Bila Tertutup Awan, Masihkah Disyariatkan Shalat Gerhana ?

KIBLAT.NET, Berdasarkan ilmu Astronomi, nanti malam (Sabtu, 04/04) gerhana bulan terlihat di seluruh wilayah di Indonesia. Gerhana akan dimulai sejak pukul 17.00 WIB dan puncaknya pada pukul 22.00 WIB.

Umat Islam diperintahkan melaksanakan Shalat Khusuf (shalat gerhana bulan) ketika terjadinya gerhana tersebut. Hal itu sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW dalam hadist yang dibawakan sahabat Uqbah bin Amir al-Anshary radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan dari tanda-tanda kekuasaan Allah, yang dengan keduanya Allah hendak menjadikan hamba-hamba-Nya berperasaan takut. Keduanya (matahari dan bulan) tidak mengalami gerhana dengan sebab matinya seseorang manusia dan tidak pula karena hidupnya seseorang manusia. Sekiranya kamu melihat salah satu dari dua gerhana tersebut, maka shalatlah dan berdoalah selagi mana ia dapat kamu lihat.” (HR. Muslim)

Akan tetapi, bagaimana hukumnya jika gerhana ketika itu tertutup oleh awan atau mendung?

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz telah menjelaskan permasalahan ini. Beliau menegaskan bahwa waktu shalat gerhana berkaitan dengan melihat atau tidak gerhana tersebut. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam hadist di atas yang derajatnya shahih atau bisa diamalkan.

Dalam hadits tersebut, jelas Syaikh yang lebih dikenal dengan Bin Baz itu, Rasullah SAW mengaitkan perintah shalat, berdoa, dzikir dan istighfar karena melihat gerhana, bukan berita dari ahli hisab/ahli astronomi. Dan wajib bagi seluruh umat Islam berpegang dengan sunnah dan mengamalnya serta menjauhi yang menyelisihinya.

BACA JUGA  Front Persaudaraan Islam Instruksikan Anggotanya Bantu Korban Bencana Alam

Oleh karena itu, tegas Syaih Bin Baz, melaksanakan shalat gerhana berdasarkan hitungan hitungan astronomi telah menyelisihi hadits tersebut dan tidak sesusah sunnah.

Begitu juga, sebagaimana diketahui tidak disyariatkan bagi umat Islam di suatu negeri melaksanakan shalat gerhana jika gerhana tidak terjadi di negaranya, meskipun di belahan negara lain terjadi gerhana. Karena Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengkaitkan perintah shalat dan berbagai bentuk dzikir dengan penglihatan gerhana bukan dengan berita dari ahli hisab.

Telah dimaklumi bahwa Nabi SAW adalah manusia yang paling berilmu dan paling memberikan nasehat, beliau adalah penyampai semua hukum-hukum dari Allah.

Jika seandainya shalat gerhana dilaksanakan berdasarakan perhitungan ahli hisab, atau karena di wilayah lain terjadi gerhana, tentunya Nabi SAW menjelaskannya. Akan tetapi, Nabi tidak menjelaskannya bahkan menjelaskan sebaliknya. Beliau menunjukkan kepada umatnya untuk berpegang kepada ru’yah (melihat) gerhana dalam permasalahan ini. Maka, shalat gerhana tidak disyariatkan kecuali bagi mereka yang melihat gerhana di tempat mereka berada.

Sumber: binbaz.org
Editor: Hunef Ibrahim

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat