Gelar Talkshow, HTI Bandung Raya Kupas Tuntas Perkembangan Dakwah di Indonesia

KIBLAT.NET, Bandung – Hizbut Tahrir Indonesia Bandung Raya menggelar acara bertajuk “Meraih Kemuliaan Hidup” pada Ahad (19/4). Tak kurang dari 1.000 peserta yang berasal dari berbagai kalangan hadir pada acara yang dikemas dalam bentuk talkshow santai dan menarik ini bertempat di Graha Pos Indonesia lantai 8 Jalan Banda No. 30 Bandung.

Perbincangan dimulai dari kisah awal dakwah Hizbut Tahrir (HT), perkembangan dakwahnya, tantangan dan peluangnya, dakwah kontemporer, hingga jawaban atas berbagai macam pertanyaan dan keraguan dakwah. Semuanya dibahas dengan tuntas sesuai dengan waktu yang disediakan.

“Dakwah Hizbut Tahrir ketika awal-awal dibentuk tidak semudah seperti yang kita lihat saat ini,” kisah H. Muhammad Ismail Yusanto selaku Juru Bicara HTI.

Beliau menjelaskan bahwa dakwah Hizbut Tahrir diawali di Palestina oleh pendirinya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dan kemudian masuk ke Indonesia. Banyak tokoh yang berjasa dalam permulaan dakwah HTI, diantaranya adalah Mama Abdullah bin Nuh, seorang ulama karismatik asal Cianjur Jawa Barat.

Ismail menjelaskan bahwa Hizbut Tahrir bisa berkembang sejauh ini karena keistiqamahannya mencontoh metode dakwah Rasulullah SAW.

“Bayangkan saja, 10 tahun pertama HTI hanya bisa menghasilkan anggota 17 orang. Tapi begitulah sunnatullah, kalau kita mencontoh metode dakwah Rasul, maka akan dipermudah. Akhirnya 10 tahun berikutnya jumlah kita tidak hanya bertambah dua kali lipat, bahkan lebih dari itu,” kenangnya.

Sekarang Hizbut Tahrir ada di seluruh propinsi di Indonesia bahkan sudah masuk di hampir semua kabupaten/kota di Indonesia dengan jumlah yang tak terbayangkan sebelumnya. Sebuah perkembangan yang luar biasa.

BACA JUGA  Musibah Beruntun, MUI Minta Bangsa Indonesia Muhasabah

Ismail juga menjelaskan tahapan dakwah Hizbut Tahrir sebagaimana mencontoh dakwah Rasul SAW, yaitu pertama, tahapan pembinaan dan pengkaderan; kedua, tahapan berinteraksi dengan masyarakat, agar umat memahami kewajiban menerapkan Islam serta menjadikannya sebagai cara pandang dalam hidupnya; ketiga, penerimaan kekuasaan dengan metode thalabun nushrah.

Peserta Talkshow "Meraih Kemuliaan Hidup"
Peserta Talkshow “Meraih Kemuliaan Hidup” di Bandung

Beliau juga bercerita tentang perkembangan dakwah yang demikian pesat di Indonesia. Termasuk pengalamannya diwawancara oleh berbagai macam media dalam dan luar negeri, audiensi dan kontak dengan berbagai pihak, hingga diskusi-diskusi yang diadakan oleh beberapa stasion televisi berikut cerita dibalik layarnya.

Respon masyarakat yang demikian hangat menyambut, membuktikan bahwa masyarakat saat ini sudah banyak mengenal Hizbut Tahrir, baik itu cara dakwahnya maupun ide yang dibawanya.

“Bukan dakwah kalau tidak ada tantangan,” tandas beliau ketika berbincang tentang tantangan dakwah. Beliau mengupas berbagai tantangan dakwah kontemporer termasuk peluangnya.

Menjelaskan terkait buku “Ilusi Negara Islam” yang ditunjukkan oleh pembawa acara, menurutnya ini merupakan tantangan intelektual. “Belum lagi tantangan politik”, tambahnya.

Ismail juga menjawab pertanyaan seputar “ISIS Effect”. Beliau menggarisbawahi bahwa poin pentingnya adalah ada upaya dari sebagian pihak untuk melakukan kriminalisasi dan monsterisasi terhadap gagasan khilafah dan pejuangnya.

Ia menjelaskan sikap politik Hizbut Tahrir terkait konflik di Yaman secara lugas. Demikian juga menjawab dengan apik bagaimana sikap Hizbut Tahrir terhadap Syi’ah.

“Bagaimana mungkin Hizbut Tahrir mendukung Syiah, sementara dalam kitab al-Syakhsiyyah al-Islamiyyah juz II yang diterbitkan Hizbut Tahrir di dalamnya terdapat kritik tajam terhadap pemikiran paling mendasar dari Syi’ah. Bagaimana mungkin mendukung Hautsi, sementara pada saat yang sama Syabab Hizbut Tahrir di Yaman ditangkap oleh Hautsi karena menyebarkan selebaran tentang Yaman,” tanya Ismail secara retoris.

BACA JUGA  Amien Rais Minta Masyarakat Tetap Kawal Penembakan Laskar

Di akhir sesi, pembicara menyampaikan penegasannya, bahwa kemuliaan hidup hanya bisa diraih dalam Islam, tak sempurna penerapan Islam tanpa syariah. Namun syariah tidak dapat diterapkan tanpa daulah khilafah. Karenanya kemuliaan hidup dapat diraih dengan terlibat dalam dakwah untuk menegakkan Khilafah Rasyidah. Karena esensi kemuliaan hidup adalah ketika berada dalam jalan pengabdian kepada Allah SWT, berdakwah untuk menegakkan syariat-Nya, dan berjuang dengan penuh kesungguhan.

Waktu empat jam yang disediakan panitia tidak terasa karena acara yang dipandu oleh dua orang host itu berlangsung dengan sangat santai dan akrab, meski membahas tema yang sangat serius. Dalam sesi diskusi dengan peserta, tidak ada satupun pertanyaan yang terlewatkan. Semuanya dijawab dengan telaten. Tim kreatif acara telah berhasil menyiapkan berbagai “pernak-pernik” dakwah baik dalam bentuk fisik maupun tampilan untuk mengalirkan diskusi sehingga menjadi sangat dinamis dan kontekstual.

 

Reporter: Bunyanun Marsus

Editor: Fajar Shadiq

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat