... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Syiah Hautsi: Mendulang Simpati Rakyat (Bag. 2)

Foto: Syiah Houtsi di Yaman

Bagian pertama

KIBLAT.NET – Bermula dari sebuah kelompok kecil para pemberontak, kini Syiah Hautsi menjelma menjadi sebuah gerakan di masa transisi yang memperoleh bentuk-bentuk baru dukungan dan simpati.

Mereka masih mempertahankan inti ideologi keagamaan mereka yang menganggap Abdul Malik al-Hautsi sebagai pemimpin spiritual, melanjutkan ajaran mendiang kakaknya Hussein al-Hautsi yang tewas dalam pertempuran pada tahun 2004, dan juga menggambarkan kelompok mereka dengan sentimen anti-Barat.

Meski demikian, kondisi sejarah dan terutama kemarahan rakyat terhadap pusat kekuasaan di era-Saleh telah membuka peluang baru yang menjadikan kelompok ini secara dramatis mampu memperluas aliansi politik dan kesukuan. Ketika Hautsi telah berhasil memperluas pengaruh politik dan meningkatkan kekuatan militernya, hal ini menarik perhatian berbagai individu maupun kelompok oportunis dan pragmatis.

Sebagian bertujuan ingin ikut memberi bentuk dan arah gerakan, sementara sebagian lainnya hanya ingin beraliansi dengan pihak yang menang. Ansharullah, istilah yang digunakan Hautsi untuk menggambarkan diri mereka – dianggap paling tepat digunakan sebagai payung politik bagi kelompok-kelompok aliran yang beragam dan bahkan saling bersaing.

Latar belakang yang menjadikan Hautsi mampu berekspansi secara dramatis masih menjadi perdebatan intensif. Hautsi sendiri mengklaim itu semua karena kekuatan ide-ide mereka. Mereka mengatakan bahwa rakyat Yaman sudah lelah dengan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan pada masa lalu kemudian memahami bahwa Ansharullah berjuang untuk kebebasan dan keadilan. Sementara para kelompok pesaing Hautsi mengatakan hal yang sangat jauh berbeda.

Mereka bersikukuh bahwa segala capaian yang diperoleh Hautsi adalah lebih karena kekuatan (senjata) dan pemaksaan yang didukung oleh uang dan pelatihan militer Iran. Tetapi Hautsi pasca ekspansi mereka tahun 2011 telah berkembang menjadi entitas yang lebih rumit dibandingkan alasan-alasan tersebut di atas.

Milisi Syiah Houtsi Yaman

Milisi Syiah Houtsi Yaman

Kemajuan Hutsi Secara Politik dan Teritorial

1. Mengisi kekosongan negara
Hal paling kentara yang menyebabkan Hautsi bisa memperluas kendali teritorial mereka adalah otoritas negara yang secara signifikan melemah akibat revolusi rakyat (Arab Spring) tahun 2011. Karena negara tidak pernah kuat dan selalu mengajak berunding dengan para broker penguasa di tingkat lokal, maka kekuasaan pemerintah pusat secara dramatis terpasung ketika kekuatan militer terpecah antara Saleh dan Ali Mohsen dan tidak pernah kembali ke suatu level seperti pada masa sebelum revolusi.

Pada saat kedua kubu (militer) sama-sama fokus saling memperebutkan kontrol atas ibukota, Hautsi bersama dengan para aktor non-negara mengisi kekosongan tersebut. Di Saada, Hautsi mengkonsolidasi pengaruhnya terhadap hampir seluruh wilayah propinsi itu, termasuk Saada City yang belum pernah mereka kuasai sebelumnya. Hal yang sama terjadi dengan eskalasi yang lebih rendah di propinsi yang berbatasan dengan Saada di sebelah timur-tenggara, yaitu Jawf. Di Jawf, Hautsi dan kelompok suku-suku afiliasi partai Islah memperoleh berbagai jenis senjata dari sejumlah pangkalan militer.

Di bawah Presiden Hadi, strategi penghematan sumber daya dalam rangka menyelamatkan negara terus diberlakukan. Sementara pemerintah konsensus GPC-JMP lebih berkonsentrasi bagi-bagi asset negara daripada memperkuat keamanan atau pun meningkatkan pelayanan (bagi rakyat). Seorang tokoh/syeikh terkemuka suku Hashid menggambarkan apa yang dicapai Hautsi itu disebabkan oleh kuatnya kemampuan militer mereka dan lemahnya negara.

Ia mengatakan,”Ketika para elit penguasa saling berperang, pemerintah pusat menjadi lemah, kemudian institusi militer dan lembaga intelijen pun terpecah. Pada saat itulah Hautsi mengambil alih wilayah dan rakyat dengan kekuatan (senjata).” Masalah kepentingan relative penggunaan kekerasan masih diperdebatkan, tetapi dengan terpecahnya elit penguasa serta terkikisnya otoritas negara, di sana masih ada sedikit peluang untuk menyelamatkan negara dengan cara Hautsi.

2. Masalah keamanan dan Keadilan
Hautsi juga mendapatkan dukungan politik karena mereka mampu memberikan rasa aman dan keadilan di wilayah-wilayah yang sejak lama dibuat frustrasi akibat ketidakmampuan dan juga tidak adanya kemauan negara untuk melakukan hal yang sama.

Salah seorang anggota suku dari Jawf mengatakan, “Hautsi berhasil memperluas pengaruhnya di propinsi Jawf karena ketidakadilan ada di sana. Hautsi memberikan keamanan yang sebelumnya tidak ada. Mereka bekerja secara jujur dengan masyarakat dan fokus memenuhi kebutuhan mereka, seperti mengakhiri rasa saling dendam karena pembunuhan. Hautsi juga menegakkan sistem peradilan di tingkat lokal. Di Yaman bagian utara, hal yang terpenting adalah menyelesaikan masalah-masalah dan perkara di antara manusia, seperti pembalasan atas suatu pembunuhan dan memberikan (jaminan) keamanan. Dua hal inilah yang paling dibutuhkan oleh masyarakat dan Hautsi mampu memberikannya.”

Kelompok-kelompok oposisi menuduh Hautsi bersikap tidak adil dalam sistem peradilannya, dan juga bahwa gerakan tersebut bersikap intoleran, menyerang, dan memenjarakan musuh-musuhnya. Beberapa LSM lokal maupun internasional telah mengkonfirmasi terhadap beberapa kasus penahanan yang dilakukan secara illegal dan aksi penyerangan terhadap lawan-lawan politik Hautsi. Dan juga, dalam suasana yang tidak aman serta ketidakhadiran negara dalam memberikan keadilan, Hautsi menarik banyak dukungan dari para pendukungnya yang melihat kemampuan kelompok tersebut dalam menyediakan pelayanan-pelayanan dasar semacam itu.

3. Narasi anti-rezim
Hautsi telah memposisikan diri mereka sebagai jubah revolusi dan mencoba menangkap/ memahami frustrasi yang sudah sedemikian menyebar luas terhadap masalah korupsi, sikap pilih kasih, dan ketidakadilan rezim lama. Di dataran tinggi wilayah utara, sikap/sentimen anti-rezim seringnya terwujud dalam bentuk perlawanan terhadap musuh atau pesaing Hautsi yaitu al-Ahmar, dan secara umum terhadap para tokoh/syeikh yang punya kekuasaan dan para politisi yang mendapatkan keuntungan selama berada di bawah rezim Saleh. Di masa kebangkitan revolusi rakyat, ketidakpuasan terus berlanjut menghadapi perubahan yang berjalan lambat, korupsi yang terus saja berlangsung, tingkat ekonomi dan keamanan memburuk di bawah pemerintahan konsensus.

BACA JUGA  Memburu Kader "Radikal", Surat Terbuka untuk Menag

Seorang pendukung Hautsi menjelaskan, “Ansharullah adalah gerakan masyarakat Yaman untuk kebebasan dan kehormatan. Rakyat Yaman menentang seluruh rezim yang korup, bukan hanya satu orang (Saleh). Namun lebih jauh (termasuk) inisiatif GCC yang masih melanjutkan pola yang sama terhadap masalah korupsi. Masa transisi telah berubah menjadi ajang bagi-bagi asset negara di antara kekuatan-kekuatan tradisional (GPC, JMP, dan sekutu-sekutu mereka).”

Kelompok Hautsi telah mengontrol banyak wilayah di utara sekarang, tetapi masih kerap terjadi bentrokan yang berulang dengan rezim lama. Bagi kebanyakan orang Yaman, pengakuan mereka atas status sebagai pihak di luar pemerintah dianggap benar: “Hautsi datang ke lapangan (alun-alun) dan berbicara untuk mereka yang tertindas. Partai-partai tradisional juga bergabung dengan revolusi, tetapi sekarang mereka berada di pemerintahan dan korupsi hanya berpindah ke tangan mereka. Sementara Hautsi bukan bagian dari mereka serta tidak melakukan korupsi.”

Posisi anti rezim dan sikap mereka yang agresif menyebabkan terjadinya sejumlah aliansi politik yang tidak bisa dipercaya, termasuk kerjasama dengan kelompok pemuda liberal, para aktifis masyarakat sipil menuntut dibentuknya pemerintahan baru. Mereka juga beraliansi dengan para aktifis gerakan di selatan yang punya agenda untuk mengakhiri sistem politik yang ada, kemudian menggantikannya dengan sistem federalisme utara-selatan atau bahkan kemerdekaan wilayah selatan. Di forum NDC, kedua kelompok tersebut membentuk koalisi dan bersama-sama melakukan pemungutan suara baik di wilayah selatan maupun di Saada, lalu membentuk kelompok-kelompok kerja dalam rangka meningkatkan bargaining politik mereka melawan partai-partai politik yang dominan, seperti Islah dan GPC.

4. Musuh dari musuh saya
Di luar daya tarik jargon anti-kemapanan mereka, Hautsi telah mengambil keuntungan dari reaksi politik yang menentang Islah dan al-Ahmar. Banyak kelompok afiliasi GPC, terutama para pendukung Saleh, melihat partai Islah – yang terkait dengan Ikhwanul Muslimin Yaman – sebagai proxy musuh politik mereka. Mereka bersikukuh bahwa Islah memanfaatkan posisinya di pemerintahan konsensus , terutama di kementerian dalam negeri yang mereka kontrol supaya bisa mengisi posisi-posisi pada dinas intelijen dan birokrasi dengan orang-orang dari pendukung mereka.

Dengan cara itu mereka bisa memanipulasi hasil pemilu yang akan datang dan akhirnya termasuk mengeluarkan GPC sama sekali dari kekuasaan. Kekhawatiran semacam ini – paling tidak untuk saat sekarang – telah menarik beberapa anggota GPC bergabung ke kubu Hautsi. Pada kasus-kasus tertentu, kelompok suku-suku afiliasi GPC berada dalam satu barisan bersama Hautsi dalam pertempuran mereka di utara, sementara lainnya memilih untuk bersikap netral. Saleh sendiri secara luas ditengarai mendukung Hautsi baik secara politik maupun militer meskipun keduanya menyangkal dugaan tersebut.

Dinamika yang hampir sama juga terjadi di tubuh Hashid, salah satu dari dua konfederasi suku-suku utama di utara. Frustrasi yang sudah lama terhadap keluarga al-Ahmar di sana membuat para syeikh suku Hashid bekerja untuk keuntungan Hautsi. Kelompok tersebut menjadi pemenang aliansi baru di propinsi Amran (basis kuat Hashid dan juga merupakan rumah bagi al-Ahmar) atau pada kasus-kasus lain, netralitas yang kuat dari para syeikh Hashid menelanjangi al-Ahmar dari para pembela yang potensial. Seorang syeikh terkemuka dari Bakil – salah satu dari dua konfederasi suku-suku utama di utara Yaman, Hashid yang keduanya – berargumentasi bahwa al-Ahmar telah kehilangan dukungan di rumah (basis) mereka karena kesalahan mereka sendiri, dan Hautsi hanya sebagai katalis (faktor pendorong).

Partai Islah dan al-Ahmar juga mengalami kekalahan di tingkat regional dengan konskuensi signifikan bagi keseimbangan kekuatan di tingkat lokal. Arab Saudi yang pernah menjadi pendukung kedua kelompok itu, menjadi hati-hati terhadap mereka atas keterlibatan mereka dalam revolusi (Arab Spring) yang dilihat oleh Arab Saudi sebagai ancaman potensial bagi kekuasaan mereka, dan juga atas hubungan dekat mereka yang terus berlangsung dengan Qatar. Sementara dengan Qatar, kerajaan (Saudi) sedang mengalami ketegangan hubungan. Hasilnya, kerajaan tersebut menjadi lebih banyak bersikap ambigu. Setelah penggulingan yang didukung Saudi terhadap Ikhwanul Muslimin dan Presiden Mursi di Mesir, partai Islah dan al-Ahmar menjadi sangat berhati-hati/waspada terhadap potensi kerentanan mereka baik di tingkat nasional maupun regional.

Milisi Syiah Houtsi

Milisi Syiah Houtsi

Kesadaran partai Islah terhadap kelemahannya sendiri tampaknya berpengaruh bagi kemajuan Hautsi. Secara resmi partai Islah tetap berada di luar pertikaian tersebut, pada saat yang sama menyerukan pemerintah menghentikan pertempuran. Seorang aktifis yang dekat dengan partai itu menyarankan bahwa dinamika regional mempengaruhi pilihan sikap mereka.

Ia mengatakan,”Banyak individu di kalangan suku Hashid adalah anggota Islah, namun mereka tidak berperang. Mereka tidak masuk ke dalam konflik tersebut karena mereka tahu bahwa Hautsi menginginkan perang dengan Islah dan bahwa jika perang tersebut dimulai, Hautsi bahkan akan bisa mendapatkan dukungan dari Uni Emirat Arab dan Saudi”. Sementara tidak mungkin bahwa kerajaan dan emirat tersebut di mana mereka secara rutin mengungkapkan kekhawatiran atas ekspansi Hautsi , akan memberikan dukungan mereka di belakang kelompok itu. Demikian keprihatinan aktifis tersebut tentang kemungkinan yang mengindikasikan kerentanan domestik partai Islah di lingkungan regional yang baru.

BACA JUGA  Kemenag: Harus Ada Standar Imam Masjid

Demikian juga dengan al-Ahmar yang tidak punya dukungan Saudi. Dalam apa yang dianggap oleh banyak orang Yaman sebagai upaya untuk menjilat Saudi, Husein al-Ahmar, saudara al-Ahmar memimpin perang melawan Hautsi pada bulan Oktober 2013 di Dammaj bersama dengan Salafi yang berpengalaman mendapatkan bantuan Saudi baik dari individual maupun institusi keagamaan. Hussein membiayai dan memobilisasi para pejuang Salafi di seluruh Yaman, namun hal itu belum juga menarik perhatian Saudi terhadap al-Ahmar. Dan dia pun belum berhasil mendapatkan bantuan Saudi. Tragisnya lagi bagi Hussein, kerjasamanya dengan salafi semakin antagonis dengan kemarahan para syeikh Hashid yang tidak suka dengan sikap ketergantungannya terhadap kelompok Salafi tersebut yang notabene memusuhi sukunya.

Arab Saudi mengambil jarak dari semua pihak (partai) yang terlibat dalam pertempuran yang sedang berlangsung saat ini, namun dampak dari netralitasnya ini juga tidak netral. Menarik dukungan terhadap mantan sekutunya telah memberikan keuntungan bagi Hautsi.

5. Basis zaidiyah
Hautsi menganggap diri mereka sebagai sebuah gerakan nasional dan mengklaim mendapat dukungan dari seluruh Yaman. Mereka memang mendapatkan dukungan dari luar utara jauh, namun ekspansi politik dan teritorialnya saat ini terbesar berada di dataran tinggi Zaidiyah. Ali al-Bukhaiti, seorang anggota perwakilan Hautsi di forum NDC menjelaskan capaian kelompok tersebut di kalangan para pendukung alamiah mereka dengan mengatakan,”Sangat mudah bagi Ansharullah untuk memperluas pengaruh di area-area yang secara tradisional menganut Zaidiyah karena ide-ide keagamaan kami menjadi daya tarik bagi mereka. Kultur Zaidiyah telah lama berakar dan mendalam.”

Ketika Hautsi tidak lagi dilarang semenjak revolusi (Arab Spring), lebih banyak lagi dari kalangan Bani Hasyim dan orang-orang Zaidiyah lainnya yang saat ini ingin mengungkapkan dukungan ataupun simpati mereka dengan gerakan tersebut. Bukti yang paling kasat mata adalah banyaknya slogan dan bendera-bendera Hautsi ada di mana-mana menghiasi rumah-rumah dan jalanan di wilayah dominasi Hautsi di Sanaa dan di daerah-daerah sekitarnya. Dukungan ini berasal setidaknya dari besarnya daya tarik kultural serta peluang politik, sebagaimana (besarnya daya tarik) dogma agama. Seorang cendekiawan Zaidiyah yang dekat dengan gerakan tersebut menjelaskan,Hautsi mendapatkan dukungan dari Bani Hasyim yang (sebenarnya) tidak mempercayai ide-ide agama kelompok tersebut, tetapi karena simpati dengan afiliasi etnis. Gerakan itu juga menikmati dukungan dari bagian Zaidiyah yang lebih luas yang – sebagaimana Bani Hasyim – yang tidak mempercayai semua ide-ide dan tindakan Hautsi. Tetapi mereka bersimpati karena Hautsi adalah Zaidiyah dan juga karena sebagai sebuah kelompok mereka merasa termarginalisasi oleh negara dan partai Islah.

Namun kekuasaan yang semakin besar itu seperti pedang bermata dua. Pada saat Hautsi menjadi lebih kuat, gambaran diri mereka sebagai pelindung bagi komunitas Zaidiyah yang diperangi akan kehilangan kredibilitas. Sudah terjadi, beberapa orang tokoh cendekiawan dan aktifis Zaidiyah berbalik melawan mereka karena tindakan kekerasan mereka terhadap pihak yang mengkritik. Kekhawatiran bahwa Hautsi cenderung mengarah kepada tradisi Syiah Imamiyah – dan dengan ekstensi terhadap Iran – juga telah menjadi kecenderungan politik domestik.

Perwakilan Hautsi masih mengaku bahwa mereka adalah Zaidiyah, bukan Syiah Imamiyah, tetapi keberpihakan politik mereka kepada Teheran, slogan-slogan mereka (Allahu Akbar! Kematian untuk Amerika! Kematian untuk Israel! Kutukan untuk Yahudi! Kemenangan bagi Islam!), perayaan Asyura mereka serta dugaan dukungan material dari Iran dan Hizbollah membangkitkan keraguan tentang loyalitas mereka sebenarnya. Seorang syeikh Zaidiyah yang bersimpati dengan Hautsi mengingatkan,”Jika Hautsi kembali kepada Zaidiyah, mereka akan mati di Yaman. Jika mereka mengumumkan bahwa mereka adalah Syiah Imamiyah, semua pengikut Zaidiyah akan berbalik melawan mereka. Tetapi jika mereka berpegang teguh dengan ide-ide Zaidiyah, jalan akan masih panjang bagi mereka”.

6. Pemaksaan, kekuatan, dan intimidasi
Intimidasi dan pemaksaan kehendak sangat berperan dalam keberhasilan ekspansi Hautsi. Meskipun kelompok tersebut mengaku damai, dan menggunakan kekerasan sebatas untuk membela diri, namun anggota-anggota mereka bersenjata, dengan sayap militer yang semakin kuat dalam hampir sepuluh tahun konflik. Para pejuang Hautsi yang terus membuat kekacauan di lapangan – kebanyakan belum mencapai usia 40 tahun dan mereka tumbuh dengan hanya mengenal perang – lebih bisa (beradaptasi) dan merasa nyaman dengan pertempuran daripada politik.

Pada saat perwakilan politik kelompok tersebut berbicara bahasa liberal tentang upaya perdamaian dan rekonsiliasi di forum NDC, milisi mereka berkoordinasi dengan kelompok suku-suku sekutu mereka terus berperang dengan ganas. Kekejaman mereka sangat nyata bagi semua orang dari Sanaa hingga ke utara. Hal ini sangat bertolak belakang dengan gambaran yang disampaikan oleh kelompok itu dalam forum dialog tersebut.

Ketika Hautsi telah bergerak maju, beberapa orang lokal bergabung dengan mereka karena khawatir ditarik retribusi, sementara lainnya meninggalkan rumah-rumah mereka dan menjadi pengungsi di Sanaa. Laporan menyebut banyaknya ancaman, intimidasi, pemenjaraan dan bahkan penganiayan. Meskipun hal itu sulit di-verifikasi, namun jelas bahwa penggunaan kekuatan secara brutal dan intimidasi memainkan peran penting bagi Hautsi dalam memperoleh kemajuan territorial maupun politik.

 

Alih Bahasa: Yasin Muslim

Editor: Fajar Shadiq


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video Kajian

[Video] Audio Kajian : Bedah Buku Fitnah & Petaka Akhir Zaman

KIBLAT.NET- Bagi seorang mukmin, keyakinan akan datangnya hari kehancuran merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar,...

Ahad, 05/04/2015 08:06 0

Rohah

Kisah Imam Abu Hanifah Ini Bisa Bikin Tersenyum

Imam Abu Hanifah saat di Kuffah memiliki tetangga seorang pemuda tukang sepatu. Pemuda itu bekerja...

Ahad, 05/04/2015 07:00 0

Indonesia

Diancam Banser, Deklarasi Anti Syiah di Cirebon Batal

KIBLAT.NET, Cirebon – Deklarasi Anti Syiah yang rencananya akan dilakukan di Cirebon terpaksa dibatalkan. Massa...

Sabtu, 04/04/2015 23:45 0

News

Koalisi Teluk: Berkomplot dengan Syiah, Mantan Presiden Saleh Miliki Senjata Kimia

KIBLAT.NET, Riyadh – Juru bicara pasukan Koalisi Teluk menyatakan, tidak menutup kemungkinan bahwa mantan Presiden...

Sabtu, 04/04/2015 18:32 0

Afrika

Iming-Iming Beri Bantuan, Pasukan Kenya Perkosa Wanita Somalia

KIBLAT.NET, Mogadishu – Pasukan penjaga perdamaian di Somalia menggunakan bantuan kemanusiaan untuk memikat wanita dan...

Sabtu, 04/04/2015 18:16 0

Yaman

Shalati Jenazah Rekannya, Puluhan Warga Yaman Diserang Syiah Hautsi

KIBLAT.NET, Hudaydah – Pemberontak Syiah Hautsi menyerang puluhan warga yang tengah menyalati jenazah rekan mereka,...

Sabtu, 04/04/2015 17:00 0

Rusia

Ditutup 90 Tahun, Pernah Diubah Jadi Bioskop, Akhirnya Masjid Ini Dibuka Kembali

KIBLAT.NET, Tomsk – Setelah ditutup selama 90 tahun, pemerintah Rusia akhirnya kembali membuka Masjid Juma...

Sabtu, 04/04/2015 16:00 0

Palestina

Netanyahu Ambil Keuntungan dari Kesepakatan Nuklir Iran

KIBLAT.NET, Tel Aviv – PM Israel Benjamin Netanyahu pada Jumat, (03/04) menuntut bahwa kesepakatan nuklir yang ditandatangani...

Sabtu, 04/04/2015 15:29 0

Indonesia

Duh Kasihan, Begini Nasib Warga Tamanjeka Saat Latihan PPRC Digelar

KIBLAT.NET, Poso – Latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) yang berlokasi di Gunung Biru, memang telah usai....

Sabtu, 04/04/2015 14:33 0

Yaman

Pesawat Koalisi Teluk Terjunkan Senjata untuk Pejuang di Aden, Yaman

KIBLAT.NET, Aden – Militer udara koalisi Teluk, Jumat pagi (03/04), memasok bantuan senjata kepada pejuang...

Sabtu, 04/04/2015 14:00 0

Close