... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Belajar dari Perburuan Bin Ladin: Tora Bora Hingga Abbottabad (Bag. 1)

Foto: Perburuan Syaikh Usamah bin Ladin

KIBLAT.NET – Pada tanggal 1 Mei 2011 dini hari, pasukan komando Amerika Serikat melancarkan operasi penyergapan untuk menangkap pemimpin Al-Qaidah, Syaikh Usamah bin Ladin. Ia telah lama diketahui berada di sebuah rumah di antara komplek militer kota Abbottabad yang berada di wilayah Pakistan bagian utara.

Pasukan komando itu berasal dari unit khusus US Navy SEAL dengan menggunakan dua unit helikopter, salah satunya jenis siluman yang dimodifikasi dari UH-60 Blackhawk. Dalam operasi militer sangat rahasia tersebut heli-siluman itu kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh di sebelah timur dinding rumah Syeikh Usamah Bin Ladin.

Setelah kejadian itu, pemerintah Pakistan membentuk sebuah komisi untuk menyelidiki bagaimana pasukan AS itu bisa melakukan pelanggaran terhadap kedaulatan Pakistan tanpa ada konsekuensi apapun. Lalu, bagaimana Syeikh Usamah bin Ladin sebagai sosok yang paling dicari Amerika itu bisa datang dan tinggal secara rahasia di wilayah Pakistan dalam waktu yang cukup lama.

Laporan yang sedang anda baca ini akan lebih banyak menyoroti aspek kedua dari dua hal di atas berdasarkan keterangan saksi mata dan hasil investigasi Komisi Abbottabad yang diperoleh secara eksklusif oleh media.

Syaikh Usamah bin Ladin

Syaikh Usamah bin Ladin

 

Penampilan Low Profile
Usamah bin Ladin, pemimpin Al-Qaidah dan orang yang paling dicari sedunia. Sebelum akhirnya tertangkap, beliau pernah tinggal di Pakistan selama sembilan tahun setidaknya di enam lokasi yang berbeda. Laporan Komisi Abbottabad menunjukkan bahwa pada saat itu Bin Ladin berpenampilan seperti orang biasa. Sehingga ia berhasil menghindari deteksi, baik oleh aparat sipil maupun militer Pakistan berkat sejumlah kegagalan prosedur yang mereka lakukan.

Melalui keterangan para istri Bin Ladin dan istri salah satu kurirnya, para pejabat intelijen, dan berbagai pihak yang berhubungan dengan keluarga tersebut beserta jaringan pendukungnya, Komisi berhasil merangkai puzzle gambaran kehidupan Bin Laden selama dalam persembunyiannya beserta para pengawalnya yang berasal dari Pakistan.

Kisahnya bermula sejak awal 2002. Bin Ladin diduga telah memasuki wilayah Pakistan barat laut setelah berhasil meloloskan diri dari upaya penangkapan dalam pertempuran Tora Bora di Afghanistan pada bulan Desember 2001. Tak jelas di mana lokasi pertama kali ia tinggal, namun para pejabat intelijen yakin bahwa Bin Ladin saat itu berada di antara dua tempat wilayah kesukuan yaitu Waziristan Selatan dan Bajaur.

Pertama kali jejaknya terungkap pada pertengahan 2002 ketika seorang wanita bernama Maryam, istri Ibrahim al-Kuwaiti mengkonfirmasi bahwa saat itu dia dan suaminya sedang dalam perjalanan bersama seorang lelaki Arab berperawakan tinggi yang dicukur bersih. Mereka bepergian dari kota barat laut Peshawar menuju ke Lembah Swat.

Swat merupakan tempat tinggal Ibrahim al-Kuwaiti bersama saudaranya Abrar al-Kuwaiti. Al-Kuwaiti bersaudara itu merupakan kurir sekaligus pengawal kepercayaan Usamah bin Ladin selama berada dan tinggal di Pakistan. Keduanya juga terkait dengan Khalid Syeikh Muhammad yang diduga sebagai otak serangan 11 September terhadap Amerika. Khalid Syeikh Muhammad juga dianggap sebagai perekrut al-Kuwaiti bersaudara menjadi agen Al-Qaidah.

Saat berada di wilayah Swat, Bin Ladin dipertemukan kembali dengan salah satu bayi perempuan dan istri ketiganya yaitu Amal Ahmad Abdul Fattah al-Sadah yang berusia 29 tahun dari Yaman. Ketika Bin Ladin bergabung bersama Maryam, Ibrahim, dan Amal, ia ditemani oleh dua orang laki-laki, yaitu seorang sebagai sopir dan satu lagi mengenakan seragam polisi. Identitas kedua orang ini belum diketahui sampai sekarang.

BACA JUGA  Heal the World, Make it Better Place

Hampir Saja
Mereka semua berada di Lembah Swat sekitar enam hingga delapan bulan. Pria Arab yang berperawakan tinggi itu tak lagi tinggal bersama keluarga-keluarga para kurirnya. Saat itulah istri Bin Ladin, Amal sedang hamil, sementara Abrar al-Kuwaiti menikahi seorang wanita Pakistan asal Kohat bernama Busyra yang kemudian ikut bergabung dengan kelompok keluarga itu.

Aktivitas di luar rumah kelompok tersebut digambarkan cukup terbatas. Namun, Maryam memberi kesaksian bahwa pada suatu kesempatan, mereka mengunjungi pasar terdekat bersama Usamah Bin Ladin yang ikut di dalam mobil. Tiba-tiba mobil mereka dihentikan oleh seorang polisi lalulintas karena mengebut. Kemudian menurut laporan, Ibrahim dengan cepat bisa mengatasi masalah dengan polisi tersebut, dan akhirnya orang yang paling dicari di dunia itu bisa melanjutkan perjalanannya.

Di awal tahun 2003, Usamah bin Ladin dikunjungi oleh Khalid Syeikh Muhammad. Muhammad sendiri yang dalam perjalanan itu menggunakan nama alias “Hafeez” ditemani oleh istri dan tujuh anaknya. Muhammad tinggal bersama kelompok itu di Swat selama dua minggu. Sebulan kemudian pada bulan Maret 2003 saat mereka menonton siaran Al Jazeera, mereka menyaksikan Khalid Syeikh Muhammad ditangkap di Rawalpindi dalam sebuah operasi gabungan antara CIA dengan ISI.

Sel Terputus
Berita Al Jazeera ini menyentak Bin Ladin hingga tiga hari kemudian ia ditemani oleh dua orang bersaudara Ibrahim dan Abrar meninggalkan Lembah Swat. Dua hari setelah itu, Ibrahim kembali untuk menjemput para istri dan anak-anak mereka dan membawanya ke Peshawar. Di Peshawar, mereka berpisah. Amal tetap tinggal di Peshawar, sementara Maryam dan Busyra menuju ke Kohat di mana mereka tinggal di rumah yang terpisah. Di titik ini, posisi keberadaan Usamah bin Ladin masih belum diketahui.

Sekitar tiga bulan kemudian, Maryam dan Busyra bersama dua bersaudara Ibrahim dan Abrar pergi ke sebuah rumah di pinggiran kota Haripur sekitar 35 kilometer sebelah selatan Abbottabad. Bin Ladin beserta istrinya, Amal, juga turut. Di rumah itu, bahkan, ada istri kedua Bin Ladin, yaitu Siham Sabar berkebangsaan Saudi yang menggunakan nama lokal “Syarifa”, dan seorang anak laki-lakinya bernama Khalid bin Ladin, serta dua orang anak perempuan Bin Ladin bernama Sumayya dan Mariam. Keduanya telah menginjak dewasa di usia awal 20-an tahun.

Taktik Menghindari Deteksi Musuh
Rumah dua tingkat dengan tiga kamar tidur dan satu halaman yang berada di area kota Naseem ini dianggap mencurigakan. Kelompok mereka tinggal di sini selama hampir dua tahun. Amal sempat dua kali melahirkan. Proses kelahiran kedua anak tersebut dilakukan di klinik setempat, namun Amal tidak pernah sampai menginap. Semua komunikasi dengan dokter ditangani oleh Abrar al-Kuwaiti beserta istrinya. Mereka menyampaikan ke dokter bahwa Amal dalam keadaan tuli dan bisu.

Selama berada di Haripur, mereka tidak pernah menggunakan ponsel untuk berkomunikasi. Jika mereka perlu, mereka akan pergi dulu sejauh 150 kilometer ke Peshawar atau ke Rawalpindi yang berjarak 65 kilometer untuk melakukan panggilan telepon melalui wartel atau telepon umum.

Menurut keterangan Maryam, para lelaki menonton Al Jazeera melalui sambungan satelit. Tidak pernah ada tamu yang mengunjungi mereka selama masa itu, meskipun menurut Maryam bahwa ibu Ibrahim pernah berkunjung paling tidak sekali.

BACA JUGA  Bantu Mereka yang Tak Bisa #DiRumahAja Saat Wabah Corona

Kedua bersaudara itu membayar sewa rumah sekitar 9.000 Rupee Pakistan per bulan (atau sekitar $150 pada saat itu) dari Bin Ladin, termasuk juga sejumlah uang tambahan dan hadiah-hadiah lainnya. Al-Kuwaiti bersaudara jarang melewati malam hari jauh dari Bin Ladin.

Meski masih berada di Haripur, Bin Ladin sudah membuat rencana perpindahan selanjutnya. Pada bulan Juli 2004, beliau membeli sebidang tanah yang nantinya akan dibangun sebuah rumah baru di Abbottabad. Abbottabad sendiri merupakan sebuah kota kawasan militer yang berjarak 85 kilometer sebelah utara ibukota Islamabad. Pembangunan dimulai pada bulan Agustus 2004 dengan dua lantai, serta sesuai pesanan dengan pagar tembok setinggi 6 meter di beberapa titik, dan selesai pada tahun 2005.

abbotabadosama.compound

Lokasi persembunyian Syaikh Usamah bin Ladin di dekat militer Abbottabad.

 

Cover Story di Rumah Baru
Pada bulan Agustus 2005, mereka pindah ke rumah baru tersebut. Abrar dan Ibrahim membawa keluarga masing-masing terlebih dahulu, lalu kemudian Bin Ladin beserta keluarganya menyusul kemudian. Kedua bersaudara itu mengaku sebagai pebisnis yang membeli tanah tersebut dengan menggunakan identitas palsu. Abrar mengaku sebagai Muhammad Arsyad, dan saudaranya, Ibrahim menggunakan nama Tariq Khan.

Dalam kisahnya, mereka meninggalkan wilayah kesukuan karena ada perseteruan antar keluarga, maka ini menjadi alasan mereka untuk membangun pagar tembok tinggi dan terisolasi dari tetangga warga sekitar.

Pada bulan Oktober 2005, terjadi gempa yang cukup besar di wilayah Pakistan timur laut yang getarannya terasa hingga ke Abbottabad. Kejadian tersebut membawa dua akibat positif bagi mereka. Pertama, dengan alasan perbaikan rumah mereka bisa menambah satu lantai lagi bangunan tersebut tanpa izin. Kedua, gempa menyebabkan arus pengungsian orang-orang Pashtun ke kota itu meninggalkan kampung halaman mereka yang hancur akibat gempa. Hal ini menguntungkan mereka karena bisa lebih membaur di antara arus pengungsian orang-orang luar Abbottabad. Bagi warga lokal, rumah mereka dikenal sebagai “Rumah Waziristan”, sementara bagi yang lain menyebutnya sebagai “Rumah Besar”.

Kehidupan di “Rumah Waziristan” sangat ketat menjaga privasi. Al-Kuwaiti bersaudara itu mempunyai perusahaan penyedia kebutuhan umum. Mereka memasang instalasi listrik sepanjang empat meter dan gas alam yang masing-masing terpisah. Hal ini sebagai upaya nyata untuk memastikan bahwa sepanjang jarak itu tidak ada aktifitas yang berlebihan yang akan bisa mengungkap jumlah penghuni sebenarnya. Semua ini diperoleh dengan menggunakan identitas palsu sebagai “Muhammad Arsyad” dan “Sahib Khan”.

Abrar dan Ibrahim bertanggung jawab urusan pengadaan makanan dan perbekalan. Sementara Khalid, putra Bin Ladin jadi bagian perawatan yang mengurus pipa saluran air dan perbaikan lainnya. Karena itu, jarang ada kontak dengan dunia luar. Kadang-kadang seorang warga lokal bernama Syamraiz yang rumah tinggalnya di seberang kompleks rumah Bin Ladin bekerja di kebun kompleks rumah tersebut dengan upah Rs 350 per hari ($5 kurang sedikit). Ia juga dikabarkan menjual seekor sapi kepada kelompok keluarga itu yang kemudian dipelihara oleh Khalid.

Ibrahim dan Abrar, mereka berdua inilah yang secara teratur keluar kompleks rumah untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Mereka secara teratur shalat berjamaah di masjid setempat, dan menurut Syamraiz perilaku mereka sangat baik dan sopan. Bersambung

 

Alih bahasa: Yasin Muslim

Sumber: Al-Jazeera

 

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Wilayah Lain

Dukung Koalisi Teluk, Senegal Berencana Kirim 2.100 Tentara

KIBLAT.NET, Dakar – Senegal mengumumkan akan mengirim 2.100 tentara ke Arab Saudi untuk bergabung dalam...

Selasa, 05/05/2015 09:59 0

Video News

Jabhatun Nushrah Ledakkan Bungker Persembunyian Milisi Nushairiyah

KIBLAT.NET – Jabhatun Nushrah melalui media resminya Al Manarah Al Baidha’ merilis sebuah video yang...

Selasa, 05/05/2015 09:37 0

Suriah

Lagi, Mujahidin Raih Kemajuan di Idlib

KIBLAT.NET, Idlib – Mujahidin Suriah terus bergerak membersihkan seluruh provinsi Idlib dari keberadaan militer Suriah....

Selasa, 05/05/2015 09:37 0

Video Kajian

[Video] Kiblat Mimbar : Kita Berada di Akhir Zaman oleh Ust. Abu Fatiah

KIBLAT.NET- Sudah bukan rahasia lagi bahwa kita berada di akhir zaman. Rosulullah SAW telah membagi...

Selasa, 05/05/2015 08:34 0

Amerika

Bahas Isu Kawasan Teluk, Menlu AS Kunjungi Saudi dan Prancis

KIBLAT.NET, Washington – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, Rabu besok(06/04), dijadwalkan tiba di...

Selasa, 05/05/2015 07:53 0

Amerika

Dua Pria Bersenjata Serang Pameran Anti Islam di Amerika

KIBLAT.NET, Garland – Dua pria bersenjata menembaki gedung tempat digelarnya lomba menghina Nabi Muhammad dengan...

Selasa, 05/05/2015 07:03 0

Suriah

Daulah Unggah Video Korban Sipil Akibat Serangan Koalisi AS di Aleppo

KIBLAT.NET, Aleppo – Kantor media Daulah Islamiyah atau yang lebih dikenal ISIS di Aleppo, Ahad...

Senin, 04/05/2015 17:30 0

Indonesia

Gus Hamid: Ajaran Islam Bukan Hanya Pandai Berhubungan dengan Allah Tapi Juga Manusia

KIBLAT.NET, Yogyakarta – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menegaskan bahwa organisasi tersebut berdiri...

Senin, 04/05/2015 16:07 0

Indonesia

Tegaskan Sikap, MIUMI Komitmen Tak Akan Jadi Partai Politik

KIBLAT.NET, Yogyakarta – Di sela-sela pidato pengukuhan perwakilan Majelis Intektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)...

Senin, 04/05/2015 14:00 0

Indonesia

Silatnas MIUMI, Ustadz Bachtiar Nasir: MIUMI Bukan Lagi Burung Merak, Tapi Landak

KIBLAT.NET, Yogyakarta – “MIUMI tidak lagi menjadi burung merak, tapi harus menjadi landak,” ujar Sekjen...

Senin, 04/05/2015 13:00 0

Close