... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Kasak-kusuk ISIS dan Nasib Naas Ayah Aisyahnaz

Foto: Mahfouzt Firdaus (47 tahun) terbaring di klinik. Foto: Tribun Jabar

KIBLAT.NET – “Wah, kalau sekarang kayaknya, tidak bisa ditanya-tanya dulu. Dari kemarin sudah ditanya-tanya terus. Takutnya nanti malah minum (racun anti serangga, red) lagi.”

Kalimat yang meluncur dari salah seorang aparat di lingkungan Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung terus terngiang-ngiang di kepala kami saat sedang membelah jalan raya yang menghubungkan Rancaekek-Majalaya. Jalan yang tak terlalu lebar semakin diperparah dengan lubang-lubang besar sepanjang jalan cukup membuat siapa pun yang tak punya motivasi kuat,  enggan meneruskan penelusuran kabar yang marak beredar belakangan ini.

Sebelumnya, media-media mainstream cukup deras memberitakan tentang Mahfouzt Firdaus, warga RT 01 RW 06 Kampung Babakan Ciparay, Desa Rancakasumba, Kecamatan Solokan Jeruk, Bandung Timur. Sebenarnya, sorotan media bukan untuk Mahfouzt. Adalah Aisyahnaz Yasmin, puteri dari pernikahan Mahfouzt Firdaus dengan isteri pertamanya, Tati, seorang warga Lampung.

Nama Aisyahnaz menjadi sorotan karena masuk ke dalam daftar 16 WNI yang hilang di Turki dan dituduh ingin bergabung dengan ISIS.

Sejak anaknya jadi sorotan, rumah Mahfouzt mendadak jadi lebih ramai dari biasanya. Wartawan dari sejumlah media, aparat kepolisian, petugas desa hingga kemungkinan besar agen intelijen pun mendatang rumah Mahfouzt tak henti-hentinya. Sepekan lebih, kediaman Mahfouzt yang terletak di pinggir jalan utama itu terus menerima tamu.

Hingga akhirnya, puncaknya terjadi pada Selasa, (17/03). Mahfouzt ditemukan oleh kakak iparnya Juangsih sedang tergeletak di kamar tidurnya. Tak jauh dari posisi dia terbaring, ditemukan racun anti serangga. Mahfouzt pingsan tak berdaya.

Qadarallah, saat itu Kepala Desa Rancakasumba, Jajat Sudrajat juga sedang mengantar wartawan ke rumah Mahfouzt untuk wawancara dan mengambil gambar. Jajat yang melihat salah seorang warganya sedang kritis lantas membawa Mahfouzt ke Klinik Umum Marlina di jalan Rancaekek-Majalaya yang berjarak hanya dua kilometer dari lokasi kejadian.

“Ya mungkin depresi atau stres saya juga gak paham. Kebetulan saja saya yang menemukan bersama keluarganya pas nganter wartawan mau memfoto-foto, jadi saya bawa ke klinik. Alhamdulillah masih tertolong,” ujar Jajat Sudrajat kepada wartawan Kiblat.net di Kantor Desa Rancakasumba pada Jumat, (20/03).

Kepala Desa Rancakasumba, Jajat Sudrajat.

Kepala Desa Rancakasumba, Jajat Sudrajat.

Atas kejadian itu, akhirnya pihak keluarga meminta kepada pejabat desa dan pihak yang berwenang agar Mahfouzt bisa istirahat dan tidak diganggu lagi oleh kedatangan wartawan. Atas alasan kemanusiaan, Jajat pun mengizinkan dengan syarat pihak keluarga tetap menjaga komunikasi jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

BACA JUGA  Gaza Diserang, PKS: Dunia Tak Berbuat Apa-apa Kecuali Mengecam

Menurut penuturan Jajat, sebelum kejadian (meminum racun) itu, Mahfouzt memang kerap ditanya-tanya oleh wartawan. Tapi, pada Senin malam, Mahfouzt diinterogasi oleh Polsek Solokan Jeruk hingga pukul 01.00 dini hari.

“Saya waktu malem Selasa, piket di pos ronda bersama warga sampai jam 12.30 malam. Saya pulang, dia (Mahfouzt) baru datang dari Polsek. Gak tahu terguncangnya dari masalah apa. Apa malu? Apa ada beban? Belum sempat komunikasi lagi setelah kejadian itu,” imbuh Jajat.

Trauma berat
Usai mendapatkan informasi dari aparat desa, Kiblat.net melakukan penelusuran langsung ke kediaman Mahfouzt. Letak rumahnya di pinggir jalan raya, memang memudahkan siapa pun untuk mengunjungi Mahfouzt.

Rumah Mahfouzt Firdaus di Babakan Ciparay, Solokan Jeruk, Bandung.

Rumah Mahfouzt Firdaus di Babakan Ciparay, Solokan Jeruk, Bandung.

Saat Kiblat.net memasuki halaman rumahnya, suasana tampak lengang. Sebuah mobil Toyota Avanza ditutupi sarung penutup  berwarna kelabu terparkir di depan. Secarik kertas bertuliskan “Tidak bisa/tidak berkenan diwawancarai dengan alasan kesehatan” ditempel di pintu bagian depan, samping tembok, hingga pintu bagian belakang. Beberapa kali kami melontarkan salam tak ada yang menjawab.

Kami mencoba memutari rumah lewat samping. Rupanya ada pintu samping yang masih terbuka. Tapi, belum lagi kami mengucapkan salam. Brakk!! Pintu ditutup dengan cepat.

Dari penuturan tetangga sebelahnya, sebenarnya keluarga Mahfouzt ada di dalam rumah. Namun, mereka masih mengalami trauma yang cukup berat.

Oleh warga sekitar, Mahfouzt dikenal sebagai warga yang baik dan tidak pernah membuat masalah. Hanya memang, ia dikenal sebagai pribadi yang tertutup.

BACA JUGA  PKS Minta Menhan Waspadai Kedatangan Misionaris ke Papua

Setelah dirawat di klinik pada Selasa lalu, Mahfouzt bahkan belum mampu berbicara kepada pihak keluarga dan kerabat terdekatnya.

“Kepada keluarganya juga belum ngomong-ngomong akibat depresi itu hingga kemarin. Saya tidak tahu apa pertanyaan-pertanyaan dari kepolisian. Pihak keluarga minta jangan diganggu wartawan, saya juga berdasarkan pertimbangan kemanusiaan, lah mas,” imbuh Jajat.

Menanggapi hal ini, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S. Pane, kepada Kiblat.net, Jumat (20/03) menyatakan, dalam pemeriksaan orang-orang yang terkait perkara seputar isu ISIS, polisi cenderung melakukan intimidasi. Dugaan adanya tindakan polisi yang melakukan intimidasi dan teror saat memeriksa Mahfouzt Firdaus, ayah Aisyahnaz, semakin menambah panjang daftar tindakan serupa yang terjadi di banyak kasus.

“Memang kalau interogasi di kantor polisi, terutama yang menyangkut isu radikalisme, teroris, ISIS, memang cenderung seperti teror terhadap saksi ataupun tersangka,” kata Neta.

Bola Api ISIS
Pemberitaan hilangnya 16 WNI di Turki belakangan ini akhirnya bergulir menjadi bola api. Konstruksi wacana yang beredar pada isu ini berujung pada keinginan untuk membuat undang-undang yang lebih tegas untuk menghabisi apa yang disebut pemikiran radikalisme. Mulai dari usulan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPPU) yang membatasi warga Indonesia ke Suriah, hingga permintaan BNPT untuk merevisi Undang-undang Anti-Teror ke arah UU Subversif.

Penggiringan isu itu tentu saja harus dilakukan secara gebyah uyah, tak peduli apakah daftar nama 16 WNI di Turki itu semuanya valid atau ada yang bodong seperti pada kasus Suroya Chalid. Setelah ditelusuri, Suroya, warga Surabaya ternyata masih berada di rumahnya bukan di Turki.

Penggiringan isu itu juga harus masif, tak peduli nasib mahasiswa Turki di Indonesia yang menjadi kalang kabut ditanyai oleh orangtuanya karena ketakutan anaknya gabung ISIS. Meski di Turki, kabar kasak-kusuk ISIS tak pernah ada gaungnya.

Dan tentu saja, penggiringan isu itu tak perlu bersimpati kepada Mahfouzt, yang harus menanggung depresi hingga minum racun anti serangga.

 

Laporan Fajar Shadiq dari Majalaya, Bandung

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

2 comments on “Kasak-kusuk ISIS dan Nasib Naas Ayah Aisyahnaz”

  1. Jadi, ayahnya aisyahnaz ini stres minum racun karena polisi, bukan karena semata-mata anaknya dukung isis, seperti diberitakan tempo, okezone dan lain-lain..

  2. KOk.. h4ru5 54mpe m1num r4cun G1tu s11hh! k4Yak g4k Kn4l a94ma aj4chh..

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Manhaj

Jangan Salah, Jihad Masih Akan Senantiasa Ada

Dalam perang melawan kelompok jihadis (kontra terorisme), AS mulai menyadari bahwa konfrontasi militer bukanlah satu-satunya...

Sabtu, 21/03/2015 16:00 0

News

Kanada Perpanjang Misi Militer Lawan ISIS di Iraq

KIBLAT.NET – Perdana Menteri Kanada Stephen Harper pada hari Rabu mengatakan bahwa Kanada akan berusaha...

Sabtu, 21/03/2015 11:05 0

News

TPM: Kasus Ustadz Afif Jadi Pintu Masuk Pidanakan Pendukung ISIS

KIBLAT.NET, Jakarta – Tindakan hukum yang diberlakukan terhadap Ustadz Afif Abdul Majid dinilai sebagai pintu...

Sabtu, 21/03/2015 10:48 0

News

Laporan ICG: Syiah Hautsi dari Saada hingga Sanaa

KIBLAT.NET – International Crisis Group (ICG), sebuah lembaga pemantau konflik yang berbasis di Brussels, Belgia...

Sabtu, 21/03/2015 10:41 0

Indonesia

Sepulang dari Turki, BNPT Akan Mengisolir 16 WNI yang Hilang

KIBLAT.NET, Jakarta – Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengakui bahwa tidak ada pasal...

Sabtu, 21/03/2015 09:33 0

Video Kajian

Tadzkirah: Sebelum Terlambat

KIBLAT.NET- Allah SWT berfirman dalam Al Quran : وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلْمُجْرِمُونَ نَاكِسُوا۟ رُءُوسِهِمْ عِندَ...

Sabtu, 21/03/2015 09:29 0

Info Event

Hadiri Tabligh Akbar “Memperkokoh Aqidah Aswaja, Menjaga NKRI dari Bahaya Syiah”

KIBLAT.NET – Hadirilah Tabligh Akbar “Memperkokoh Aqidah Aswaja, Menjaga NKRI dari Bahaya Syiah” Hari/Tanggal :...

Sabtu, 21/03/2015 07:07 0

Indonesia

Sidang Ustadz Afif Ditunda, TPM: Aparat Tangkap Orang Semaunya, Tapi Kesulitan Hadirkan Saksi

KIBLAT.NET, Jakarta – Sidang lanjutan Ustadz Afif Abdul Majid yang mengagendakan pemeriksaan saksi ditunda. Penyebabnya...

Sabtu, 21/03/2015 06:29 0

Afrika

AS Konfirmasi Pemimpin Senior Al-Shabaab Gugur dalam Serangan Udara

KIBLAT.NET, Moghadisu – Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada hari Rabu (18/3) mengkonfirmasi bahwa serangan udara...

Sabtu, 21/03/2015 05:17 0

Prancis

Dianggap Tidak Demokratis, Aktivis Kecam RUU Anti-Teror Perancis

KIBLAT.NET, Paris – Pegiat pro-demokrasi di Perancis mengecam rancangan undang-undang anti-teror kontroversial yang memberikan wewenang...

Sabtu, 21/03/2015 04:12 0

Close