... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Siapakah Murji’ah? (4/4): Murji’ah dan Penguasa

Seperti apa yang telah dikatakan Ibnu Taimiyah dalam Al-Inhirafat Al-‘Aqdiyah wal Amaliyah halaman 119-120,  bahwa orang-orang Murji’ah telah melakukan kesalahan yang nyata. Mereka mengira bahwa iman cukup dengan pembenaran, penguatan hati serta pernyataan dengan lisan saja.

Akibat dari pemahaman seperti ini sangatlah fatal. Orang Murji’ah menyangka bahwa seseorang akan menjadi kamilul iman hanya dengan hati saja, di sisi lain dia mencela Allah, Rasul-Nya dan melaksanakan segala hal yang membatalkan keIslamannya. Tak ayal jika pemahaman seperti ini akan merusak Islam dari dalam dan ternyata berkembang di era ini.

Penguasa-penguasa negara di era ini kebanyakan atau bahkan seluruhnya menggunakan sistem dan hukum wad’iy (buatan manusia). Hukum-hukum Allah yang telah final dan memang diperuntukkan manusia dibuang dan diganti dengan hukum gagasan manusia sendiri. Seolah manusia lupa bahwa hanya Allah Maha Tahu apa yang terbaik buat mereka.

Akan tetapi, terang-benderangnya hal ini—penggunaan hukum wad’iy—ternyata ada kelompok yang membelanya dan tetap menjadikannya ulil amri. Kelompok ini berpendapat bahwa penguasa adalah pemimpin yang sah dan wajib ditaati. Para penguasa tetaplah muslim, mereka waliyyul amr (pemegang urusan kita) yang berhak ditaati, walaupun mereka merampas harta dan mencambuk punggung kita. Umat ini tetap harus berkata, “Kami ridha.” Ya, mereka tetap Muslim, walaupun mengambil harta rakyat dan mencambuk punggung.

Kelompok ini lebih melonggarkan lagi kepada mereka dengan tambahan; walaupun para penguasa melecehkan harga diri dan menumpahkan darah kita; walau mereka berteriak dengan kata dan perbuatan seperti para pendahulunya sesumbar, ‘Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, ‘Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?” (Az-Zukhruf: 51)

BACA JUGA  Mengurungkan Berhaji, Demi Membantu Fakir Miskin

Walaupun, para penguasa tersebut terang-terangan mengatakan ketidakcocokan hukum syariah untuk zaman sekarang. Walaupun mereka mengangkat pelindung dari musuh-musuh Allah. Walau mereka berperang dan memberangkatkan tentara untuk berperang di bawah panji-panji Yahudi dan Nasrani untuk membunuh muslimin. Dan walau…walau… yang lain.

Murji’ah Menyenangkan Penguasa

Dapat kita bahasakan dengan mudah dan gamblang bahwa Murji’ah adalah paham yang menganut politik menyenangkan penguasa. Ibnu Asakir meriwayatkan melalui jalur An-Nadhar bin Syumail, berkata, “Saya masuk ke tempat Al-Ma’mun, lalu dia bertanya, ‘Bagaimana kabarmu pagi ini, wahai Nadhar?’ Saya menjawab, ‘Baik-baik saja, wahai Amirul Mukminin.’ Dia bertanya lagi, ‘Apakah Murji’ah itu?’ Saya menjawab, ‘Murji’ah adalah agama yang menyesuaikan para raja. Mereka mendapatkan kekayaan dunia dengan agama dan mengurangi agama mereka.’ Al-Makmun berkata, ‘Kamu benar.’”

Kelompok ini juga mengira ketika seorang penguasa masih sholat atau masih memperbolehkan syiar Islam walaupun penguasa itu berhukum dengan hukum wad’iy maka tetap wajib ditaati. Secara tidak sadar bahwa kelompok ini telah terjerumus dalam pemahaman Murji’ah yang memberi kelonggaran walau telah melakukan salah satu nawaqidul iman.

Seorang pemimpin disebut ulil amri dan wajib ditaati ukuran utamanya adalah dalam pelaksanaan hukumnya. Adapun masih membolehkan syiar Islam atau masih shalat bukanlah menjadi tolok ukur utama.

Padahal telah jelas diukir dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 59 tentang ulil amri. Ayat ini memberikan konsep yang gamblang bahwa kedaulatan dalam pemerintahan Islam ada di tangan syariah. Ada dua penjelasan yang dapat kita simpulkan, yaitu

Pertama, perintah untuk menaati Allah Swt. dan Rasulullah saw, yakni tunduk dan patuh pada segala ketentuan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Ketetapan ini meniscayakan, semua hukum dan undang-undang yang diberlakukan wajib bersumber dari keduanya. Memang benar, selain diperintahkan taat kepada Allah Swt dan Rasul-Nya, kaum Muslim juga diperintahkan taat kepada ulil amri. Namun, ketaatan itu bukan tanpa batasan sama sekali. Kewajiban taat itu berlaku jika perkara yang diperintahkan ulil amri bersesuaian dengan hukum syariah. Jika perkara yang diperintahkan menabrak syariah, kaum Muslim tidak boleh taat.

BACA JUGA  Teroris Penyerang Masjid Selandia Baru Serukan Aksi Supremasi Kulit Putih dari Penjara

Lebih dari itu, ulil amri juga menjadi pihak yang wajib tunduk pada syariah. Sebab, mereka termasuk yang diseru ayat ini. Ungkapan minkum pada kata wa ulî al-amri minkum menunjukkan bahwa mereka juga termasuk dalam bagian al-ladzîna âmanû. Karena itu, mereka pun wajib menaati Allah Swt. Bahkan kedudukan mereka sebagai ulil amri adalah dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya (syariah).

Kedua, ayat ini menetapkan, setiap perselisihan yang terjadi wajib dikembalikan pada syariah. Firman Allah Swt., Fa in tanâza’tum fî syay’[in] faruddûhu ila Allâh wa ar-Rasûl, jelas menunjukkan makna demikian.

Sudah terbantahkan paham Murji’ah dalam hal ulil amri ini. Doktrin-doktrin yang ada dalam paham Murji’ah menggiringnya untuk bertindak politik “menjilat “penguasa. Politik Murji’ah hanyalah untuk menyenangkan penguasa saja. Gelap mata melaksanakan politiknya walau nash Al-Quran telah menjelaskan dengan sempurna.

Hal yang paling menakutkan adalah apa yang telah kita singgung jika ada kelompok masa kini yang terjangkiti “virus” Murji’ah. Mereka tidak sadar bahwa apa yang dilakukan selama ini bersinggungan dengan paham Murji’ah. Segeralah muhasabah diri dan selalu berdoa agar dijauhkan virus berbahaya ini.

Penulis: Dhani el_Ashim

Sumber: Majalah Kiblat “Pemerintah Sekuler Bukan Ulil Amri”

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Gereja Berkedok Rumah Singgah di Notoprajan Ditutup Umat Islam Jogja

KIBLAT.NET, Yogyakarta – Umat Islam Yogyakarta yang tergabung dalam beberapa elemen dan aktivis Islam berhasil...

Ahad, 25/01/2015 17:41 0

Info Event

Hadirilah! Bedah Buku “Fitnah dan Petaka Akhir Zaman” di Semarang

KIBLAT.NET – Hadirilah Bedah Buku “FITNAH DAN PETAKA AKHIR ZAMAN” dalam rangka merajut ukhuwah di...

Ahad, 25/01/2015 16:43 0

Indonesia

KH Ali Mustafa Yaqub: Jangan Cuma Gembar-gembor Cinta Nabi, Tapi Malah Lecehkan Nabi

KIBLAT.NET, Jakarta – Imam Besar Masjid Istiqlal KH Ali Mutafa Ya’qub mengatakan bahwa penghinaan terhadap...

Ahad, 25/01/2015 14:20 0

Amerika

AS Akan Kirimkan Pelatih Militer Oposisi Sekuler Suriah

KIBLAT.NET, Washington – Amerika Serikat pada Jumat (23/01), mengumumkan akan mengirim kloter pertama tentara yang...

Ahad, 25/01/2015 14:07 0

Indonesia

Pembuatan Kartun Nabi Disengaja untuk Memberi Label Teroris pada Islam

KIBLAT.NET, Jakarta – Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, pembuatan kartun Nabi sengaja dilakukan untuk memancing...

Ahad, 25/01/2015 13:30 1

Indonesia

Imam Besar Istiqlal: Selama Ada Iblis, Penghinaan Nabi dan Umat Islam Akan Selalu Ada

KIBLAT.NET, Jakarta – Penghinaan terhadap Nabi, seperti yang dilakukan oleh majalah Perancis Charlie Hebdo, sudah...

Ahad, 25/01/2015 12:59 0

Analisis

Para Pakar Memperkirakan Perang Dunia III

KIBLAT.NET – Pada akhirnya, konflik saat ini dikhawatirkan bisa berakhir pada satu titik yang belum...

Ahad, 25/01/2015 10:24 0

Rohah

Orang Yaman: Jangan Dibom Lho, Ini Mobil Hutangan!

Suasana Yaman pasca pendudukan Syiah Hautsi di Sana’a masih belum kondusif. Walaupun presiden Yaman, Abduh...

Ahad, 25/01/2015 06:07 0

Siyasah

Charlie Hebdo; Al-Qaidah yang Tuntas dan Iran yang Omdo

KIBLAT.NET — Kebengalan Charlie Hebdo memang membuat amarah umat Islam memuncak. Tak jera diganjar serangan...

Sabtu, 24/01/2015 22:59 0

Artikel

Lapangkanlah Dadamu, Charlie Hebdo..

KIBLAT.NET – Akhir-akhir ini, majalah mingguan Perancis Charlie Hebdo menjadi sorotan banyak pihak. Eksekusi Kouachi...

Sabtu, 24/01/2015 16:36 0

Close