... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Charlie Hebdo; Al-Qaidah yang Tuntas dan Iran yang Omdo

KIBLAT.NET — Kebengalan Charlie Hebdo memang membuat amarah umat Islam memuncak. Tak jera diganjar serangan yang menewaskan Pimred beserta 11 orang lainnya, majalah itu kembali memuat kartun yang menyindir junjungan umat, Nabi Muhammad SAW.

Akibatnya, jutaan umat Islam tumpah ke jalan-jalan di berbagai negara meluapkan amarahnya. Demonstrasi mengecam kebengalan Charlie Hebdo ibarat gelinding bola salju. Makin lama makin besar. Puncaknya di Chechnya, ketika ratusan ribu umat Islam tumpah di jalan-jalan utama ibukota Grozny.

Di sisi lain, fenomena kemarahan umat Islam ini menarik untuk dicermati. Terjadi secara serempak dan kolosal, menembus sekat-sekat negara dan bangsa. Bahkan gelombang kemarahan ini membungkam suara-suara miring sebagian tokoh umat Islam sendiri yang sebelumnya memandang negatif aksi Kouachi bersaudara tersebut.

Tanpa menafikan realitas Islamopobhia yang meningkat di Eropa, gerakan massal umat Islam di seluruh dunia—sekali lagi—menarik dicermati. Jarang sekali umat Islam bisa melakukan respon serempak menanggapi satu isu. Tragedi Suriah yang menguras darah, harta dan segalanya dari umat Islam saja tidak segegap gempita kasus Charlie Hebdo ini. Lalu, siapa aktor cerdik yang bermain di sini?

Juru bicara AQAP, Syaikh Nashir bin Ali Al-Ansi.

Juru bicara AQAP, Syaikh Nashir bin Ali Al-Ansi.

Secara resmi, belum ada pihak yang mengaku terlibat selain Al-Qaidah. Juru bicara Al-Qaidah cabang Jazirah Arab (AQAP), Nashir bin Al-Ansi  menjelaskan bahwa operasi itu diarahkan dan didanai langsung oleh komando Al-Qaidah. Itu semua demi memenuhi perintah Allah dan menolong Rasulullah. Hal itu juga telah diperintahkan langsung oleh orang nomor satu Al-Qaidah, Syaikh Aiman Az-Zawahiri.

Klaim ini memang masuk akal. Maret 2013, Majalah Inspire milik AQAP memajang foto Stephane Charbonnier, Pimred Charlie Hebdo sebagai daftar pencarian orang; hidup atau mati! Tak sampai dua tahun kemudian, tunai sudah janji AQAP. Ketuntasan janji tersebut ditambah timing dan sasaran yang tepat membuat Al-Qaidah layak diacungi jempol.

 

Tepat dan Terukur

Pemilihan Charlie Hebdo sebagai target serangan adalah sebuah keputusan brilian. Secara legal hukum Islam, dosa-dosa Charlie Hebdo tidak dapat diampuni. Hukuman bagi penghina Nabi adalah eksekusi mati, tanpa istitabah (diminta bertobat terlebih dahulu).

Sementara dari sisi lokasi, keberadaan Charlie Hebdo di Prancis (Eropa)—salah satu aliansi vital Amerika dalam perang melawan Islam, sangat strategis. Serangan itu memang menewaskan “hanya” dua belas orang. Tetapi telah menciptakan efek ketakutan luar biasa bagi seluruh penduduk Barat.

BACA JUGA  Hari Arafah, Renungan Kesempurnaan Islam

Efek tersebut timbul karena karakteristik Barat yang lebih memilih perang “hemat” nyawa ketimbang “boros” nyawa yang banyak dipraktikkan negara-negara Timur seperti Iran dan Rusia. Abdullah bin Muhammad, dalam Strategi Dua Lengan (Jazera, 2013) halaman 205 memberikan ilustrasi menarik.

strategi 2 lengan

“Di negara-negara Barat, teror yang terjadi di wilayah dalam negeri mereka akan sangat berpengaruh terhadap ekonomi, keamanan, politik dan seluruh sektor lainnya. Peristiwa percobaan peledakan pesawat terbang di Detroit, Amerika adalah bukti nyata. Meskipun peledakan tersebut gagal, namun telah memaksa Barat merogoh 40 milyar USD untuk memperkuat sistem keamanan transportasi udara.”

Serangan tersebut juga disebut terukur, karena hanya menjatuhkan “korban seperlunya.” Sebagaimana diketahui, jatuhnya korban yang tidak perlu menjadi celah pengkritik untuk mendeligitimasi sebuah amaliyat jihad. Adapun korban Muslim bernama Ahmad Merabet (42) memang sulit dihindari. Sebab, sebagai seorang polisi, Merabet memang bertugas mencegah serangan tersebut.

Adegan “memukau” juga diperankan dengan baik oleh Kouachi bersaudara ketika berhadapan dengan kaum Hawa, Sigolene Vinson. Saat wanita penulis itu pasrah di bawah todongan moncong senjata, sang penodong malah menegaskan, “Saya tak akan membunuhmu karena kamu seorang perempuan dan kami tidak membunuh perempuan.”

 

Miftah Shira’

Ketepatan dalam memilih target sampai kematangan perencanaan membuahkan aksi yang tuntas. Ketuntasan itu tidak hanya berhenti pada tewasnya otak pelecehan kepada Nabi SAW di majalah Charlie Hebdo, tetapi berlanjut kepada efek lanjutan pasca serangan.

Selain menanamkan ketakutan kepada siapapun yang mencoba mengikuti jejak Charlie Hebdo dalam mempermainkan Nabi Muhammad SAW, aksi tersebut memancing majalah satire itu untuk mengulangi kebodohannya, dengan kembali mencetak karikatur serupa. Akibatnya, jutaan umat Islam bereaksi lebih besar daripada aksi pertama yang bersimpati kepada Kouachi bersaudara.

Di sini, Al-Qaidah berhasil menempukan miftah shira’ (key point, pemantik konflik) yang sangat efektif, karena mampu menggerakkan jutaan umat Islam sedunia untuk turut berpartisipasi. Sebagai catatan, aksi jutaan umat sebagaimana disebut di atas baru sebatas aksi demonstrasi di jalanan. Jumlahnya akan semakin meledak bila aksi-aksi di dunia maya juga dimasukkan dalam statistik.

visipol

Abu Mush’ab As-Suri dalam Visi Politik Gerakan Jihad (Jazera, 2010) menekankan miftah shira’ sebagai elemen penting dalam Dakwah Muqawamah Islamiyah ‘Alamiyah. Ia menyebutnya sebagai salah satu unsur pembentuk “Mobilisasi, Pemantik Konflik dan Iklim Jihad” (hal 60). Dilihat dari perspektif proyek Dakwah Muqawamah yang digagas oleh Abu Mush’ab As-Suri, serangan terhadap Charlie Hebdo ini telah berhasil membuahkan Muqawamah Sya’biyah, salah satu bentuk dari sekian macam Muqawamah.

 

BACA JUGA  Dari Haji Untuk Indonesia

Panggung Opini Dunia

Namun, keberhasilan Al-Qaidah dalam aksi tersebut tidak terhenti pada Muqawamah Sya’biyah semata. Dengan Charlie Hebdo, panggung opini dunia memberikan ruang seluas-luasnya bagi organisasi yang dipimpin oleh Syaikh Aiman Al-Dzawahiri itu untuk menjelaskan logika aksi-aksinya.

Panggung pun semakin semarak, ketika “musuh” pun turut mengapresiasi. Presiden Liga Katolik Amerika, Bill Donohue dalam sebuah artikel yang berjudul “Muslim Berhak untuk Marah”, mengecam “intoleransi” yang diusung oleh Charlie Hebdo. Apalagi setelah berulang kali menggambarkan secara buruk sosok yang sangat dimuliakan umat Islam itu. Tak hanya itu. Paus Fransiskus pun turut memaklumi aksi menuntut balas tersebut. “Itu normal. Anda tidak boleh memprovokasi. Anda tidak boleh memperolok keyakinan orang lain,” katanya.

 

Tuntas vs Omdo

Penghinaan terhadap simbol-simbol Islam dan bagaimana kerasnya umat Islam bereaksi ini, mengingatkan kita kepada kejadian-kejadian sebelumnya. Salah satu yang cukup fenomenal adalah buku The Satanic Verses, karya Salman Rushdie pada tahun 1989. Atas kebejatannya itu, pemimpin Syiah sekaligus Presiden Iran saat itu, Khomeini pernah mengeluarkan fatwa hukuman mati atas Salman Rushdie.

26 tahun berlalu, namun Salman Rushdie tetap hidup dengan aman. Tak ada langkah kongkit Teheran untuk menuntaskan sesumbarnya itu. Paling banter, Khordad Foundation, sebuah yayasan keagamaan di Iran menaikkan harga kepala Salman dari 500 USD menjadi 3,3 juta USD, atau setara Rp. 31 miliar.

iranvsaqap

Padahal, sebagai salah satu pilar kekuatan dunia, prestasi Iran sudah terbukti menyangga Presiden Suriah Bashar Ashad dari dahsyatnya serangan oposisi. Pada saat bersamaan, dengan dukungan Iran, hari ini kelompok Houtsi berhasil melakukan kudeta militer di Yaman.

Di balik kekuatan besar yang belum sanggup menuntaskan janjinya, publik pun bisa menilai: mana yang sungguh-sungguh tuntas membela kehormatan Islam, dan mana yang cuma pencitraan dan omong besar tapi kosong (omdo).

Tak salah bila kemudian congkaknya Salman Rushdie menanggapi ancaman mati tersebut sebagai sekadar retorika belaka, bukan aksi nyata.

Penulis: Hamdan

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Manhaj

Siapakah Murji’ah? (3/4): Pendapat Ulama tentang Murji’ah

Ulama salaf mengajarkan kepada generasi setelahnya tentang bagaimana menyikapi kaum Mur’jiah. Pemikiran Murji’ah bukan sebuah...

Sabtu, 24/01/2015 21:00 0

Artikel

Lapangkanlah Dadamu, Charlie Hebdo..

KIBLAT.NET – Akhir-akhir ini, majalah mingguan Perancis Charlie Hebdo menjadi sorotan banyak pihak. Eksekusi Kouachi...

Sabtu, 24/01/2015 16:36 0

Rilis Syamina

Download Laporan Syamina: Pudarnya Hegemoni Imperium Amerika Serikat

KIBLAT.NET – Imperium adalah sistem Pusat-Perifer lintas perbatasan, dengan menggunakan budaya untuk melegitimasi struktur yang...

Sabtu, 24/01/2015 15:39 0

Rilis Syamina

Download Laporan Syamina: Kegagalan Amerika Serikat

“Hari ini ISAF menggulung benderanya dalam atmosfer kegagalan dan kekecewaan tanpa meraih hasil yang substansial...

Sabtu, 24/01/2015 15:30 0

Irak

Milisi Syiah Iraq Bunuh Ulama Sunni di Jalan

KIBLAT.NET, Bashrah – Milisi Syiah Iraq kembali melakukan kejahatan terhadap ulama Sunni. Kali ini, ulama...

Sabtu, 24/01/2015 14:21 0

Irak

Di Kota Ini, ISIS Bersyukur atas Kematian Raja Saudi

KIBALT.NET, Mosul – Pejuang Daulah Islamiyah (ISIS) di kota Mosul, provinsi Ninaweh, Iraq utara, Jumat...

Sabtu, 24/01/2015 13:01 0

Wilayah Lain

Umat Islam Maroko Gelar Aksi Protes Charlie Hebdo

KIBLAT.NET, Rabat – Demonstrasi mengutuk majalah penghina Nabi Muhammad, Charlie Hebdo, masih berlangsung di negara-negara...

Sabtu, 24/01/2015 10:58 0

Analisis

Ketegangan Rusia dan Ukraina Bisa Memicu Perang Dunia III

KIBLAT.NET – Tentara Rusia dan tentara Ukraina dikabarkan masih sering terlibat tembak-menembak di timur Ukraina.[1]...

Sabtu, 24/01/2015 10:18 0

Suriah

Jet Suriah Kembali Serang Pasar, 50 Warga Terbunuh

KIBLAT.NET, Damaskus – Sedikitnya 50 warga Suriah, yang mayoritas wanita dan anak-anak, Jumat (23/01), meregang...

Sabtu, 24/01/2015 10:14 0

Eropa

Penjagaan Pangkalan Militer AS di Eropa Diperketat, Ada Apa?

KIBLAT.NET, Washington – Amerika Serikat baru-baru ini memperketat langkah-langkah keamanan di seluruh pangkalan militernya di...

Sabtu, 24/01/2015 08:36 0

Close