... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Fokus

IPAC: Pemimpin MILF Tak Pernah Lindungi Marwan

KIBLAT.NET – Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), sebuah lembaga kajian yang berbasis di Indonesia membuat laporan bahwa para pemimpin MILF (Moro Islamic Liberation Front) tidak pernah melindungi Zulkifli bin Hir alias Marwan yang terbunuh dalam suatu operasi gabungan antara PNP (Philippines National Police) dan SAF (Special Action Forces).

Operasi gabungan itu dilakukan di Barangay Tukanalipao, sebuah desa di kota kecil Mamasapano, propinsi Maguindano, sebelum mereka akhirnya menjadi target serangan oleh para pejuang MILF dan BIFF pada tanggal 25 Januari lalu.

MILF, dalam beberapa tahun terakhir ini telah memberitahu pihak pemerintah tentang adanya terduga teroris asing yang bersembunyi di Mindanao.

Laporan yang dirilis oleh IPAC pada awal bulan ini dibuat untuk menanggapi klaim Senator Alan Peter Cayetano bahwa MILF telah menyembunyikan Marwan di Mindanao meskipun telah disangkal sebelumnya.

IPAC mengatakan Marwan bersembunyi di bawah perlindungan para pejabat MNLF, Abu Sayyaf, elemen-elemen jaringan jihadis JI, dan beberapa komandan MILF pada waktu yang berbeda-beda sejak kedatangannya di Mindanao pada tahun 2001.

Pergerakan Marwan selama beberapa tahun ini sebagaimana dikutip dalam dokumen-dokumen pengadilan AS mengindikasikan bahwa Marwan dan saudaranya bernama Rahmat terlibat kegiatan yang membantu dan berkonspirasi melakukan aktivitas teror.

Rahmat sendiri telah ditangkap oleh otoritas Amerika pada tahun 2007 dan sekarang berada dalam tahanan di teluk Guantanamo. Akan tetapi pada tahun 2013, Marwan berada di bawah perlindungan Amirul Umroh Kato, pendiri sekaligus pemimpin BIFF (Bangsamoro Islamic Freedom Fighter) yang memisahkan diri dari MILF pada tahun 2010 karena tidak setuju dengan kebijakan MILF bernegosiasi kembali dengan pemerintah Manila. BIFF dilaporkan bergabung dengan kampanye jihadis internasional.

Seorang komandan MILF, Abdul Wahid Tundok yang sebelumnya pernah menjadi anak buah Kato saat berada di 105th Base Command MILF, berhubungan dengan Marwan pada bulan July 2006 dan memintanya untuk pergi pada bulan November ketika ia (Tundok) masih bisa berkomunikasi dengan Marwan sampai dengan tahun 2007.Tundok sendiri memilih untuk tetap bersama MILF ketika Kato memisahkan diri dengan kelompok induknya tersebut.

“Kato dan Basit Usman yang akhirnya menjadi sahabat Marwan telah sejak lama dianggap ‘radikal’ oleh para pemimpin MILF karena sulit dikendalikan,” menurut para analis dari IPAC.

Sementara itu sebagai konsekuensi perundingan damai, MILF membantu pasukan pemerintah melalui suatu mekanisme yang dibuat bersama pada tahun 2005 dan dikenal dengan istilah AHJAG (Ad-Hoc Joint Action Group) yang di antara poin-poinnya bertujuan untuk mengisolasi dan melarang elemen-elemen “pembangkang”, kelompok krimainal, dan kelompok pelaku penculikan dengan motif untuk mendapatkan tebusan yang dicurigai bersembunyi di wilayah MILF.

Koordinasi tersebut berakibat pada pengusiran terhadap elemen kunci JI dan Abu Sayyaf dari wilayah MILF dan bahkan sebagian dipaksa kembali ke negara asal masing-masing.

Menurut IPAC bahwa,”Kepemimpinan MILF jelas tidak menerima kehadiran jihadis asing” ketika menyebut Marwan warga Malaysia dan Umar Patek serta Dulmatin warga Indonesia.

Pada saat SAF melancarkan operasi dengan sandi “Exodus” pada tanggal 25 Januari lalu di Mamasapano, dikatakan oleh IPAC bahwa Marwan sedang bersembunyi di area yang dikontrol oleh BIFF tetapi dikelilingi oleh wilayah kekuasaan MILF.

Zulkifli bin Hir alias Marwan

Zulkifli bin Hir alias Marwan

 

Menurut versi media mainstream, operasi itu berakhir dengan terbunuhnya 44 anggota pasukan komando SAF, dan diklaim sebagian disebabkan oleh kegagalan SAF dalam mengimplementasikan mekanisme yang ditetapkan di bawah proses perundingan damai semacam AHJAG. Sementara jumlah korban menurut sumber di lapangan adalah 60 orang anggota pasukan SAF tewas, dan dari pihak mujahidin 12 orang gugur, dua di antaranya merupakan anggota BIFF.

SAF (Special Action Force) sendiri merupakan unit pasukan khusus kepolisian yang berada di bawah PNP (Philippines National Police). Pada hari saat operasi itu dilaksanakan, SAF bergerak di malam hari, berjalan kaki, menembus ladang-ladang jagung sampai pada suatu lokasi yang dekat dengan target. Kemudian jam empat pagi mereka melepaskan tembakan otomatik yang difokuskan ke arah sebuah rumah di mana Marwan tinggal. Tembakan otomatik di pagi buta meng-alarm mujahidin sekitar baik pihak BIFF maupun MILF (base 105th dan 118th) dan langsung mengambil posisi kemudian mengarahkan tembakan ke arah SAF. Hal inilah yang di kemudian hari menimbul masalah serius antara MILF dan Manila.

Dalam posisi pasukan SAF yang terkepung dan tak ada jalan keluar, baku tembak terjadi dengan hebatnya selama kurang lebih sebelas jam yang mengakibatkan tewasnya 60 orang anggota komando yang berada di bawah kepolisian Filipina ini. Tidak ada pasukan bantuan (reinforce) dari pihak militer (infantry division) terdekat karena mereka merasa tak diberitahu dank arena memang pasukan SAF tersebut langsung didatangkan dari Manila. Nyaris tak ada yang selamat dari pihak SAF kecuali hanya sedikit, mujahidin banyak mendapatkan ghanimah.

Rekomendasi IPAC
Dalam pernyataannya, para pemimpin MILF pada saat ini menganggap mereka sebagai pihak yang tersinggung, dan mereka (merasa) sengaja tidak diberitahu akan adanya operasi “kontra-terorisme” tersebut.

IPAC juga mengatakan bahwa Presiden Benigno Aquino III sebagai panglima tertinggi, SAF dan para pejabat yang bertanggung jawab atas operasi tersebut seharusnya mempertimbangkan biaya yang harus ditanggung atas pilihan untuk tidak menginformasikan tentang akan dilaksanakannya operasi tersebut kepada pihak MILF pada saat Basic Law Bangsamoro sedang digodok. Pada bagiannya, pemerintah Manila bersikeras menyatakan bahwa Jenderal Getulio Napenas, komandan SAF seharusnya mempertimbangkan proses perundingan damai.

IPAC memberi masukan, “Jika Marwan bisa meloloskan diri lagi, maka masih ada kesempatan untuk menangkapnya, tetapi kalau proses perundingan ini gagal, kita tidak tahu apakah akan ada kesempatan kedua untuk bisa mengulanginya kembali”.

Para penulis menekankan bahwa reputasi Marwan sebagai teroris level tinggi telah di-blow up oleh pemerintah, media, dan terutama oleh iming-iming hadiah dari Amerika yang menghargai kepalanya dengan 5 juta dolar Amerika.

Lembaga kajian tersebut memperingatkan bahwa Marwan bukan orang terakhir yang akan mencari perlindungan di Mindanao dan melancarkan aktifitas terror di sana.

Menurut IPAC, “Solusi yang paling mungkin adalah memperkuat mekanisme yang telah ada seperti AHJAG untuk mengkoordinasikan antara pemerintah dan MILF dalam mengejar orang-orang seperti Marwan. Tanpa keterlibatan aktif MILF, bisa dikatakan tidak akan ada solusi jangka panjang atas masalah ekstrimisme di Filipina.”

IPAC merupakan lembaga yang didirikan di Jakarta pada tahun 2013 oleh beberapa orang dan tokoh pengusung ide-ide liberalis, di antaranya: Azyumardi Azra, Goenawan Mohamad (Tempoe), Todung Mulya Lubis (Pengacara), Aristides Katoppo (Sinar Harapan), Bavitri Susanti (Peneliti PSHK), Endy Bayuni (The Jakarta Post). Saat ini IPAC dipimpin oleh direkturnya yaitu Sidney Jones (ICG, Ford Foundation, Amnesty International).

 

Alih bahasa : Yasin Muslim
Sumber : Luwaran.net

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Munarman: Propaganda Hitam Pendukung ISIS, Bentuk Kepandiran Kelompok Anti-Islam

KIBLAT.NET, Jakarta – Upaya menghalang-halangi seperti yang dilakukan pemerintah, kampanye dan propaganda hitam terhadap pendukung ISIS,...

Senin, 23/03/2015 16:40 0

Indonesia

Pendukung ISIS Dijerat Pasal Serangan Negara Sahabat, An-Nashr Institute: Suriah Bukan Negara Sahabat

KIBLAT.NET, Jakarta – Direktur An-Nashr Institute, Munarman, SH mengkritik pernyataan pakar hukum internasional Hikmahanto Juwono...

Senin, 23/03/2015 16:00 0

Indonesia

PUSHAMI: Sekuritisasi Isu ISIS, Pra-kondisi RUU Kamnas

KIBLAT.NET, Jakarta – Direktur Pengkajian Kebijakan Strategis Pusat Hak Asasi Muslim Indonesia (PUSHAMI), Jaka Setiawan...

Senin, 23/03/2015 15:23 0

Irak

Mantan Direktur CIA: Ancaman Terbesar Iraq Bukan ISIS tapi Milisi Syiah

KIBLAT.NET, Washington – Mantan komandan pasukan darat Amerika Serikat di Iraq, David H. Petraeus menyatakan...

Senin, 23/03/2015 15:00 1

Yaman

Al-Qaidah Kuasai Kota Al-Houta, AS Tarik Pasukannya dari Yaman Selatan

KIBLAT.NET, Aden – Pejabat militer dan keamanan Yaman mengatakan bahwa sekelompok pasukan militer Amerika Serikat...

Senin, 23/03/2015 14:29 0

Yaman

Pejuang Al-Qaidah Kuasai Kota Al-Hauta di Yaman Selatan

KIBLAT.NET, Al Hauta – Pejuang Al-Qaidah berhasil menguasai kota Al-Hauta di Yaman selatan, Jumat (20/03)....

Senin, 23/03/2015 14:09 0

Rohah

Seorang Gubernur, Keledai, dan Bunyi Lonceng

Seorang gubernur daerah suatu ketika berjalan-jalan melihat rakyatnya. Saat itu, ia ingin berkunjung ke sebuah...

Senin, 23/03/2015 10:18 0

Video Kajian

Tabligh: Lamanya Ujian Oleh Ust. Abu Harits, Lc

KIBLAT.NET- Setiap manusia pasti diuji oleh Allah SWT. Banyak sekali dari kita yang tumbang dan...

Senin, 23/03/2015 07:32 0

Video News

Detik Detik Jatuhnya Helikopter Milik Militer Nushairiyah di Pedesaan Idlib

KIBLAT.NET – Sebuah helikopter milik tentara Nushairiyah jatuh di pedesaan Idlib, helikopter yang membawa seorang...

Senin, 23/03/2015 05:35 0

Yaman

Diserang Syiah Hautsi Lewat Udara, Presiden Mansour Hadi Dievakuasi dari Istana

KIBLAT.NET, Aden – Seluruh penghuni istana presiden Yaman di kota Aden diungsikan setelah lokasi tersebut...

Ahad, 22/03/2015 17:00 0

Close