... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Siapakah Penguasa Timur Tengah Sesungguhnya Saat Ini? (Bag. 1)

Foto: Salah seorang pejuang suku di wilayah Maarib, Yaman.

KIBLAT.NET – Sejak pertengahan abad ke-20, Timur Tengah silih berganti mengalami pergantian penguasa regional di kawasan tersebut. Era tahun 1950-an dan 1960-an merupakan era kejayaan Mesir. Saat itu, Kairo merupakan ibukota dunia Arab dan juga rumah bagi pemimpin kharismatik pasca kolonialisme, yaitu Gamal Abdel Nasser. Akan tetapi, kemenangan Israel atas Mesir, Yordania, dan Suriah dalam perang tahun 1967, kematian Nasser di tahun 1970, dan tingginya harga minyak setelah perang tahun 1973 menyebabkan era hegemoni regional Mesir berakhir.

Pada saat jutaan warga Mesir dan warga Arab lainnya meninggalkan tanah airnya untuk mencari keberuntungan atas kekayaan minyak kawasan Teluk, daya tarik perpolitikan dunia Arab pergi bersama mereka. Seiring dengan tumbuhnya kemakmuran akibat minyak di kawasan Teluk, terutama di Saudi Arabia, Riyadh mulai menampakkan pengaruh politiknya.

Invasi Saddam Hussein atas Kuwait, diikuti dengan serangan koalisi pimpinan AS yang dilancarkan dari tanah Saudi, semakin menunjukkan bahwa minyak dapat membeli negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi. Di lain sisi, minyak juga dapat digunakan untuk “membeli” pengaruh (secara politik), namun mereka masih tetap membutuhkan perlindungan Amerika.

Setelah perang Teluk usai di paruh awal tahun 1990-an, perjanjian Oslo antara Israel & Palestina serta pakta perdamaian antara Israel & Yordania yang dimotori oleh perdana menteri Israel Yitzhak Rabin, Israel menemukan momentumnya di Timur Tengah. Kerjasama ekonomi regional mulai tumbuh dan memberikan arah terhadap situasi politik yang telah terbentuk selama empat dasawarsa terakhir, bersamaan dengan munculnya optimisme terhadap perdamaian dan integrasi di kawasan tersebut. Peristiwa pembunuhan terhadap Rabin pada tahun 1995 secara mengejutkan telah memupus harapan tersebut. Proses perdamaian menjadi sekarat di akhir dekade itu ketika politik sayap kanan Israel berkuasa yang cenderung sulit menjalin kedekatan dengan negara-negara tetangga.

Lalu, ada jeda di tahun 2000-an di mana hegemoni regional tidak ada. Tak satupun negara Arab yang berkuasa secara dominan yang punya sumber daya dan kredibilitas untuk menegaskan dominasi dirinya atas seluruh kawasan. Kemudian, masalah sektarian terus berkembang dipicu oleh pendudukan Amerika atas Iraq diikuti perang sipil. Negara-negara republik Arab seperti Mesir, Suriah, dan Tunisia dilanda masalah korupsi yang sudah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Hal tersebut menggerus dasar-dasar negara, kesetaraan sosial, serta dukungan kelas menengah ke bawah terhadap rezim penguasa yang telah mereka bangun sejak tahun 1950-an.

BACA JUGA  Hukum Menambahkan Lafadz "Sayyidina" Saat Tasyahhud, Shalawat dan Adzan

Sementara, para dinasti penguasa di Teluk terlihat sibuk ingin memodernisasi kota-kota gurun pasir mereka menjadi lebih gemerlap seperti Hong Kong dan Singapura, dan meninggalkan negara tetangga Arab lainnya menghadapi masalah masing-masing. Padahal, sepuluh tahun sebelumnya, kawasan strategis tersebut bergantung hanya pada satu negeri yang paling berpengaruh.

Tahun 2011, dengan segala kelebihan dan kekurangannya negara-negara tersebut menjadikan proyek politik nasional ataupun regional berjalan beriringan. Pemain utama di Timur Tengah nampaknya adalah mereka para pelaku ekonomi mulai dari perusahaan multinasional hingga lembaga keuangan regional.

Era Arab Springs

Arab Springs yang terjadi dalam tiga tahun terakhir, sekali lagi telah mengguncang keseimbangan kekuasaan, menggulingkan penguasa di tiga negara Arab: Mesir, Libya, dan Tunisia. Revolusi itu mengancam para monarkhi Arab, serta menimbulkan kekacauan di negara-negara yang berbatasan dengan Israel.

Sementara kebanyakan pengamat melihat pemberontakan (Arab Spring) yang terjadi di dunia Arab tersebut sebagai sebuah perubahan politik disadari atau tidak bahwa di sana ada kekuatan lain yang ikut bermain.

Gejolak Arab Spring melanda negara-negara Timur Tengah pada 3 tahun belakangan ini.

Gejolak Arab Spring melanda negara-negara Timur Tengah pada 3 tahun belakangan ini.

 

Sebuah kekuatan besar yang sedang berjuang muncul di tengah-tengah revolusi, represi, dan perang dari Tunisia hingga Suriah, yang ikut memetakan kembali wilayah strategis di seluruh Timur Tengah.

Hasil akhirnya akan mengubah situasi di seluruh kawasan tidak lagi sekedar persaingan regional ataupun pergantian penguasa regional sebagaimana terjadi pada awal setengah abad sebelumnya.
Pertikaian yang muncul itu berkaitan dengan sifat dasar dan masa depan masyarakat di kawasan itu mulai dari Afrika utara hingga kawasan teluk.

Di jantung transformasi ini adalah dua kelompok dan kekuatan politik di beberapa negara Arab yang memiliki tujuan yang saling berlawanan. Yang pertama, dimotori oleh kekuatan Islamis yang ada di Iran, Qatar, Turki, dan kelompok politik Islam terbesar di Arab seperti Ikhwanul Muslimin yang bertujuan membelokkan arah berbagai pemberontakan (Arab Spring) di negeri-negeri Arab tersebut menuju Islamisasi kawasan Timur Tengah secara bertahap.

Definisi Islamisasi tersebut sangat bermacam-macam tergantung ideologi, latar belakang, dan situasi sosial politik masing-masing negara. Kubu ini punya satu keyakinan, bagaimana pun pada akhirnya politik Islam harus dijadikan kerangka dasar pemerintahan. Anggota-anggotanya percaya dengan aksioma tersebut, tidak seperti retorika nasionalisme republik Arab sekuler yang sudah basi.

BACA JUGA  Tak Ditahan, Ustadz Rahmat Baequni Kena Wajib Lapor

Islam sesungguhnya bisa memenangkan dukungan yang luas dari berbagai tingkat soSial di kawasan itu – dan menjaganya. Dalam rangka mempromosikan tujuan-tujuannya, kelompok ini menggunakan hubungan yang lebih longgar antar jaringan media mereka, wewenang keagamaan, serta uang untuk menarik simpati lebih dari 180 juta orang Arab yang berusia di bawah 35 tahun untuk menuntut perubahan yang berakar dari bawah.

Kubu kedua, dimotori oleh Saudi Arabia dan monarkhi Teluk lainnya, seperti: Kuwait dan Uni Emirate Arab , didukung oleh Mesir, Israel, serta Yordania. Mereka melihat transformasi yang terjadi ini sebagai sebuah ancaman. Mereka – kaum tradisionalis – percaya bahwa Islamisasi akan membawa kepada perpecahan yang lebih parah seperti yang terjadi di beberapa negara: Iraq, Lebanon, dan Suriah; demikian juga akan mengakibatkan kekacauan politik dan konflik sosial seperti yang terjadi di Mesir.

Akibat lainnya, akan membuat kelompok-kelompok jihadis mengalami penguatan di seluruh kawasan (Timur Tengah). Dengan perubahan yang hati-hati, pelan-pelan, dan terkontrol terhadap tatanan yang ada, kaum tradisionalis ini menggantungkan pada dukungan militer, aparat keamanan, media, dan badan-badan keuangan, serta lembaga atau negara lain yang mendukung mereka untuk menyampaikan gagasan tentang keutuhan nasional, serta membentengi negeri agar tidak terjerumus dalam pergolakan yang sedang menyebar di seluruh kawasan.

Pertarungan antara kedua kelompok ini merupakan satu jenis pertarungan baru di Timur Tengah.

Pertarungan yang mereka lakukan selama masa sebelumnya seperti antara Arab sekuler melawan Islamis, contoh: antara Gamal Abdul Nasser dengan Ikhwanul Muslimin di tahun 1950-an, antara rezim Hafez Assad dengan Ikhwanul Muslimin di tahun 1970-an) lebih sebagai konflik antara warga dan penguasa. Sementara perang Arab-Israel adalah konflik yang berakar terutama pada masalah teritorial.

Demikian juga persaingan antara negara-negara republik sekuler Arab seperti Mesir dengan negara monarkhi, seperti Saudi pun hanya seputar masalah bagaimana mempertahankan sebuah rezim. Kemunculan pertarungan antara dua kubu ini, bagaimanapun juga merupakan cerminan karakter alamiah dan juga masa depan masyarakat di kawasan itu, dari Afrika utara hingga ke Teluk.

Bersambung

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Opini

Esensi di Balik Kisruh KPK Versus Polri

KIBLAT.NET – Akhirnya Jokowi batal melantik BG (Budi Gunawan) sebagai Kapolri. Namun di sisi lain...

Jum'at, 20/02/2015 13:49 0

Amerika

AS: Kami Telah Menyeleksi 1.200 Militan “Moderat” Suriah

KIBLAT.NET, Washington – Departemen Pertahanan As, Pentagon, mengumumkan telah menyeleksi sebanyak 1.200 militan oposisi Suriah...

Jum'at, 20/02/2015 11:10 0

Yaman

Suku Terbesar di Provinsi Kaya Minyak Bentuk Kekuatan Hadapi Hautsi

KIBLAT.NET, Syibwa – Suku terbesar di provinsi Syibwah, Al-Awaliq, Kamis (19/02), mengumumkan membentuk pasukan bersenjata...

Jum'at, 20/02/2015 09:32 0

Turki

Sah! Turki dan AS Tandatangani Akad Pelatihan Oposisi “Moderat” Suriah

KIBLAT.NET, Ankara – Pemerintah Turki dan Amerika Serikat, Kamis (19/02), akhirnya menandatangani akad program pelatihan...

Jum'at, 20/02/2015 09:02 0

Video News

Video Jasad Warga yang Disembelih Oleh Tentara Syiah Suriah Di Aleppo

KIBLAT.NET, Aleppo – Aktivis Suriah memublikasikan, Rabu (18/02), video puluhan jasad warga sipil yang disembelih...

Jum'at, 20/02/2015 08:35 0

Indonesia

Solidaritas Az-Zikra, Spanduk Anti Syiah Bertebaran di Yogyakarta

KIBLAT.NET, Yogyakarta – Insiden penyerangan perkampungan Az-Zikra di Sentul beberapa waktu lalu, memicu kemarahan umat....

Kamis, 19/02/2015 20:00 0

Indonesia

MPI Ajak Forum Dakwah Kampus Gelorakan Kampanye Tolak Syiah

KIBLAT.NET, Jakarta – Badan Pengurus Pusat Mahasiswa Pecinta Islam (MPI) menghimbau kepada seluruh civitas akademika,...

Kamis, 19/02/2015 19:26 0

Indonesia

Komisi Pengkajian MUI: Umat Islam Tidak Mengakui dan Menolak Ajaran Syiah

KIBLAT.NET, Jakarta – Anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustadz Fahmi Salim...

Kamis, 19/02/2015 19:00 0

Indonesia

Ribuan Umat Islam Hadiri Kajian ‘Mewaspadai Bahaya Syiah’ di Islamic Center Bekasi

KIBLAT.NET, Bekasi – Ribuan umat Islam pada Kamis, (19/02) datang dari berbagai penjuru wilayah Jabodetabek...

Kamis, 19/02/2015 18:45 0

Opini

Kebebasan yang Hipokrit

KIBLAT.NET – Umat Islam kembali terusik dengan terbitnya edisi baru majalah Satire asal Prancis, Charlie...

Kamis, 19/02/2015 18:29 0

Close