... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Syiah Hautsi: dari Saada hingga Sanaa (Bag.1)

Foto: Husain Al-Hautsi, pendiri gerakan Syiah Hautsi di Yaman.

KIBLAT.NET – Syiah Hautsi mulanya adalah kelompok Syiah Zaidiyah di Yaman bagian utara. Sebelum masa revolusi rakyat (Arab Spring) pada tahun 2011, mereka kurang memiliki daya tarik maupun pengaruh di luar wilayah basis mereka di utara.

Dengan berakar pada semangat kebangkitan Zaidiyah, gerakan tersebut pada mulanya bangkit dalam rangka melindungi tradisi keagamaan dan kultural mereka dari ancaman kelompok Salafi yang semakin mereka rasakan, dan juga dari intervensi barat terhadap dunia Islam.

Kemudian di bawah kepemimpinan Hussein Badr al-Din al-Hautsi, dan dipicu oleh invasi Amerika ke Iraq pada tahun 2003, lalu mereka mengubah pola gerakan mereka dari yang bersifat kultural keagamaan menjadi aktifitas politik.

Pada tahun 2004, usaha pemerintah Yaman menangkap Hussein al-Hautsi mengalami kegagalan. Hal itu mendorong serangkaian peperangan atau konfrontasi brutal antara Hautsi dengan pemerintah Yaman yang terjadi hingga enam putaran. Perang secara resmi berakhir dengan adanya gencatan senjata pada bulan Februari 2010, namun masih menyisakan bayak keluhan.

Konflik terpusat di propinsi Saada yang merupakan benteng pertahanan utama Hautsi. Di wilayah ini pula mereka menjadi pewaris pasca era kemunduran strata sosial pemerintahan Bani Hasyim (Hasyimiyah) akibat revolusi perlawanan tahun 1962 terhadap kepemimpinan “Imamah Zaidiyah”.

Demikian juga pola manajemen negara yang gagal dalam mengatasi pluralitas keagamaan, keterbelakangan yang kronis, mengakibatkan situasi yang rentan terjadinya perebutan kekuasaan di daerah serta munculnya aktor baru keagamaan termasuk kelompok Salafi.

Dalam lingkungan yang begitu kompleks ini, berbagai macam peperangan baik yang bermotif sektarian, kesukuan, maupun politis terjadi secara simultan, termasuk efek turunan akibat dari perang dingin antara Arab Saudi dan Iran. Hingga saat ini, Hautsi masih belum punya agenda yang jelas, sementara di luar propinsi basis mereka di Saada dan juga di wilayah Haraf Sufyan di propinsi Amran sebelah utara mereka masih menghadapi perlawanan dari kelompok pesaing.

Era Arab Spring 

Sejak awal mula Arab Spring, gerakan ini dengan cepat telah berevolusi dalam konteks politik. Pada tahun 2011 ketika Hautsi bergabung dengan para demonstran memprotes Presiden Ali Abdullah Saleh, mereka membentuk aliansi dengan para aktifis anti rezim di seluruh negeri.

Dengan memanfaatkan situasi yang vakum dari kekuasaan karena ditinggalkan oleh para elit rezim lama yang telah terpecah, Hautsi memperluas wilayah yang mereka kontrol dan terus bekerja untuk meraih simpati yang lebih luas dari masyarakat, menetapkan suatu program politik, dan mengklaim punya legitimasi dalam proses pembuatan keputusan nasional. Gerakan ini bisa dikatakan sebagai pemenang utama yang muncul dari hasil perlawanan rakyat.

Selama masa transisi itu, Hautsi bergabung dengan proses politik yang ada tanpa meninggalkan kamp revolusioner. Partisipasi mereka dalam konferensi dialog nasional NDC (National Dialogue Conference) dukungan PBB memberikan Hautsi legitimasi baik nasional maupun internasional serta memungkinkan mereka menentukan agenda reformasi.

Pemberontak Syiah Houthi berjalan di sebuah pos pemeriksaan di Sana'a, 11 Desember 2014. (foto oleh Reuters Mohamed al-Sayaghi)

Pemberontak Syiah Houthi berjalan di sebuah pos pemeriksaan di Sana’a, 11 Desember 2014. (foto oleh Reuters Mohamed al-Sayaghi)

 

BACA JUGA  Editorial: Wamena, Merdeka, dan Darah Saudara Kita

Di Saada, mereka membentuk kelompok kerja, yaitu salah satu dari sembilan kelompok kerja tematik NDC di mana mereka menyepakati prinsip-prinsip penyelesaian masalah di utara, termasuk pelucutan senjata terhadap semua aktor-aktor non-negara.

Di waktu yang sama, Hautsi menolak prinsip-prinsip yang berasal dari inisiatif Dewan Kerjasama Teluk GCC (Gulf Cooperation Council) pada bulan November 2011 yang memberikan kekebalan terhadap Saleh dari tuntutan hukum dan membentuk pemerintahan koalisi – yang dikenal dengan “pemerintah konsensus” (hukumat al-wifaaq) – yang membelah antara partai mantan presiden Saleh GPC (General People Congress) dengan blok mantan oposisi partai JMP (Joint Meeting Parties).

Oposisi mereka yang terus berlangsung terhadap pemerintahan koalisi (konsensus) ini sejalan dengan rasa frustrasi sebagian besar rakyat yang disebabkan oleh perubahan yang berjalan lambat, korupsi yang sudah mengakar, serta tidak adanya keamanan.

Pada saat perwakilan politik Hautsi berpartisipasi dalam proses transisi, para milisi bersenjata mereka menahan persenjataan berat milik mereka dan dengan signifikan memperluas control wilayah.

Resmi memerintah

Pada tahun 2011 mereka secara de-facto menjadi otoritas yang memerintah di propinsi Saada dengan menunjuk seorang gubernur, menarik pajak, mengawasi kerja pemerintahan lokal serta mengatur sistem peradilan.

Pada tahun 2012, aliansi jangka pendek anti-Saleh antara Hautsi dengan musuh-musuh tradisional mereka – Partai Islah, Ali Mohsen, dan al-Ahmar – mengalami friksi internal. Ketegangan terjadi secara sporadis di antara para pendukung kedua kubu tersebut di wilayah Jawf, Amran, Ibb, Dammar, dan wilayah propinsi Sanaa.

Kekerasan menjadi semakin intensif pada saat batas waktu tanggal 18 September untuk penyelesaian perundingan NDC semakin dekat di mana semua pihak membuat kesimpulan sesuai versi masing-masing dan – yang terpenting – mereka mengimplementasikannya dengan cara yang menguntungkan mereka.

Terkadang, bentrokan kecil dan terbatas bisa berubah menjadi konflik yang lebih luas seperti pada bulan Oktober 2013 ketika pertempuran pecah antara Hautsi dengan para pejuang Salafi di dekat sebuah institut keagamaan Darul Hadits di Dammaj di propinsi Saada.

Hautsi menuduh kelompok Salafi merekrut pejuang-pejuang asing dan mempersiapkan penyerangan. Di bagian lain, Salafi mengklaim sangat tidak beralasan untuk melakukan serangan terhadap para pelajar keagamaan yang damai (tidak bersenjata/bermusuhan).

Pemberontak Syiah Houtsi

Pemberontak Syiah Houtsi

 

Konflik yang dengan begitu cepat meluas ini terkonsolidasi menjadi dua koalisi yang bersebrangan, yaitu Hautsi dengan suku-suku pendukungnya, kebanyakan berasal dari partai GPC-nya mantan presiden Saleh, melawan para pejuang Salafi, keluarga al-Ahmar, dan para kombatan yang secara politis terkait dengan partai Islah dan Ali Mohsen.

BACA JUGA  KH Luthfi Basori Nilai Penolak Muslim United Kelompok Liberal

Pada bulan Januari 2014, pertempuran meletus di banyak tempat di wilayah di utara, mulai dari perbatasan dengan Arab Saudi di Kitaf, Saada , kemudian Amran, Hajja, dan daerah propinsi Jawf hingga pintu gerbang kota Sanaa di daerah Arhab. Hautsi muncul sebagai pemenang.

Pada bulan Januari, setelah bertahan dari blokade terhadap Institute Darul Hadits, Salafi setuju untuk mengevakuasi pusat kelompok mereka dan merelokasi sementara ke Sanaa. Hautsi juga memenangkan pertempuran di Kitaf melengkapi kontrol mereka atas propinsi Saada. Apa yang telah mereka capai di Amran secara politis sangat penting.

Pada tanggal 3 Februari, mereka mengalahkan pejuang al-Ahmar di perkampungan yang menjadi basis mereka di Khamir, lalu membakar rumah-rumah keluarga al-Ahmar, mendapatkan stok persenjataan secara signifikan, serta memaksa para pejuang al-Ahmar mundur ke Sanaa.

Dengan pengecualian yang perlu dicatat bahwa brigade ke-310 militer di Amran yang secara politis sejalan dengan Ali Mohsen dan mendukung koalisi anti Hautsi, maka kehadiran negara sangat tidak ada.

Upaya hindari kekerasan

 

Meskipun ada seruan dari partai Islah dan al-Ahmar terhadap pemerintah pusat untuk menghentikan kekerasan, Presiden Hadi menghindari intervensi militer yang hampir pasti akan mengakibatkan situasi menjadi lebih rumit dan membuat perang berlarut-larut dengan hasil yang tidak pasti.

Sebaliknya, ia berkonsentrasi melengkapi hasil kesepakatan NDC yang akan berakhir pada tanggal 21 Januari 2014, yaitu masa dimulainya kerja komite mediasi dalam rangka merundingkan gencatan senjata lokal. Pada pertengahan Februari, kerangka kerja gencatan senjata terutama di Dammaj, Arhab, dan Amran telah berhasil menekan aksi kekerasan meskipun masih sering ditemukan adanya pelanggaran.

Pada bulan April 2014, presiden mengirim delegasi untuk menemui Abdul Malik untuk membahas tentang kekerasan yang masih terus berlangsung serta mendiskusikan cara mengimplementasikan hasil kesepakatan NDC, termasuk agenda pelucutan senjata dan re-integrasi para pejuang Hautsi.

Delegasi tersebut juga menyampaikan permintaan tambahan yang belum tertera atau dibahas dalam NDC, termasuk bahwa Hautsi harus membentuk partai politik. Respon Abdul Malik secara umum positif, meskipun belum ada kesepakatan terhadap masalah-masalah yang spesifik.

Akan tetapi, kekerasan terbaru terutama yang terjadi di Amran sangat membahayakan karena bisa membalikkan semua pembicaraan yang baru saja dirintis.

Pada bulan Mei, pertempuran antara Hautsi dengan pihak militer Brigade ke-310 yang didukung oleh partai Islah dan suku-suku afiliasi al-Ahmar berhasil membunuh puluhan pejuang.

Kemudian pada bulan Juni, dalam suatu eskalasi yang signifikan, angkatan udara Yaman membom posisi-posisi Hautsi. Para negosiator termasuk di antaranya Menteri Pertahanan berhasil memediasi sebuah kesepakatan gencatan senjata baru pada tanggal 4 Juni antara pihak security service dengan Hautsi di Amran, meskipun para kombatan sedang bersiap-siap untuk pertempuran-pertempuran baru selanjutnya. Bersambung ke bagian kedua

 

Alih bahasa: Yasin Muslim

Editor: Fajar Shadiq

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Diblokir Sepihak, Media Islam Datangi Kemkominfo

KIBLAT.NET, Jakarta – Sejumlah perwakilan media-media online Islam yang menjadi korban pemblokiran sepihak oleh pihak Kemkominfo...

Selasa, 31/03/2015 16:43 0

Wilayah Lain

Tunjukkan Syiar Islam, Pasangan Muslim di Cina Dipenjara

KIBLAT.NET, Xinjiang – Pemerintah komunis Cina kembali mendiskriminasi minoritas muslim di negaranya. Baru-baru ini, pasang...

Selasa, 31/03/2015 16:40 0

Suriah

Mulai Gempur Idlib, Tentara Suriah Gunakan Gas Beracun

KIBLAT.NET, Idlib – Militer Suriah mulai menghujani bom kota Idlib yang berhasil dikontrol mujahidin Sabtu...

Selasa, 31/03/2015 16:12 0

Irak

AS Bantah Tewaskan Dua Tentara Iran di Tikrit

KIBLAT.NET, Tikrit – Departemen Pertahanan AS, Pentagon, Senin (30/03), membantah pernyataan Iran yang mengklaim dua...

Selasa, 31/03/2015 13:38 0

Indonesia

Begini Skenario TNI Hancurkan ‘Negara Teror’ di Poso

KIBLAT.NET, Poso – Panglima TNI, Jenderal TNI Moeldoko berkunjung ke Posko Latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat...

Selasa, 31/03/2015 11:03 0

Yaman

Menlu Yaman: Tentara Iran Terang-terangan Berada di Sana

KIBLAT.NET, Sanaa – Menteri Luar Negeri Yaman, Riyadh Yasin, Senin (30/03), mengungkap bahwa anggota Garda...

Selasa, 31/03/2015 11:00 1

Indonesia

Buka Latihan PRRC, Panglima TNI Jenderal Moeldoko Tiba di Poso

KIBLAT.NET, Poso – Sejumlah tokoh dan tamu undangan dari berbagai elemen Kota Poso, pada Senin,...

Selasa, 31/03/2015 10:28 0

Indonesia

TNI Gelar Latihan di Poso, Warga Berharap Ada Ganti Rugi

KIBLAT.NET, Poso – Kodam VII/Wirabuana membuka latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Bandara Kasiguncu Poso,...

Selasa, 31/03/2015 10:14 0

Pakistan

Gabung Koalisi Teluk, Pakistan Berencana Kirim Pasukan

KIBLAT.NET, Islamabad – Pakistan mengumumkan akan mengirim pasukan ke Arab Saudi untuk berpartisipasi dalam operasi...

Selasa, 31/03/2015 10:08 0

News

Media Islam Diblokir, Komunisme dan Aliran Sesat Diuntungkan

KIBLAT.NET – Permintaan BNPT kepada Kementerian Kominfo agar menutup dan memblokir via DNS sejumlah website...

Selasa, 31/03/2015 09:32 1

Close