... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Mitos, Sejarah, dan RA Kartini

Foto: RA Kartini

KIBLAT.NET — Jika hari ini berusia pada kisaran 25 tahun-an, pasti Anda salah satu orang yang terhenyak ketika berangkat ke kantor agak telat pada tanggal 21 April kemarin. Saat tiba-tiba jalanan Anda “dikorupsi” oleh barisan anak TK dan SD yang mengenakan kebaya serta konde, Anda pun akan berujar, “Oh, hari Kartini rupanya.” Dan ketika anda ditanya tentang siapa Kartini, pasti jawaban anda kurang lebih seperti ini: “Pahlawan emansipasi.”

Cukup dua kata, mengimplementasikan pengkultusan sekaligus ketidakacuhan Anda terhadap sosok Kartini.

Tanpa Anda sadari, dengan jawaban tadi Anda telah menyeberangkan sosok Kartini dari sebuah partikel sejarah menjadi mitos. Karena Anda mengatakannya tanpa memahami apa itu pahlawan, dan apa itu emansipasi.

Sudahkah mengenal Kartini dengan benar?

Kartini tak lagi nyata. Dia menjadi fiksi. Lentur, fleksibel, bisa berubah-ubah bentuk, bisa dimasukkan dan dimasuki apa saja. Fakta dan konteks kehilangan sentuhan absolutnya jika berhadapan dengannya.

Misal, dilihat dari segi kontribusi untuk bangsa, tanpa maksud mengecilkan arti seorang Kartini, dia tak lebih dari sekedar bertukar surat bertukar pikiran dengan sahabatnya di Belanda. Lazimnya ibarat update status dalam konteks kekinian, dia mencurahkan isi hatinya, meneteskan air matanya. Semua itu lebih untuk mengikis kegalauannya semata, ketimbang dicurahkan dalam ranah implementasi yang akan menghapus air mata-air mata wanita Indonesia pada masa itu.

Namun tetap saja muncul argumen, Kartini lahir di tahun 1879, di mana feodalisme dan kolonialisme begitu mengakar kuat di sistem masyarakat Hindia Belanda. Feodalisme ikut berperan menciptakan pola patriarki di hampir seluruh rumah tangga pribumi, dimana seorang pria menguasai kepentingan ekonomi, politik, bahkan sosial kaum wanita.

Buku tentang Kartini, karya Pram

Buku tentang Kartini, karya Pram

Apa yang bisa dilakukan wanita Jawa di sebuah kota kecil bernama Jepara selain menulis, seperti yang diungkapkan oleh Pram, “Sastra menjadi kekuatan bagi mereka yang sama sekali tidak mempunyai kebebasan dan kekuasaan. Maka, hanya dengan mengaranglah Kartini bisa menunjukkan kekuatannya.”

Selalu muncul pembelaan yang intinya mendudukkan Kartini sebagai simbol emansipasi Indonesia. Sementara, fakta-fakta sejarah yang mengarahkan pada “ketidakmampuan” dan kelemahannya hanyalah akibat dari sekian faktor-faktor di luar Kartini yang (seperti) berkonspirasi menggagalkan Kartini.

BACA JUGA  Menjadi Manusia versi Michael Flynn

Begitu juga soal kepasrahannya menjadi istri keempat Bupati Rembang, yang menjadikannya bak menjilat ludahnya. Dalam suratnya Kartini berujar, “Poligami adalah kejahatan raksasa, egoisme laki-laki.” Kejadian ini cenderung dimaknai bahwa Kartini “kalah” dalam rangka kepatuhannya terhadap sang Ayah.

Padahal di sisi lain R.M. Adipati Ario Sosroningrat adalah suami yang mengerti keinginan Kartini. Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Dari sisi kemampuan intelektual, kepedulian terhadap bangsa, serta perlawanan terhadap ketidakadilan kolonialisme-lah, alasan ia dipuja, mungkin dia berani. Tetapi berani tentu saja berkonteks: dibandingkan dengan siapa, dalam peran apa, di bidang apa, maupun tentu saja jamannya.

Jika bercermin pada penyembah-penyembah feminisme saat ini, seberapa banyak yang pernah berbincang dengan orang terdekat ataupun keturunan Kartini (kalau ada). Kemungkinan besar tidak ada!

Referensi terbaik & terotentik mungkin hanya “Panggil Aku Kartini Saja I & II” milik Pram yang jilid III dan IV-nya sudah dibakar oleh rezim Orde Baru—sebuah karya yang meski fenomenal tapi tak bisa menjadi rujukan karya ilmiah. Selebihnya hanya cerita dari ingatan yang semakin kabur dari fakta yang kemungkinan beredar. Atau bagi mereka yang mempunyai akses ke internet, artikel-artikel dan esai pendek yang tentu saja selektif memperlihatkan kehebatan sosok ini.

Rohana Kudus, Cut Nyak Dien

Rohana Kudus, Cut Nyak Dien

Sosok lain

Jika seperti itu, bukankah banyak wanita yang bisa di-Kartini-kan? Rohana Kudus yang mencetak koran sendiri agar pemikirannya dibaca banyak orang, atau Cut Nyak Dien yang memanggul senjata langsung berhadapan dengan wajah kolonialisme. Ataupun Dewi Sartika yang sudah mengeja abjad untuk murid-murid sekolah wanitanya, di saat Kartini masih terpingit di rumahnya.

Mengapa mereka tidak menjadi Kartini ataupun di-Kartini-kan, mengapa harus Kartini yang dipilih oleh “entah siapa” yang akhirnya harus kita sepakati sampai detik ini.

BACA JUGA  Tuduhan Pencucian Uang GNPF MUI, Perhimpunan Donatur: Kami Tidak Terima

Akhirnya Kartini mentransenden dari sekadar partikel sejarah menjadi mitos, ketika konteks telah kabur, ketika kemungkinan kekurangan menjadi terabaikan atau cenderung tidak diperhitungkan.

Sekedar catatan, mitos lahir dari tradisi ketika manusia mengandalkan alat inderawi: intuisi, perasaan, pendengaran serta penglihatan untuk mengarungi hidup. Ada kesamaan antara mitos dengan sejarah, sama-sama sebuah upaya untuk mencatat dan menuturkan sebuah peristiwa. Tetapi tidak sekadar itu, mitos dimaksudkan untuk juga memberi kerangka pemahaman akan dunia, pemaknaan sebuah peristiwa. Ia sebuah tuturan untuk mengarungi kehidupan yang sebisa mungkin selaras dengan alam.

Tidak mengherankan bahwa yang bernama mitos selalu saja menyisipkan pesan moral dan kebijakan yang menyatu di dalamnya. Juga yang tak kalah penting universalitas, dalam pengertian bisa berlaku untuk siapa saja dalam lingkaran komunitas yang dituju.

Mitos dan sejarah

Karenanya fakta dan konteks bukanlah yang paling penting dalam mitos. Sementara sejarah merupakan bagian dari tradisi yang berkembang dengan mengandalkan intelektualitas dan rasionalitas. Sebuah tradisi keilmuan yang dengan sengaja di abad ke 16 dan 17 merasa harus meninggalkan dunia inderawi dan menggantikannya dengan kepastian matematis.

Jadi walau sejarah dan mitos pada dasarnya merupakan cara untuk menjelaskan (menuturkan) sebuah peristiwa, tetapi keduanya berasal dari akar pemahaman yang sangat berbeda. Persoalannya adalah ketika mitos dan catatan sejarah campur menjadi satu. Ketika mitos menjadi sejarah dan sebaliknya. Tiba-tiba saja yang faktual, obyektif, rasional, khayali, subyektif, kontekstual, non kontekstual, sementara, dan abadi berbaur menjadi satu.

Tinggallah kita umat manusia tergagap tak lagi mampu mengurai sejarah dari mitos. Sehingga seorang Napoleon Bonaparte sempat mengatakan, “Sejarah adalah sebuah mitos yang diyakini kebenarannya oleh umat manusia.”

Betapa tidak beruntungnya bangsa ini, ketika simbol emansipasinya mengalami nasib seperti itu. Bagaimanapun juga emansipasi bisa menjadi masalah merepotkan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Jika antara mitos dan sejarahnya tak segera dipilah, maka topik emansipasi akan menjadi topik yang cukup diperbincangkan di warung kopi saja.

Penulis:
Rusydan Abdul Hadi, Aktivis HMI, tinggal di Jakarta

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

2 comments on “Mitos, Sejarah, dan RA Kartini”

  1. kartini cuma mitos

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Hari Ini, PN Cibinong Gelar Sidang Kasus Penyerang Az-Zikra

KIBLAT.NET, Jakarta – Persidangan perdana kasus penyerangan kompleks Az-Zikra dengan terdakwa 34 pelaku penyerangan, hari...

Rabu, 22/04/2015 10:00 0

Yaman

Dinilai Sukses, Operasi Koalisi Teluk di Yaman Dihentikan

KIBLAT.NET, Riyadh – Negara koalisi Teluk mengumumkan, Selasa (21/04), mengakhiri operasi militer Ashifatul Hazm untuk...

Rabu, 22/04/2015 09:06 0

Suriah

Jabhah Nusrah Lumpuhkan 70 Tentara di Idlib

KIBLAT.NET, Idlib – Jabhah Nusrha mengumumkan berhasil menggulung sedikitnya 70 tentara Suriah di kota Ariha,...

Selasa, 21/04/2015 20:00 0

Indonesia

Gelar Talkshow, HTI Bandung Raya Kupas Tuntas Perkembangan Dakwah di Indonesia

KIBLAT.NET, Bandung – Hizbut Tahrir Indonesia Bandung Raya menggelar acara bertajuk “Meraih Kemuliaan Hidup” pada...

Selasa, 21/04/2015 19:02 0

Mesir

Lagi, Mesir Jatuhi Hukuman Mati 22 Anggota Ikhwanul Muslimin

KIBLAT.NET, Kairo – Pengadilan Mesir pada Senin (20/04) kemarin kembali memberikan hukuman mati terhadap 22...

Selasa, 21/04/2015 18:00 0

Analisis

Kebetulankah, Haji Bakar Tuliskan Rencana Pembentukan ISIS pada Dokumen Militer Suriah?

KIBLAT.NET – Baru-baru ini majalah Jerman, Der Spiegel, mengupas Daulah Islamiyah atau yang lebih dikenal ISIS...

Selasa, 21/04/2015 17:09 0

Artikel

Rumah Wasir, Mampu Tuntaskan Ambeien Hanya Dalam 15 Menit

KIBLAT.NET, ADVERTORIAL – Sejak tahun 2013, Rumah Wasir sudah dikenal mampu melayani pasien hemoroid atau ambeien...

Selasa, 21/04/2015 16:21 0

Suriah

Serangan Udara Rezim Bantai Puluhan Rakyat Sipil di Daraa dan Aleppo

KIBLAT.NET, Damaskus – Setidaknya 26 rakyat sipil Suriah dibantai pada Ahad (19/04) dalam serangan udara rezim...

Selasa, 21/04/2015 16:00 0

Yaman

2.300 Serangan Diluncurkan, Tahap Pertama Strategi Koalisi Teluk Tuntas

KIBLAT.NET, Riyadh – Pasukan Koalisi Teluk pada Ahad (19/04) dalam pernyataannya mengatakan, telah melakukan 2.300...

Selasa, 21/04/2015 15:00 0

Suriah

Jabhah Nusrah Bantu FSA Hadang Serangan Rezim di Perbatasan Yordania

KIBLAT.NET, Daraa – Mujahidin Jabhah Nusrah dan faksi-faksi di bawah naungan Free Syrian Armiy (FSA),...

Selasa, 21/04/2015 14:00 0