... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Dari Ramstein, Serangan Drone Amerika Serikat Dioperasikan

Foto: Pesawat Drone

KIBLAT.NET – Majalah The Intercept kembali membocorkan dokumen sangat rahasia milik intelijen AS yang menyebutkan bahwa pangkalan militer Amerika yang berada di Ramstein – Jerman. Di situlah letak pusat pengendali berteknologi tinggi yang sangat berperan dalam mendukung program drone (pesawat tanpa awak) Amerika.

Ramstein menjadi tempat stasiun relay satelit yang membantu mengkomunikasikan antara operator (remote pilot) di Amerika barat daya dengan pesawat drone yang beroperasi di Yaman, Somalia, Afghanistan, dan beberapa negara target lainnya. Dokumen tertanggal Juli 2012 tersebut berisi rincian blueprint mekanisme teknis yang digunakan untuk melakukan serangan dengan menggunakan drone, baik jenis Predator maupun Reaper.

Di tengah kritik tajam di Eropa, para pejabat AS dan Jerman terkesan meremehkan dan selalu ngeles saat dihadapkan dengan pertanyaan langsung tentang pangkalan militer tersebut. Namun, dokumen dalam bentuk slide tersebut dengan jelas menunjukkan fungsi penting Ramstein dalam operasi CIA dan militer AS di Timur Tengah, Afghanistan, dan Afrika.

Menurut sebuah sumber yang tidak mau membuka identitas demi alasan keamanan tersebut, Ramstein mengirimkan sinyal dan perintah ke pesawat drone, lalu drone mengirimkan hasil gambar secara live suatu objek di lapangan kepada operator. Ia menambahkan, tidak mudah untuk menjelaskan pentingnya Ramstein bagi program drone Amerika, yang jelas tanpa Ramstein drone tidak akan berfungsi.

Bukti terbaru menjadikan Kanselir Angela Merkel dalam posisi serba tanggung dalam hubungan diplomatik dengan AS. Pemerintah Jerman memberi hak kepada AS menggunakan fasilitas tersebut dengan syarat selama tidak melanggar hukum Jerman.

Pangkalan Ramstein

Pangkalan Ramstein

Pemerintah AS selalu menganggap bahwa serangan drone terhadap al-Qaidah dan kelompok afiliasinya sebagai tindakan legal meskipun dilakukan di luar zona perang. Sementara beberapa pejabat (hukum) Jerman menyatakan bahwa operasi semacam itu hanya bisa dibenarkan jika dilakukan di wilayah perang.

Lebih dari itu, Jerman punya hak menuntut “pelanggaran terhadap hukum internasional…bahkan meskipun pelanggaran tersebut dilakukan di luar negeri dan tidak ada hubungannya dengan Jerman,” demikian menurut peraturan perundangan Jerman yang disahkan pada tahun 2012. Ini berarti bahwa personil Amerika yang ditempatkan di Ramstein secara teori bisa dipidanakan oleh hukum Jerman jika terbukti mereka memberikan data serangan kepada para pilot/operator drone.

Selama ini pemerintah Jerman enggan melakukan tuntatan hukum tersebut, namun hal itu bisa saja berubah akibat tekanan yang semakin meningkat. “Ini jelas pembunuhan”, kata Björn Schiffbauer dari IIL (Institute for International Law) di University of Cologne. Para ahli hukum yang diwawancarai oleh Der Spiegel menyatakan bahwa personil AS bisa didakwa sebagai penjahat perang oleh jaksa penuntut Jerman.

Ramstein merupakan salah satu pangkalan militer terbesar AS di luar negeri yang menampung lebih dari 16.000 ribu personil militer dan sipil. Stasiun pusat relay yang berada di Ramstein tersebut selesai dibangun pada akhir 2013, berada di tengah-tengah hutan yang lebat berdekatan dengan lapangan baseball milik sebuah sekolah menengah Amerika. Kompleks yang sangat luas tersebut didesain menggunakan beton bertulang, dinding bata (masonry), dan pohon-pohon yang melindungi dengan pola tapal kuda, juga memiliki atap miring dari bahan metal. Di dalamnya, sejumlah skuadron angkatan udara mengkoordinasikan sinyal-sinyal yang diperlukan dalam berbagai operasi drone baik untuk misi pengintaian maupun misi serangan. Di dua sisi bangunan tersebut terdapat enam fasilitas & perlengkapan mirip bola golf yang diketahui sebagai bantalan relay satelit.

Dalam proposal anggaran tahun 2010 untuk Ramstein, angkatan udara menegaskan bahwa tanpa fasilitas tersebut program drone akan mengalami degradasi kemampuan operasional secara signifikan yang bisa berdampak serius terhadap misi yang dilakukan pada saat ini maupun di masa depan. Semua jenis pesawat drone akan menggunakan fasilitas tersebut untuk mengendalikan operasi-operasi mereka di Afrika dan Timur Tengah. Dalam proposal juga diakui secara terang-terangan bahwa tanpa Ramstein, serangan bersenjata tidak dapat dijalankan.

Menurut proposal tersebut bahwa karena kebanyakan operasi yang dilakukan berskala luas dan multi-wilayah maka stasiun relay SATKOM harus berada di pangkalan udara Ramstein supaya bisa menyuplai informasi terkini kepada para komandan pertempuran setiap saat diperlukan. Di samping itu juga bisa digunakan untuk mendukung operasi rahasia “black-ops program” angkatan udara yang dikenal dengan sandi Big-Safari.

Dokumen tersebut memetakan sebuah jaring laba-laba yang rumit yang terdapat pada fasilitas-fasilitas stasiun relay di Amerika dan di seluruh dunia. Dari pusat komando drone di pangkalan militer di gurun Amerika, lalu ke Ramstein, lalu ke pos/pangkalan terdepan di Afghanistan, Djibouti, Qatar, dan Bahrain, kemudian kembali lagi ke fasilitas NSA di Washington dan Georgia. Yang pasti bahwa semua jalur yang berada di lintasan sinyal drone di Amerika akan melalui Ramstein.

Pangkalan angkatan udara Creech di Nevada merupakan pusat komando perang drone AS. Para personil yang ditempatkan di fasilitas tersebut bertanggung jawab atas operasional drone di Afghanistan di mana terjadi serangan drone paling banyak di seluruh dunia, dan di Pakistan di mana CIA mengendalikan perang udara rahasia selama dekade terakhir. Operasi-operasi tersebut telah membunuh ribuan orang di antaranya penduduk sipil. Beberapa misi drone dioperasikan dari lokasi-lokasi lain, seperti: Fort Gordon di Georgia dan pangkalan Cannon di Clovis – New Mexico.

BACA JUGA  Ibadah Haji Pernah Ditiadakan, Ini Riwayat dan Alasannya

Para pilot di Creech dan di stasiun pengendali darat lainnya mengirim perintah-perintah mereka ke pesawat drone yang mereka operasikan melalui kabel serat optik trans-atlantik ke Jerman, di mana melalui fasilitas di Ramstein akan dilanjutkan sinyalnya ke satelit yang akan menghubungkan ke drone yang ada di Yaman, Somalia, dan negara-negara target lainnya. Ramstein dianggap sebagai tempat paling ideal karena akan bisa meminimalisir waktu jeda atau yang mereka sebut dengan istilah latency antara pilot dan pesawat. Semakin besar latency – karena adanya relay tambahan – akan memungkinkan perubahan manuver. Jiak demikian gambar video yang dikirim ke Amerika tidak mencerminkan real time. Tanpa kecepatan dan ketelitian instalasi di Ramstein, para pilot secara praktis seperti buta.

pilot drone

Pilot pesawat tak berawak AS/Ilustrasi.

Sebuah diagram dalam dokumen rahasia tersebut menunjukkan cara kerja fasilitas tersebut. Stasiun penghubung satelit di Ramstein men-transmisi komunikasi antara pilot dengan drone yang berada di berbagai negara. Video hasil visual drone lalu di-transmisi kembali melalui Ramstein kemudian di-relay ke berbagai fasilitas militer dan intelijen Amerika yang ada di Amerika sendiri maupun di seluruh dunia. Diagram lain menunjukkan bagaimana para pilot di pangkalan Creech terhubung ke Ramstein lalu ke PPSL (Predator Primary Satellite Link) yang membantu para pilot tersebut bisa mengontrol secara langsung terhadap drone di manapun dioperasikan.

Semua hal berikut ini, yaitu: lokasi, dikombinasikan dengan kebutuhan untuk menempatkan peralatan dalam jumlah besar secara aman, gedung-gedung dan personil yang diperlukan untuk mengoperasikan satelit uplink menjadikan Ramstein sebagai salah satu pangkalan paling aktif milik AS yang memiliki fungsi vital bagi perang drone.

Kontroversial di Jerman

Ketika harian terkemuka Jerman Süddeutsche Zeitung siaran televisi public Jerman ARD mempublikasikan laporan tentang Ramstein pada bulan Mei 2013 serta dugaan bahwa tempat tersebut merupakan pangkalan yang digunakan untuk memfasilitasi serangan drone, hal itu menyebabkan kontroversi secara luas di Jerman.

Laporan tersebut mendorong investigasi oleh parlemen dan menuntut AS memberi penjelasan apa yang sebenarnya mereka lakukan di pangkalan tersebut. Sebagai jawaban, pemerintah AS dan Jerman menyalahartikan laporan itu, dan pemerintah Jerman mengklaim tidak ada bukti kuat yang menunjukkan keterlibatan Ramstein dalam serangan mematikan.

Satu bulan kemudian, dalam pidatonya pada bulan Juni 2013 di Berlin, Presiden Obama baru menyinggung masalah Ramstein. Obama tidak secara tegas menyebutkan bahwa fasilitas relay satelit di Ramstein tersebut berperan dalam serangan drone. Sebaliknya, ia malah menegasikan laporan media dengan mengatakan, “Kami tidak menggunakan Jerman sebagai titik peluncuran pesawat tanpa awak drone…sebagai bagian dari aktifitas kontra-terorisme kami.”

Menjawab pertanyaan tentang artikel tersebut, juru bicara Pentagon Maj. James Brindle kembali mengulangi pernyataan pemerintahnya dengan mengatakan, “Kami melakukan kerjasama yang kuat baik sipil maupun militer dengan Jerman dan mengendalikan aktifitas di semua pangkalan sesuai dengan kesepakatan antara pemerintah AS dan Jerman. Ia melanjutkan, “Pusat operasi udara di Ramstein melaksanakan perencanaan tingkat operasional, memonitor dan menilai misi kekuatan udara di seluruh Eropa dan Afrika, namun tidak secara langsung menerbangkan atau mengendalikan pesawat tanpa awak tersebut.”

Pemerintah Jerman telah mengeluarkan pernyataan yang sama, bahwa tidak ada pilot yang mengontrol drone dari Ramstein dan juga tidak ada drone yang diluncurkan dari pangkalan tersebut.

Pada tahun 2013, para anggota parlemen Jerman mengajukan pertanyaan tertulis kepada pemerintah federal. Mereka menanyakan, “Sejauh yang diketahui oleh pemerintah federal, apakah benar bahwa serangan drone AS di Afrika tidak dapat dilakukan tanpa adanya stasiun relay satelit di Ramstein?” Mendapat tekanan lebih jauh tentang fasilitas satelit tersebut dan kegunaannya, pemerintah menjawab, “Pemerintah federal tidak punya informasi tentang instalasi sistem satelit tersebut dan juga kapan mulai dioperasikan,”

Menurut dokumen pada bulan Juni 2013, seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri, Emily Haber mendukung tuntutan untuk meminta penjelasan pemerintah AS mengenahi peranan fasilitas pangkalan mereka di Jerman bagi serangan drone. Haber ditolak dengan jawaban, “Kantor Kanselir dan Kementerian Pertahanan akan memilih untuk mengabaikan tekanan yang berasal dari parlemen maupun publik”. Hal ini menunjukkan seolah ada kesepakatan tidak resmi Jerman-AS yang beberapa kali mengemuka untuk “jangan bertanya, jangan memberitahu”.

BACA JUGA  Lockdown, Simalakama bagi Jokowi

Sementara hampir semua pernyataan resmi oleh kedua pemerintah barangkali secara teknis itu benar, maka benar juga bahwa tanpa (peran) pangkalan tersebut, sulit bagi AS untuk terus mendukung perang drone yang hingga saat ini terus dilancarkan. Dokumen dalam bentuk slide tersebut berisi susunan anak panah yang menunjukkan adanya sistem yang cukup kompleks yang digunakan dalam operasi drone di seluruh dunia. Di bagian akhir, seluruh garis panah menunjuk ke arah Ramstein.

“Semua terhubung dan tergantung pada Ramstein dan Creech sebagai pusat koneksitas komunikasi baik untuk operasi drone yang bersenjata maupun tanpa senjata”, demikian menurut seorang sumber. Di samping menggunakan stasiun uplink-satelit rahasia di Ramstein, kemungkinan lain adalah menggunakan pesawat udara yang berfungsi sebagai “air mobile-station” untuk mendukung operasi drone tersebut.

Diprotes pegiat HAM

Kelompok-kelompok HAM di Jerman sebagaimana pihak oposisi telah lama mencurigai Ramstein berperan secara langsung dalam perang drone Amerika. Mereka menyerukan pemerintah federal untuk tidak mengizinkan program drone AS beroperasi dari tanah Jerman.

Letnan Jend. David Deptula, mantan direktur Pusat Operasi Udara Gabungan menyalahkan kritik tersebut sebagai sesuatu yang dipengaruhi oleh propaganda kelompok-kelompok teroris sebagai alat perlawanan yang efektif. Deptula mengamati implementasi program operasi drone Amerika yang dimulai sejak 2001. Dalam satu wawancara dengan The Intercept, ia membela penggunaan drone.

“Operasi-operasi yang dikendalikan oleh pilot jarak jauh ini merupakan metoda penggunaan kekuatan yang paling akurat dan presisi,” kata Deptula. “Mengapa Jerman harus menghentikan operasi yang secara efektif memberikan informasi dalam rangka meningkatkan kewaspadaan negara dalam memerangi terorisme?”

Kat Craig seorang direktur hukum organisasi HAM internasional yang mewakili para korban serangan drone di Yaman dan di tempat-tempat lainnya mengatakan bahwa pernyataan yang menganggap kritik terhadap program drone sebagai dimanipulasi oleh propaganda kelompok teroris sebagai sesuatu yang menggelikan. Laporan terbaru dari The Open Society Foundations yang dipublikasi bulan ini telah meneliti sembilan serangan drone AS di Yaman telah menyebabkan 26 orang warga sipil terbunuh termasuk di antaranya anak-anak dan wanita hamil.

“Sudah sangat jelas dan terlalu sering bahwa serangan-serangan tersebut tidak mengetahui siapa sebenarnya yang mereka target,” kata Craig, ia melanjutkan,”Kampanye yang tidak terkendali ini masih bisa bebas karena selalu disembunyikan dari pengawasan publik”.

Tidak lama setelah berkantor di Gedung Putih pada tahun 2009, Presiden Obama memberikan otorisasi perluasan serangan drone termasuk membuka front baru di Somalia dan Yaman. Namun pihak militer AS menemukan masalah adanya gap pada jangkauan satelit mereka. Maka kemudian di awal 2009, setelah adanya permintaan dari Pentagon, penyedia layanan satelit komersial Intelsat mengubah posisi satelit Galaxy-26 dari Amerika Serikat ke orbitnya yang baru di atas samudera India. Pemindahan posisi satelit ini memungkinkan Galaxy-26 bisa dijangkau oleh operator drone dengan cara menggunakan stasiun relay yang ada di Ramstein dan akan mempercepat upaya perluasan program drone Amerika.

Brandon Bryant seorang mantan operator sensor drone yang mengendalikan operasi di Yaman, Afghanistan, dan Iraq mengatakan bahwa tanpa Ramstein Amerika akan butuh pangkalan lain di area tersebut dengan kemampuan menangkap (sinyal) satelit yang berada di Timur Tengah dan Afrika; atau kalau tidak, Amerika akan menempatkan personilnya pada posisi yang lebih dekat dengan target. Ia melanjutkan, “Amerika ingin bermain aman di belakang layar seperti memanfaatkan satelit dan IT, selama masih memungkinkan mereka akan terus menggunakannya untuk mempertahankan strategi perang drone”.

“Ramstein merupakan titik focal bagi komunikasi drone”, kata Dan Gettinger, wakil direktur Center for the Study of the Drone at Bard College. Menurutnya, jika infrastruktur komunikasi tersebut tidak ada, drone hanya akan menjadi seperti mainan pesawat remote control. Operasional drone dianggap lebih penting daripada persenjataannya. Dokumen sangat rahasia tersebut menunjukkan bagaimana fasilitas yang tertanam di Ramstein itu berfungsi dalam perang drone.

Mereka menggambarkan secara detil sistem di mana sebuah alat geo-locating memberikan data feed back dari drone ke satelit lalu disalurkan ke bumi pada stasiun di Ramstein. Pada platform GILGAMESH yang sebelumnya telah dilaporkan The Intercept pada bulan Februari 2014 lalu, menggunakan alat yang diletakkan di bagian bawah body drone. Alat tersebut bekerja dengan fungsi sebagai menara seluler buatan yang akan menyedot sinyal HP individu yang ditarget supaya terhubung ke sistem. Sehingga lokasi target bisa diidentifikasi dengan tepat, untuk kemudian masuk misi: FIND – FIX – FINISH (fire).

Pada saat Amerika memperluas jangkauan global program drone, Ramstein siap memainkan peran yang krusial di gugus depan perang jenis baru.

 

Alih bahasa: Yasin Muslim

Sumber: The Intercept

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Afghanistan

Bom Hantam Kerumunan Tentara dan Sipil di Jalalabad, 33 Tewas

KIBLAT.NET, Jalalabad – Dua ledakan besar kembali mengguncang kota Jalalabad, Afghanistan timur pada Sabtu (18/04)....

Ahad, 19/04/2015 09:03 0

Iran

Milisi Syiah Hautsi Terpojok, Iran Minta PBB Hentikan Koalisi Teluk

KIBLAT.NET, Teheran – Setelah kelompok pemberontak Syiah Hautsi yang didukungnya terpojok akibat serangan koalisi negara...

Sabtu, 18/04/2015 18:44 1

Eropa

Warga Jerman di Yaman Hijrah ke Djibouti

KIBLAT.NET, Berlin – Pemerintah Jerman pada Jumat (17/04) mengatakan, telah memindahkan lebih dari 100 warganya...

Sabtu, 18/04/2015 18:18 0

Yaman

Pejuang AQAP Berhasil Kuasai Gudang Senjata di Hadramaut

KIBLAT.NET, Sanaa – Para pejabat keamanan Yaman pada Jumat (17/04) melaporkan, kelompok Al-Qaidah di Semenanjung...

Sabtu, 18/04/2015 17:00 0

Suriah

Rezim Assad Tuding Ada Peran Turki di Balik Perebutan Kota Idlib

KIBLAT.NET, Damaskus – Rezim Syiah Alawiyah Bashar Assad menuduh Turki telah terlibat dalam membantu mujahidin...

Sabtu, 18/04/2015 16:04 0

Lebanon

Lagi, Kamp Pengungsi Suriah di Lebanon Dilalap Si Jago Merah

KIBLAT.NET, Beirut – Sebuah kamp pengungsi Suriah yang berada di desa sebelah timur Libanon, dilalap...

Sabtu, 18/04/2015 15:00 0

Munaqosyah

Fakta: Gerakan Takfiri Dibentuk oleh Penguasa

KIBLAT.NET – Masalah vonis kafir dan gerakan takfiri telah menjadi perdebatan sejak lama. Tidak jarang...

Sabtu, 18/04/2015 14:41 0

Suriah

Kabar Gembira untuk Pengungsi Suriah, Yunani Siapkan Surat Izin Perjalanan

KIBLAT.NET, Athena – Yunani pada Rabu (15/04), telah menyiapkan surat izin perjalanan bagi pengungsi Suriah,...

Sabtu, 18/04/2015 14:03 0

Tarbiyah Jihadiyah

Dua Unsur Pokok dalam Proses Kemenangan

Layaknya procesor dalam satu rangkaian komputer. Seorang pemimpin berperan penting dalam perpaduan sebuah kinerja. Ketika...

Sabtu, 18/04/2015 13:51 0

Indonesia

PII: Ada Upaya Indonesia Dijadikan Atheis di Balik Pengosongan Kolom Agama

KIBLAT.NET, Jakarta – Ketua Bidang Komunikasi Umat Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII), Helmi...

Sabtu, 18/04/2015 11:02 0

Close