... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Perang Generasi Keempat (1/2): Paradigma Baru Perang Melawan Superioritas

KIBLAT.NET – Perang selalu berubah. Seluruh pihak yang berperang terus belajar dan beradaptasi. Namun saat ini, perang berubah dengan cepat dan dengan skala yang lebih besar dibanding sebelumnya. Perubahan tersebut tidak hanya terjadi dalam hal bagaimana perang dilakukan, namun juga siapa yang berperang dan untuk apa mereka berperang.

Di seluruh dunia, pasukan militer negara harus menghadapi musuh non-negara. Perang semacam ini, yang kemudian disebut sebagai perang Generasi Keempat (Fourth Generation Warfare) atau yang lebih dikenal dengan singkatan 4GW. Ini merupakan tantangan yang sangat sulit. Hampir selalu, pasukan militer negara memiliki superioritas dalam hal kekuatan tempur, persenjataan, teknik, dan pelatihan dibanding lawannya. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa mereka lebih sering menerima kekalahan dibanding kemenangan.

Amerika dalam hal ini bisa menjadi sampel. Amerika dikenal sebagai negara adidaya dalam kekuatan tempur, persenjataan, teknik perang dan pelatihan militer. Namun kenyataannya selalu kalah. Karena itulah, analis Barat banyak membuat analisis rekomendasi bahwa strategi menghadapi kekuatan yang lebih lemah harus diubah, terutama menghadapi mujahidin.

Salah satu pakar militer terkemuka Amerika Serikat, John Boyd, pernah mengatakan “Saat saya masih muda, saya pernah berpikir bahwa jika Anda memiliki superioritas udara, superioritas darat, dan superioritas laut, Anda akan menang. Di Vietnam kita memiliki superioritas udara, superioritas darat, dan superioritas laut, namun kita kalah. Jadi, saya sadar bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada itu.”[1]

Dalam pandangan jihadis, seperti diungkapkan oleh Abu Ubaid Al-Qurasyi, perang generasi keempat adalah respons atas kebingungan Amerika untuk menemukan apa cara yang cocok untuk menghadapi front jihadis, terutama bersamaan dengan kesadaran umat untuk bangkit berjihad kembali. Beliau mengatakan, “Mereka [Amerika dan Barat] tercengang dengan perang generasi keempat yang cocok dengan gerakan jihad, khususnya saat umat Islam mulai kembali mendukung Jihad, setelah tak ada yang tersisa karena kehinaan yang mereka alami hampir setiap hari.” [2]

BACA JUGA  Ghazwatul Hindi, Peta Akhir Zaman di Nusantara (Bag. 1)

Menurut tokoh Al-Qaidah yang dekat dengan Syaikh Usamah bin Ladin tersebut, Amerika dan Barat paham benar karakter dari tantangan baru ini, dan mengakui bahwa ada kesulitan baru di depan mereka. Maka mereka harus mengubah total pelatihan, doktrin tempur, dan senjata, di samping mengubah cara memandang keamanan nasional.

Beliau menambahkan, “Sekarang, gerakan-gerakan Islam yang berada di depan serangan Salibis yang massif dan luar biasa, mereka harus menguasai karakter perang generasi keempat.”

Karakter Perang Generasi Keempat

Perang generasi keempat didefinisikan sebagai sebuah jenis perang yang mampu mengalahkan model perang generasi sebelumnya, yaitu perang manuver, dengan membuat superioritas keinginan politik. Perang telah memasuki generasi baru. Menurut analis Barat, ia bukanlah perang teknologi tinggi yang selama ini menjadi kekuatan Barat, namun ia adalah perkembangan dari bentuk insurgensi yang menyerang kelemahan mereka.[3]

Perang generasi keempat merupakan transformasi dari tiga model perang sebelumnya. Menurut Katoch, selama ini tentara dilatih untuk melakukan perang dengan cara yang sudah usang. Cara para tentara tersebut berperang dalam sebuah lingkungan yang membuat mereka mengalami disfungsi akan menghasilkan penyia-nyiaan sumber daya dan perang yang semakin panjang. Kalaupun kemenangan berhasil dicapai, itu pun diperoleh dengan biaya yang tidak proporsional.[4]

Ciri utama Perang Generasi Keempat adalah penurunan loyalitas kenegaraan dan meningkatnya loyalitas alternatif, seperti keagamaan dan kesukuan. Kepercayaan kepada negara superpower didelegitimasi, berpindah kepada loyalitas, misalnya keagamaan, yang bersifat transnasional.

BACA JUGA  Generasi Pendahulu: Generasi yang Unik

Perang Generasi Keempat juga tidak membedakan militer dan sipil. Prajurit 4GW dapat menyusup ke negara lawan, hidup di antara masyarakatnya, dan makan dari mereka tanpa disadari kehadiran mereka. Globalisasi sangat membantu kemampuan ini. Hubungan antar warga dunia dan antar negara membuat penyusupan ke dalam masyarakat target menjadi lebih mudah dan anggota masyarakat yang disusupi tidak menaruh kecurigaan.

Medan perang tidak didefinisikan. Ia bisa terjadi dalam satu negara atau wilayah atau di mana saja di dunia ini. Hal ini memberikan ruang manuver yang tak terbatas. Medan perang konvensional bergeser menuju area di mana dampak maksimal bisa diraih dengan usaha minimal.

Dalam Perang Generasi Keempat, memenangkan kesetiaan dari masyarakat adalah sama pentingnya dengan memenangkan perang.

Perbandingan 4GW dengan perang generasi sebelumnya

Perbandingan 4GW dengan perang generasi sebelumnya

Kelemahan Perang Generasi Keempat adalah kurangnya komunikasi. Ini merupakan kelemahan terbesar organisasi 4GW. Hal ini membuat mereka kurang memiliki ketangkasan strategis. Kelemahan lain dari aktor non-state adalah kurangnya kontrol kualitas. Selain itu, titik rawan mereka terakhir, dan mungkin yang paling berbahaya bagi prajurit 4GW, adalah bahwa mereka merasa sulit untuk menangani kesuksesan. [Bersambung]

Penulis: Agus Abdullah (Diadopsi dari laporan khusus Syamina Edisi XV/Oktober 2014/K. Mustarom)

———————–

[1] FMFM 1A, Fourth Generation War, Draft 4.3, 12 Agustus 2008

[2] http://www.oocities.org/athens/rhodes/9334/adab/ask/jil_rabe3.html

[3] T. X. Hammes, “War Evolves Into the Fourth Generation,” Contemporary Security Policy, August, 2005, hal. 205.

[4] Ghanshyam. S. Katoch, “Fourth Generation War: Paradigm For Change”, Juni 2005. Masters Thesis Naval Postgraduate School, Monterey, California..


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Perancis Tanda Tangani Protokol Anti-Penodaan Agama, Charlie Hebdo Tak Ditindak

KIBLAT.NET, Jakarta – Terkait penghinaan majalah Charlie Hebdo kepada Nabi Muhammad SAW, Ketua Majelis Ulama...

Rabu, 14/01/2015 10:27 0

Indonesia

Charlie Hebdo Lecehkan Nabi Muhammad Lagi, MUI: Ada Yang Ingin Memancing Kemarahan Umat Islam

KIBLAT.NET, Jakarta – Serangan senjata yang menewaskan 10 orang redaksi majalah Perancis Charlie Hebdo, ternyata tidak...

Rabu, 14/01/2015 10:02 0

Indonesia

Soal Larangan Guru Agama Asing, MUI: Wacana itu Memundurkan Pendidikan

KIBLAT.NET, Jakarta – Wakil Ketua Bidang Luar Negeri Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Zaitun Rasmin,...

Rabu, 14/01/2015 09:21 0

Opini

Nasihat untuk Muslim yang Marah kepada “Teroris” Penyerang Charlie Hebdo

KIBLAT.NET – Pasca peristiwa majalah Perancis Charlie Hebdo kita melihat di jejaring sosial sebagian muslim...

Selasa, 13/01/2015 23:17 1

Manhaj

Khawarij menurut Syaikh Ibnu Taimiyah (5/5): Beberapa Permasalahan dan Hukum Seputar Khawarij

Ada 8 Bahasan yang sering dipertanyakan terkait dengan Khawarij. Dalam hal ini, Syaikh Ibnu Taimiyah...

Selasa, 13/01/2015 20:00 1

Asia

Polisi China Tembak Mati 6 Muslim Uighur

KIBLAT.NET, Urumqi – Polisi Cina membunuh enam Muslim Uighur di wilayah Turkistan Timur (Xinjiang) yang...

Selasa, 13/01/2015 18:00 0

Mesir

Tujuh Mayat Ditemukan di Semenanjung Sinai Mesir

KIBLAT.NET, Sinai – Pasukan keamanan Mesir pada hari Senin (12/1/2015) menemukan empat mayat di Semenanjung...

Selasa, 13/01/2015 17:05 0

Turki

Gelar Pawai Anti Terorisme, Erdogan: Barat Munafik

KIBLAT.NET, Ankara – Presiden Turki Tayyip Erdogan pada hari Senin (12/1/2015) menilai Barat sedang memperlihatkan...

Selasa, 13/01/2015 16:04 0

Munaqosyah

Densus Membunuh Terduga Teroris Dihukumi Mujtahid? (2/2)

Ringkasan tulisan sebelumnya: Ijtihad tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Harus ada kriteria tertentu yang...

Selasa, 13/01/2015 15:15 0

Artikel

Pembelaan terhadap Sang Nabi Pilihan

Serangan terhadap majalah satire Charlie Hebdo masih hangat terdengar di telinga. Redaktur bersama beberapa staffnya...

Selasa, 13/01/2015 12:00 0

Close