... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Perang Generasi Keempat (2/2): Perang yang Diadopsi Jihadis

Foto: F-22 Raptor adalah pesawat tempur siluman buatan Amerika Serikat, dilengkapi peralatan untuk serangan darat, peperangan elektronik, dan sinyal intelijen.

KIBLAT.NET – Selama beberapa tahun terakhir, semakin banyak pejabat kontraterorisme dan para akademisi Barat yang mengidentifikasi kemungkinan bahwa Al-Qaidah telah menggunakan teori 4GW, dan peran Abu Mus’ab As-Suri dalam langkah tersebut.

Oxford Journal of Islamic Studies merilis laporan pada tanggal 3 September 2010 tentang 4GW dan As-Suri. Laporan tersebut mengungkapkan, “Saat pasukan koalisi di Irak dan Afghanistan sebagian besar terjebak dengan taktik perang generasi ketiga, lawan mereka telah bergerak ke arah model 4GW. Pada awal Januari 2005, Abu Mus’ab As-Suri, ideolog global Salafi Jihadi, merilis doktrin yang disebut ‘Seruan Perlawanan Islam Global’.

Pembicaraan mengenai perang generasi keempat di kalangan kelompok jihad sendiri secara publik mulai muncul pada bulan Januari 2002. Saat itu, Abu Ubaid Al-Quraisy, seperti disebutkan di awal, menulis sebuah artikel yang berjudul “Perang Generasi Keempat”[1]

Dalam tulisannya, Abu Ubaidah menjelaskan tentang fenomena kemerosotan moral yang telah merasuk ke dalam inti negara Islam. Anehnya, salah satu pihak yang paling terpengaruh oleh fenomena ini justru adalah para ulama. Mereka mengklaim tentang menyusutnya dukungan umat Islam terhadap mujahidin dengan pertimbangan bahwa tidak ada keseimbangan antara kekuatan mujahidin dengan kekuatan Amerika dan sekutunya, dan karena tiadanya keseimbangan inilah, mereka berpendapat bahwa di titik ini, tidak ada jihad, dan tidak perlu mendukung gerakan jihad karena berdalih bahwa perang ini lebih berpeluang dimenangkan Amerika. Pandangan tersebut, menurut Abu Ubaid, memperlihatkan keacuhan terhadap syariat Islam, fakta sejarah, dan analisis militer barat kontemporer. 

Senjata rakitan sederhana milik oposisi Suriah wilayah Pesisir untuk memenangkan pertempuran dengan tentara rezim pada awal Juni 2013. [foto; Emriza]

Senjata rakitan sederhana milik oposisi Suriah wilayah Pesisir untuk memenangkan pertempuran dengan tentara rezim pada awal Juni 2013. [foto; Emriza]

Aspek Senjata:

Barat memiliki nuklir dan teknologi canggih yang bisa menghancurkan ratusan planet sekaligus. Senjata kimia dan biologi. Namun demikian mujahidin unggul dalam perang generasi keempat, hanya memakai senjata ringan saja. Mereka adalah bagian dari masyarakat dan bisa menghilang di dalam massa. Ini adalah strategi untuk menungguli senjata canggih yang dibuat untuk ruang terbuka dan jelas. Dalam arah ini, Michael Pickers, “Banyak kemampuan kita yang tidak cocok untuk perang jenis ini.”[2]

Aspek Kuantitas:

Pada akhir 1979, lebih dari 100 ribu Tentara Merah menginvasi Afghanistan. Namun tidak ada perlawanan berarti bagi mujahidin sampai puncak kedatangan mereka pada 1985. Perbandingan pasukan Soviet dan antek-anteknya adalah 5:2.

BACA JUGA  Semua "Hanya" Peduli Floyd, Tidak dengan Iyad Hallaq

Di Somalia tugas mujahidin lebih mudah. Amerika menginvasi wilayah tersebut dengan 40 ribu tentara. Mereka keluar dari wilayah tersebut setelah mendapatkan perlawanan ringan dari mujahidin yang tidak lebih dari 2000 orang pada kondisi terbaik. Perbandingannya adalah 20:1.

Pada perang Chechnya pertama (1994-1996), kemenangan mujahidin datang setelah Rusia menginvasi tanah Chechnya dengan 100.000 tentara. Mujahidin Chechnya tidak melebihi 13.000 orang pada kondisi terbaik.

Hal yang sama juga terjadi pada waktu Rusia melakukan pengepungan yang mengerikan terhadap Grozny dengan 50.000 tentara. Mujahidin Chechnya dan formasi tempur mereka tidak melebihi 3000 mujahid. Mereka meraih kemenangan pada tahun 1995, bukan saja lepas dari pengepungan, melainkan juga melakukan serangan balik terhadap bagian belakang tentara yang mengepung mereka. Rusia dipaksa mundur di bawah kerugian besar.[3]

Perbandingan antara pemenang dan kuantitas

Perbandingan antara pemenang dan kuantitas

Perang Chechnya pertama jelas menunjukkan bahwa kinerja para prajurit dan keberanian mereka di lapangan, kegigihan untuk menghadapi apa pun kesulitan adalah faktor penting yang menentukan hasil pertempuran.[4] Kecerdasan militer dan media[5] serta pengetahuan luas tentang tentara Rusia juga menjadi faktor yang membuat mujahidin Chechnya mengetahui banyak rahasia.[6]

Dengan demikian jelaslah bahwa ada preseden untuk negara adidaya dan negara-negara besar mencicipi kekalahan di tangan formasi mujahidin dalam dua dekade terakhir, padahal kekuatan senjata dan personel jauh berbeda. Dengan demikian, syubhat kaum muslimin pasti kalah area jumlah adalah tidak benar.

Sejarah masa lalu membuktikan hal tersebut. Perang Mu’tah dimenangkan oleh kaum muslimin dengan kekuatan 3000 mujahid, sedangkan kekuatan musuh adalah 200.000 personel atau 1: 66,6. Dalam penaklukan Andalusia, Thariq bin Ziyad memimin 1700 mujahid untuk menggempur 70.000 pasukan musuh atau 1:41. Thariq dan pasukannya bersabar menghadapi perang dan mampu meruntuhkan kekuatan Roderick.

Dalam surat Umar kepada pasukannya, Umar berkata, “Allah SWT memenangkan pasukan Islam disebabkan kemaksiatan yang dilakukan musuh-musuhnya. Tanpa hal itu, niscaya pasukan Islam tidak berdaya menghadapi pasukan musuh, karena jumlah kita tak seberapa dibanding jumlah mereka, persenjataan kita pun tak ada apa-apanya dibandingkan persenjataan musuh. Bila pasukan Islam dan pasukan musuh sama-sama dalam perbuatan maksiat, maka pasukan musuh akan menang karena mereka lebih kuat. Jika tidak sama, maka pasukan Islam akan menang, karena keutamaan mereka, bukan karena kekuatan mereka.”

BACA JUGA  Di Tengah Pandemi Covid-19, Israel Masih Tembaki Warga Palestina

Di akhir tulisannya, Abu Ubaid Al-Qurasyi menjelaskan bahwa salah satu elemen utama dalam perang generasi keempat adalah media. Sekarang ini, media adalah front terbuka yang Amerika dan antek-anteknya mendapatkan keuntungan besar darinya. Amerika ingin menghancurkan besarnya dukungan psikologis, yang dicapai oleh mujahidin dengan aksi-aksi militer mereka dan juga simpati dan dukungan di dunia Islam karena menyaksikan aksi-aksi kepahlawanan mereka.

Menurut Abu Ubaidah, telah tiba waktunya bagi seluruh gerakan Islam untuk menghadapi serangan umum pasukan salib dengan mengadopsi poin-poin penting dalam perang generasi keempat ini. Di antara langkah konkretnya adalah:

  1. Menyiapkan pemikiran strategis yang tepat.
  2. Persiapan militer yang sesuai.
  3. Meningkatkan perhatian dakwah untuk memenangkan dukungan publik.
  4. Memberikan lebih banyak ruang untuk pekerjaan media dalam bentuk propaganda yang kuat dan mengarah kepada tujuan.

Penutup

4GW lahir dari kebutuhan laten untuk mengalahkan lawan dengan memenangkan pertempuran pikiran. Hal ini dilakukan karena kesulitan yang dihadapi pihak yang kualitas senjata dan kuantitas personelnya lemah untuk mengalahkan lawan yang lebih kuat terutama sebuah negara.

Tiga generasi perang sebelumnya ditujukan untuk mengalahkan musuh dengan melakukan atrisi dan kemudian, melakukan manuver. Dalam 4GW mungkin terlihat mirip dengan pemberontakan terorisme dan perang asimetris, namun satu hal kunci yang paling mendefinisikan 4GW adalah hilangnya monopoli atas perang oleh negara dengan munculnya aktor nonnegara dan terjadinya pertempuran untuk ruang pikiran dibanding ruang fisik.[Selesai]

Penulis: Agus Abdullah (Diadopsi dari laporan khusus Syamina Edisi XV/Oktober 2014/K. Mustarom)

——————————

[1] Lihat http://www.oocities.org/athens/rhodes/9334/adab/ask/jil_rabe3.html

[2] Center for Strategic and Budgetary Assessments, Washington, D.C.

[3] Lieutenant-colonel Timothy L. Thomas,,’ Lessons from Grozny’, Military Review, July-August 2000.

[4] Vincent J. Goulding, Jr., ‘ Back to tthe Future with Asymmetric Warfare’, Parameters, Winter 2000-01.

[5] Mantan Deputi Media Chechnya Movladi Udugov, mengendalikan mesin media Rusia secara keseluruhan, dengan tidak meloloskan satu pun sikap warga Chechnya kepada pers Rusia dan internasional. Lihat Vincent J. Goulding, Jr., ‘ Back to the Future with Asymmetric Warfare’, Parameters, Winter 2000-01

[6] Carlotta Gall and Thomas de Waal, Cheechnya: Calamity in the Caucasus (New York Univ. Press, 1998).


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Asia

Polisi Cina Tembak Mati 6 Muslim Uighur

KIBLAT.NET, Urumqi – Aparat kepolisian di provinsi Xinjiang, Cina menembak mati enam muslim Uighur yang mereka...

Kamis, 15/01/2015 08:31 0

Irak

Derita Warga Sunni Iraq, Terusir dari Kampung Halaman

KIBLAT.NET, Diyala – Direbutnya kembali kampung mereka oleh pemerintah, tidak menjadikan warga Iraq di kota...

Kamis, 15/01/2015 07:57 0

Mesir

Pengadilan Mesir Batalkan Hukuman Penjara Husni Mubarak

KIBLAT.NET, Kairo – Pengadilan tinggi Mesir membatalkan hukuman tiga tahun penjara terhadap Husni Mubarak atas...

Kamis, 15/01/2015 06:53 0

Indonesia

Perancis Tanda Tangani Protokol Anti-Penodaan Agama, Charlie Hebdo Tak Ditindak

KIBLAT.NET, Jakarta – Terkait penghinaan majalah Charlie Hebdo kepada Nabi Muhammad SAW, Ketua Majelis Ulama...

Rabu, 14/01/2015 10:27 0

Indonesia

Charlie Hebdo Lecehkan Nabi Muhammad Lagi, MUI: Ada Yang Ingin Memancing Kemarahan Umat Islam

KIBLAT.NET, Jakarta – Serangan senjata yang menewaskan 10 orang redaksi majalah Perancis Charlie Hebdo, ternyata tidak...

Rabu, 14/01/2015 10:02 0

Indonesia

Soal Larangan Guru Agama Asing, MUI: Wacana itu Memundurkan Pendidikan

KIBLAT.NET, Jakarta – Wakil Ketua Bidang Luar Negeri Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Zaitun Rasmin,...

Rabu, 14/01/2015 09:21 0

Opini

Nasihat untuk Muslim yang Marah kepada “Teroris” Penyerang Charlie Hebdo

KIBLAT.NET – Pasca peristiwa majalah Perancis Charlie Hebdo kita melihat di jejaring sosial sebagian muslim...

Selasa, 13/01/2015 23:17 1

Manhaj

Khawarij menurut Syaikh Ibnu Taimiyah (5/5): Beberapa Permasalahan dan Hukum Seputar Khawarij

Ada 8 Bahasan yang sering dipertanyakan terkait dengan Khawarij. Dalam hal ini, Syaikh Ibnu Taimiyah...

Selasa, 13/01/2015 20:00 1

Asia

Polisi China Tembak Mati 6 Muslim Uighur

KIBLAT.NET, Urumqi – Polisi Cina membunuh enam Muslim Uighur di wilayah Turkistan Timur (Xinjiang) yang...

Selasa, 13/01/2015 18:00 0

Mesir

Tujuh Mayat Ditemukan di Semenanjung Sinai Mesir

KIBLAT.NET, Sinai – Pasukan keamanan Mesir pada hari Senin (12/1/2015) menemukan empat mayat di Semenanjung...

Selasa, 13/01/2015 17:05 0

Close