Misteri Hilangnya Jet Tempur F-16 Maroko di Yaman

KIBLAT.NET, Rabat – Sebuah pesawat tempur F-16 milik Maroko yang ikut ambil bagian dalam kampanye militer yang dipimpin Arab Saudi dilaporkan menghilang, lapor Angkatan Udara Maroko.

Maroko menyatakan bahwa pesawat yang hilang tersebut merupakan pesawat yang mendukung kampanye militer pada Maret lalu. Pesawat tersebut bermarkas di Uni Emirat Arab (UEA), lapor kantor berita Reuters, pada hari Senin, (11/05).

“Salah satu pesawat milik Angkatan Udara yang ikut bergabung dalam koalisi pimpinan Arab Saudi untuk mengembalikan legitimasi di Yaman menghilang pada Sabtu pukul 4 waktu setempat,” demikian pernyataan AU Maroko, seperti dirilis kantor berita resmi Maroko, MAP.

Didukung oleh Amerika Serikat, pasukan koalisi melancarkan serangan udara melawan pemberontak Syiah Hauthi sejak 26 Maret, sekitar satu bulan setelah pemberontak dukungan Iran menjatuhkan Presiden Abdu Rabbu Manshur Hadi.

Presiden Hadi yang didukung Barat, melarikan diri ke Arab Saudi pada Februari dan meminta kekuatan kawasan untuk mengusir pemberontak Syiah Hautsi yang mengambil alih kontrol negara dengan bantuan pasukan loyalis Presiden Ali Abdullah Saleh.

Insiden tersebut terjadi beberapa jam setelah mantan Presiden Ali Abdullah Saleh untuk pertamakalinya secara resmi mengumumkan hubungannya dengan Syiah Hautsi, setelah Koalisi Teluk meluncurkan dua serangan udara yang mengarah ke kediamannya di ibu kota Sanaa.

Saleh berhasil melarikan diri setelah serangan udara tersebut tanpa mengalami luka pada hari Minggu.

BACA JUGA  Mencegah Kemungkaran

Ali Abdullah Saleh yang dituduh berpihak pada pemberontak Hautsi menyatakan permusuhan dan perlawanan terhadap koalisi Arab.

“Anda harus membawa senjata anda, siap mengorbankan hidup anda untuk bertahan melawan serangan ini,” ucap Saleh yang ditujukan kepada pemberontak Houthi.

“Saya menganggap bahwa agresi ini adalah sebuah tindakan pengecut,” tambahnya.

“Jika anda berani, cukup datang dan hadapi kami di medan pertempuran, datang dan kami akan menyambut kalian!! Menyerang kami dengan roket dan pesawat tempur tidak akan membuat anda mencapai tujuan anda,” kata Saleh.

Ali Abdullah Saleh mengeluarkan komentar tersebut setelah pemberontak Hautsi merilis pernyataan bahwa mereka siap menyambut “baik” setiap usaha untuk mengakhiri penderitaan rakyat Yaman.

Dewan Politik Hautsi pada Ahad, (10/05) menyatakan bahwa mereka senang jika bantuan kemanusiaan bisa masuk ke Yaman secepat mungkin.

Sumber dari pihak Hautsi menyatakan bahwa mereka tidak akan menerima pembicaraan yang diadakan di Arab Saudi atau negara-negara lain yang terlibat dalam Koalisi Teluk.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, mengumumkan rencana gencatan senjata selama lima hari untuk memfasilitasi bantuan kemanusiaan kepada rakyat sipil. Namun, hal itu hanya berlaku jika Hautsi menghentikan serangan.

 

Sumber: Aljazeera.com

Oleh: Angga Saputra

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat