannya saja, dikarenakan adanya kefasikan pada diri mereka lalu disifati dengan istilah tersebut. Padahal, aksi bughat itu terkadang berawal dari kesalahan dalam melakukan ta’wil, maka sebagaimana yang diketahui, ketika itu mereka tidak bisa disifati dengan sebutan fasik.”

Rusaknya suatu ghayah (tujuan) di antaranya ada yang sampai pada tingkatan dosa besar, seperti aksi begal dan penyamun. Allah menyebut mereka dalam ayat:

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya) yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (Al Maidah: 33).

Kemudian rusaknya ghayah (tujuan) juga ada yang sampai pada taraf kekufuran, seperti tujuan yang diinginkan oleh pasukan Nushairiyah, pasukan Hizbullah, partai buruh Kurdistan—Al-Bakkah—dan Peshmerga atau semisal dengannya.

Oleh karena itu, seharusnya perhatian terhadap ghayah (tujuan) menjadi faktor seseorang untuk bergabung atau keluar dari sebuah kelompok, yaitu diukur sesuai dengan lurusnya tujuan suatu kelompok atau jamaah. Kita akan menjelaskannya pada pembahasan Thaifah Mumtani’ah (kelompok yang melakukan penentangan), bahwa ketidaktahuan para anggotanya terhadap tujuan kelompok tersebut, atau karena salah dalam melakukan ta’wil, hal itu tidak menghalangi untuk mensifati sebuah kelompok atau jamaah dengan sifat tersebut. Demikian juga tidak menghalangi seseorang untuk bermuamalah dengan mereka atas dasar hukum yang berlaku terhadap sifat tersebut.

Faktor kebodohan atau ta’wil terkadang dapat menyebabkan seseorang bisa dimaafkan. Tapi sifat tersebut bukan menjadi penghalng untuk menghukumi hakikat kelompok yang dinaunginya, juga tidak menghalangi untuk menerapkan hukum muamalah dengan mereka sesuai dengan hukum yang berlaku atas sifatnya tersebut.

Poin ketiga dalam memahami hakikat sebuah kelompok—setelah memahami hakikat jamaah dan tujuannya—adalah saling membantu dalam kekuatan senjata.

Maksudnya sebagaimana yang telah kami katakan, jika sebuah kelompok saling tolong menolong untuk mencapai sebuah tujuan dengan kekuatan politik dan militer, kemudian mencapai keberhasilan, maka secara bahasa kelompok itu dapat kita sebut sebagai Tha’ifah Mumtani’ah.

Untuk menjelasan hal ini, perlu diperhatikan lagi bahwa pembahasan ini telah kita singgung ketika menjelaskan hakikat sebuah kelompok atau jamaah, yaitu harus ada pemimpin, pengikut serta adanya ketaatan terhadap kepemimpinan. Kemudian dalam berjamaah, mereka harus memiliki tujuan, baik atas dasar agama maupun dunia, atas dasar yang benar maupun yang salah.

syria-(10)

Selanjutnya, akan kita bahas tentang hakikat saling menolong dan kekuatan kelompok. Keduanya adalah unsur yang harus terpenuhi ketika menyebut suatu kelompok sebagai Thaifah Mumtani’ah dalam arti bahasa. Ada juga kelompok seperti Syiah di Lebanon. Pada mulanya mereka berwujud sebuah thaifah, dalam artian sebuah kelompok yang menyimpang dalam aqidah. Saat itu mereka belum disebut sebagai Thaifah Mumtani’ah karena memiliki kekuatan dan kekuasaan. Kemudian bersamaan dengan berlalunya waktu, kita mendapati kelompok Hizbullah sekarang ini berubah bentuk menjadi Thaifah Mumtani’ah.

Maksudnya, mereka menjadi sebuah kelompok yang memiliki pasukan atau tentara dalam kepemimpinannya. Mereka juga memiliki pengikut yang loyal dan taat kepada pemimpinnya. Kemudian mereka berkumpul untuk satu tujuan, yaitu menyebarkan aqidah Syiah dan mewujudkan mimpi Negara Iran Safawi Majusi Persia. Di antara mereka juga memiliki hubungan politik dan saling menguatkan untuk mewujudkan tujuan tersebut dengan kekuatan senjata, sehingga mereka mampu membentuk perlindungan dan kekuatan.

Contoh yang lain adalah Jabhah Nushrah, ia merupakan bagian dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah, baik dari segi aqidah maupun manhaj. Akan tetapi hubungan yang saling mengikat antara masing-masing pasukan Jabhah Nushrah ini merupakan bentuk kecil dari ikatan Ahlus Sunnah. Sedangkan, ikatan Ahlus Sunnah yang lebih besar adalah ikatan agama yang bersandarkan pada firman Allah ta’ala, “Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara.” Dan sabda Nabi SAW, “Seorang muslim itu bersaudara dengan muslim lainnya.”

Dari sini kita mengambil kesimpulan bahwa Ahlus Sunnah adalah kelompok idiologi yang menjalankan Al-Qur’an dan As-Sunnah, baik dalam aqidah, fikih maupun akhlak. Semua sisi itu ada dalam kelompok Jabhah Nushrah. Akan tetapi, di antara pasukan Jabhah Nushrah ada ikatan lain yang lebih khusus yaitu ikatan politik dan militer. Maknanya, Jabhah Nushrah mengumpulkan seluruh tujuan dari tujuan yang diinginkan Ahlus Sunnah. Seluruh pasukannya saling tolong menolong satu sama lain, baik dalam politik maupun militer untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut hingga terbentuk satu pertahanan dan kekuatan. Ikatan politik seperti ini, yang mengikat hubungan kaum muslimin secara global telah hilang sejak runtuhnya sistem khilafah.

Dari sini kita akan mengetahui letak perbedaan antara thaifah dan  firqah dalam makna kelompok sempalan dalam aqidah. Syiah misalnya, ia merupakan firqah namun tidak masuk kategori Thaifah Mumtani’ah. Berbeda dengan Hizbullah Lebanon yang telah berubah menjadi Thaifah Mumtani’ah.

Setelah memahami penjelasan di atas, lantas bagaimanakah hakikat Thaifah Mumtani’ah yang sesungguhnya? Untuk lebih jelasnya, InsyaAllah akan kita jelaskan dalam bahasan berikutnya!

Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya, serta para sahabatnya. Segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam.

Penerjemah: Fahrudin

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat