... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Pudarnya Imperium AS (4/4): Tanda-tanda Imperium Amerika Serikat Akan Runtuh

Foto: Ilustrasi jatuhnya imperium AS

Layaknya sebuah sistem, imperium juga mengalami siklus hidup. Mulai dari benih, hingga masa gugur atau mati. Johan Galtung dalam “On the Coming Decline and Fall of the US Empire” menjelaskan bahwa Imperium Inggris lah yang telah menabur benih bagi imperium Amerika Serikat. Kemampuan imperium mereka diasah dengan uji coba penduduk pribumi, kemudian mulai menjangkau wilayah luar negeri. Pendekatan yang digunakan untuk menjalankan imperium ini dengan intervensi militer, mendefinisikan zona kepentingan dengan mengambil alih imperium Spanyol, setelah itu menancapkan hegemoni mereka kepada dunia.

Menurutnya, sekarang ini Amerika Serikat sedang mengalami fase penuaan, dengan beban tugas pengendalian yang melimpah. Galtung tidak fokus kepada satu keputusan bahwa imperium Amerika Serikat akan jatuh. Namun, lebih kepada beberapa pertanyaan yang melandasi proses keruntuhan yang sedang dialami Amerika Serikat, yaitu:

Apa:  pola  pertukaran  yang  tidak  adil  dari keempat  dimensi  kekuasaan  (ekonomi, politik, militer, dan budaya); Mengapa:  mereka  telah  menyebabkan penderitaan, kebencian, dan perlawanan yang tidak mampu ditahan lagi; Bagaimana:  melalui  sinergi  dari  berbagai kontradiksi yang telah mematang, yang diikuti dengan  demoralisasi  yang  dialami  oleh kelompok elit imperium;  Kapan:  dalam  prediksi  Galtung,  sekitar  dua puluh tahun dari tahun 2000. Di  mana:  tergantung  pada  tingkat kematangan  kontradiksi.  Imperium, sebagaimana  organisme  lain,  retak  melalui titik kelemahannya; Oleh  siapa:  para  imperialis  yang  mengalami demoralisasi, korban yang menderita, mereka yang  setia  kawan,  dan  mereka  yang memerangi  imperium Amerika  Serikat  untuk menegakkan imperium mereka sendiri. Melawan  siapa:  pihak  yang mengeksploitasi/ pembunuh/ pengontrol/ progamer, dan  siapa pun  yang  mendukung  imperium  Amerika Serikat demi mendapatkan keuntungan.

 

Pusat imperium (Subjek) memberikan cengkeraman rangkap empat terhadap pihak Perifer (Objek). Keempat elemen terkait dan saling mendukung totalitas imperium yang dihadirkan. Kekuatan ekonomi diwujudkan dengan sistem kapitalisme internasional, kekuatan militer dengan militerisme internasional, kekuatan politik dengan hegemoni internasional, serta kekuatan budaya dengan misionarisme internasional.

Untitled-1

Seiring berjalannya waktu, keempat elemen ini ternyata menimbulkan sebuah kontradiksi dan kontraproduktif. Hiperkapitalisme hanya bertumpu pada Perifer dan merusak alam, intervensi militer melahirkan perlawanan, hegemoni menyulut kerinduan otonomi untuk berkuasa di rumah sendiri, sedangkan misionarisme dengan eksepsionalisme –dengan hak untuk membunuh—merangsang bangkitnya identitas lama atau munculnya identitas baru. Maka, di sinilah imperium mengalami penurunan.

Pada tahun 2000, Galtung ternyata memprediksi keruntuhan imperium Amerika Serikat. “Prediksi  ini  dibuat  pada  tahun  2000,  dan waktu  itu  saya  katakan  25  tahun.  Tapi  saat George  W.  Bush  terpilih  menjadi  presiden, bersama  dengan  fundamentalisme  dan  visi sempitnya,  saya  memotongnya  lima  tahun, karena  saya  melihatnya  sebagai  akselerator, yang  ia  lakukan  dengan  melancarkan  tiga perang: perang melawan  terorisme, perang di Afghanistan,  dan  perang  di  Irak.  Dan  semua itu  terjadi  setelah  AS  tidak  bisa  menang  di Korea pada tahun 1953, dan kalah pada tahun 1975  di  Vietnam.  Dengan  kata  lain,  kita  saat ini  melakukan  perang  besar  yang  kelima.”[1]

Kondisi  ini  khas  dengan  tanda  keruntuhan sebuah  imperium.  Galtung  menyimpulkan perhitungan  tersebut  berdasarkan  studi komparatif dari berbagai imperium yang telah runtuh.  Dalam kesimpulannya,  imperium bertahan selama 110-112 tahun.  Imperium AS bermula  pada  tahun  1898,  sejak  keruntuhan imperium  Spanyol,  yang  jika  ditambahkan pada  fenomena  usia  sebuah  imperium, maka Galtung  menyimpulkan  tahun  2020  sebagai masa keruntuhan imperium AS.

Kesimpulan  tersebut  dikuatkan  oleh berbagai  pelanggaran  kekuasaan  empat dimensi,  yaitu  ekonomi,  militer,  politik,  dan kultural.  “Jika  Anda  mencoba  untuk mendominasi  dunia  secara  ekonomi, militer, politik,  dan  kultural  pada  saat  yang bersamaan,  dan  keempatnya  saling mendukung  satu  sama  lain, maka  semua  itu tidak  akan berlangsung  lama. Dan  inilah  fase yang kita alami saat ini.”[2]

Prediksi  Galtung  didasarkan  pada  14 kontradiksi  yang  terjadi  pada  AS  saat  itu. Kontradiksi  adalah  sebuah  konflik  yang sangat  dalam  yang  membutuhkan dilakukannya  perubahan  sistem  untuk mengatasinya.  Imperium  jatuh  dan  runtuh saat kontradiksi semakin mematang.

1. Kontradiksi Ekonomi

  • Antara pertumbuhan dan distribusi.

Terjadi  lingkaran  setan,  dengan terjadinya  overproduksi  yang membawa  kepada  pengangguran  yang membawa  kepada  menurunnya permintaan  dan  kelebihan  pasokan yang  menyebabkan  lebih  banyak pengangguran.

Imperium  AS  memotong  diri  sendiri dengan mengejar pertumbuhan namun mengabaikan,  bahkan  mencegah, distribusi  yang  bisa  meningkatkan permintaan dengan meningkatkan daya beli  masyarakat  bawah,  yang jumlahnya  sekitar  50%  atau  lebih  dari masyarakat.

  • Antara ekonomi  riil  dan  ekonomi keuangan (mata uang, saham, obligasi).

Ketika  perputaran  pasar  keuangan domestik  dan  global  tinggi,  sedangkan pertumbuhan  ekonomi  riil  lamban dan distribusi  rendah,  akan  terjadi akumulasi  likuiditas  yang  tinggi  yang berusaha  mencari  outlet.  Outlet  pada ekonomi keuangan adalah spekulasi.

Ekonomi  produktif  meresponnya dengan  membuat  perusahaan  virtual seperti ENRON dan WORLDCOM yang membuat  pertumbuhan  ekonomi keuangan  dengan  cepat  kehilangan sinkronisasi  dengan  pertumbuhan ekonomi  produktif.

Ilustrasi kehancuran ekonomi

Ilustrasi kehancuran ekonomi

Depresiasi  nilai dollar  menjadi  salah  satu  indikasi penyakit kronis tersebut.  Obat  bagi  penyakit  tersebut  adalah pendistribusian  sistem yang  selama  ini dihalangi  oleh  imperium  AS,  melalui Bank Dunia, IMF, dan WTO. Ketiadaan obat  akan  menghasilkan  peningkatan nilai  produk-produk  keuangan  dan akhirnya menimbulkan crash baru.

  • Antara produksi-distribusi-konsumsi dan alam.

Keluarnya  AS  secara  sepihak  dari Protokol  Kyoto[3] semakin menajamkan kontradiksi  ini.  Protokol  tersebut dianggap  akan  menghalangi pertumbuhan ekonomi AS. Protokol ini tidak  bisa  diterima  oleh  perusahaan-perusahaan  raksasa.  Langkah  yang diambil  AS  ini  akan  membahayakan bumi  dan  menunjukkan  eksprersi menjijikkan dari sebuah rezim global.

2. Kontradiksi Militer

  • Antara terorisme  negara  yang dilakukan AS dan terorisme.

Kontradiksi ini semakin terang pasca 11 September  2001,  meski  jumlah  yang terbunuh dalam peristiwa tersebut jauh lebih  sedikit  dibanding  pembunuhan yang dilakukan sebagai respon atasnya. AS  saat  ini  melakukan  intervensi  di lebih  dari  60  negara,  sebuah  langkah yang  justru  akan  semakin memperparah kontradiksi.

AS  melakukan  psikologi  polarisasi dengan  menilai  teman  berdasarkan tujuan sah mereka, dan menilai musuh berdasarkan  sarana  tidak  sah  yang mereka  pakai.  Jadi  terorisme  negara dianggap bisa diterima karena memiliki tujuan yang sah, yaitu untuk kekalahan terorisme.  Sementara  terorisme  yang dilakukan  oleh  Muslim  dicela  karena menggunakan  sarana  yang  tidak  sah, yaitu  tindakan membunuh  orang  yang tidak bersalah.

BACA JUGA  Dari Piagam Jakarta ke Pancasila: Jalan Panjang Dasar Negara (Bag. 1)

Perang  melawan  terorisme  secara  de facto  adalah  perang  melawan  Islam. Perang  Irak,  Perang  Afghanistan menunjukkan  hal  itu,  dan  semuanya tidak bisa dimenangkan. Antara AS dan sekutunya Imperium AS tidak ingin dilihat sebagai imperium,  tetapi  mereka  memandang diri  mereka  sebagai  sebuah  kekuatan yang didukung oleh negara “maju” dan “beradab”  melawan  kelompok  “jahat”, “pengacau”, dan “teroris”.

Kontradiksi  ini  nampak  semakin  jelas dalam  perang  Irak  tahun  2003. Washington  melakukan  kesepakatan dengan  pemerintah  sekutu  untuk melakukan  aliansi  dan  tidak  peduli dengan  opini  publik  setempat. Penggunaan  kekuatan,  bujukan, tawaran  dan  ancaman  dilakukan  di belakang  pintu  agar  tidak  terekspos oleh  publik.  Jika publik  tahu  apa  yang terjadi  di  belakang  pintu,  maka perlawanan akan meningkat. Tren  penentangan  terhadap  dukungan tanpa  syarat kepada  imperium AS  saat ini  semakin  tumbuh,  dan  kontradiksi ini akan semakin tajam jika masyarakat memberikan  tekanan  yang  lebih  pada pemerintah.

  • Antara hegemoni  US  Eurasia  dan Rusia-India-Cina

Terhadap  beberapa  negara  yang  AS tidak  mampu  secara  total menaklukkannya,  AS  melakukan pendekatan  kepada  mereka  melalui ketakutan  mereka  terhadap  populasi Muslim.  Chechnya,  Kashmir  dan Xinjiang  adalah  contohnya.

Setelah ekspansi  NATO  ke  wilayah  timur  dan ekspansi  yang  dilakukan  oleh  aliansi AS-Jepang  ke  wilayah  Barat  sejak tahun  1995,  ketiga  negara  tersebut (Rusia-India-China)  berusaha  semakin mempererat  hubungan  diantara mereka,  meski  bukan  dalam  bentuk aliansi  formal.

Namun,  gerakan tersebut  berusaha  dihentikan  oleh  AS dengan mengajak mereka dalam perang melawan  terorisme  Islam,  yang  pada hakikatnya  adalah  perjuangan  yang dilakukan  oleh  umat  Islam  untuk kemerdekaan  di  ketiga  wilayah tersebut.

  • Antara tentara  pimpinan  Amerika Serikat-NATO  dan  tentara  pimpinan Uni Eropa.

Ketika  negara-negara  Uni  Eropa  gagal untuk  mendukung  AS,  mereka  akan menjadi  korban  dari  logika  ganda  AS: “karena  mereka  tidak  sepenuhnya bersama  kami,  maka  berarti  mereka melawan kami.” Langkah  ini  akan  membawa  beberapa anggota  Uni  Eropa  kepada  sebuah kesatuan  yang  tidak  berada  dalam rantai  komando  dari  Washington, kecuali  sekadar  dalam  pertukaran informasi.

Ekspansi militer AS ke Iraq

Ekspansi militer AS ke Iraq

3. Kontradiksi Politik

  • Antara Amerika Serikat dan PBB.

USA  paling  sering  menggunakan  hak veto  di Dewan  Keamanan  dan mereka juga melakukan veto ekonomi secara de facto  dengan  menahan  atau  menarik dukungan terhadap program yang tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Pengaruh ekonomi AS terhadap banyak anggota PBB, seperti mengubah tingkat bunga  hutang,  akan  dilakukan berdasarkan pola voting. Terhadap  resolusi  Persatuan  untuk Perdamaian  yang  stagnan  di  Dewan Keamanan  PBB,  AS  melakukan pemblokiran  terhadap  usaha mengangkatnya ke Majelis Umum.

  • Antara Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Jika  Uni  Eropa  secara  bertahap membuka kerjasama dengan Rusia dan Turki, Uni Eropa akan tumbuh menjadi 750  juta  jiwa.  Kondisi  ini  akan membawa  pada  pergeseran  dari pembebanan  sepihak  kepada  negosiasi multilateral, dan dari perdebatan untuk mendominasi menuju dialog.

4. Kontradiksi Budaya

  • Antara Yahudi-Kristen AS dan Islam.

Islam  berkembang  dengan  cepat, Kristen  tidak.  Terdapat  aliansi fundamentalis  Kristen-Zionis berdasarkan  pada  gagasan  bahwa Armageddon  sudah  dekat,  dan  bahwa kedatangan  pertama  Mesiah  dan kedatangan  kedua  Kristus  bisa  jadi adalah orang yang sama. AS  menyimpulkan  dari  Yudaisme tentang  “Orang  Terpilih”,  “Tanah  yang Dijanjikan”,  dengan  membawa  sense eksepsionalisme  pada  Israel-AS.

Mereka menganggap diri berada di atas hukum, memiliki hak pembenaran diri, dan  tidak  memegang  larangan  untuk melakukan  tindakan  kebrutalan  dalam peperangan  dengan  alasan  keamanan mereka.

  • Antara AS dan peradaban tertua.

Mulai  terjadi  kebangkitan  di  seluruh dunia,  dengan  budaya  kuno  melihat diri  mereka  sendiri  bukan  sebagai budaya  museum  eksotis  yang  hanya untuk  diamati.  Penghancuran  artefak dari  Sumer-Babilonia  di  Irak dipandang  sebagai  upaya  untuk mengendalikan  Irak  dengan menghancurkan fokus identifikasi.

  • Antara AS dan budaya elit Eropa.

Barat  melihat  dunia  dengan  empat pusat  geo-budaya;  Amerika  Serikat, Inggris, Perancis dan Jerman, yang lain hanya boleh meniru.

5. Kontradiksi Sosial

  • Antara kelompok  elit  negara-perusahaan  dan  kelas  pengangguran dan pekerja kontrak.

Pekerja  berusaha  dibuat  untuk  tetap berada  di  atas  jalur  melalui  ancaman pengangguran  dan melalui  inferioritas pekerjaan Elit  negara-korporasi  terorganisir  dengan  lebih baik,  mereka  membuat  diri  mereka tidak  mampu  digantikan, mempekerjakan  dan  memecat  dari posisi  aman mereka,  dengan  ancaman utama  outsourcing  dan  otomatisasi untuk menyelesaikan masalah.

Sebuah  masyarakat  postmodern  bisa melakukan  pekerjaan  dengan  lebih sedikit  pekerja,  namun  tidak  dengan lebih  sedikit  pelanggan.  Memecat pekerja  mengurangi  daya  beli  mereka dan  secara  tidak  langsung  memecat pelanggan.  Kelompok  kelas  menengah di  dunia  dapat menekan  imperium AS melalui  pemboikotan  produk-produk seperti  minyak  dari  Irak,  pesawat Boeing, dan barang-barang AS.

  • Antara generasi tua dan muda, pria dan wanita.

Mahasiswa  bangkit  melawan  perang Vietnam.  Siswa  SMA  saat  ini  dengan mudah  mendapatkan  pencerahan melalui  informasi  di  internet.  Mereka juga  bisa  dimobilisasi melalui  internet dan  telepon  seluler.

Dengan menyebut penindasan  kebebasan  sipil  yang dilakukan atas nama “keamanan dalam negeri”,  mampu  membawa  wanita masuk  ke  dalam  jajaran  pembela rumah  dan  keluarga.  Chicanos, Hispanik,  Afrika-Amerika  dapat mencapai  status mayoritas  pada  tahun 2042.  Aliansi  ini  bisa  mengalahkan struktur  komando  yang menguasai  AS saat ini.

  • Antara mitos dan realitas.

Mimpi  orang Amerika hanya  ada pada kebanggaan  dengan  beban  utang  yang menggunung  untuk  generasi berikutnya.  Ini  lebih  merupakan ancaman  daripada  janji.  Mimpi  orang Amerika  yang  terkoyak  secara individual  juga  akan mengoyak Mimpi Amerika.

Impian  kebebasan  hak  asasi manusia  terkikis  oleh  Patriot  Act  dan kebijakan  lainnya  pasca  9/11.  Alasan utama  tidak  dilakukannya  serangan terhadap  Amerika  Serikat  setelah  9/11 mungkin  saja  disebabkan  oleh kenyataan  bahwa  AS  jauh  lebih mampu  untuk  menghancurkan dirinya sendiri daripada serangan teror dari luar.

Momen yang digunakan AS untuk meluaskan imperiumnya. Tapi ternyata ini justru menjadi senjata makan tuan.

Momen yang digunakan AS untuk meluaskan imperiumnya. Tapi ternyata ini justru menjadi senjata makan tuan.

Saat  kontradiksi  di  atas  semakin mematang,  sinkron,  dan  bersinergi,  Pusat imperium  mungkin  akan  mulai mengendorkan  cengkeraman  pada  Perifer dalam  sebuah  tindakan  yang  disengaja,  atau jika  tidak  mereka  akan  mengalami keruntuhan, baik secara  lambat, sebagaimana yang  terjadi  pada  Inggris,  maupun  secara cepat,  sebagaimana  yang  terjadi  pada  Uni Soviet.

BACA JUGA  Hukum Menambahkan Lafadz "Sayyidina" Saat Tasyahhud, Shalawat dan Adzan

Selain  itu,  keruntuhan  sebuah  imperium juga  terjadi  saat  kelompok  elit  mulai kehilangan  kontrol  atas  masyarakat  karena mereka  mengalami  demoralisasi.  Ibnu Khaldun  pada  akhir  tahun  1300-an menjelaskan  tentang  tahapan  demoralisasi yang terjadi pada kelompok elit.

  • Mereka mendapatkannya  melalui pencapaian  yang  hebat  dan  dengan dukungan  dari  masyarakat  seseorang menjadi seorang pemimpin.
  • Pemimpin mulai  mengejar  kemudahan dan kemewahan.
  • Pemimpin memonopoli  kejayaan  dengan melakukan  marjinalisasi  terhadap  para pendukung aslinya. Ia membeli mereka.
  • Dia melakukan  ekspansi  kekuasaan melalui penguatan orang-orang yang bisa dia kontrol (yes men)
  • Sebuah dinasti  keluarga  berkembang dengan  akumulasi  kekuasaan  dan kekuatan.
  • Pada generasi  ketiga,  penguasa  menjadi tak  bermoral,  lupa  terhadap  syarat  yang dibutuhkan  oleh    Biaya kesenangan,  serta biaya  yang dibutuhkan untuk membeli  kehormatan  dan  loyalitas yang  tidak  bisa  lagi  ia  inspirasi melonjak di luar kemampuan yang mampu ia bayar.
  • Menaikkan pajak,  tapi  pihak  yang  paling ditekan  justru  adalah  pihak  yang  paling sedikit mendapatkan timbal balik.
  • Melakukan metode  tidak  reguler  untuk meningkatkan    Melakukan pemerasan barang dan jasa, namun justru membuat  segalanya menjadi  lebih  buruk dengan mengacaukan aktivitas ekonomi.
  • Para tentara  tidak  dibayar,  wilayah-wilayah  yang  terpencil  mulai mengembangkan  otonominya,  dan  para pejabat  yang  disukai  masyarakat  mulai merenggut otoritas kerajaan.
  • Korupsi terjadi  di  luar  lingkaran  istana hingga  sampai  pada  kebanyakan masyarakat,  yang mulai  bergantung  pada pemerintah  dan  diperbudak  oleh keinginan-keinginan  yang  tidak diperlukan  yang  bisa  membuat  mereka lupa  akan  agama, moralitas,  dan  bahkan kesusilaan.
  • Usaha reformasi paling banter hanya akan menunda hal yang tak terhindarkan.
  • Kondisi yang belum mapan dan kelebihan penduduk akan membawa pada kelaparan dan wabah, dan  pada  akhirnya membuat dinasti runtuh dari kekuasaannya.

Dengan  berbagai  kontradiksi  tersebut, diiringi  dengan  demoralisasi  yang  terjadi  di kalangan elit, Galtung memprediksi terjadinya penurunan  AS  secara  gradual  yang  berujung keruntuhan  pada  tahun  2020.  Semakin  kuat sebuah  imperium,  semakin  cepat  ia meningkatkan  kontradiksinya, maka  semakin tinggi kekacauan  internal, dan semakin dekat ia pada keruntuhan. Ini adalah sebuah hukum yang disimpulkan oleh Galtung  dari analisis perbandingan  10  imperium  yang  diawali dengan imperium Romawi.[4]

Amerika Serikat Menghancurkan Diri Sendiri

AS  kini  bertindak  bak  gajah  yang  terluka, memukul  dan  mengibas  ke  segala  arah. Mereka mengalami tahapan demoralisasi yang semakin  mendidih,  dengan  emosi mengalahkan pikiran rasional. Sejak  awal berdirinya,  AS  sudah  banyak  melakukan perbudakan terhadap orang-orang yang dicuri dari  Afrika,  pembantaian  terhadap  warga pribumi,  hingga  pencurian  terhadap  separuh wilayah  Mexico,  perang  untuk  melakukan penjajahan  dan  agresi  di  seluruh  dunia,  dan berbagai  kejahatan  dan  kekejaman  lain  yang tak terhitung. Kondisi  tersebut  semakin  nyata  setelah terkuaknya  penyiksaan  yang  selama  ini dilakukan  oleh  AS.

Dalam sebuah bentuk yang mereka namakan  sebagai “War on Terror” yang diluncurkan AS pasca  9/11. Pada  kenyataannya, ini merupakan  perang  untuk  memperluas imperium. Dengan doktrin “preemptive war”, AS  membekali  diri  dengan  hak  untuk menyerang  negara  manapun  di  dunia  atau melakukan pembunuhan dan tindakan militer lainnya. Tindakan ini dilakukan  secara  sepihak di belahan bumi mana saja yang mereka kehendaki.  Hanya  berdasarkan  pernyataan  bahwa seseorang,  beberapa  kelompok,  atau pemerintah  mungkin  akan  merugikan kepentingan  AS  di  masa  depan, maka mereka wajib diperangi.  Hal  ini dilakukan di bawah papan nama “melindungi kehidupan warga Amerika”—meski perang ini sejatinya  bukan  tentang  melindungi keselamatan  rakyat  Amerika  Serikat,  dan tentu  saja  bukan  tentang  melindungi masyarakat dunia.

Obama  terus-menerus  mengejar kepentingan  imperialis  AS  dengan mengabaikan  hukum  internasional  dan kehidupan masyarakat. Di bawah Obama, AS telah membunuh ribuan orang dengan drone, melakukan  perang  kekerasan  di  seluruh dunia, hingga memata-matai orang dan aparat kepolisian  negara  demi  memenuhi kepentingan perut binatang imperialis.[5]

Sebagaimana yang diungkapkan George W. Bush,  “You  are  either  with  us  or  against us”. Semua  negara  kini  hanya  dihadapkan pada  dua  pilihan: mereka menerima  doktrin neo  kolonial  Barat  atau  mereka  akan dihancurkan,  sebagaimana  Irak, Afghanistan, Libya, dan Suriah.

Tidak  ada  logika  yang  bisa  membantu, tidak  ada  negosiasi,  tidak  ada  mediasi internasional  dari  PBB.  Keinginan  untuk berkompromi  diperolok.  Seruan  akan  rasa kemanusiaan  tidak  mampu  menggoyahkan imperium sedikit pun.

Sangat jelas, bahwa imperium AS kini telah menyiapkan  serangan  pamungkas.  Mereka akan  menyerang,  menghancurkan,  dan memusnahkan.  Mengapa  semua  itu  terjadi?

Bom Nagasaki oleh AS sebagai alat penghancuran

Bom Nagasaki oleh AS sebagai alat penghancuran

Jawabannya  sangat  jelas:  untuk  pertama kalinya  rasa  muak  akan  imperium  AS  mulai menyebar dan mendunia. Banyak orang yang sudah  mulai  sembuh  dari  kebutaan.  Topeng kebajikan dan rasionalitas telah terkoyak oleh media-media  independen.  Topeng  itu  telah jatuh, yang menampakkan wajah mengerikan, haus  darah,  dan  rakus  dari  sebuah monster.

Mereka tahu bahwa ini adalah awal dari akhir mereka.  Karenanya, mereka  akan melakukan perang  pamungkas.  Bagi  imperialis, perdamaian  hanya  punya  satu  makna: kekuasaan  tanpa  perlawanan  di muka  bumi. Jika  seseorang  berperang  membela  diri,  ia adalah teroris dan bandit.

Semua  imperium  pada  akhirnya  runtuh: Akkad,  Sumeria,  Babilonia,  Niniwe,  Asyur, Persia, Macedonia,  Yunani,  Carthage,  Roma, Mali,  Songhai,  Mongol,  Tokugawa,  Gupta, Khmer,  Hapbsburg,  Inca,  Aztec,  Spanyol, Belanda,  Turki  Utsmani,  Austria ,  Perancis, Inggris,  Uni  Soviet.

Sebagian  besar  mereka runtuh dalam hitungan satu hingga dua ratus tahun.  Alasannya  tidak  begitu  rumit.  Sebuah imperium  adalah  semacam  sistem  negara yang  secara  tak  terhindarkan  membuat kesalahan  yang  sama  hanya  dengan  sifat struktur  imperialias  mereka.  Mereka  gagal karena  ukuran,  kompleksitas,  jangkauan wilayah,  stratifikasi,  heterogenitas,  dominasi, hirarki, dan ketidaksetaraan.

Sangat ironis, hanya satu dekade atau lebih setelah  ide Amerika Serikat  sebagai kekuatan imperium  muncul  dan  diterima,  dan  orang-orang  mulai  dapat  berbicara  secara  terbuka mengenai    imperium  Amerika,  yang  terjadi justru  menunjukkan  beberapa  tanda-tanda ketidakmampuannya  untuk  terus  berlanjut dan bahkan spekulasi mulai muncul mengenai keruntuhannya.

Sumber: Lapsus Syamina XVI “Pudarnya Hegemoni Imperium Amerika Serikat”

Footnote:

[1] http://www.democracynow.org/2010/6/7/johan_galtung_on_the_fall_of

[2] Idem

[3] Protokol Kyoto adalah sebuah perjanjian internasional yang dimaksudkan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh industri dunia, yang harus dicapai pada tahun 2012

[4] Galtung, Johan (2009). “The Fall of the US Empire – and Then What?”, hal 167-221

[5] http://revcom.us/a/348/rendition-torture-and-the-values-of-the-US-empire-en.html

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Azwar Laporkan Mantan KaBIN Hendropriyono Terkait Kasus Talangsari

KIBLAT.NET, Jakarta – Azwar, salah seorang korban pelanggaran HAM saat insiden Talangsari, Lampung melaporkan Mantan Kepala...

Sabtu, 31/01/2015 17:02 0

Tarbiyah Jihadiyah

Serial Tazkiyatun Nafs Mujahid (7/7): Nasehat Syaikh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah

Nasihat-nasihat yang terurai dari Syaikh DR. Muhammad Bin Faishal Al-Ahdal ditujukan kepada semua harakah-harakah jihad...

Sabtu, 31/01/2015 16:00 0

Indonesia

Duh, Akun Facebook Jokowi Tipu Media Sekelas Time

KIBLAT.NET, Jakarta – Selama ini, masyarakat du dalam dan luar negeri banyak yang mengira bahwa akun...

Sabtu, 31/01/2015 15:09 0

Indonesia

MUI Jatim Kembali Menghimbau Umat Islam Tak Usah Ikuti Valentine Day

KIBLAT.NET, Surabaya – Sekretaris MUI Jawa Timur, Muhammad Yunus menghimbau kembali agar umat Islam tidak...

Sabtu, 31/01/2015 14:12 0

Foto

Ini Aksi Patroli Polisi Syariah di Libya

KIBLAT.NET, Benghazi – Gerakan Anshar Syariah Libya baru-baru ini merilis sejumlah foto yang menunjukkan kekuatan...

Sabtu, 31/01/2015 14:03 0

Indonesia

Iklan Kontroversial Hotel di Batu, MUI Jatim: Ini Adalah Promosi Perzinahan

KIBLAT.NET, Batu – Menjelang datangnya perayaan Valentine Day, masyarakat di Jawa Timur dibuat terkejut oleh...

Sabtu, 31/01/2015 13:47 1

Indonesia

Sudah 4 Tahun Pindah 4 Kali, BNPT Mengeluh Tak Punya Kantor Permanen

KIBLAT.NET, Jakarta – Kepala BNPT, Komjen Saud Usman Nasution mengeluh kepada anggota DPR. Pasalnya, sudah...

Sabtu, 31/01/2015 13:25 0

Afrika

Innalillah, Amir Anshar Syariah Libya Gugur

KIBLAT.NET, Benghazi – Gerakan Anshar Syariah Libya beberapa waktu lalu mengumumkan secara resmi gugurnya pemimpin...

Sabtu, 31/01/2015 12:57 0

Indonesia

Kapolres Poso Minta Tenggat Waktu Amankan Desa Tangkura

KIBLAT. NET, Poso – Pasca meningkatnya instabilitas keamanan di daerah Kabupaten Poso Propinsi Sulawesi Tengah, DPRD...

Sabtu, 31/01/2015 12:52 0

Suriah

Lagi, Operasi Terowongan Mujahidin Luluh Lantakkan Markas Tentara Suriah

KIBALT.NET, Idlib – Mujahidin Suriah kembali melancarkan operasi peledakan gedung yang dijadikan markas tentara Suriah....

Sabtu, 31/01/2015 10:31 0

Close