... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Syaikh Abu Bakr Naji: Manajemen Sabar dalam Medan Pertempuran

Medan pertempuran (Ma’rakatul Jihad) penuh dengan ujian. Tak hanya ujian dalam bentuk fisik, tapi juga ujian dalam bentuk rohani. Keduanya amat diperlukan sebuah kesabaran dalam menghadapi. Ujian fisik menyentuh sisi-sisi yang nampak dalam diri mujahid. Sedangkan ujian ruhani, hanya mujahid sendiri lah yang mengetahui. Manajemen kesabaran dalam pertempuran, hendaknya dimiliki oleh dirinya.

Abu Bakr Naji adalah seorang intelektual jihad layaknya Abu Mus’ab As-Suri. Dia ahli strategi dalam manajemen chaos, ilmu syariah, dan seorang pemikir dalam gerakan untuk mewujudkan kembali Khilafah Islamiyah. Al-Arabiya pernah mengidentifikasi bahwa Abu Bakar Naji adalah Muhammad Hasan Khalil al-Hakim atau Abu Jihad Al-Masri. Sumber lain mengatakan bahwa Naji adalah Saiful Adl. Yang jelas, Abu Bakar Naji pernah aktif berkontribusi dalam majalah Sawt al-Jihad, media publikasi AQAP hingga Oktober 2004.

Dalam tulisannya yang berjudul “Ma’rakatus Shabr”, pertama kali Syaikh Naji memberi satu gambaran tentang perilaku sabar. Setelah itu, dipaparkan bahwa buah dari kesabaran itu sungguh besar, terutama untuk mencapai kemenangan. Kesabaran di sini bukan hanya sebatas sabar pada umumnya, tapi lebih diwujudkan dalam praktek real dalam sebuah strategi pertempuran. Untuk lebih jelasnya, simak penuturan Syaikh Naji berikut ini:

Syaikh Abu Bakar Naji 

Ma’rakatus Shabr

“Sesungguhnya kemenangan itu hanya diperoleh dengan kesabaran sejenak”

Kalimat tersebut disimpulkan dari rangkaian kemenangan kita dalam melawan musuh di setiap medan pertempuran. Coba bayangkan saat jari tanganmu di bawah gigitan lawan, dan jari lawan berada di bawah tekanan gigimu. Antara Engkau dan lawanmu, yang kalah adalah yang pertama kali berteriak. Jika Engkau berteriak pertama kali, maka lawanmu akan berkata bahwa dialah pemenangnya. Namun jika Engkau memilih untuk bersabar sejenak, maka lawanmu akan menyerah dan melepaskan jarimu dari gigitannya, sehingga Engkau-lah pemenangnya.

Ketika Rusia memutuskan untuk menarik diri dari Afghanistan, pada saat itu, persenjataan mereka jauh lebih lengkap dari apa yang dimiliki oleh rakyat Afghanistan. Jumlah tentara mereka yang terlatih tidak lebih sedikit dan lebih siap daripada tentara Afghanistan. Hal serupa juga terjadi ketika Roma menarik diri dari wilayah Syam dan Mesir. Pada masa awal penaklukkan, jumlah pasukan mereka juga jauh lebih banyak—bahkan berkali lipat—dan lebih siap dari pada kaum muslimin.

Lantas apa yang terjadi? Apa penyebab kehancuran mereka? Kadang-kadang realitas seperti ini muncul dan tidak bisa diprediksi oleh para analisis militer. Apa yang mereka pelajari dari buku-buku militer menunjukkan bahwa,  penyebab kekalahan dalam peperangan terjadi dalam dua kondisi:

Pertama, ketika pasukan menarik diri. Yaitu ketika mereka memandang, bahwa kerugian materi atau moral saat melanjutkan perperangan lebih besar daripada keuntungan yang akan mereka peroleh. Kedua, hilangnya kesabaran pada diri kelompok yang mengundurkan diri. Mungkin saja, kondisi pertama  terjadi disebabkan oleh kondisi kedua. Sehingga dapat kita katakan, “Sesungguhnya terjadinya kekalahan dalam pertempuran disebabkan hilangnya kesabaran kelompok.”

Dalam makalah ini, akan diterangkan bagaimana musuh berkerja untuk menghilangkan kesabaran kita, serta bagaimana usaha kita untuk menghilangkan kesabaran mereka?

Berikut ini akan kita dapatkan jawaban penting, tentang apa yang dilakukan oleh musuh untuk menghilangkan kesabaran kita, dan bagaimana kunci kita untuk menghilangkan kesabaran musuh. Yaitu dengan melakukan perlawanan terhadap target yang akan mereka inginkan—inilah usaha yang paling penting, serta melakukan beberapa inisiatif dalam rangka mewujudkan tujuan kita.

Poin pertama yang menjadi titik penting adalah, memahami sifat psikologis para thagut dan bala tentaranya yang tidak mampu bertahan lama di bawah tekanan dan ancaman. Salah satu penyebabnya adalah mereka tidak memberantas gerakan Islam secara berurutan satu persatu, tetapi mereka berambisi untuk menghancurkan seluruhnya dalam jangka yang relatif lama. Dan ketika keputusan telah ditetapkan, mereka akan segera merancang rencana untuk mengakhiri keputusan tersebut dengan cepat. Mereka tahu kondisi para tentaranya –meskipun kuantitas dan finansial mereka cukup memadai, namun mereka tidak memiliki kesabaran untuk berada dalam pertempuran dalam masa yang lama.

Dengan demikian, memperpanjang masa pertempuran dan menggiring musuh di bawah tekanan lain yang lebih besar, akan sangat efektif untuk menghancurkannya, terutama dalam jumlah yang lebih besar.

Jadi strategi pertama adalah: membuatnya agar merevisi langkahnya dan memperpanjang durasi pertempuran. Kedua: melakukan sesuatu agar para prajurit dan komandannya berada dalam tekanan jiwa yang sulit, sehingga mereka tidak mampu untuk meneruskan pertempuran dalam waktu lama. Mereka akan gelisah serta tidak dapat melaksanakan tugas, atau bahkan melarikan diri. Efeknya, para thagut itu akan menarik pasukannya dan menarik diri dari pertempuran.

Mereka (thaghut) akan mulai memperpanjang masa pertempuran—jikalau tidak  mundur dan memiliki keberanian untuk menetapkan keputusan—dengan menghindari konfrontasi langsung. Karena dengan hal itu, para mujahidin akan diberikan kesempatan untuk memperbaiki basis militer, serta meningkatkan kemampuan mereka. Musuh terpaksa melakukan itu dengan harapan mampu meningkatkan kemampuan internal maupun eksternal di masa depan.

Kondisi terburuk adalah mereka mewujudkan rencana tersebut dengan menjarah sebanyak mungkin kekayaan sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut. Ataupun ingin menyelesaikan rencana pemimpin mereka –yang sebelumnya tertunda—, intervensi mereka, atau berbagai tujuan lainnya. Oleh karena itu, kita dapat berasumsi bahwa mereka berambisi untuk:

1. Memperpendek durasi pertempuran sebisa mungkin.

2. Meminimalisir pertumpahan darah pada pasukannya, karena tahu bahwa hal itu akan menanamkan rasa takut pada pasukannya. Sehingga, akan menjadi salah satu faktor yang akan memperpanjang masa pertempuran.

Oleh karena itu, mereka (thaghut) akan mencapai dua tujuan tersebut dengan cara yang keji. Untuk menghindari pertumpahan darah, semaksimal mungkin mereka akan bekerja untuk “mengumpulkan” para pemuda dalam penjara sebanyak mungkin. Kemudian membuat gambaran bahwa, yang tidak taat aturan masih belum dihukum/ ditembak. Pada tahap awal ini,  mereka tidak ingin menyentuh ke arah tersebut.

Langkah pertama yang mereka lakukan dalam tahap penjara adalah, membuat tekanan ringan terhadap mayoritas penghuni penjara. Terkecuali sebagian kecil para ikhwah yang telah mereka rencanakan untuk ditekan dalam bentuk lain. Kemudian mereka akan membuat tekanan selanjutnya, yaitu kepada keluarga yang ada di luar penjara, sehingga penjara seolah-olah menjadi neraka bagi mereka.

Setelah itu, kunjungan kepada mereka pun dilarang. Di sisi lain, dukungan serta bantuan moril terhadap keluarga yang ditinggalkan juga dilakukan, sehingga gambaran tentang mereka menjadi tercemar (karena menerima bantuan dari thaghut). Dengan ini, masyarakat mulai melarang para kerabatnya untuk bergabung dengan para mujahidin atau memberi bantuan kepada mereka berdasarkan pandangan buruk yang mereka lihat. Dengan demikian kondisi mujahidin pun akan semakin memburuk.

BACA JUGA  Romo Syafii: Darurat Sipil Bentuk Ketidakpedulian Pemerintah Terhadap Rakyat

Kemudian dalam tahap ini para thagut mulai merubah strategi, dari mengurangi pertumpahan darah dan peningkatan penangkapan, menjadi strategi pemberantasan. Ini dilakukan setelah berhasil membentuk opini di media massa. Melalui langkah ini, mereka akan melakukan pembunuhan langsung saat operasi penggerebekan. Efeknya, kesabaran para mujahidin dapat mereka hilangkan—semoga tidak terjadi—setelah mereka berhasil menghilangkan kesabaran para pemuda di dalam penjara.

Strategi lain yang ditempuh oleh musuh adalah strategi mobilisasi massa. Yaitu mereka akan tinggal di beberapa kota dan daerah untuk melakukan mobilisasi massa di daerah tersebut guna memaksimalkan penangkapan serta melakukan konfrontasi di dalamnya. Sehingga mereka berhasil meyakinkan para tentaranya karena jumlah mereka yang lebih banyak, bahkan jauh berkali lipat dari pada jumlah mujahidin. Kemudian setelah berhasil menguasai wilayah tersebut, mereka akan memindahkan pasukan untuk menempati daerah lain.

Seluruh realitas di atas pernah terjadi pada masa rezim Mesir yang zalim, yaitu ketika mereka melawan gerakan mujahidin. Pada tahun 90-an, mereka telah mengkampanyekan untuk membasmi entitas Islam secara umum dan para mujahidin secara khusus. Operasi tersebut berkembang dalam sepuluh tahun sejak kampanye di awal tahun 80-an. Dimulai sebelum pembunuhan Sadat, dan berakhir setelah selesai penghakiman terhadap mereka yang mencoba membunuhnya.

Maksudnya adalah, saat musuh ingin memulai serangan secepat mungkin, maka Jamaah Islamiyah Mesir (JIM) merespon usaha tersebut dengan pembunuhan rahasia terhadap ketua parlemen. Di mana pembunuhan tersebut memaksa musuh untuk menunda serangan mereka selama dua tahun. Bukannya malah memanfaatkan waktu sebaik mungkin, tapi JIM malah seolah-olah memberikan waktu penuh kepada musuh untuk menyusun ulang strategi dan mengulur hingga dua tahun untuk memulai serangan secara komprehensif. Waktu itu cukup untuk mengatur rencana mereka secara lebih detail, dan memulai lagi paling lambat setahun setelah kejadian.

Maka ketika mereka memulai operasi tersebut, proses mobilisasi massa pun akan berjalan dengan mudah untuk menguatkan pasukannya. Sehingga mereka mampu menumpas seluruh pesonel JIM yang ada di kota satu persatu,  dan terus memperluas ke daerah-daerah lainnya.

Kemudian terjadilah apa yang terjadi. Hal ini disebabkan cara berpikir para pimpinan yang selalu mengedepankan negosiasi sejak awal pertempuran! Bahkan para pimpinan tersebut menganggap bahwa rezim saat itu sama seperti rezim Mubarak, yang dapat menerima negosiasi jika ratusan prajurit dan sebagian para komandannya terbunuh.

Seolah-olah para pimpinan tersebut lupa, bahwa rezim tidak mempertimbangkan jumlah. Kecuali hanya sekedar rasa khawatir ketika jumlah tersebut lepas—lepas atau melarikan diri terjadi ketika angka pembunuhan meningkat dan muncul propaganda media.

Kemudian ketika sistem (rezim) tersebut menyetujui negoisasi, maka seluruh data untuk menekan (jamaah) ada di tangannya—mayoritas anggota jamaah ditahan di penjara. Sehingga, mereka memiliki kesempatan untuk menentukan berbagai persyaratan. Dalam hal ini, pihak yang memiliki banyak data akan berhak menentukan persyaratan. Bisa dipastikan, pemilik data terbanyak akan bisa menawarkan kepada pihak lain (dalam hal ini JIM) agar mengundurkan diri.

Hal inilah yang menjadi titik perhatian kami, yaitu konsekuensi ketika bernegosiasi dengan orang murtad. Khususnya ketika harus mengakui eksistensi mereka dan membiarkannya dalam kemurtadan.

Adapun Jamaah Jihad Mesir (JJM), pada dasarnya belum mengambil keputusan untuk konfrontasi langsung, karena strategi mereka berasaskan kepada persiapan finansial yang lama sebelum melakukan operasi. (Kebijakan tersebut telah dihapus dari rencana mujahidin karena menjadi penyebab bencana, untuk itu direvisi dengan kebijakan lain).

JJM dikejutkan dengan terungkapnya sel-sel jamaah mereka karena kesalahan amniyah. Efek kerusakan dari kesalahan tersebut sangat sulit dikembalikan ketika berada di bawah kendali sistem yang mengikuti kebijakan politik yang sembarangan. Terlebih ketika jamaah tersebut belum mengambil keputusan untuk memulai konfrontasi sama sekali.

Meskipun kerusakan yang ditimbulkan dalam gerakan jihad sangat signifikan –sampai harus menghentikan operasi selama satu periode tanpa adanya sikap perubahan terhadap rezim, keteguhan para pemimpinnya dan kerja yang mereka lakukan untuk mengatasi apa yang telah terjadi sampai sekarang, masih menyisakan duri dalam tenggorokan rezim dan para pemimpinnya. Sehingga menyebabkan rezim tidak mampu untuk memberantas JIM sampai ke akar-akarnya, sebagaimana yang mereka harapkan.

Kesimpulan dari poin ini bahwa penyebab hancurnya JIM adalah karena sikap para pemimpinnya yang tidak memiliki pandangan baik dan jelas tentang strategi militer. Empat perlima kekuatan mereka vakum di bawah kelompok yang disebut dengan sayap dakwah. Bahkan mereka membuka kesempatan bagi rezim Mesir untuk menangkap mereka, dan membuat tekanan-tekanan untuk mempercepat hilangnya kesabaran para jamaah.

Hal tersebut telah sempurna mereka lakukan dalam waktu yang lama. Sementara, jamaah tidak bisa mengambil tindakan konkrit apapun untuk melawan aksi itu, padahal kesempatan terbuka lebar di depannya.

Adapun rusaknya idiologi mereka dan munculnya sikap taraju’, disebabkan tindakan mereka yang tidak syar’i dalam menghadapi kekalahan militer. Akar permasalahan ini butuh pembahasan tersendiri.

Sementara itu dengan Jamaah Jihad (JIM), saya tidak mengerti, kenapa orang-orang bodoh berani menjadikan peperangan sebagai alasan terhadap apa yang terjadi pada diri mereka. Padahal sebagian besar terjadi sebelum membuat keputusan untuk melakukan aksi perlawanan!

Kembali kepada pembahasan, lantas apa usaha yang bisa kita kerjakan untuk mempercepat hilangnya kesabaran musuh serta menggagalkan strategi mereka?

Seandainya kita memiliki kekuatan sebagaimana yang dimiliki musuh, maka kita akan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan pertempuran sejak awal. Hal ini karena para tentara kita tidak pernah takut mati, bahkan mereka mencari kematian tersebut. Akan tetapi kita tidak memiliki kekuatan tersebut—karena hal itu bagian dari sunnatullah dalam berdakwah.

Oleh karena itu, kita selalu menyusun rencana dengan melihat apa yang telah terjadi sebelumnya, yaitu melakukan tindakan untuk memperpanjang masa pertempuran. Yaitu dengan cara melakukan perlawanan terhadap seluruh target mereka, diiringi dengan terus memukul mundur kekuatan mereka.

Agar fokus pada target kita di awal—berdasarkan kemampuan kita, kita harus lebih banyak melawan musuh dengan persenjataan yang sepadan daripada harus melakukan penyerangan langsung di barisan mereka (nikayah). Kemudian ketika kita berhasil melewati tahap tersebut, maka seluruh operasi selanjutnya kita fokuskan untuk menyerang langsung ke dalam barisan mereka. Karena berdasarkan pengalaman, pada tahap kedua mereka akan melakukan penyerangan terhadap markas-markas kita. Sampai pada tahap berikutnya, kita pun dapat menghancurkan mereka secara total, insya Allah.

BACA JUGA  Corona, Antara Uang dan Relasi

Kita juga harus menggagalkan strategi mobilisasi massa dengan memperluas operasi selebar mungkin di seluruh penjuru dunia—meskipun pada awalnya sangat terbatas, akan tetapi tetap harus tersebar seluas mungkin.

Kemudian kita juga harus mencegah target mereka. Yaitu ketika mereka ingin mengumpulkan mayoritas ikhwan yang ada di penjara, dalam rangka memperbanyak data yang dapat membuat tekanan kepada kita. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:

1. Menghindari timbulnya kekacauan keamanan semaksimal mungkin dan menerapkan petunjuk keamanan dengan hati-hati. Dalam tahap ini kita harus menyebarluaskan cerita kepada para ikhwah tentang bagaimana keadaan para ikhwannya yang disergap, sementara dia membawa data CD (VCD) atau dokumen. Padahal intruksinya ketika itu, agar ia segera menghancurkan data tersebut, sehingga bisa melewati penyergapan tersebut dengan aman. Akan tetapi dia tetap menjaga data tersebut untuk tujuan tertentu, sambil terus melafadzkan doa dan dzikir sampai akhirnya dia bisa melewatinya dengan aman.

Tentunya kita semua yakin tentang hakikat cerita tersebut—Alhamdulillah. Akan tetapi kita harus tahu, bahwa apa yang dilakukan oleh saudara tersebut menjadi dosa baginya karena telah melanggar instruksi dan menjerumuskan diri dan saudaranya—sebagaimana yang telah diketahui—kepada suatu hal yang berbahaya.

Dosa yang dia lakukan tersebut serta dosa yang lainnya, dapat menjadikan dzikir yang dia lafadzkan tidak berpengaruh pada waktu berikutnya. Selain itu, pihak keamanan akan mencoba untuk mencari tahu suatu hal yang tidak hubungannya denganmu.

2. Cara kedua untuk menggagalkan strategi mereka, adalah dengan melakukan penyerangan agar penangkapan para ikhwan tidak terjadi, dan menghancurkan semaksimal mungkin kekuatan mereka. Namun, menguras pengorbanan yang lebih besar –dalam hal harta, nyawa dan waktu— butuh persiapan yang panjang.

Sehingga meskipun ketika berhasil ditangkap, atau salah seorang anggota ada yang terbunuh dalam serangan itu, maka aksi penyerangan tersebut menjadi sempurna dengan pemeberitaan media bahwa hal itu terjadi karena adanya penangkapan atau karena pembunuhan terhadap saudara fulan. Dengan sedikit memulai penyerangan terhadap pasukannya (thaghut) atau Pasukan Salib, maka media akan mengungkapkan bahwa mereka melakukan aksi tersebut dalam rangka penolakan terhadap perlakuan mereka di penjara atau saat terjadi penangkapan.

Tujuan kita adalah menghancurkan kekuatan Salibis yang ada di dalamnya. Penghancuran ini karena ada sebab (nikayah musabbabah). Hal ini untuk menunjukkan bahwa kita tidak akan berhenti menargetkan para thagut. Serangan mereka yang kita hadapi lebih banyak, sehingga membuat operasi kita lebih agresif.

Semua penjelasan di atas—hampir—menjadi sebuah kebijakan yang diambil oleh saudara kita –Pasukan Semenanjung Arab (AQAP).  Kita memohon kepada Allah agar memberikan ketabahan dalam urusan tersebut dan memberi kekuatan untuk mengikuti petunjuk.

Kita juga harus ingat, bahwa doktrin perlawanan yang memotivasi orang-orang kafir dan orang murtad adalah doktrin materi dan motif duniawi yang ditutupi dengan motivasi agama atau peradaban palsu.

Ikut-ikutan dalam hal keyakinan bukanlah satu-satunya faktor dalam masalah ini.  Hal itu hanyalah salah satu faktor yang menggerakkan mereka untuk bertempur, kemudian diikuti oleh orang-orang bodoh yang ada di sekitar mereka.

Motivasi yang menggerakkan mereka adalah kepentingan materi dan kelangsungan hidup. Mereka berjuang hanya untuk itu. Bukan sekedar kelangsungan hidup, tapi hanya ingin kelangsungan yang dapat menjamin mereka bisa hidup mewah tanpa ada gangguan.

Sementara itu sekutu dan para pendukung mereka yang melanjutkan atau mempertahankan pertempuran, akan bersekutu dengan mereka selama kepentingan bisa didapatkan. Dan kita harus menyadari itu semua dengan baik.

Maka dari itu, memperpanjang masa pertempuran dan mempersiapkan kekuatan akan sangat efektif untuk memberi pukulan telak terhadap musuh. Di samping itu, dapat menghancurkan kepentingan mereka serta mengancam sumber daya ekonomi dan kekayaan para pendukung mereka—dengan didukung informasi media yang baik sebagaimana yang terlah kami jelaskan pada pembahasan yang terpisah.

Hal tersebut tentunya menjadikan musuh akan meninggalkan kepentingannya. Kekuatan ini juga akan menyebabkan para tentaranya berpikir kembali untuk bertempur di bawah bendera para pemimpin mereka. Pertempuran  mereka tidak akan menjamin kelangsungan hidup mereka, bahkan mereka akan mati sia-sia. Maka mulai saat itu mereka mulai berpikir untuk berpindah, atau minimal mereka akan melarikan diri dan menunggu kondisinya berubah.

Oleh karena itu, kita akan mendapati orang yang sebelumnya paling benci dengan dakwah ini berubah menjadi tentara yang ikhlas dan mempertaruhkan nyawanya di jalan tersebut. Beberapa perbincangan tersebut akan kita bahas dalam artikel mendatang insya Allah.

Poinnya: Mengembangkan pertempuran dengan menggunakan strategi yang benar sangat penting, sehingga memperpanjang masa pertempuran tidak menyebabkan kita lebih banyak diserang daripada menyerang. Pada akhirnya, kita lah yang kehilangan kesabaran.

Kita tutup pembahasan ini dengan merenungi sebuah realitas yang terjadi dalam Perang Badar. Ketika kaum musyrikin Quraisy mengirim Umair Bin Wahb Al-Jumahi untuk memata-matai kaum muslimin, ia pun berkata kepada kaum Quraisy,

“Sungguh saya telah melihat jumlah mereka kurang lebih tiga ratus orang… . Hanya saja wahai kaum Quraisy, aku melihat pusara-pusara menganga yang menantikan kematian. Mereka adalah kaum yang tidak mempunyai pembela dan perlindungan kecuali pedang mereka sendiri. Demi Allah, tidak mungkin salah seorang dari mereka terbunuh kecuali di antara kalian ada yang terbunuh. Apabila jumlah kita yang tewas sama dengan jumlah mereka, kehidupan mana lagi yang lebih baik setelah itu? Pertimbangkanlah baik-baik persoalan ini!”

Ibrah dari peristiwa tersebut adalah, jika kita mampu menenanamkan perasaan tersebut pada musuh dengan tepat, atau bahkan kalau bisa lebih dari pada itu—sebagaimana yang dicontohkan oleh para salaf pada zamannya, maka dengan seperti itu insya Allah akan menjadi awal untuk menghancurkan mereka. Silahkan rujuk kembali kepada buku-buku sejarah agar lebih mendalami lagi kalimat tersebut.

Perasaan tersebut insya Allah akan menjadi awal metode kita untuk menghilangkan kesabaran mereka. Karena sungguh, pertempuran kita dengan mereka adalah pertempuran kesabaran.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Ali Imran: 200).

Walhamdulillah!

Penerjemah: Fahrudin


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Palestina

Mesir Masukkan Al-Qasam dalam Gerakan Teroris, Ribuan Warga Gaza Demo

KIBLAT.NET, Gaza – Ribuan warga Palestina di Jalur Gaza, Senin malam (02/02), menggelar demonstrasi menolak...

Selasa, 03/02/2015 08:54 0

Suriah

Mujahidin Tawan Tentara Iran di Daraa

KIBLAT.NET, Daraa – Mujahidin Suriah mengumumkan, Senin (02/02), tengah berupaya menukar seorang tentara Iran yang...

Selasa, 03/02/2015 08:15 0

Indonesia

Pemerintah Aceh Diminta Bentuk Qanun Larangan Ajaran Sesat

KIBLAT.NET, Jakarta – Forum Penyuluh Agama Islam Non PNS Kanwil Kemenag Aceh meminta Pemerintah Aceh, Majelis...

Senin, 02/02/2015 19:32 0

Amerika

Kesekian Kalinya, Gedung Putih Kesusupan Pria Tak Dikenal

KIBLAT.NET, Washington – Dinas pengamanan Presiden AS, Secret Service menangkap seorang pria karena akan memanjat pagar...

Senin, 02/02/2015 19:05 0

Yaman

Terus Menekan, Syiah Houtsi Tuntut 20 Ribu Militannya Diakui Prajurit Militer

KIBLAT.NET, Sanaa – Milisi Syiah Houtsi, Senin (02/02), menuntut 20 ribu militannya dimasukkan ke dalam...

Senin, 02/02/2015 18:44 0

Prancis

Alhamdulillah, Charlie Hebdo Berhenti Terbit

KIBLAT.NET, Paris – Majalah mingguan Charlie Hebdo, yang beberapa pekan terakhir menjadi sorotan akibat menghina Nabi Muhammad SAW,...

Senin, 02/02/2015 17:35 0

Suriah

Usir Daulah, Koalisi AS dan Milisi Kurdi Binasakan Seluruh Kota Kobani

KIBLAT.NET, Kobani – “Kenapa harus membakar sawah untuk membunuh seekor tikus?” Agaknya, perumpamaan ini cocok...

Senin, 02/02/2015 16:35 0

Inggris

Mantan Staf Bush: CIA Punya Penjara Rahasia di Inggris

KIBLAT.NET, Washington – Selama ini Inggris masih menolak berterus terang wilayahnya dijadikan tempat penyiksaan tahanan...

Senin, 02/02/2015 16:32 0

Indonesia

KontraS Nilai Hendropriyono Kuat Pengaruhi Pemerintahan Jokowi

KIBLAT.NET, Jakarta – Keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menempatkan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN)...

Senin, 02/02/2015 16:26 0

Irak

Koalisi Milisi Syiah Iraq Berubah Nama Menjadi Garda Nasional

KIBLAT.NET, Baghdad – Koalisi milisi Syiah Iraq, Al-Hasd Al-Syakbi, baru-baru ini mengubah nama menjadi pasukan...

Senin, 02/02/2015 13:40 0

Close