... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Menengok Perjalanan Hidup Syaikh Abu Bashir At-Thartusi

Foto: Abdul Mun'im Musthafa Halimah

Beberapa tahun terakhir ini Suriah seolah menjadi primadona bagi para aktivis Islam di berbagai belahan bumi. Gejolak perjuangan umat Islam melawan tirani Syiah Nushairiyah mampu menyedot animo para mujahidin. Wilayah Syam –yang digadang-gadang sebagai tempat pertempuran di akhir zaman—menjadi pusat berkumpulnya para mujahid dari berbagai kalangan. Dibalik musibah yang menimpa umat Islam, ternyata menyimpan hikmah besar dengan terkumpulnya para mujahid dalam satu koordinasi.

Suriah pun melahirkan beberapa ulama jihadi yang diakui keilmuan dan kemuliaannya. Kita sebut Syaikh Abu Mus’ab As-Suri yang dikenal sebagai analis jihad modern, Syaikh Abu Khalid As-Suri sebagai duta Al-Qaidah yang akhirnya syahid di tanah kelahirannya dan lain-lain. Masih ada satu ulama Suriah yang patut kita kenali dan dalami seluk beluk kehidupannya. Ulama ini dikenal sebagai salah satu pencetus teori-teori salafi jihadi, pembimbing pergerakan dan kritikus internal dari gerakan jihadi.

Ulama ini lahir di kota Tartus, Suriah pada 3 September 1959. Terlahir di sebuah keluarga yang religius dan bermanhaj salafi. Nama dirinya dinisbatkan sesuai dengan tempat kelahirannya, At-Thartusi. Beliau masyhur dikenal di kalangan mujahidin dan musuh-musuh Islam dengan nama Abu Bashir At-Thartusi. Ia menikah dengan seorang wanita Palestina dan dikaruniai empat orang anak, tiga putri dan satu putra.

Abdul Mun'im Musthafa Halimah alias Abu Bashir At-Thartusi

Abdul Mun’im Musthafa Halimah alias Abu Bashir At-Thartusi

Awal Kehidupan dan Perjuangannya

Kehidupan At-Thartusi pada awalnya kental dengan manhaj salafi. Ulama yang bernama asli Abdul Mun’im Mustafa Abdul Qadir Khadr Muhammad Ahmad Halima ini bergesekan pemahaman dengan Syaikh Nashiruddin Al-Albani. Gesekan ini terjadi pada selang waktu sebelum At-Thartusi hijrah ke Yordania pada tahun antara 1979-1982. Ia berhijrah karena konflik Suriah yang terjadi pada rezim Hafedz Assad. Kita lihat sendiri ternyata anaknya, Bashar Assad meneruskan estafet kekejaman terhadap umat Islam di Suriah.

Pada masa-masa ini pemikiran At-Thartusi mulai terbuka soal jihad. Ada dua fakta yang menjadikannya tersadar dan mempunyai komitmen kuat dalam jihad fi sabilillah. Yaitu, pertama, dien Islam sebagai satu-satunya dien yang diterima Allah. Tidak ada satu petunjuk pun yang dapat menyelamatkan manusia selain Islam. Kedua, jihad sebagai jalan untuk kemuliaan Islam. Tidak ada kemuliaan dalam Islam kecuali dengan jalan Al-Jihad fi Sabilillah. Dua hal ini benar-benar menghujam kuat dalam diri At-Thartusi sehingga membuat dirinya selalu terpacu untuk memperjuangkan Islam.

At-Thartusi selamat dari kekejian rezim Hafedz Assad pada masa itu. Banyak para ulama yang tertangkap dan mendapat siksaan berat. Walaupun berada di Yordania, ia tetap menjalin hubungan erat dengan para ulama jihadi di Suriah. Mereka tetap menjalin koordinasi dalam perjuangan melawan rezim Syiah Nushairiyah. Begitu pula At-Thartusi, masih melanjutkan dialognya dengan Syaikh Al-Albani lewat surat menyurat. Tema diskusi antara kedua ulama ini berkenaan dengan thaghut dan orang-orang kafir.

Perjuangan At-Thartusi pun terus berlanjut dan tidak hanya terpaku di Yordania saja. Ia melanglang buana ke beberapa negara untuk menyiarkan Islam. Namun, sudah menjadi sunnatullah bahwa musuh-musuh Allah tidak akan pernah ridha dengan Islam. Keadaan ini memaksanya untuk berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri yang lain. Negara-negara yang pernah ia datangi adalah Yordania, Pakistan, Afghanistan, Yaman, Malaysia, Thailand dan Inggris.

Hijrah Ke Afghanistan

Ketika gerakan jihad di Suriah bergelora, At-Thartusi ikut berjuang dalam barisan mujahidin. Rezim Syiah Nushairiyah melakukan penindasan dan kezaliman pada umat Islam di Suriah. Namun, karena gencarnya operasi-operasi pihak rezim selama enam bulan penuh, At-Thartusi terpaksa hijrah keluar dari Suriah menuju Yordania. Selang beberapa jeda waktu, ia hijrah menuju Afghanistan melewati Pakistan pada tahun 1980.

Abu Bashir At-Thartusi saat di Suriah

Abu Bashir At-Thartusi saat di Suriah

Awal 1981, Abu Bashir At-Thartusi bergabung dengan mujahidin Afghanistan. Para mujahidin pimpinan Hekmatyar mengabarkan pada dirinya bahwa ia termasuk generasi awal mujahidin Arab yang berjihad di Afghanistan. Karena pada saat itu jarang sekali ditemukan orang Arab di jalur masuk—Kota Peshawar—ke Afghan. Ulama Suriah ini bertemu dengan petinggi-petinggi mujahidin saat itu, seperti Syaikh Abdul Rasul Sayyaf, Syaikh Gulbuddin Hekmatyar dan Syaikh Abdullah Azzam Rahimahumullah.

Selama berjihad di bumi Khurasan, At-Thartusi di dampingi oleh Syaikh Abdullah Azzam. Ia mendapatkan kesempatan bertemu dan menetap di komunitas Syaikh Jamilurahman Rahimahullah selama hampir 5 bulan. Selama rentan waktu itu, At-Thartusi belajar banyak dari Syaikh Jamil dan berguru padanya.

BACA JUGA  Tolak Sertifikasi Dai, Anwar Abbas Ancam Mundur dari MUI

Kembali ke Yordania

Setelah dirasa cukup mengeyam ilmu di bumi Khurasan, At-Thartusi kembali ke Yordania pada 1987 dan menetap di negara ini selama beberapa tahun. Ulama Suriah yang bernama asli Mustafa Abdul Halima ini tinggal di kota kelahiran Syaikh Abu Mus’ab Az-Zarqawi di kota Zarqo’. Jarak rumah keduanya pun hanya bertaut puluhan meter.

At-Thartusi hidup di lingkungan yang religius ketika menetap di Yordania. Hubungannya dengan Az-Zarqawi pun berjalan dengan baik. Mereka berdua sering bertukar pikiran, lebih seringnya Az-Zarqawi bertanya dan berguru pada At-Thartusi. Sering Az-Zarqawi berkonsultasi dan mempelajari buku-buku buah tangan dari At-Thartusi. Hubungan keduanya layaknya kehidupan bertetangga yang harmonis.

Di Yordania, At-Thartusi produktif menulis karya-karya besar. Karya-karyanya antara lain, “Hukmu Al-Islam fi Demokratiyah wa Ta’addudiyah Al-Hizbiyah, Sifatu Thoifah Manshuroh, Udzur bi Jahl dan lain-lain.” Semua karyanya diakui negara Yordania dan dipublikasikan secara resmi.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Pihak intelijen Yordania pun menyambangi At-Thartusi dan memaksanya untuk tidak mencetak dan menyebarkan karyanya lagi. Walaupun sebenarnya ia telah mendapatkan izin resmi dari negara, tetapi pihak intelijen tetap bersikeras melarangnya. Buku-buku karyanya boleh disebarluaskan dengan syarat melewati kontrol dari intelijen. Jika tidak lolos sensor, maka dilarang beredar. Pada kenyataannya tidak satu buku pun lolos, karena memang pada awalnya sebagai upaya untuk menghalang-halangi dakwah Islam.

Syaikh At-Thartusi pun sudah menyadari bahwa hal ini pasti akan terjadi. Musuh-musuh Allah pasti tidak akan senang melihat dakwah Islam berjaya. Akhirnya, At-Thartusi dicekal pihak intelijen karena bukunya yang berjudul “Qawa’idu fi Takfir” yang disebarluaskan oleh Darul Bashir.

Abu Bashir At-Thartusi saat seminar tentang bahasan Takfir

Abu Bashir At-Thartusi saat seminar tentang bahasan Takfir

At-Thartusi kemudian dideportasi dari Yordania ke Yaman dan berada di bawah pengawasan hingga naik ke pesawat. Ayah dari empat anak ini menerima hal ini dengan lapang dada serta tidak menyurutkan semangat juangnya.

Hijrah ke Yaman

At-Thartusi menetap di Yaman selama dua setengah tahun. Setelah lewat masa itu, pemerintah Yaman mulai memberikan sinyal dan peringatan karena keberadaanya di sana. Tak lama kemudian, pemerintah menggerebek rumah dan menyita beberapa buku-buku karyanya. Setelah beberapa bulan penahanan, buku “Al-Intishar li Ahli Tauhid” dikembalikan padanyam, selain itu ia juga diberi ultimatum untuk meninggalkan Yaman. At-Thartusi pun segera angkat kaki beserta anggota keluarganya keluar dari Yaman.

Hijrah ke Malaysia

Setelah dari Yaman, At-Thartusi hijrah bersama keluarganya ke Malaysia. Ia tinggal di negeri Jiran hanya beberapa bulan saja secara tidak resmi. Ulama Suriah ini tetap berusaha berbaur dengan masyarakat sekitar. Ia masuk di daerah Kelantan dan berharap mendapatkan pengakuan formal dari penduduk sekitar. Namun, masyarakat sekitar justru menyarankan At-Thartusi untuk pergi lantaran memasuki wilayah secara tidak resmi.

Hijrah ke Thailand dan Berakhir di Inggris

Penduduk Kelantan memberikan saran untuk pindah ke Thailand. Karena menurut mereka, At-Thartusi berserta keluarganya tidak punya pilihan lagi selain hijrah ke Thailand atau di deportasi kembali ke Suriah. Awalnya ia ragu karena Thailand adalah negara Budha dan umat Islam hanyalah minoritas. Dengan kemantapan hati, ia pun melangkahkan kaki ke negeri itu. Qadarullah, Allah memberikan ujian kesulitan di sana. Namun, di balik kesulitan itu ia ternyata mendapatkan inisiatif untuk hijrah ke London, Inggris.

Di London, At-Thartusi mengembangkan dakwahnya dan membuat sebuah web ” www.altartosi.com”. At-Thartusi mengkritik pemboman di London yang terjadi pada 7 Juli 2005. Dua hari pasca kejadian, ia merilis pernyataan yang memprotes tindakan itu dan menilainya sebagai tindakan amoral serta tidak sesuai dengan Islam dan politik. Bahkan, At-Thartusi membuat tanggapan yang keras pada forum-forum jihad di dunia maya.

Di samping itu, At-Thartusi juga mengkritik buku karya Sayyid Imam Al-Syarif tentang “Rationalizing Jihadi Work in Egypt and Abroad”. Ia menyeru untuk menghentikan segala aktivitas jihad di Barat dan di negara-negara Muslim sebab kekuatan kaum muslimin terlalu lemah untuk terlibat dalam jihad dan menggulingkan penguasa yang dzalim.

BACA JUGA  Sidang Perdata Yusuf Mansur: Saksi Ungkap Fakta Menarik

Di dalam buku tersebut tertulis, “Lebih dari setengah dari Al-Quran dan ratusan hadist Nabi menyerukan jihad dan melawan tirani yang dzalim.” Lalu, At-Thartusi mengkritik pada laman webnya, “Apa yang kamu inginkan dari kami jika ternyata sangat banyak dalil yang memeritahkan hal itu? dan bagaimana menurutmu kam harus memahami dan merealisasikannya? Apa manfaat jika kita meninggalkan jihad melawan tirani? Karena merekalah sebuah bangsa-bangsa kehilangan dien, kemuliaan, kehormatan, martabat, sumber daya dan semua hal yang berharga.”

Tampilan logo depan situs Abu Bashir At-Thartusi

Tampilan logo depan situs Abu Bashir At-Thartusi

Ada sebuah kejadian yang menjadi buah bibir banyak kalangan. Tepatnya terjadi pada 1 November 2008. Saat itu Abu Bashir At-Thartusi menulis dalam laman webnya bahwa Syaikh Yusuf Al-Qardhawi telah murtad. Fatwa At-Thartusi ini keluar berdasarkan tindakan-tindakan Syaikh Al-Qardhawi yang menjadi perhatian, yaitu; upaya Al-Qardhawi untuk menyelamatkan patung Budha di lembah Bayman, Afghanistan dari penghancuran oleh Thaliban, Fatwa Al-Qardhawi yang menyatakan tidak ada salahnya seorang muslim berjuang di angkatan bersenjata Amerika untuk memerangi terorisme ala AS, mendukung demokrasi, meniadakan prinsip Al-Wala’ wal Bara’ dengan menyebut orang-orang koptik sebagai saudara dari agama Nasrani, mendesak penggunaan istilah non-muslim yang menggantikan istilah kuffar. Beberapa alasan inilah yang membuat At-Thartusi berani memberikan fatwa murtad kepada Syaikh Yusuf Al-Qardhawi.

Karya-karya Abu Bashir At-Thartusi

Abu Bashir At-Thartusi dikenal produktif dalam dunia tulis menulis. Samudera ilmu yang selama ini ia arungi di Yordania, Afghanistan dan berbagai pengalamannya ditorehkan dalam sebuah tulisan. Ia juga sering mengeluarkan dukungan-dukungan kepada para mujahidin serta memberikan nasihat dan kritikan-kritikan.

Di antara karyanya adalah,

  1. Hadza ‘aqidatuna wa hadza al- ladziy nad’uu ilaihi
  2. Al-intishar li ahli at-tauhid
  3. Syuruutu laa ilaa ha ilallah
  4. At-Thaghut
  5. Hukmu Al-Islam fi Demokratiyah wa Ta’addudiyah Al-Hizbiyah
  6. Qowa’idu fi Takfir
  7. Sifatu Thaifah Manshuroh
  8. Udzur bi Jahl
  9. Dan lain-lain

Selain itu ada beberapa tulisan yang mengkritik sesama ulama, seperti kepada Syaikh Salman Al-Audah yang berjudul “Ar-Rad ‘Ala Salman Al-Audah fi Mas’alati Takfiri Al-A’yan” dan masih banyak lagi. At-Thartusi juga menulis berbagai makalaah, yaitu:

  1. Masaailu haamah fi bayaani khaali juyuusyi al-ummah
  2. Limadza al-jihad fi sabilillah?
  3. Diroosatu Syar’iyyah fi bayaani hukmi al-musyarikah fi majaalisi tasyri’iyah.
  4. As-sulamu at-tadrijiy fi tholabul ilmi
  5. Hukmu al-jasuus
  6. Fashlu al-kalam fi mas’alati khuruj ‘ala hukam
  7. Dan lain-lain

Syaikh Abu Bashir At-Thartusi di segani ulama-ulama jihadi lainnya. Di antaranya Syaikh Aiman Adz-Dzawahiri yang mengatakan, “Syaikh Abu Bashir At-Thartusi adalah ulama yang terhormat dan mumpuni. Dia adalah ulama yang berkepribadian kuat dan teguh dalam mendukung jihad dan mujahidin.” Pujian senada juga terucap dari Syaikh ‘Aliy bin Khudoir yang mengatakan, “Dia adalah ulama ahlu sunnah wal jamaah, tauhid dan aqidah… At-Thartusi telah banyak meluruskan orang-orang murjiah dalam masalah takfir dan dia adalah seorang ahlu sunnah dalam permasalahan takfir dan iman.”

Abu Bashir At-Thartusi bersama seorang mujahidin di Suriah

Abu Bashir At-Thartusi bersama seorang mujahidin di Suriah

Pujian-pujian pun terucap dari Syaikh Abu Qatadah Al-Filistini, Syaikh Al-Imam Hamud bin ‘Uqala As-Syua’ibiy, Syaikh Muhammad bin Muhammad Al-Fazaziy, Syaikh Shalih bin Sa’ad Al-Hasan, Syaikh Abu Umar ‘Abdul Barr dan Syaikh Al-Mujahid ‘Adnan ‘Uqlah.

Peran At-Thartusi dalam Jihad Suriah

Setelah sekitar satu dekade di negeri ratu Elizabeth, At-Thartusi kembali ke tanah airnya pada Mei 2012 untuk ikut berjihad kembali. Abu Bashir sangat mendukung gerakan oposisi penentang pemerintah Syiah Nushairiyah. Karena sejak dahulu, ia telah menyaksikan sendiri bagaimana kekejaman rezim syiah ini. Bak air cucuran jatuhnya ke pelimbahan jua, Bashar Assad tidak akan jauh berbeda dengan ayahnya soal kediktatoran dan kekejamannya terhadap kaum muslimin.

Sebelumnya pada Maret 2011, At-Thartusi membuat sebuah fanspage facebook yang disebut “Al-Mu’arada Al-Islamiyah Lil-Nizam Al-Souri” (Islam oposisi terhadap rezim di Suriah). Pada Mei 2012, ia muncul bersama para mujahid di sebuah daerah di Suriah. Pada Oktober 2012 pun ia muncul kembali dalam sebuah video di daerah Lattakia bersama pada mujahidin Anshar Al-Syam.

Jadi, secara keilmuan ia telah diakui dan pengalamannya dalam berjihad pun tidak diragukan lagi. Satu hal yang patut diteladani adalah kesabaran beliau dalam meniti jalan perjuangan ini. Segala cobaan dan ujian dihadapi dengan ikhlas. Mencurahkan segala potensi yang ada untuk dien Islam. Semoga umat Islam mampu meneladani apa yang telah dikerjakan ulama jihad asli Suriah ini.

Penulis: Dhani el_Ashim

Sumber:

1. http://www.ye1.org/vb/showthread.php?t=511779
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Abu_Basir_al-Tartusi
3. https://thewasat.wordpress.com/category/abu-basir-al-tartusi/
4. http://www.jihadica.com/jihadism%E2%80%99s-widening-internal-divide-intellectual-infighting-heats-up/


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

UBN: Saatnya Umat Ini Miliki Kantor Berita Islam

KIBLAT.NET, Jakarta – Ustadz Bachtiar Nasir menilai ada hikmah besar di balik pemblokiran situs-situs Islam....

Senin, 06/04/2015 14:22 0

Indonesia

Situs-situs Islam Diblokir, Ulama: Terimakasih BNPT

KIBLAT.NET, Jakarta – Penutupan situs-situs Islam oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) atas permintaan Badan Nasional...

Senin, 06/04/2015 13:35 0

Arab Saudi

Koalisi Teluk: Palang Merah Akan Segera Sampaikan Bantuan ke Yaman

KIBLAT.NET, Riyadh – Koalisi Teluk membantah bahwa pihaknya menghalangi proses evakuasi dan pengiriman bantuan ke...

Senin, 06/04/2015 12:00 0

Indonesia

Pimpinan MIT Daeng Koro Diduga Terbunuh

KIBLAT.NET, Poso – Salah satu pemimpin kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Daeng Koro diduga kuat...

Senin, 06/04/2015 11:06 0

Indonesia

Media Islam Tidak Boleh Mati!

KIBLAT.NET, Jakarta – Pengamat terorisme Mustofa Nahra mempertanyakan penafsiran Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terkait...

Senin, 06/04/2015 10:34 0

Indonesia

Lucu, BNPT Anggap Media Radikal Karena Beritakan Perang di Timteng

KIBLAT.NET, Jakarta – Tokoh muda Muhammadiyah membantah alasan yang digunakan BNPT untuk memblokir media-media Islam....

Senin, 06/04/2015 10:28 0

News

Usai Dibebaskan dari Daulah, Kota Tikrit Dijarah Milisi Syiah

KIBLAT.NET, Tikrit – Hampir semua paramiliter Syiah telah meninggalkan Tikrit pada Sabtu, (04/04) setelah penduduk...

Senin, 06/04/2015 10:03 0

Yaman

Kuasai Distrik Al-Mualla, Pemberontak Syiah Hautsi Bakar Rumah Warga

KIBLAT.NET, Aden – Milisi pemberontak Syiah Hautsi pada Ahad, (05/04) mengklaim telah menguasai Al-Mualla, sebuah distrik...

Senin, 06/04/2015 09:32 0

Suriah

Dalam Sepekan, Serangan Rezim Bunuh 100 Warga Idlib

KIBLAT.NET, Idlib – Militer Suriah terus menghujani kota Idlib dengan roket dan mortir. Akibatnya, puluhan...

Senin, 06/04/2015 09:08 0

Video Kajian

[Video] Kiblat Mimbar : Bedah Buku “Zionis-Syiah Bersatu Hantam Islam” karya Muhammad Pizaro

KIBLAT.NET- “Selama ini opini berhembus bahwa Syiah dan Zionis adalah dua kelompok yang saling bertikai. Namun...

Senin, 06/04/2015 08:59 0

Close