... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Perselisihan Jamaah Jihad dari Penjara Pasca Kudeta

KIBLAT.NET – Bagian sebelumnya menunjukkan dengan jelas pengaruh Abdussalam Faraj di Jamaah Jihad, meskipun pemimpin sebenarnya adalah Dr. Aiman Azh-Zhawahiri. Suasana panas di Mesir saat itu sangat berperan dalam memecah keharmonisan organisasi.(baca juga: Pembunuhan Sadat Didalangi Intelijen)

Dr. Aiman bekerja sangat rahasia dan memiliki visi yang jauh. Sementara itu Abdussalam Faraj tampil layaknya pemimpin baru. Ia mendapatkan dukungan luas karena kegigihannya menyampaikan ide dan membantah setiap keraguan. Bahkan ide-idenya tertuang dalam tulisan yang diwarisi para ulama jihadis selanjutnya. Namun, ketidaktertiban organisasi dan kurangnya perencanaan telah mengakibatkan kerugian besar dalam perjalanan Jamaah Jihad. Inilah yang akan kita pelajari di bagian ini!

Peran Dr Aiman Azh-Zhawahiri
Pada masa penggalangan dukungan untuk kudeta, Dr. Aiman juga masuk dalam peristiwa. Sebab kelompok yang pro kepadanya yang dipimpin oleh Muhammad Salim Ar-Rahhal dan anggotanya bertemu dengan saudara-saudara yang setuju dengan ide kudeta. Mereka juga meminta dikenalkan dengan Abdussalam Faraj.

Dr. Aiman sendiri sebagai pemimpin yang sejak awal bekerja sangat rahasia bertemu dengan Abbud Az-Zumar, dan membahas beberapa hal. Ia khawatir operasi itu akan mengakibatkan reaksi besar dari penguasa yang merugikan dan organisasi diobrak-abrik.

Dalam rangkaian persiapan sebelum operasi itu, Dr. Aiman menerima kiriman kotak yang berisi bom dan RPG. Ia lalu menyembunyikannya di klinik sebelum dipindah ke rumah Syaikh Nabil Al-Bar’i.

Semua untaian ini saling terkait satu sama lain. Kelompok-kelompok Islam yang bersatu secara terang-terangan itu disebabkan oleh suasana yang mendidih di Mesir saat itu. Sadat sedang melancarkan kampanye buruk terhadap banyak ulama. Dia menggambarkan Syaikh Hafidz Salamah —salah satu pahlawan dalam perlawanan di kota Suez sebagai orang gila yang menjual Suez. Syaikh Mahlawi disebutnya dengan ungkapkan, “Apakah ia tidur memakai kostum anjing” di penjara. Ia menebarkan penghinaan kepada siapa saja yang dianggap sebagai lawan politik.

Hal ini menimbulkan kemarahan besar. Para aktivis Islam dari banyak kelompok memutuskan bahwa ia harus disingkirkan. Terutama setelah dikeluarkan resolusi 5 September 1981 untuk menangkap 1536 orang, termasuk beberapa tokoh penting pergerakan jihad.

Keamanan kemudian berupaya menangkap Abdussalam Faraj. Ia ditembak di kaki, namun berhasil lolos. Ia mengendarai sepeda motor dan melarikan diri dari satu tempat ke tempat lain. Dalam kondisi demikian, ia tetap mampu menyatukan semua kelompok Islam dan menyemai ide proyek Negara Islam.

Muhammad Abdussalam Faraj

Muhammad Abdussalam Faraj

Meskipun banyak tekanan dilakukan oleh negara, Sadat tidak tahu semua proyek tersebut. Ya, bila mengetahui, tentu ia tidak mati tertembak. Kelompok-kelompok Islam telah mengerahkan anggotanya dalam periode itu untuk latihan dan kegiatan militer. Kebanyakan dari mereka yang dilatih, termasuk para pemuda dari wilayah atas, datang ke Abbud Az-Zumar untuk berlatih atau Abbas Syanan di Bulaq atau Nabil Al-Maghribi. Kebanyakan dari mereka yang ikut pelatihan berasal dari Mesir Hilir.

Masalah pembunuhan Sadat hampir 100% hanya melibatkan aktivis di wilayah hilir. Kelompok di wilayah atas tahu, tetapi tidak benar-benar berpartisipasi di dalamnya.

Ketika ide Khalid Al-Istambuli muncul dan disampaikan kepada Muhammad Abdussalam Faraj, pada awalnya ia ragu menyetujui idenya dan khawatir menyebabkan organisasinya terbongkar. Tetapi pada akhirnya ia setuju. Di awal, ia berkonsultasi dengan Abbud Az-Zumar, orang penting di lembaga intelijen Mesir yang bergabung dalam Jamaah Jihad. Ia menolak ide itu dengan alasan akan menyebabkan organisasi terbongkar. Ia tidak menginginkan itu karena menurutnya proyek itu membutuhkan waktu lebih lama, sekurang-kurangnya lima tahun untuk mengumpulkan pemuda lebih banyak lagi.

Akhirnya, mereka bersikeras untuk memanfaatkan momen Parade Militer untuk membunuh Sadat, dengan kesepakatan bahwa pelaku akan dibunuh oleh rekan mereka sendiri. Khalid Al-Istambuli mengatakan, pengawal yang akan membunuhnya adalah Wa’atha Thayal Hamidah—teman dekat Abdussalam Faraj dan Hasan Abas. Dengan demikian, organisasi tidak akan terbongkar. Atas dasar ini, Abbud Az-Zumar akhirnya menyetujui ide itu dan masuk ke dalam rencana. Demikianlah operasi itu dilakukan dan berhasil membunuh Sadat.

Pasca Pembunuhan Sadat
Sadat dibunuh pada 6 Oktober 1981, satu bulan setelah rilis keputusan September untuk penangkapan 1536 para pemimpin dari berbagai kelompok berbeda; aktivis Islam dan Kristen. Setelah pembunuhan itu, berlangsunglah sidang besar-besaran terhadap para Islamis dalam kasus Jamaah Jihad. Ini berlangsung lebih dari dua tahun. Setelah masa persidangan berlalu, era pembebasan para tahanan datang. Kelompok-kelompok Islam menghadapi masa tenang yang dimanfaatkan untuk menyembuhkan luka dan membangun kembali jamaahnya, bermula dari Afghanistan.

Hukuman yang dijatuhkan dalam kasus Jamaah Jihad menimbulkan kejutan bagi banyak orang. Sebab, Kanselir Abdul Ghaffar Muhammad Ahmad dalam kasus nomor 462 tahun 1981 Keamanan Agung Negara mengeluarkan keputusan bebasnya 190 orang dari 302 terdakwa. Vonis terhadap terdakwa lainnya pun hanya ringan saja. Padahal diketahui bahwa dua dari mereka meninggal di penjara.

Hal itu menimbulkan benturan bagi petugas keamanan yang mengharapkan hukuman mati bagi setidaknya sepuluh terdakwa. Namun tidak ada yang divonis hukuman mati. Bahkan banyak di antara mereka dinyatakan tidak bersalah, termasuk Dr. Umar Abdurrahman yang merupakan terdakwa pertama dalam kasus tersebut. Pengadilan membebaskannya karena tidak memiliki peran. Sebab tidak ada saksi yang mengaku bahwa ia memerintahkan pembunuhan Sadat. Bahkan tidak ada fatwa darinya tentang kekafiran Sadat. Isu ini samar-samar, bahkan dalam kesaksian Syaikh Umar sendiri. Pengadilan tidak dapat menyimpulkan apa motifnya, tetapi setuju bahwa pengakuan yang diambil adalah hasil dari penyiksaan dan pemaksaan, apa pun hasilnya. Oleh karena itu, negara mengubah penanganan urusan pidana dan perdata (isu-isu Islam) ke pengadilan militer untuk dapat memenuhi penilaian.

Perselisihan Dua Kubu
Selama para aktivis menjalani kehidupan di penjara, perbedaan muncul di antara mereka. Mereka berdebat dalam dua masalah. Masalah pertama pembunuhan Sadat, ada konsensus operasi itu memang disetujui. Perselisihan yang terjadi lahir dari pendapat bahwa kelompok yang membangun gerakan atas ide-ide jihad melihat serangan pada Direktorat Keamanan di Assiut dan pendudukannya merupakan cara kerja yang serampangan, tanpa perencanaan. Itu merupakan reaksi yang berdampak pada penumpahan darah yang tidak seharusnya dilakukan (baca: haram dibunuh). Terjadi perselisihan di antara mereka. Sebab kalangan Jamaah Islamiyyah berpendapat bahwa operasi pembunuhan Sadat adalah sebuah aksi yang benar, tetapi insiden Assiut tidak seharusnya terjadi. Sadat dibunuh, dan Kelompok Islam di wilayah atas tahu ini. Tetapi mereka bersikeras melanjutkan operasi ke Direktorat Keamanan di Assiut dan mengumpulkan barisan mereka untuk menyebabkan kekacauan dan kebingungan, dan pendudukan kota.

Markas Keamanan Provinsi Asiut 1981

Markas Keamanan Provinsi Assiut 1981

Tetapi bagaimana sebuah operasi menguasai kota mengantisipasi kemungkinan dikepung setelahnya, hal ini tidak direncanakan! Jamaah Islamiyyah menyerbu Direktorat Keamanan, tetapi pada akhirnya, senjata para pemuda itu terkuras, lalu mereka ditangkapi dan sebagian terbunuh.

BACA JUGA  Komentari Agama dan Konstitusi, Komisi VIII: Kepala BPIP Jangan Cari Perkara

Sejumlah besar ikhwan ditangkapi, sebagian dari mereka adalah para pemuda yang baru bergabung dengan organisasi dari wilayah atas. Karena itulah, banyak sekali tersangka dalam kasus ini yang berasal dari atas. Banyak orang tergugah dan memasuki pertempuran karena antusiasme, tanpa tahu rencana sebenarnya. Seandainya mereka cukup membunuh Sadat saja, niscaya risikonya lebih ringan dan terbatas pada kelompok pertama saja.
Namun peristiwa yang mengerikan terjadi di wilayah atas menyebabkan penangkapan sejumlah besar dari mereka dan dipenjarakan.

Karena itulah, Dr Umar Abdurrahman berfatwa kepada para aktivis untuk berpuasa 60 hari atas dasar bahwa apa yang terjadi di wilayah atas adalah kesalahan. Tentu saja ada pihak yang menampik fatwa tersebut, tetapi ada kesaksian dari orang yang adil dan tidak hanya satu orang. Ini menjadi bukti kurangnya visi dan kejelasan operasi.

Operasi Assiut terjadi secara spontan disebabkan oleh pemikiran bahwa “saudara-saudara kita di Mesir Hilir telah melakukan operasi besar (pembunuhan Sadat), maka kita juga harus melakukan seperti mereka. Begitulah pemikiran para aktivis di wilayah atas.

Itulah perselisihan pertama di penjara. Perselisihan kedua adalah kepemimpinan Syaikh Umar.
Satu kelompok melihat Syaikh Abbud Az-Zumar, sebagai seorang militer, petinggi di dinas intelijen dan memiliki kualitas pemimpin, lebih pantas menjadi pemimpin.

Saudara-saudara di wilayah atas—sebelum mengusulkan Syaikh Umar—telah berupaya memasukkan nama lain. Mereka menawarkan Dr Najih Ibrahim, tokoh Jamaah Islamiyyah. Tetapi mereka menimbang dan menyimpulkan bahwa kapasitas Abbud Az-Zumar lebih tinggi karena kualitas militer dan kelebihan lainnya. Mereka pun berpikir lagi dan harus menemukan sosok yang tidak akan dilawan oleh siapa pun dalam organisasi. Akhirnya mereka menemukan Syaikh Umar dengan pertimbangan bahwa ia lulusan Al-Azhar, sosok ilmiah dan spiritual yang kuat, untuk menjadi pemimpin semua orang.

Dr Umar Abdurrahman

Dr Umar Abdurrahman

Dalam perjalanan sengketa ini, ada kelompok lain yang tampil seolah-olah netral. Tiba-tiba saja, Mayor Isham Al-Qamari rh. berbicara masalah syariat yang sebelumnya tidak pernah dilakukan dalam kapasitasnya sebagai militer. Ia tiba-tiba saja duduk, menyiapkan materi, dan membacakannya di depan manusia yang berkumpul.

Ia mengatakan kepada mereka bahwa tidak boleh mengangkat pemimpin yang buta. Hal ini menimbulkan kontroversi besar. Sebab saudara-saudara dari Jamaah Islamiyyah bersikeras mengangkat Dr Umar sebagai amir. Sementara itu sekelompok lain menyuarakan Abbud Az-Zumar sebagai pemimpin. Dari sinilah terjadi perpecahan.

Kubu dari wilayah Piramida dan hilir memilih Abbud Az-Zumar, sedangkan kubu lain memilih Dr. Umar Abdurrahman. Semua ini disebabkan oleh penelitian yang disajikan oleh Isham Al-Qamari yang ingin menunjukkan tinjauan syariat dalam kasus ini. Jamaah Jihad setelah itu mengeluarkan sebuah penelitian yang disebut Kepemimpinan Orang Buta, yang secara nyata bersandar kepada tulisan Isham Al-Qamari. Selanjutnya, Dr Abdul Qadir bin Abdul Aziz (Dr. Sayyid Imam, Amir Jamaah Jihad selanjutnya), juga bersandar kepada pendapat tersebut.

Perpecahan pun terjadi. Masing-masing bekerja di bawah kelompok, baik Jamaah Jihad maupun Jamaah Islamiyyah. Orang-orang yang dipenjara; tidak semuanya berafiliasi kepada organisasi terpadu, meskipun mereka diadili dalam kasus tunggal. Yaitu kasus Jamaah Jihad yang mencakup semua orang, baik Jamaah Islamiyyah maupun Jamaah Jihad. Kasus ini berakhir dengan lahirnya dua organisasi dari penjara: Jamaah Jihad di bawah kepemimpinan Abbud Az-Zumar dan Jamaah Islamiyyah di bawah kepemimpinan Dr. Umar Abdurrahman. Sebagian tokoh telah berupaya mendamaikan dan menyatukan kedua pihak, namun semua upaya berakhir kegagalan karena berbagai faktor.

Syaikh Abbud Az-Zumar

Syaikh Abbud Az-Zumar

Upaya Membalut Luka
Para tahanan mulai dibebaskan pada pertengahan tahun delapan puluhan. Awal tahun tersebut, sekitar 190 orang telah dikeluarkan dari penjara dengan status bebas murni. Adapun orang-orang yang telah mendapatkan hukuman ringan seperti tiga tahun, mereka telah menjalaninya sampai akhir, seperti Dr. Aiman Azh-Zhawahiri. Ia selesai menjalani hukuman selama tiga tahun. Selebihnya banyak orang yang dibebaskan adalah mereka yang baru menjalani hukuman selama dua atau tiga tahun, lalu bebas.

Periode dari tahun 1985 sampai 86/87 adalah masa yang tenang. Orang-orang keluar dari penjara mencoba cooling down. Ada yang kembali ke keluarga, kuliah, dan ada juga ke pekerjaannya.

Kedua kelompok berusaha untuk memulihkan keadaan. Jamaah Jihad berusaha mengobati luka itu di bumi jihad Afghanistan. Ya, karena “materi pelajaran” Jamaah Jihad berbeda dengan Jamaah Islamiyyah. Jamaah Islamiyyah pada dasarnya merupakan kelompok dakwah yang beroperasi secara terbuka di masjid-masjid dan pengikutnya selalu datang.

Pada saat bersamaan, Perang Afghanistan memang sedang berlangsung. Orang-orang yang telah dibebaskan dari penjara mulai berpikir untuk pergi ke sana. Niat awal mereka adalah pergi ke orang-orang di Arab Saudi karena ada lingkaran yang akan menyambungkan mereka ke Afghanistan. Tidak ada jembatan yang lebih mudah untuk menyeberang selain dari sana. Mereka keluar untuk umrah, dan dari sana pergi ke Afghanistan, melalui pihak-pihak yang membantu Mujahidin secara publik.

BACA JUGA  Editorial: Kita yang Turut Membunuh Mereka

Dr Aiman adalah bagian dari mereka yang melakukan perjalanan ke Afghanistan. Sebelumnya beberapa orang telah hijrah ke Afghan sebelum 1981. Di antara yang populer adalah Dr. Sayyid Imam alias Abdul Qadir bin Abdul Aziz, penulis buku Al-Jami’. Insinyur Muhammad, saudara Dr Aiman waktu itu juga hijrah ke sana. Namanya juga masuk dalam daftar buronan dalam kasus Jamaah Jihad.

Setelah ke Arab Saudi, Dr. Aiman melakukan perjalanan ke Afghanistan dan bekerja di rumah sakit di Peshawar di perbatasan Afghanistan. Melalui rumah sakit inilah Dr Aiman berinteraksi dan bertemu dengan orang lain yang sama-sama beraktivitas dalam penanganan medis, dari rumah sakit Bulan Sabit Merah Kuwait di Pakistan atau bekerja di rumah sakit lapangan di Afghanistan.

Dr Aiman bertemu orang-orang yang sebagian sudah dikenal. Perang Afghanistan ini menurut mereka bisa menjadi peluang untuk menghidupkan kembali Jamaah Jihad. Bagaimana perang seperti ini bisa terjadi, sedangkan kita tidak mendapatkan manfaat darinya? Ya, itulah pemikiran mereka, terutama bahwa misi Jamaah Jihad adalah kudeta. Mereka berpikir harus ada perencanaan jangka panjang untuk beberapa hal.

Dr Sayyid Imam Memimpin Jamaah Jihad
Hal pertama yang mereka lakukan adalah mengumpulkan barisan dan memilih Dr Sayyid Imam sebagai pemimpin. Pengangkatan Dr Sayyid dihadiri oleh Dr Aiman Azh-Zhawahiri, Abdul Aziz Al-Jamal, dan Ahmad Salamah Mabruk. Sumber lain menyebutkan bahwa pertemuan itu juga dihadiri oleh Muhammad Abdurrahim Asy-Syarqawi, seorang insinyur yang bersembunyi di bengkel persembunyian Isham Al-Qamari ketika melarikan diri dari penjara. Asy-Syarqawi meninggalkan Jamaah Jihad setelah terjadi perselisihan pada 1989-1990 dan memilih bekerja sendiri. Namun, ia tetap ditangkap meskipun telah menikah dengan wanita Pakistan dan menjadi warga negara tersebut. Ia dideportasi ke Mesir.

Sayyid Imam a.k.a Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz a.k.a Dr. Fadhl

Sayyid Imam a.k.a Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz a.k.a Dr. Fadhl

Dr Sayyid Imam dipilih sebagai pemimpin Jamaah Jihad dan dipanggil dengan sebutan Abdul Qadir bin Abdul Aziz. Alasannya, menurut As-Sibai, mereka tidak ingin orang tahu bahwa ialah pemimpin Jamaah Jihad sebenarnya, menyontoh apa yang terjadi di negara Abbasiyah ketika orang-orang membaiat seseorang atas dasar bahwa ia dari ahli bait (Ali Ridha) dan tidak mengetahui siapa dia sebenarnya.

Sayyid Imam sendiri sebagai amir lebih suka kerja secara rahasia. Nama yang populer ketika itu adalah Dr Aiman. Orang-orang menemuinya untuk berbaiat atas dasar bahwa ia adalah amir Jamaah. Banyak orang berbaiat kepadanya dan tidak tahu bahwa ia bukanlah amir Jamaah Jihad. Mereka menyangka demikian karena namanya dikenal selama persidangan di Mesir.

Selanjutnya, Dr Aiman dan Mayor Ahmad Al-Gharifani lebih dikenal. Keduanya fasih berbicara bahasa Inggris dan berbicara di media untuk menjelaskan masalah jihad dan sikapnya terhadap Prakarsa Perdamaian antara Mesir dan Israel.

Hal itu membuat mereka begitu terkenal. Selain itu, generasi yang lebih tua mengenal Dr Aiman, tidak Dr. Sayyid Imam. Hal itu karena Dr. Sayyid telah melarikan diri sebelum pembunuhan Sadat.

Aparat keamanan Mesir mengetahui amir baru Jamaah Jihad setelah penangkapan beberapa orang dalam kasus Thala’i Fath (kelompok yang kembali dari Afghan). Sebelum itu, tidak diketahui siapa amirnya. Hanya beberapa orang saja yang tahu itu.

Baiat dilaksanakan secara langsung atau diwakilkan. Secara teknis dilakukan dengan berjabat tangan langsung kepada amir mengikuti petunjuk hadits-hadits Rasul, dengan ikrar yang sudah dikenal tidak menyelisihi Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, atau melalui perantara. Yakni seseorang membawa baiat orang lain kepada amir.

Jamaah Jihad kala itu berusaha melatih kemiliteran anggotanya. Tetapi dipilih dengan cermat, dan itulah yang membuatnya menjadi elitis; sedikit jumlahnya dan tidak meluas. Rajin shalat saja tidak cukup untuk menjadi anggota baru. Jamaah melakukan pendekatan awal kepada seseorang, lalu mengajak diskusi tentang beberapa buku. Bila orang itu banyak membantah, Jamaah meninggalkannya. Bila ia menerima aspek akidah dan syar’iyah, ia pun diberi pelatihan militer.

Di antara tokoh yang bekerja untuk mengembalikan eksistensi Jamaah Jihad ketika itu adalah Abu Hafsh Al-Mishri dan Abu Ubaidah Al-Bansyiri yang dikenal sebagai orang dekat Abdul Hamid Abdussalam, salah seorang yang terlibat dalam pembunuhan Sadat.

Jamaah Jihad hidup kembali pada tahun 1987-1988. Mereka mulai bertemu tahun 1987 dan berpikir untuk bekerja bersama, daripada terpecah-pecah. Ketika itu mereka didukung oleh muhsinin dari Teluk yang datang menginfakkan hartanya untuk jihad. Mereka memberikan bantuan kepada orang-orang Mesir yang memerangi Rusia dan membuka kamp pelatihan. Para pemuda Mesir saat itu datang ke Afghanistan tidak terorganisasi dalam kelompok tertentu. Mereka datang untuk jihad di Afghanistan karena perspektif agama untuk melawan Soviet.

Dengan demikian, Jamaah Jihad kembali menguat di luar negeri. Selanjutnya, mereka merasa perlu melanjutkan di dalam negeri. Mereka harus menghubungkan kader-kadernya ke Mesir. Tujuannya adalah merekrut sebanyak mungkin anak muda dan mengirim mereka untuk pelatihan senjata di Afghanistan. Ini sebenarnya ide lama Isham Al-Qamari, yang mengatakan ia tidak menyetujui konfrontasi antara pemuda dan pasukan keamanan. Ia percaya bahwa masalah ini tidak akan positif disebabkan oleh kurangnya pelatihan. Visi yang ia perjuangkan adalah melatih para pemuda sebaik-baiknya dalam pembuatan bom dan senjata perang lainnya, memberikan latihan layaknya latihan militer.

Penutup
Jamaah Jihad telah membangun kembali organisasinya di bumi jihad Afghanistan. Meskipun telah bergabung dengan jihadis dari seluruh dunia, visi Jamaah Jihad tetap ingin kembali ke Mesir untuk menggulingkan penguasa lokal. Mengapa demikian? Kita akan mengaitkan realitas ini dengan analisis Syaikh Abu Mus’ab As-Suri di bagian selanjutnya, insya Allah. [Agus Abdullah]

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Syaikh Al-Muhaisini Terluka dalam Pertempuran di Idlib

KIBLAT.NET, Idlib – Syaikh Abdullah Al-Muhaisini, ulama Saudi yang turun berjihad di Suriah, dikabarkan terluka...

Sabtu, 25/04/2015 10:32 0

Suriah

Milisi Afghanistan Dibayar Dua Juta Toman Iran untuk Bertempur di Suriah

KIBLAT.NET, Daraa – Mujahidin kembali merilis pengakuan tawanan milisi bayaran dari Afghanistan yang berhasil ditangkap...

Sabtu, 25/04/2015 08:48 0

Suriah

Rezim Suriah Ancam Gempur Idlib dengan Senjata Kimia

KIBLAT.NET, Idlib – Rezim Suriah baru-baru ini mengancam akan menggunakan senjata kimia untuk menggempur kota...

Sabtu, 25/04/2015 08:19 0

Amerika

AS Tegaskan Melindungi Israel

KIBLAT.NET, Washington – Wakil Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, menyatakan antara negaranya dan Israel saling...

Sabtu, 25/04/2015 07:45 0

Yaman

Konvoi Kapal Iran Dipantau Menjauh dari Yaman

KIBLAT.NET, Washington -Sekelompok kapal kargo Iran yang hendak menuju ke Yaman berbalik arah ketika bertemu...

Sabtu, 25/04/2015 07:31 0

Suriah

Tawanan Afghanistan: Kami Masuk Daraa Bersama 600 Milisi Bayaran

KIBLAT.NET, Daraa – Pejuang kembali menawan militan asing yang bertempur di bawah bendera Bashar Assad...

Jum'at, 24/04/2015 17:00 0

Indonesia

Istri Tertuduh Kelompok Santoso: Saya Berharap Bisa Menjenguk Suami Saya

KIBLAT.NET, Poso – Sebanyak tujuh istri dan keluarga yang ditangkap kepolisian dalam Operasi Camar Maleo mendatangi...

Jum'at, 24/04/2015 16:00 0

Artikel

Dr. Sami Al-Uraidi: Ilmu adalah Kawan Karib bagi Jihad, Begitu Juga Sebaliknya

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan kenikmatan kepada kita untuk bisa bermajlis di tengah-tengah...

Jum'at, 24/04/2015 16:00 0

Indonesia

FPI Poso Minta Nasib Istri Tertuduh Anggota Santoso Diperhatikan

KIBLAT.NET, Poso – Ketua Front Pembela Islam Poso Ustadz Sugianto Kaimudin turut mengawal aspirasi keluarga...

Jum'at, 24/04/2015 15:00 0

Indonesia

Datangi DPRD, Ini Permintaan Para Istri Tertuduh Kelompok Santoso

KIBLAT.NET, Poso – Sejumlah istri dari para tertuduh kelompok Santoso pada Rabu, (22/04) menyambangi Gedung DPRD Poso....

Jum'at, 24/04/2015 13:36 0

Close