... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Karakter Kebenaran dan Kebatilan, dan Inilah Takdir Masing-Masing

KIBLAT.NET – Sebuah pertanyaan dilontarkan kepada tokoh pergerakan jihad asal Yordania, Abu Qatadah Al-Falistini:

Saya mencoba memosisikan diri sebagai ahli bid’ah agar saya bisa memahami cara mereka berpikir dan bagaimana mereka menggunakan akal. Namun, akal saya mental. Lantas, apa yang menyebabkan bid’ah cepat menyebar dan mudah disambut banyak orang? Ulama yang ahli ilmu usul fikih ini menjawab:

 Bid’ah itu menyebar luas di permulaan

Lalu redup di akhiran

Kebenaran itu hanya sedikit di permulaan

Lalu berkembang dan terus berkembang

Lihatlah kelompok jihad bagaimana mereka tumbuh di tengah badai sedikit demi sedikit ke Tanah Suci dengan lembutnya keasingan yang tidak lepas dari penghasutan (fitnah). Anda akan berpikir bahwa ia akan hancur diterpa badai. Hal seperti ini dijelaskan oleh Nabi saw dalam riwayat Al-Bukhari di Shahihnya dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi, saw bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الْخَامَةِ مِنَ الزَّرْعِ مِنْ حَيْثُ أَتَتْهَا الرِّيحُ كَفَأَتْهَا، فَإِذَا اعْتَدَلَتْ تَكَفَّأُ بِالْبَلاءِ، وَالْفَاجِرُ كَالأرْزَةِ صَمَّاءَ مُعْتَدِلَةً حَتَّى يَقْصِمَهَا اللَّهُ إِذَا شَاءَ

“Permisalan seorang mukmin seperti dahan di suatu pohon yang dapat bengkok ketika tertiup angin dan apabila tertimpa musibah dia akan tetap tegak lurus, sedangkan permisalan orang fajir ibarat tanaman padi yang senantiasa tegak sehingga Allah akan merobohkannya kapan saja Dia kehendaki.”

Diriwayatkan Muslim dalam Shahihnya dari Ka’b bin Malik ra bahwa Nabi SAW bersabda, “Permisalan seorang mukmin seperti dahan di suatu pohon, terkadang angin menjadikannya bengkok dan terkadang berdiri, lurus. Permisalan orang kafir seperti tanaman padi yang berdiri lurus dari akarnya. Tidak tahan oleh suatu guncangan, hingga sekali jatuh, ia akan langsung roboh.”

Kebenaran tumbuh berlahan-lahan. Ini adalah pertolongan Allah. Perbedaan keduanya bahwa bid’ah dan keburukan menarik bagi anak kecil dan pengikut hawa nafsu. Ketertarikan seperti ini adalah watak dasar manusia, seperti ditetapkan oleh Al-Qur’an:

“Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (Hud: 17)

Allah juga berfirman, “Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf: 40).

“Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Quran). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar: akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).” (Ar-Ra’d: 1).

BACA JUGA  Update Corona: 1.414 Kasus, 75 Sembuh, 122 Meninggal

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Qashash: 50).

Ketika kesesatan dan keburukan muncul, mereka langsung menyambutnya tanpa berpikir lagi. Adapun kebenaran, maka ini berat. Nabi saw menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun diundang kepadanya kecuali menahan diri dulu untuk menyambutnya. Kecuali Abu Bakar ra. Ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abdullah Al-Hushain At-Tamimi bahwa Rasulullah bersabda:

ما دعوت أحدا إلى الإسلام إلا كانت عنده كبوة و تردد و نظر، إلا أبا بكر ما عكم عنه حين دعوته، و لا تردد فيه

“Tidaklah aku menyeru seorang pun kepada Islam melainkan ia akan menahan diri, ragu-ragu dan berpikir lebih dulu, kecuali Abu Bakar. Ia tidak berdiam diri terlalu lama dan tidak juga ragu-ragu.”

Karena itulah, wajar bila kebenaran berjalan lambat di antara manusia. Kemudian, kalau kebenaran tegak di awal dakwah manusia tidak akan mengetahui apa itu pertolongan Allah. Tidak akan berlaku hukum ujian. Dan kebenaran tidak akan sesuai dengan takdirnya yang dipenuhi dengan pertolongan ilahi. Itulah yang dinamakan kondisi sunatullah  untuk kelangsungan, pertumbuhan dan perkembangan.

Perbedaan tersebut bisa diperhatikan dari jalan para nabi dan karakter pertolongan dan kemenangan misi mereka. Hal ini juga bisa dilihat dari bangunan ahli bid’ah yang berdiri cepat bagai banteng menyeruduk, lalu surut. Bila Anda berpikir, Anda pasti melihat bahwa ini ujian dari Allah bagi manusia. Sebab dengan mudahnya penerimaan bid’ah dalam bentuk apa pun, maka ini ujian bagi ahli ilmu dan manusia secara umum. Orang yang berilmu tidak akan terpengaruh dan terfitnah bahkan ketika bid’ah itu mencapai puncak gelombangnya. Sedangkan masyarakat umum dan bertanya-tanya dan masuk ke dalam keraguan. Orang yang dikehendaki oleh Allah jauh dari mereka, ia akan selamat.

Hal itu juga berlaku pada kebenaran. Pada permulaan, kebenaran tidaklah diterima kecuali orang yang memiliki ilmu dan daya pandang, serta orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah.

Dengan itu, mereka mendapatkan keutamaan “lebih dahulu” yang merealisasikan keridhaan ilahi yang paling agung.

Bila Anda menerapkan hal itu pada realitas kita hari ini, Anda akan melihat bahwa kelompok jihad  itu tegak dalam segelintir orang saja. Kemudian, tidak ada yang bergabung kecuali orang yang berhasil keluar dari pengaruh ulama yang buruk. Mereka mengalami ujian berat, dan memberikan pengorbanan terbesar, pada saat jumlah mereka sedikit, pada zaman yang penuh ujian besar.

BACA JUGA  Karantina Wilayah: Perlu tapi Pemerintah Belum Siap

Pada setiap tahapan, orang mengira mereka telah habis dan lenyap. Namun mereka tetap tumbuh, berkembang biak, menyebar dan disambut oleh masyarakat (meskipun berlahan).

Bid’ah para permulaan besar membuat orang tergiur kepadanya. Ada hawa nafsu dan godaan yang menyilaukan mata anak-anak. Namun setelah itu akan meredup dan lenyap.

Saya bertanya-tanya mengapa Islam justru menyebar luas selama Perang Salib sampai masuk ke Eropa. Bukankah inilah karakter kebenaran yang tetap maju dan tumbuh bahkan ketika menjadi target dan sasaran musuh?

Bila Anda mengamati kelompok jihad, Anda akan mengetahui rahasia ini. Dan juga ketika manusia menyambut kebenaran itu, bid’ah datang untuk merusak barisan dan memusnahkannya, agar manusia melihat makna ujian bahkan saat mereka tumbuh. Inilah karakter Islam pada zaman Nabi saw.

Bila Anda merenungkan keadaan orang-orang munafik pada zaman Nabi saw, Anda akan kagum bagaimana mereka orang-orang kafir melihat banyak pertolongan namun tidak beriman!!!

Jawabannya: karena dalam setiap ujian yang dialami umat Islam, mereka mengira bahwa itulah akhir Islam. Bahkan setelah Mekkah ditaklukkan.

Banyak orang yang dekat dengan saya heran ketika saya mengatakan bahwa saya melihat penaklukan Baitul Maqdis tidak lama lagi.

Mereka berkata, “Bagaimana dengan banyaknya fitnah hari ini? Bagaimana engkau berpikir seperti itu pada saat banyak ujian seperti ini?”

Jawaban saya tetap saja sampai hari ini: Tidak ada pertolongan tanpa ujian yang menyertainya.  Inilah karakter dan keistimewaan Islam. Demi Allah, dalam beberapa kesempatan, saya heran bagaimana saudara-saudara kita berjihad di negeri Syam diuji dengan banyak musibah dan fitnah dari segala penjuru; dari dalam dan luar. Maka saya tidak menemukan jawaban kecuali bahwa Allah menghendaki kemenangan untuk agama ini. Tanda-tandanya sudah datang dengan izin Allah.

Bid’ah itu tumbuh besar di permulaan, lalu mati. Kebenaran tumbuh kecil di permulaan lalu berkembang besar, untuk merealisasikan firman Allah:

وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur..”(Al-Anfal: 26).

Diterjemahkan: Agus Abdullah

Source: http://justpaste.it/j6pt
Penanya adalah Abu Mahmud Al-Falistini.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Video ISIS Tampilkan Pemenggalan Sandera Jepang Kenji Goto

KIBLAT.NET – Sebuah video dirilis pada hari Sabtu, 31 Januari 2015, yang dimaksudkan untuk menunjukkan...

Ahad, 01/02/2015 08:37 0

Amerika

Masjid Khusus Perempuan di Amerika, Ini Komentar Netizen

KIBLAT.NET – Lebih dari seratus wanita, Jumat 30 Januari 2015, berkumpul di interfaith Pico-Union Project...

Ahad, 01/02/2015 08:08 0

Lebanon

Nasrallah Ancam Mundur Bila Iran Tidak Segera Kirim Bantuan Keuangan

KIBLAT.NET – Sekretaris Jenderal Hizbullah Hassan Nasrallah mengirim pesan kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei,...

Ahad, 01/02/2015 06:53 0

Lebanon

Iran Ingin Hubungannya dengan Arab Saudi Berjalan Baik

KIBLAT.NET, Beirut – Salah seorang pejabat Iran mengatakan pada Jumat, (30/01) bahwa negaranya menginginkan hubungan baik...

Sabtu, 31/01/2015 20:27 0

Yaman

Partai Ali Abdullah Saleh Turut Gabung Pertemuan Syiah Houtsi

KIBLAT.NET, Sanaa – Pemberontak Syiah Houtsi menggelar pertemuan yang mereka klaim dilakukan untuk mengakhiri krisis...

Sabtu, 31/01/2015 20:04 0

Analisis

Pudarnya Imperium AS (4/4): Tanda-tanda Imperium Amerika Serikat Akan Runtuh

Layaknya sebuah sistem, imperium juga mengalami siklus hidup. Mulai dari benih, hingga masa gugur atau...

Sabtu, 31/01/2015 20:00 0

Indonesia

Azwar Laporkan Mantan KaBIN Hendropriyono Terkait Kasus Talangsari

KIBLAT.NET, Jakarta – Azwar, salah seorang korban pelanggaran HAM saat insiden Talangsari, Lampung melaporkan Mantan Kepala...

Sabtu, 31/01/2015 17:02 0

Tarbiyah Jihadiyah

Serial Tazkiyatun Nafs Mujahid (7/7): Nasehat Syaikh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah

Nasihat-nasihat yang terurai dari Syaikh DR. Muhammad Bin Faishal Al-Ahdal ditujukan kepada semua harakah-harakah jihad...

Sabtu, 31/01/2015 16:00 0

Indonesia

Duh, Akun Facebook Jokowi Tipu Media Sekelas Time

KIBLAT.NET, Jakarta – Selama ini, masyarakat du dalam dan luar negeri banyak yang mengira bahwa akun...

Sabtu, 31/01/2015 15:09 0

Indonesia

MUI Jatim Kembali Menghimbau Umat Islam Tak Usah Ikuti Valentine Day

KIBLAT.NET, Surabaya – Sekretaris MUI Jawa Timur, Muhammad Yunus menghimbau kembali agar umat Islam tidak...

Sabtu, 31/01/2015 14:12 0

Close