... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Khawarij menurut Syaikh Ibnu Taimiyah (5/5): Beberapa Permasalahan dan Hukum Seputar Khawarij

Ada 8 Bahasan yang sering dipertanyakan terkait dengan Khawarij. Dalam hal ini, Syaikh Ibnu Taimiyah telah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam kumpulan fatwanya.

1. Apakah Boleh Memulai Perang terhadap Khawarij?

Syaikh Ibnu Taimiyah, “(Ali bin Abi Thalib) memulai perang terhadap Khawarij atau mengusir mereka secara kesluruhan dan jumhur ulama membedakan antara Khawarij, ahlu bughat dan mereka yang melakukan ta’wil dan ini diketahui di kalangan para sahabat dan mayoritas penulis kitab…ahlu hadits sepakat untuk memerangi orang yang keluar dari syariat seperti kelompok Haruriah atau kelompok lain yang seperti mereka, dan ini hukumnya wajib. (Fatawa Kubra, 5/568)

Adapun kelompok Khawarij, orang yang tidak mau membayar zakat dan penduduk Thaif yang tidak mengharamkan riba, mereka diperangi sampai mereka itu mau kembali menaati syariat yang telah ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Majmu’ Fatawa, 28/551)

2. Apakah Boleh Mengambil Harta dan Senjata Mereka?

Di antara para ulama ada yang membolehkan untuk mengambil ghanimah dari harta kelompok Khawarij. Sebagaimana yang diriwayatakn oleh Imam Ahmad yaitu tentang Ali bin Abi Thalib ketika di Haruri. Disebutkan bahwa kelompok Khawarij memilki persediaan anak panah di kampung mereka. Kemudian mereka keluar memerangi kaum muslimin, maka mereka pun berhasil dibunuh oleh kaum muslimin sementara tanah mereka dijadikan fai’ (harta rampasan). Kemudian dibagikan lima perlima dan empat perlima bagi mereka yang ikut berperang atau amir menjadikannya sebagai kharaj bagi kaum muslimin dan tidak boleh dibagi sebagaimana yang dilakukan oleh Umar saat menguasai Irak, beliau mewakafkannya untuk umat Islam.

Imam Ahmad berpendapat bahwa tanah orang Khawarij menjadi ghanimah sama sebagaimana ghanimah dari harta orang kafir. dan secara garis besar, cara ini adalah yang jelas benarnya.” (Majmu’ Fatawa, 28/514-515)

Adapun kuda dan senjata atau barang lainnya yang mereka pakai untuk menyerang kaum muslimin, hukum mengambilnya menjadi perdebatan diantara para ulama. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa pasukannya merampas segala sesuatu yang terdapat di dalam pasukan Khawarij. Jika pemimpin membolehkan mengambil harta yang ada di pasukan mereka, maka hal itu boleh dengan syarat mereka masih dalam keadaan membangkang…(Majmu’ Fatawa, 28/555)

3. Apakah boleh membunuh tawanan mereka serta menangkap tokoh mereka?

Para ulama berbeda pendapat tentang bagaimana hukum membunuh tawanan mereka, menahan para pimpinannya dan membunuh pengikut mereka yang luka jika mereka berlindung pada sebuah kelompok. Imam Abu Hanifah membolehkannya, sementara Imam Syafi’i melarangnya, demikian juga yang masyhur di kalangan Imam Ahmad dan di kalangan Imam Ahmad. Ada juga yang berpendapat untuk mengincar para tokohnya pada awal perperangan.

4. Apakah boleh membunuh salah seorang di antara mereka yang berada dalam kekuasaan kita?

Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun membunuh orang Khawarij yang ada dalam kekuasaan kita atau seperti Haruriah, Rafidhah dan yang semisal dengan mereka. Dalam hal ini pendapat para ulama fikih terbagi menjadi dua pendapat, yaitu dua riwayat dari Imam Ahmad…. Namun yang benar adalah boleh membunuhnya seperti orang yang mengajak kepada mazhab tersebut atau yang mendatangkan mafsadah yang serupa. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di mana saja kalian mendapati mereka, maka bunuhlah.”

Umar pernah berkata kepada Sabigh bin ‘Asl, “Seandainya saya mendapati engkau dalam keadaan gundul maka akan saya pukul wajahmu.”

BACA JUGA  Peluang di Balik Wabah Corona, Pelajaran dari Jatuhnya Konstantinopel

Demikian juga Ali pernah ingin membunuh Abdullah bin Saba’ namun dia lari dari Ali. Mereka dibunuh karena kerusakan yang mereka timbulkan di muka bumi. Seandainya tidak ada cara lain untuk mencegah kerusakan tersebut kecuali dengan perang maka harus diperangi.

Namun tidak wajib membunuh salah seorang di antara mereka jika belum menampakkan kejelasan keyakinannya atau jika membunuhnya akan mendatangkan mafsadat yang lebih besar. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengeksekusi mereka yang keluar dari jamaah—kaum muslimin waktu itu—karena khawaitr nanti orang-orang akan mengatakan “Muhammad telah membunuh para sahabatnya.” Dan syaratnya mereka tidak membuat kerusakan di muka umum. Oleh karena itu, Ali tidak membunuh mereka ketika awal kemunculannya dan jumlah mereka banyak serta berbaur dalam jamaah dan tidak memerangi kaum muslimin serta belum ada kejelasan jika mereka adalah Khawarij.” (Majmu’ Fatawa, 28/499-500)

5. Apakah Khawarij itu Dikafirkan dan Akan Masuk Neraka?

Dalam hal ini para ulama juga memiliki dua pendapat, yaitu dua riwayat dari Imam Ahmad.   Namun yang shahih adalah perkataan Khawarij yang menyelisihi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka mengetahui hakikat tersebut maka mereka kafir. Demikian juga dengan perbuatan mereka yang termasuk bagian dari perbuatan orang kafir, maka itu juga kafir. Dan saya telah menyebutkan dalil yang menunjukkan hal itu dalam banyak tempat. Namun mengafirkan secara muayaan atau menganggap salah satu di antara mereka kekal di dalam neraka, tentu hal tersebut—baru bisa divonis—ketika memenuhi syarat takfir serta hilangya segala bentuk penghalang. (Majmu’ Fatawa, 28/500)

Para ulama sepakat untuk mencela para Khawarij dan menganggap mereka sesat, namun mereka berselisih dalam hal mengafirkan. Pendapat yang mengafirkan mereka ada dua, yang masyhur dalam mazhab Imam Malik dan Ahmad, demikian juga dengan Imam Syafi’i. Namun secara umum mereka menghukumi Khawarij menjadi dua pendapat. Pertama, Mereka adalah bughat (pemberontak). Kedua, Mereka dalah kafir murtad, boleh mengawali perang terhadap mereka, membunuh pemimpinnya serta memburu para tokoh-tokohnya dan jika ada yang berada dalam kekuasaan kita, maka dimintai tobat seperti orang murtad, jika tidak mau maka dibunuh. Sebagaimana halnya dalam menyikapi mereka yang menolak zakat.

Sementara perkataan Ali bin Abi Thalib dan selainnya tentang Khawarij menimbulkan hukum bahwa mereka tidak kafir sebagaimana murtad dari Islam. (lihat: Majmu’ Fatawa, 28/518)

6. Mana yang Lebih Keji antara Rafidhah dan Khawarij?

Sebagaimana yang telah kami sebutkan bahwa kelompok Rafidhah yang memerangi lebih keji daripada Khawarij, kedua kelompok tersebut berada pada dua titik yang ekstrem. Namun orang Khawarij memuliakan Al-Qur’an, oleh karena itu kelompok Khawarij lebih kecil kesesatannya dibandingkan dengan Rafidhah –walaupun kedua-duanya menyelisihi Al-Qur’an dan hadits serta menyimpang dari jalan para sahabat dan keluarga nabi serta menyelisihi sunnah khulafaurrasyidin dan keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ (Majmu’ Fatawa, 28/493)

BACA JUGA  Pemerintah Butuh Dana Rp 300 Triliun Jika Terapkan Lockdown

Para ulama telah sepakat untuk memerangi Khawarij dan Rafidhah dan kelompok-kelompok semacam mereka jika keluar dari jamaah kaum muslimin. Orang yang pertama kali memerangi mereka adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Kemudian kaum muslimin terus memerangi mereka di bawah pemimpin Bani Umayyah dan Abbasiyah meskipun penguasa tersebut zalim. Sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Hajjaj yang memerangi kelompok Khawarij, seluruh pemimpin kaum muslimin memerintahkan untuk memerangi mereka.

Kelompok Rafidhah lebih buruk daripada Khawarij dalam hal akidah akan tetapi Khawarij lebih lancang dalam menggunakan pedang dan suka membunuh. (Majmu’ Fatawa, 3/83)

7. Syaikh ditanya bagaimana tentang seseorang yang lebih mengutamakan Yahudi dan Nasrani daripada Rafidhah

Beliau menjawab bahwa setiap orang yang beriman terhadap apa yang datang dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia adalah orang yang lebih baik (utama) daripada orang yang mengingkarinya. Meskipun amalan orang mukmin tersebut masih tercemari dengan sebagian perbuatan bid’ah, baik itu bid’ah Khawarij, Syiah, Murjiah, Qadariah atau kelompok sesat lainnya.

Orang Yahudi dan Nasrani adalah kafir sebagaimana maklum diketahui di dalam Islam. Sementara pelaku bid’ah jika dia mengira bahwa amalannya sesuai dengan petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menyelisihinya, maka orang itu tidak bisa dihukumi kafir. Walaupun pada taraf tertentu dia menjadi kafir, namun kekafirannya tetap tidak sama seperti kafirnya mereka yang mendustakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Majmu’ Fatawa, 35/201)

8. Mana yang paling membahayakan bagi kaum muslimin, Khawarij atau pelaku maksiat?

Ahlu bid’ah lebih buruk daripada pelaku maksiat—dalam hal syahwat. Hal ini sesuai dengan ketetapan sunnah dan ijma ulama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh orang Khawarij dan melarang untuk memerangi pemimpin yang zalim, Nabi bersabda mengenai mereka yang minum khamer, “Jangan kalian laknat dia karena dia mencintai Allah dan rasulnya.” Rasul juga bersabda kepada Dzul Khuwaishiroh, “Akan keluar dari orang ini satu kaum yang membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dengan mudah, namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama—dalam riwayat lain disebut keluar dari Islam—bagaikan anak panah yang meleset dari sasarannya.” (Majmu’ Fatawa, 20/103)

Pelaku dosa yang mengetahui dosa-dosanya lebih ringan kerusakannya terhadap kaum muslimin daripada amalan pelaku bid’ah yang menciptakan sebuah bid’ah kemudian menghalalkan darah terhadap siapa saja yang menyelisihi mereka. (Minhaju Sunnah, 5/154)

Penyusun: Fahrudin, diinspirasi dari tulisan Syaikh Abu Hasan Al-Kuwaiti yang berjudul “Khawarij ‘inda Ibni Taimiyah”

Editor: Rudy

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Khawarij menurut Syaikh Ibnu Taimiyah (5/5): Beberapa Permasalahan dan Hukum Seputar Khawarij”

  1. bukan siapa siapa

    maaf mau tanya, apakah wahabi itu khawarij?

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Asia

Polisi China Tembak Mati 6 Muslim Uighur

KIBLAT.NET, Urumqi – Polisi Cina membunuh enam Muslim Uighur di wilayah Turkistan Timur (Xinjiang) yang...

Selasa, 13/01/2015 18:00 0

Mesir

Tujuh Mayat Ditemukan di Semenanjung Sinai Mesir

KIBLAT.NET, Sinai – Pasukan keamanan Mesir pada hari Senin (12/1/2015) menemukan empat mayat di Semenanjung...

Selasa, 13/01/2015 17:05 0

Turki

Gelar Pawai Anti Terorisme, Erdogan: Barat Munafik

KIBLAT.NET, Ankara – Presiden Turki Tayyip Erdogan pada hari Senin (12/1/2015) menilai Barat sedang memperlihatkan...

Selasa, 13/01/2015 16:04 0

Munaqosyah

Densus Membunuh Terduga Teroris Dihukumi Mujtahid? (2/2)

Ringkasan tulisan sebelumnya: Ijtihad tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Harus ada kriteria tertentu yang...

Selasa, 13/01/2015 15:15 0

Artikel

Pembelaan terhadap Sang Nabi Pilihan

Serangan terhadap majalah satire Charlie Hebdo masih hangat terdengar di telinga. Redaktur bersama beberapa staffnya...

Selasa, 13/01/2015 12:00 0

Info Event

Hadirilah Bedah Buku “Syiah Ancam NKRI” di Masjid Al-Fajr Cijagra Bandung

KIBLAT.NET – Revolusi Iran tahun 1979 telah membawa Syiah mengalami evolusi dan transformasi. Dalam gerakannya,...

Selasa, 13/01/2015 10:19 0

Indonesia

KontraS Tuding Penunjukan Calon Tunggal Kapolri Skandal Politik Rezim Jokowi

KIBLAT.NET, Jakarta – KontraS menuding penunjukan Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri merupakan sebuah skandal...

Selasa, 13/01/2015 09:20 0

Indonesia

Komnas HAM Kecam Aksi Tembak Mati Densus 88 di Luwu Utara

KIBLAT.NET, Jakarta – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengecam tindakan Detasemen Khusus 88...

Selasa, 13/01/2015 08:54 0

Suriah

Lagi, Bocah Suriah Membeku di Kamp Pengungsi

KIBLAT.NET, Damaskus – Musim dingin kembali membunuh bayi Suriah di tengah bayang-bayang kesulitan hidup dan...

Selasa, 13/01/2015 00:05 0

Eropa

Kelompok Neo-Nazi Serang Masjid Suleymaniye di Dormagen

KIBLAT.NET, Dormagen – Kelompok Neo-Nazi kembali melakukan serangan terhadap Masjid Suleymaniye Uni Islam Turki di...

Senin, 12/01/2015 20:37 0

Close