... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Pembelaan terhadap Sang Nabi Pilihan

Foto: Abdul Mun'im Musthafa Halimah atau Abu Bashir Ath-Tharthusi

Serangan terhadap majalah satire Charlie Hebdo masih hangat terdengar di telinga. Redaktur bersama beberapa staffnya tewas diberondong oleh para pembela Nabi. Tapi, kejadian ini ternyata belum membuat mereka jera. Kembali Charlie Hebdo membuat kartun terhadap Nabi SAW. Dalam edisi terkini, ditampilkan sampul bergambar Nabi Muhammad SAW yang sedang memegang poster bertuliskan, ‘Saya Charlie’. Di bawah karikatur terdapat tulisan, ‘Semua dimaafkan’.

Penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW sudah terulang kali terjadi. Pelakunya beberapa sudah mati karena “eksekusi” ada juga yang masih hidup, bahkan dilindungi. Mereka –kaum penghina—seolah-olah tak ragu untuk  mengulang kembali perbuatan serupa. Hal ini tentunya menunjukkan bahwa mereka tidak suka dengan Islam. Kenapa demikian? Karena Nabi pilihan untuk umat Islam, telah dinistakan dan dihina oleh para pembenci.

Makalah yang dibuat oleh Syaikh Abu Bashir Ath-Tharthusi ini menunjukkan sebuah pembelaan terhadap Nabi SAW. Bukan bentuk pembelaan dalam artian sempit, tapi lebih pada tindakan nyata untuk menjaga eksistensi agama Islam dengan nabinya. Sekaligus, menyadarkan umat Islam untuk segera mengambil sikap atas tindak penistaan tersebut.

Sebenarnya, tulisan beliau dibuat sebagai respon atas dimuatnya kartun Nabi di majalah Jyllands-Posten. Tetapi, sebuah sebuah ilmu tak lantas usang begitu saja. Ketika kejadian serupa kembali terulang, merujuk kembali kepada ahlul ilmi beserta ilmunya adalah satu hal penting. Sehingga dapat menyadarkan kita, betapa pentingnya sebuah ilmu, harus terus dijaga dan dipraktekkan ulang.

 

Segala puji hanyalah bagi Allah. Shalawat dan salam atas nabi terakhir, Muhammad. Wa ba’d,

Nabi kita Muhammad sebenarnya tidak membutuhkan pembelaan dari saya dan yang lainnya, ataupun pujian kita terhadap tingkah laku dan akhlak beliau. Beliau lebih agung dari semua itu. Cukuplah bagi beliau kebanggaan dan kebesaran karena Allah telah menyifatinya dari atas tujuh langit dengan firman-Nya:

“Dan sesungguhnya engkau memiliki budi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)

“Sesungguhnya kamu berada di atas petunjuk yang lurus.” (Al-Hajj: 67)

“Tidaklah Kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat (penebar kasih sayang) di alam semesta.” (Al-Anbiya’: 107)

Rekomendasi mana lagi yang lebih tinggi atau menyamai rekomendasi dari Allah ini? Sampai di mana tingginya pujian dan penghormatan yang diberikan makhluk jika dibandingkan dengan pujian dan penghormatan yang diberikan Allah?

Namun, apa pelajaran yang tersirat dari fenomena yang menghebohkan ini? Dan bagaimana kaum muslimin (seharusnya) memahami dan menafsirkan kejadian ini?

Fenomena ini memberi kita beberapa pelajaran:

Pertama: Sesungguhnya, penghinaan yang dilontarkan terhadap pribadi Nabi ini berarti penghinaan terhadap semua nabi dan rasul Allah, seperti Ibrahim, Musa, Isa, serta para nabi dan rasul-rasul lainnya, karena seluruh nabi dan rasul saling membenarkan satu sama lain. Mereka mewajibkan kepada para pengikutnya untuk beriman dan mempercayai seluruh nabi dan rasul yang datang sebelum atau setelah mereka. Selanjutnya, sesungguhnya pendustaan atau penghujatan terhadap nabi siapapun, adalah pendustaan dan penghujatan terhadap semua nabi dan rasul. Allah berfirman:

“Katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa, Isa, serta kepada apa yang diberikan kepada para nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan di antara mereka (para nabi), sedangkan kami berserah diri kepada-Nya.” (Al-Baqarah: 136)

“Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Rabb-nya. Demikian pula orang-orang yang beriman, semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), ‘Kami tidak membeda-bedakan seorangpun dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka berkata, ‘Kami mendengar dan kami menaatinya. Ampunilah kami, wahai Rabb kami, dan hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali’.” (Al-Baqarah: 285)

Penghujatan dan penghinaan terhadap para nabi dan rasul merupakan penghinaan dan penghujatan kepada Allah yang telah merekomendasikan para nabi dan rasul-Nya dan memuji mereka dengan kebaikan. Karena itulah, sekelompok orang yang mencela para shahabat nabi ketika Perang Tabuk dianggap telah menghina Allah dan ayat-ayat-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

BACA JUGA  Hari Pertama Muslim United, Masjid Gedhe Kauman Dipenuhi Hadirin

“Dan jika kamu (Muhammad) bertanya kepada mereka (orang-orang Munafik), mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan rasul-Nya, kalian memperolok-olok? Janganlah kalian beralasan, sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” (At-Taubah: 65-66)

Kedua: Sesungguhnya, sikap menyakiti kepada pribadi Nabi ini hakikatnya merupakan sikap menyakiti kepada seluruh kaum muslimin yang ada di muka bumi ini, dan juga kepada perasaan mereka serta akidah mereka. Sikap semacam ini bagi mereka (kaum muslimin) lebih menyakitkan daripada melukai langsung terhadap jiwa dan harta-harta mereka. Orang-orang salib (Nasrani) tahu benar maksud ini dan inilah maksud yang sebenarnya dari hujatan mereka dan olok-olok mereka kepada pribadi Nabi dari waktu ke waktu.

Ketiga: Sesungguhnya, fenomena penghujatan dan penghinaan seperti ini merupakan salah satu tanda dari kekalahan pemikiran, peradaban, dan kebudayaan orang-orang salib Nasrani. Lalu mereka menutupi kekurangan dan kelemahan ini dengan mengarahkan hujatan, celaan, dan penghinaan.

Keempat: Sesungguhnya, slogan yang selama ini mereka dengung-dengungkan tentang dialog antaragama dan antar peradaban yang selama ini diopinikan mereka hanyalah slogan kosong dan dusta. Slogan ini pada hakikatnya memiliki maksud dan tujuan-tujuan yang busuk dan merugikan umat Islam. Jadi, slogan ini hanyalah slogan yang semu dan utopis.

Kelima: Orang-orang salibis Nasrani-Barat dengan persetujuan mereka atas penghujatan dan penghinaan terhadap pribadi Nabi ini telah melunturkan kepercayaan kita akan iktikad baik dalam pembicaraan mereka (dengan negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, Pent.) seputar toleransi antaragama serta adanya saling memahami antara mereka dengan kaum muslimin dan peradaban Islam. Lalu, bagaimana mungkin mereka bisa duduk satu meja bersama kaum muslimin, sementara mereka telah menghujat dan menghina Nabinya orang Islam; sosok yang begitu dijunjung tinggi oleh kaum muslimin?! Tidak diragukan lagi, persetujuan mereka atas hujatan dan penghinaan seperti ini akan memperlebar jurang adanya keinginan untuk saling memahami dan hidup berdampingan dengan rasa aman dan sejahtera antara berbagai bangsa dan peradaban.

Keenam: Sesungguhnya, adanya hujatan dan penghinaan seperti ini, serta persetujuan yang diungkapkan secara resmi atas hal itu, menunjukkan adanya standar ganda dalam percaturan internasional yang diterapkan oleh negara-negara Barat. Karena merekalah pencetus undang-undang untuk memberantas segala bentuk penyulut kebencian dan adanya perbedaan antara bangsa-bangsa yang ada di dunia—menurut mereka. Namun, Anda saksikan justru merekalah yang pertama kali membatalkan dan menyelisihi aturan tersebut (yang telah mereka buat sendiri). Lebih-lebih jika propaganda pengobaran kebencian itu tersematkan kepada Islam dan kaum muslimin dan mengarah kepada apa-apa yang mereka benci.

Ketika propaganda yang menyulut kebencian dan permusuhan disematkan kepada Islam dan kaum muslimin, mereka pun merespon, “Ini adalah kebebasan yang harus dijaga, tidak boleh disentuh ataupun didekati. Ketika dikobarkan kebencian kepada hal-hal yang tidak mereka senangi dan tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, ketika itu pula orang-orang yang melanggar hukum internasional dianggap sebagai teroris. Pelakunya pun dibelenggu dari ubun-ubun hingga telapak kaki.

BACA JUGA  Mossad Mengaku Habisi Para Pemimpin Hamas di Luar Negeri

Ketujuh: Sesungguhnya, penghujatan dan penghinaan ini—serta persetujuan atasnya—kita yakini sebagai ungkapan jujur dari kedengkian, ketidaksukaan, permusuhan, serta kebencian yang mendalam kepada Islam dan kaum muslimin, yang selama ini mereka sembunyikan. Meski pada lahirnya mereka menampakkan kebalikan dari hal itu dan mengklaim bahwa mereka adalah penganjur kemanusiaan, kebebasan, dan tidak adanya fanatisme dalam agama-agama yang ada.

Mahabenar Allah Yang Maha-agung, yang berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang yang di luar agamamu sebagai teman kepercayaan kalian, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kalian. Dan mereka mengharapkan kehancuran kalian. Sungguh telah nyata kebencian yang mendalam dari mulut-mulut mereka, sedangkan kebencian yang tersembunyi di dalam hati-hati mereka lebih besar lagi. Sungguh, Kami telah menerangkan kepada kalian ayat-ayat (kami) jika kalian berakal (mau mengerti).” (Al ‘Imran: 118)

Beginilah seharusnya kaum muslimin memahami peristiwa menghebohkan ini, dan seperti inilah seharusnya mereka menafsirkannya!

Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan saudara-saudara saya, sesama kaum muslimin, kepada satu fakta yang sangat nyata serta dapat dirasakan secara langsung. Selama ini saya selalu mengingatkan kepada Anda sekalian bahwa:

“Sekarang ini kalian merupakan rakyat yang tidak mempunyai pemimpin. Demi Allah, seandainya kalian mempunyai negara dan kekuasaan yang mampu melindungi diri, agama, dan umatnya, niscaya kaum tersebut (Yahudi dan Nasrani) tidak akan berani bertindak kurang ajar terhadap nabi kalian, Nabi penyelamat dan penebar rahmat, juga kepada sesuatu yang kalian anggap paling suci.

Namun, tatkala mereka mendapati fakta bahwa kalian merupakan rakyat yang berpecah-belah tanpa seorang pemimpin yang memimpin dan membela kalian serta membela agama kalian, mereka pun rakus terhadap kalian dan secara terang-terangan berani menyatakan sikap permusuhan mereka kepada kalian; kepada agama dan umat kalian; sebagaimana para predator yang siapa menerkam mangsanya!

Lantas, apa tindakan para pemimpin kita menghadapi fenomena yang menghebohkan ini? Apa tindakan media massa mereka selama ini sibuk menolong para thaghut yang melampaui batas? Tidak ada, karena permasalahan ini tidak menguntungkan mereka sedikit pun! Seakan-akan Nabi Muhammad bukanlah nabi mereka! Dan Islam bukanlah agama mereka!

Akan tetapi, jika seorang dari suatu negara melontarkan penghinaan, hujatan, ataupun caci maki terhadap salah seorang penguasa negeri kita, niscaya mereka akan langsung menyuruh pulang duta besar yang ada di negara itu dan memutuskan hubungan diplomatik, ekonomi, dan perdagangan dengan negara tersebut. Sedangkan jika yang dihina dan dihujat adalah nabi kita, niscaya hal ini tidak akan melahirkan tuntutan sedikitpun untuk memboikot atau memerangi mereka, bahkan gelisah pun tidak! Lâ haula wa lâ quwwata illa billâh.”

Adapun Anda sekalian, wahai kaum muslimin, berbuatlah sesuatu demi nabi kalian dan demi membela kehormatannya, selama hal itu dibolehkan dan disyariatkan. Semoga Allah menerima segala amalan kalian dan mengampuni segala kesalahan kita.

Sebagai penutup, segala puji hanyalah kepunyaan Allah.

22 Dzulhijjah 1426 H/22 Januari 2006 M

Abdul Mun’im Mushthafa Halimah
(Abu Bashir Ath-Tharthusi)

Editor: Rudy

Sumber: Buku “Fatwa Mati buat Penghujat, Menyikapi pemuatan kartun Nabi SAW di harian Jyllands-Posten, Denmark” oleh Abdul Mun’im Halimah “Abu Bashir”

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Info Event

Hadirilah Bedah Buku “Syiah Ancam NKRI” di Masjid Al-Fajr Cijagra Bandung

KIBLAT.NET – Revolusi Iran tahun 1979 telah membawa Syiah mengalami evolusi dan transformasi. Dalam gerakannya,...

Selasa, 13/01/2015 10:19 0

Indonesia

KontraS Tuding Penunjukan Calon Tunggal Kapolri Skandal Politik Rezim Jokowi

KIBLAT.NET, Jakarta – KontraS menuding penunjukan Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri merupakan sebuah skandal...

Selasa, 13/01/2015 09:20 0

Indonesia

Komnas HAM Kecam Aksi Tembak Mati Densus 88 di Luwu Utara

KIBLAT.NET, Jakarta – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengecam tindakan Detasemen Khusus 88...

Selasa, 13/01/2015 08:54 0

Suriah

Lagi, Bocah Suriah Membeku di Kamp Pengungsi

KIBLAT.NET, Damaskus – Musim dingin kembali membunuh bayi Suriah di tengah bayang-bayang kesulitan hidup dan...

Selasa, 13/01/2015 00:05 0

Eropa

Kelompok Neo-Nazi Serang Masjid Suleymaniye di Dormagen

KIBLAT.NET, Dormagen – Kelompok Neo-Nazi kembali melakukan serangan terhadap Masjid Suleymaniye Uni Islam Turki di...

Senin, 12/01/2015 20:37 0

Manhaj

Khawarij menurut Syaikh Ibnu Taimiyah (4/5): Antara Bughat dan Khawarij

Syaikh Ibnu Taimiyah ditanya tentang bughat dan Khawarij, apakah kedua kata itu memiliki makna yang...

Senin, 12/01/2015 20:00 0

Lebanon

Al-Qaidah: Serangan Tripoli Sebagai Balasan Serangan di 2 Masjid Sunni

KIBLAT.NET, Tripoli – Al-Qaidah mengaku bertanggung jawab atas dua serangan syahid di daerah Jabal Mohsen...

Senin, 12/01/2015 19:15 0

Amerika

AS Nihilkan Peran Al-Qaidah dalam Serangan di Perancis

KIBLAT.NET, Washington – Amerika Serikat mencoba menihilkan peran Al-Qaidah dalam serangan yang terjadi di Paris. Menurut...

Senin, 12/01/2015 18:29 0

Lebanon

Serangan Bom Syahid Guncang Kafe di Wilayah Syiah, 9 Petugas Keamanan Tewas

KIBLAT.NET, Tripoli – Serangan bom syahid, Sabtu malam (10/01), mengguncang sebuah kafe di daerah Jabal...

Senin, 12/01/2015 18:00 0

Indonesia

Anshar Syariah: Kebijakan Larangan Guru Agama Asing Standar Ganda

KIBLAT.NET, Jakarta – Amir Jamaah Ansyarusy Syariah, Ustadz Muhammad Achwan menilai pelarangan guru agama asing di...

Senin, 12/01/2015 17:36 0

Close