... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Densus Membunuh Terduga Teroris Dihukumi Mujtahid? (2/2)

Foto: Penangkapan tertuda teroris oleh Densus 88/Ilustrasi

Ringkasan tulisan sebelumnya:

Ijtihad tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Harus ada kriteria tertentu yang dipenuhi agar ia berhak mendapatkan sertitifikasi ijtihad. Dari empat contoh syarat ijtihad yang dipaparkan Muhammad Abu Zahroh dalam Ushulul Fiqh-nya, terlalu jauh dengan karakter, tindakan dan kehidupan sehari-hari Densus 88. Toh andaikan Densus 88 memiliki kriteria tersebut, bukan berarti memiliki legitimasi untuk sembarangan membunuh seorang Muslim. Karena darah seorang Muslim itu tak ternilai. Rusaknya dunia dan seisinya tidak lebih berarti di hadapan Allah ketimbang terbunuhnya seorang Muslim tanpa alasan yang dibenarkan.

Tudro’ul hudud bisy syubuhat

Terorisme dan teroris merupakan kata yang sering kita dengar satu dekade belakangan ini. Kata ini mulai akrab di telinga kita saat Amerika Serikat melancarkan serangan ke Taliban di Afghanistan pasca serangan WTC 11 September 2001. Istilah yang dikampanyekan oleh Amerika untuk mendapatkan simpati dunia dalam invasi tersebut adalah War on Teror. Sejak saat itu istilah ini Amerika gunakan sebagai alasan untuk setiap aksi brutal mereka terhadap negeri-negeri Muslim. Sebut saja Afghanistan, Irak, Yaman—dan yang terbaru adalah invasi mereka ke Suriah.

Namun belum ada definisi yang disepakati oleh dunia dalam memaknai kata “teror” itu sendiri. Sehingga dalam memaknai kata teror itu sendiri kembali kepada subyektifitas pihak yang berkepentingan. Madzhab penyematan istilah terorisme adalah mazhab “suka-suka” oleh pemangku mandat untuk menangani terorisme, yang dalam konteks ke-Indonesiaan adalah Densus 88.

Karena tidak adanya makna yang definitif tentang apa itu terorisme, maka dakwaan terorisme atas seseorang yang didasarkan mazhab “suka-suka” tadi mengandung syubuhat. Sebab, tidak ada pijakan yang jelas apa yang dimaksud dengan terorisme. Terkhusus bagi seorang alim seperti Ustadz Abu Yahya Badrussalam, apakah definisi terorisme (hirobah) dalam Al-Qur’an itu sama dengan apa yang dimaui Densus 88, BNPT atau Amerika selaku penggagas awal isu terorisme ini?

Karena kelemahan landasan tersebut, seharusnya tindakan Densus 88 yang main bunuh digugat atau setidaknya dipertanyakan. Sebab, Tudro’ul hudud bisy syubuhat. Hudud (hukum pidana Islam) tertolak dengan adanya syubhat. Seharusnya, sebelum asal menganggap tindakan Densus 88 sebagai sebuah ijtihad, ada baiknya Ust. Abu Yahya Badrussalam juga memahami apa definisi terorisme menurut mazhab suka-suka BNPT.

Terorisme Menurut BNPT

Kepala BNPT yang lalu, Ansyad Mbai pernah mengatakan di acara Halaqoh Penanggulangan Terorisme, yang berlangsung pada 6 Nopember 2010, bahwa salah satu ciri teroris adalah “pihak atau kelompok yang menginginkan penegakkan Khilafah Islamiyah atau Daulah Islamiyah”. Jelas ini adalah pernyataan yang cukup tendensius yang mengarah kepada Islam dan kaum muslimin, karena khilafah adalah lembaga tertinggi kepemimpinan umat Islam di dunia. Khilafah pula yang selama berabad-abad melindungi kaum muslimin.

BACA JUGA  Khutbah Jumat: Dakwah Santun Ala Para Nabi

Bukti lain yang menguatkan keyakinan kalau label teroris hanya ditujukan kepada umat Islam adalah apa yang terjadi di Papua beberapa tahun terakhir. Sebagai contoh, pada tanggal 4 Januari 2014 terjadi serangan terhadap pos polisi yang menewaskan 2 orang anggota Polri di sub Sektor Kulirik, Puncak Jaya, Papua. Penyerangan dilakukan oleh 20 orang anggota OPM (Organisasi Papua Merdeka). Beberapa tahun belakangan ini OPM juga cukup aktif dalam melakukan aksi teror, tapi ke mana Densus 88?

Seandainya Densus 88 benar-benar spesial didesain untuk melawan terorisme, seharusnya mereka turun ke Papua. Setali tiga uang dengan Densus 88 yang tidak melakukan tindakan apa-apa, media mainstream (sekuler) juga tidak menyebut OPM sebagai organisasi teroris. Padahal teror yang mereka lakukan nyata, terorganisir dan jelas-jelas membahayakan NKRI.

Kenyataan ini semakin menguatkan indikasi bahwa Densus 88 dan BNPT hakekatnya adalah kepanjangan tangan (antek) Amerika dalam War on Teror (WOT). WOT Amerika yang genderangnya ditabuh oleh George Walker Bush pasca penyerangan WTC dan Pentagon adalah perang Amerika terhadap umat Islam yang Densus 88 hanyalah salah satu dari sekian banyak elemen WOT Amerika.

Berbagai indikasi kuat akan hal ini di antaranya adalah apresiasi yang diucapkan lansung dari Gedung Putih akan “keberhasilan” Densus 88 dan BNPT dalam memberantas terorisme di Idonesia. Dalam bukunya “Dinamika Baru Jejaring Teror di Indonesia,” Kepala BNPT Ansyaad Mbai dengan bangganya menceritakan bahwa ia mendapat telepon dari asisten Obama.

“Good evening General, Congratulation…I just to convey the message from my Boss (Barrack Obama) The highes appreciate to Indonesia’s success in countering-terrorism.” (Selamat sore Jendral, saya hanya menyampaikan pesan dari bos saya (Barrack Obama). Apresiasi yang tinggi untuk keberhasilan Indonesia dalam upaya memberantas terorisme.)

Dalam buku tersebut ada penjelasan dalam diri Mbai karena tidak menanyakan siapakah yang menelepon, baru kemudian hari Mbai tahu bahwa yang meneleponnya adalah John O. Brennan, Security Advisor Obama yang akhirnya diangkat menjadi Bos CIA yang baru.

Apresiasi yang diberikan Obama dan disampaikan oleh orang yang akhirnya menjadi bos CIA agaknya ini menjadi bukti kuat akan keterlibatan Densus 88 dalam proyek War On Teror-nya Amerika yang sejatinya itu adalah perang terhadap umat Islam.

Biadabnya “Sang Mujtahid”

Dalam wawancara yang dilakukan oleh Tempo kepada Haris Azhar dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) terungkap bahwa sepanjang tahun 2013 saja Densus 88 sudah melakukan 29 kali pelanggaran HAM. Pelanggaran itu dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya melakukan upaya berlebihan sehingga jarang ada teroris yang ditangkap hidup-hidup. Tim Densus 88 juga disebut kerap salah tembak. ”Seperti kasus yang menimpa Sujono,” kata Haris. Sujono adalah korban salah tembak anggota Tim Densus dalam penyergapan teroris di Tulungagung, Jawa Timur. Gara-gara tertembak di bagian pinggang, warga Desa Karangwaru, Tulungagung, itu hingga kini tak bisa kembali bekerja sebagaimana biasa.

BACA JUGA  Meski Dilarang, Ratusan Mahasiswa Tetap Turun ke Jalan

Haris menambahkan, Densus 88 juga tidak jarang salah menangkap seseorang yang disebut tertuduh teroris. Kejadian tak enak itu sempat dialami dua warga lereng Gunung Wilis, Tulungagung: Mugi Hartanto dan Sapari. Dua warga dari Desa Pagerwojo, Tulungagung, itu akhirnya dibebaskan akhir Juli lalu setelah dinyatakan bukan teroris.

Kalau kita kembali ke tahun 2007 di Poso ramai beredar video kekerasan dan penyiksaan yang dilakukan Densus 88 terhadap warga Poso yang berhasil ditangkap. Salah satunya adalah korban yang bernama Udin yang tidak lain adik kandung dari Basri, buronan Densus 88 saat itu. Udin ditangkap dalam keadaan sehat wal afiat, dibawa ke Palu dan selang sehari Densus mengembalikan Udin kepada keluarga dalam keadaan sudah tak bernyawa. September tahun 2014, Densus 88 juga menembak mati Nurdin yang saat itu sedang melakukan shalat.

Kebrutalan Densus 88 yang sudah menjadi rahasia umum, mendapat penolakan dari banyak pihak. Di antara yang menolak keras adalah Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Hajriyanto Y. Tohari. Ia mengkritik aksi tembak mati yang dilakukan Densus 88 Polri terhadap para tertuduh teroris.

“Ini negara hukum, bukan negara para janggo atau negara para cowboy yang gampang mencabut senjata lalu dar der dor!,” kata Hajriyanto seperti dilansir Republika.

Belum lagi indikasi rekayasa yang dilakukan Densus 88 dalam beberapa aksinya. Indikasi rekayasa itu diungkapkan ke publik oleh pengamat terorisme Harits Abu Ulya yang juga Direktur The Community Ideological Islamic Analyst (CIIA). Misalnya dalam penembakan terduga teroris di Poso baru-baru ini. Itu hanya salah satu contoh.

Dengan kenyataan seperti ini, maka sebenarnya siapakah yang layak disebut teroris? Siapakah yang layak diposisikan layaknya mujtahid yang salah dalam memilih pilihan? Dan, pertanyaan terakhir yang belum terjawab adalah: Apakah membunuh orang Islam yang merindukan daulah Islamiyah dan khilafah atas pesanan pemerintah kafir seperti Amerika itu masih juga mendapat pahala karena dianggap ijtihad?

Penulis: Miftahul Ihsan, Lc.
Editor: Hamdan

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Artikel

Pembelaan terhadap Sang Nabi Pilihan

Serangan terhadap majalah satire Charlie Hebdo masih hangat terdengar di telinga. Redaktur bersama beberapa staffnya...

Selasa, 13/01/2015 12:00 0

Info Event

Hadirilah Bedah Buku “Syiah Ancam NKRI” di Masjid Al-Fajr Cijagra Bandung

KIBLAT.NET – Revolusi Iran tahun 1979 telah membawa Syiah mengalami evolusi dan transformasi. Dalam gerakannya,...

Selasa, 13/01/2015 10:19 0

Indonesia

KontraS Tuding Penunjukan Calon Tunggal Kapolri Skandal Politik Rezim Jokowi

KIBLAT.NET, Jakarta – KontraS menuding penunjukan Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri merupakan sebuah skandal...

Selasa, 13/01/2015 09:20 0

Indonesia

Komnas HAM Kecam Aksi Tembak Mati Densus 88 di Luwu Utara

KIBLAT.NET, Jakarta – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengecam tindakan Detasemen Khusus 88...

Selasa, 13/01/2015 08:54 0

Suriah

Lagi, Bocah Suriah Membeku di Kamp Pengungsi

KIBLAT.NET, Damaskus – Musim dingin kembali membunuh bayi Suriah di tengah bayang-bayang kesulitan hidup dan...

Selasa, 13/01/2015 00:05 0

Eropa

Kelompok Neo-Nazi Serang Masjid Suleymaniye di Dormagen

KIBLAT.NET, Dormagen – Kelompok Neo-Nazi kembali melakukan serangan terhadap Masjid Suleymaniye Uni Islam Turki di...

Senin, 12/01/2015 20:37 0

Manhaj

Khawarij menurut Syaikh Ibnu Taimiyah (4/5): Antara Bughat dan Khawarij

Syaikh Ibnu Taimiyah ditanya tentang bughat dan Khawarij, apakah kedua kata itu memiliki makna yang...

Senin, 12/01/2015 20:00 0

Lebanon

Al-Qaidah: Serangan Tripoli Sebagai Balasan Serangan di 2 Masjid Sunni

KIBLAT.NET, Tripoli – Al-Qaidah mengaku bertanggung jawab atas dua serangan syahid di daerah Jabal Mohsen...

Senin, 12/01/2015 19:15 0

Amerika

AS Nihilkan Peran Al-Qaidah dalam Serangan di Perancis

KIBLAT.NET, Washington – Amerika Serikat mencoba menihilkan peran Al-Qaidah dalam serangan yang terjadi di Paris. Menurut...

Senin, 12/01/2015 18:29 0

Lebanon

Serangan Bom Syahid Guncang Kafe di Wilayah Syiah, 9 Petugas Keamanan Tewas

KIBLAT.NET, Tripoli – Serangan bom syahid, Sabtu malam (10/01), mengguncang sebuah kafe di daerah Jabal...

Senin, 12/01/2015 18:00 0

Close