... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Membunuh Terduga Teroris, Densus 88 Dianggap Mujtahid? (1/2)

Pak Densus tu kan melaksanakan tugas saja. Mereka sudah berusaha untuk mencari para teroris-teroris yang memang mereka itu tersangka berbuat keonaran sebagai pelaku-pelaku terorisme. Kalau mereka (Densus) sudah berusaha ternyata salah (tembak) orang, mudah-mudahan Allah memaafkan mereka.

Karena dalam Islam saja pak, seseorang sudah berusaha ijtihad dan berusaha untuk mengetahui suatu permasalahan kemudian salah, maka diberikan pahala satu. Kalau misalnya orang-orang Densus tu sudah diperintahkan oleh oleh pemerintah, “Kamu cari ara teroris itu,” kemudian mereka sudah melaksanakan tugas, ternyata salah orang qodarrallah, gimana?

Sementara sudah berusaha semoga Allah memaafkan, yang terpenting mereka sudah berusaha sekuat tenaga. 

 Badrussalam02

KIBLAT.NET — Itu adalah jawaban Ust. Abu Yahya Badru Salam, Lc dalam sebuah pengajian di Polda Lampung. Ketika itu ada yang menanyakan pandangannya jika ada “teroris” yang mati ditembak Densus 88. Hingga tulisan ini dibuat, tayangan tersebut masih bisa dilihat di kanal Rodja TV di youtube.

Bagi Ust. Badrussalam, tindakan Densus 88 yang membunuh terduga teroris adalah sah. Tak hanya di situ, dia juga menguzur (memaafkan) tindakan tersebut dengan dalih Densus 88 sedang berijtihad. Lengkap dengan menukil sebuah hadits yang menyatakan jika hakim yang berijtihan salah, maka ia mendapatkan satu pahala.

Sesederhana itukah permasalahannya?

Pembunuhan yang dilakukan oleh Densus 88 terhadap seseorang yang diduga sebagai teroris adalah permasalahan darah. Islam sangat ketat dalam masalah ini, dan mengancam dengan keras terhadap setiap pelanggaran apapun di dalamnya. Dalam sebuah firman-Nya, Allah SWT mengancam pelaku pembunuhan seorang Muslim dengan kekekalan tinggal di neraka.

(وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَائُهُ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيْهَا (النساء : 93

Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasan baginya adalah neraka Jahannam yang ia kekal di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ 93)

Demikian pula Rasulullah sholallahu alaihi wasallam, dalam wasiat-wasiat terakhir saat Haji Wada’ mewasiatkan kepada para shahabat agar jangan saling membunuh. Beliau bersabda:

( لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ ( رواه مسلم

“Setelah sepeninggalku nanti, janganlah kalian betindak (seperti) amalan orang-orang kafir, yang sebagian kalian memukul tengkuk (membunuh) sebagian yang lain. (HR. Muslim)

Saking besarnya perkara darah seorang Muslim, perkara ini menjadi hal yang pertama kali diadili di akhirat kelak. Dalam sebuah hadits disebutkan :

BACA JUGA  Haluan Ekonomi Masyumi

(أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فيِ الدِّمَاءِ (متفق عليه)

“Hal yang pertama kali diadili pada hari kiamata adalah urusan darah.” (HR. Bukhari Muslim)

Saking berharganya darah seorang Muslim, maka keruntuhan dunia dan seisinya sekalipun tidak ada apaapanya di sisi Allah, jika dibandingkan terbunuhnya seorang muslim tanpa alasan yang dibenarkan. Rasulullah sholallahu alaihi wasallam bersabda :

(لَزُوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ (رواه  ابن ماجه

“Runtuhnya dunia dan seisinya lebih ringin di sisi Allah dibanding dengan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak (alasan yang dibenarkan).” (HR Ibnu Majah)

Hadits dari Ibnu Mas’ud , bahwasanya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda :

(لاَ يَحِلُّ دَمُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَ أَنِّي رَسُوْلَ اللّهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ : اَلثَّيِّبُ الزَّانِي , اَلنَّفْسُ بِالنَّفْسِ , وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ (متفق عليه

“Tidaklah halal darah seorang Muslim yang bersyahadat tiada ilah selain Allah dan saya adalah utusan Allah, kecuali tiga hal: orang yang telah menikah berzina, jiwa dibalas jiwa (qisas) dan orang yang meninggalkan agamanya. (HR. Bukhori Muslim)

Selama seseorang masih Muslim, dan tidak terbukti melakukan pembatal keislaman atau melakukan pelanggaran yang membuat darahnya halal, maka selama itu pula Islam menjaga darah, harta dan kehormatannya. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

(مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا وَ أَكَلَ ذَبِيْحَتَنَا فَذلِكَ الْمُسْلِمُ الَّذِي لَهُ ذِمَّةُ اللّهِ وَ ذِمَّةُ رَسُوْلِهِ (رواه البخاري

“Barangsiapa yang sholat seperti sholat kita, menghadap ke kiblat kita, dan memakan sembelihan kita maka dia adalah muslim yang mendapatkan penjagaan Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhori).

Ayat dan hadits-hadits di atas menjadi dasar atas larangan seseorang membunuh Muslim, kecuali dengan alasan-alasan yang dibenarkan. Maka patut disayangkan jawaban ustadz di atas yang terkesan memberikan kewenangan kepada Densus 88 untuk membunuh siapa saja terduga teroris. Bisa jadi, ini membuat sang ustadz ikut andil dalam tumpahnya darah yang diharamkan.

Sekalipun itu terduga teroris. Sebab, secara hukum statusnya masih terduga, belum terbukti. Padahal dalam islam untuk masalah hudud (penerapan hukum pidana) harus terbebas dari yang namanya syubhat. Ada kaidah yang berbunyi “Tudro’ul hudud bisy syubuhat” Artinya, hudud (hukum pidana Islam) tertolak dengan adanya syubhat. Syubhat adalah ketidakjelasan atau belum terbuktinya seseorang melakukan tindakan pidana, atau hal-hal lain yang menyebabkan hukum pidana belum bisa ditegakkan.

BACA JUGA  Ahok Lelang Batik yang Dikenakan Saat Sidang, Ditawar Sampai Rp 100 Juta

 

Densus 88 = Mujtahid?

Poin berikutnya, sang ustadz seolah-olah dalam jawabannya, menganggap Densus 88 adalah sekelompk mujtahidin yang apabila salah pun tetap mendapat satu pahala. Padahal, dalam syariat Islam seorang yang membunuh tanpa sengaja (qotlul khoto’), walaupun dia tidak berdosa akan tetapi syariat membebankan untuk membayar kafarat.

Ini jika yang terjadi adalah qotlul khoto’. Secara faktual, apa yang dilakukan densus bukanlah qotlul khoto’. Bisa berupa qotlu syibhil amdi (pembunuhan yang mirip sengaja) bahkan bisa jatuh kepada qotlul amdi (pembunuhan yang disengaja) yang hukumannya adalah qishos (dibalas bunuh).

Penyamaan sang ustadz antara Densus 88 dan mujtahid jelas tidak nyambung. Mengapa?

Ijtihad adalah sebuah perkara yang tidak sembarang kepala bisa atau boleh melakukan. Muhammad Abu Zahroh dalam Ushul Fikihnya menyebutkan syarat-syarat bagi seseorang untuk bisa atau boleh berijtihad, di antaranya:

  1. Mengetahui bahasa Arab. Para ulama’ usul sepakat bahwa penting bagi seorang mujtahid mengetahui bahasa arab, karena Al-Qur’an yang dengannya syariat ini turun berbahasa Arab, dan As-Sunnah yang merupakan penjelas Al-Qur’an juga berbahasa Arab. Bagaimana dengan Densus 88?
  2. Mengetahui nasikh dan mansukh. Al-Qur’an diturunkan secara bertahap selama 23 tahun, selama rentang waktu ada ayat ayat yang sudah di-mansukh (tidak berlaku lagi hukumnya). Maka jika seorang mujtahid tidak mengetahui ayat ayat yang mansukh ditakutkan dia menggunakan ayat yang mansukh padahal hukum ayat itu sudah tidak berlaku lagi. Sejauh mana Densus 88 paham nasih-mansukh?
  3. Mengetahui Ijma’ dan Khilaf. Seorang mujtahid harus menguasai ini, karena jika sudah terjadi ijma’ dalam suatu masalah maka seorang mujtahid tidak boleh lagi melakukan ijtihad. Selain itu, ijtihad hanya boleh dilakukan pada kaaus kasus yang tidak terjadi ijma’ di dalamnya. Densus 88?
  4. Mengetahui qiyas. Qiyas merupakan elemen penting dalam ijtihad. Karena dengan qiyas seorang mujtahid bisa mencari persamaan illah antara kasus yg ada di hadapannya dan perkara perkara yang sudah ada dalilnya. Qiyas memiliki rukun, syarat dan cara cara yg mana kesemua hal ini harus dikuasai oleh seorang mujtahid. Bagaimana dengan Densus 88?

Berlanjut ke tulisan kedua.

Penulis: Miftahul Ihsan, Lc.
Editor: Hamdan


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

19 comments on “Membunuh Terduga Teroris, Densus 88 Dianggap Mujtahid? (1/2)”

  1. Abdurrahman (Bukan) Ayyub

    Kesimpulan yang lucu. Membunuh seorang muslim berpahala karena faktor ijtihad…
    Contoh kasus pembunuhan berpahala yang disebutkan para ahli ushul adalah ketika seorang melihat ada yg kelaparan dan nyaris mati karenanya, kemudian dia memberinya roti,padahal dia tidak tahu bahwa roti tersebut beracun, sehingga tidak sengaja dia membunuhnya. dia diberi pahala atas niatnya, tapi tetap dia harus menanggung diyat.

    ini bagian dari contoh kaidah AL UMUURU BI MAQHASHIDIHAA.

    al qiyas ma’al faariq…yg satu ngasih makan roti dengan niatan nolong, yg satunya menolong dengan ngasih makan peluru dengan niatan membunuh lagi…

  2. Kalau mereka (Densus) sudah berusaha ternyata salah (tembak) orang, mudah-mudahan Allah memaafkan mereka.

    Apakah penulis paham, arti kata “berusaha sekuat tenaga?”

  3. Abdurrahman+(Bukan)+Ayyub

    @Anonim: Yang diucapkan Ust. Abu Yahya Badrussalam adalah “berusaha” saja. Tidak pakai “sekuat tenaga.”
    Tapi secara pribadi saya setuju, Densus 88 sudah berusaha sekuat tenaga. Tapi baru sebatas tenaga “nafsu dan otot” nya saja. Nafsu untuk memburu kenaikan pangkat, dan uang hasil proyek dramatisasi terorisme. Otot, ya kekuatan memburu dan menarik pelatuk senjata untuk membunuhi terduga teroris.
    Adapun kekuatan “otak dan nurani” belum diberdayakan. Otak di sini adalah belajar apa sih sesungguhnya definisi terorisme itu? Real sebagai sebuah ancaman, atau sebenarnya hanya jadi tukang cuci piring dari pesta kebiadaban AS yang digelar di senarai negara Islam? Terorisme ini hanya reaksi dari berbagai tindakan kebiadaban AS tersebut.
    Digabung dengan otak, secara nurani seharusnya juga perlu mengajak dialog kepada mereka yang disebut sebagai “teroris.” Apa mau mereka, kepada siapa mereka mendendam.. dlsb.
    Kalau maunya mereka menegakkan hukum Allah, mbok ya sudah, ikhlaskan saja 2 atau 3 pulau dari ribuan pulau NKRI, suruh mereka tinggal di situ dan kasih otonomi menjalankan syariat Islam sepuas-puasnya.
    Kalau mereka mendendam kepada Polisi, mbok ya sudah.. apa susahnya sih minta maaf?
    Adakan disksusi besar, jujur dan terbuka tentang “Apa Sih yang Dimaui Teroris?”
    Besar = melibatkan seluruh elemen yang bersinggungan.
    Jujur = murni apa adanya, jangan ada rekayasa apapun.
    Terbuka = diumumkan seluas-luasnya.

  4. Sugeng Raharjo

    Menurut sy, definisi berusaha sekuat tenaga” itu adlh BELAJAR & bekerja keras agar menguasai sebagian syarat2 menjadi seorang Mujtahid sbgimana dipAparkan penulis.

    Tetapi… “How can?”

    Pertanyaan2 penulis diakhir setiap poin syarat2 ijtihad membuat saya ngakak (meski gak sampe guling-guling). :)

  5. Truth Seeker

    Saya bukan ustadz, apalagi syaikh, tapi baca hal ini lucu banget apalagi kasus terorisme di Indonesia mah rata2 ada permainan BIN dan DENSUS itu sendiri. Bukan murni tindakan terorisme

    Cek gih di youtube atau situs lain judul video, “Inside Indonesia’s War Against Terror” dan kau pun akan tau kebenarannya

    Aduh, bangsaku semoga kamu sehat selalu dari penyakit para pemimpin yang sakit

  6. Sesederhana itukah permasalahannya?

    Pembunuhan yang dilakukan oleh Densus 88 terhadap seseorang yang diduga sebagai teroris adalah permasalahan darah. Islam sangat ketat dalam masalah ini, dan mengancam dengan keras terhadap setiap pelanggaran apapun di dalamnya. Dalam sebuah firman-Nya, Allah SWT mengancam pelaku pembunuhan seorang Muslim dengan kekekalan tinggal di neraka.

    (وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَائُهُ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيْهَا (النساء : 93

    “Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasan baginya adalah neraka Jahannam yang ia kekal di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ 93)

    Demikian pula Rasulullah sholallahu alaihi wasallam, dalam wasiat-wasiat terakhir saat Haji Wada’ mewasiatkan kepada para shahabat agar jangan saling membunuh. Beliau bersabda:

    ( لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ ( رواه مسلم

    “Setelah sepeninggalku nanti, janganlah kalian betindak (seperti) amalan orang-orang kafir, yang sebagian kalian memukul tengkuk (membunuh) sebagian yang lain.” (HR. Muslim)

    Saking besarnya perkara darah seorang Muslim, perkara ini menjadi hal yang pertama kali diadili di akhirat kelak. Dalam sebuah hadits disebutkan :

    (أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فيِ الدِّمَاءِ (متفق عليه)

    “Hal yang pertama kali diadili pada hari kiamata adalah urusan darah.” (HR. Bukhari Muslim)
    ————
    Harga darah seorang muslim sangat mahal disisi Allah.
    Pun seharusnya tak bisa dibuat murah oleh pelaku terorisme yang mengatasnamakan jihad. Bukankah bom yang diletakkan di tempat umum ada kemungkinan seorang muslim ikut terbunuh? Bukankah Ada diantara polisi itu orang-orang yang sujud dan menangis di sepertiga malam? Sungguh, Harga darah seorang muslim sangat mahal disisi Allah.
    ————

  7. Luqman

    @Abdurahman, jika sudah bicara ijtihad, berbicara “berusaha”, smua sudah paham maksudnya.

    Untuk penulis, nampaknya tdk pas jika dikaitkan dengan menghalalkan darah seorang muslim jika urusannya sudah ditangani pemerintah dalam hal penegakan hukum untuk kebaikan rakyat dan agamanya. Dalam hal ini sebagai satuan negara sudah selayaknya menjalankan tugas pemberantasan terorisme sesuai dengan prosedur yang berlalu, dan mustinya yang tertembak adalah benar2 seorang2 teroris.

    Adapun adanya kepentingan lain yang tercela dari densus, maka ucapan ustadz Abu Yahya saya kira berlepas diri dengannya.

  8. Batavia 1837

    “toean2… Sesiapa mao beli? Boedak terbaik, setia pada toeannja dari oejoeng ramboet sampai kakinja.. Bahkan hatija tak pernah sebersitpoen ada tjoeriga pada toeannja… Biarpoen mengakoe moeslim tetapi setia pada kita orang Hollandia.. Tjotjok betoel djadi pelajan dalam roemah, lebih setia daripada andjing herder Germania… Dikirim oleh Doraemon dari tahun 2015..”
    Bajangkan toean2.. Biar kata dia pernah begoeroe ke mekah, dia bela marechaussee (marsose-red.) kita.. Dia bahkan berfatwa.. ‘djikalaoe marechaussee salah bunuh orang Atjeh, baginja satoe pahala, moedjtahid keliroe katanja!’
    Ajoo… Siapa mao beliii…

    (dikirim dari Doraemon dari tahun 2015)

  9. kalaupun disebut ijtihad, itu tidak benar. karena menyalahi nash syara’. dalam perkara hukum-menghukum islam mengenal prinsip:

    ادرءوا الحدود عن المسلمين ما استطعتم فإن كان له مخرج فخلوا سبيله فإن الإمام أن يخطئ في العفو خير من أن يخطئ في العقوبة

    “hindarkanlah hukuman dari kaum muslimin sebisa mungkin, jika tersangka memiliki peluang bebas maka bebaskanlah, karena seorang imam itu salah dalam memaafkan lebih baik daripada salah dalam menghukum.” HR. At-Tirmidzi dll.

    asas praduga tak bersalah. maka menghukum mati seorang yang baru diduga belum melalui pembuktian yang sah melanggar hadits mulia di atas. pelakunya bukan mujtahid tapi mujrim (penjahat). yang menghalalkanpun demikian bukan mufti, tapi mudhill. wallaahu a’lam

  10. Abu Abdillah

    Wah kalau fatwanya kayak gitu, semua orang bisa menjadi mujtadih ramai-ramai bunuhin orang biarpun salah dapat satu pahala…., subhanallah..

  11. Abul Faruq

    jika hakim berijithad untuk melaksanakan hudud, sebelumnya telah melalui interogasi dari pihak2 yang bertikai dan telah melakukan penelitia n yg komprehensif sesuai dgn kaidah2 Islam, kemudian mereka menetapkan hudud kpd terdakwa..

    Nah Densus 88..?? tanpa melalui kaidah tsb langsung melakukan penembakan disaat mereka sedang Sholat, apakah pantas seseorang menilai ini sebagai ijtihad…?? Na’udzubillah…

  12. Cak Man

    Huss… !!
    Si Ustat dan si a Den kan patuh menjalankan ulil amri mereka. kan wajib itu.. (bagi mereka) :P

  13. johni

    pak Ustad,bagaimana jika yg membunuh itu non muslim? karena jika seperti itu,maka tentara amerika pun mendapatkan pahala dong??

  14. johni

    saran saya,sebaiknya ustad berlepas dirilah dari masalah seperti ini

  15. Anonymous

    hahaha NUers gak klarifikasi dulu, lihat tweet beliau disini

    https://twitter.com/UB_CintaSunnah/status/709857827398017024

  16. Terlepas tentang peristiwa pembunuhan terduga teroris oleh aparat keamanan maka saya berpendapat:
    1.Semoga peristiwa ini tak terjadi lagi;
    2.Semoga para Ahlus Sunnah wal Jamaah itu benar2 menjalankan
    manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaaj secara utuh seperti tak
    memberontak kepada pemerintah biarpun zhalim kecuali kafir
    dan menasehati pemerintah secar sembunyi2

  17. spiderman

    Ustadz salafi klo ngomong kayak gini dah gak aneh……

  18. Abu abdirrohman

    “TIADA IJTIHAD DALAM PERKARA DARAH SEORANG MUSLIM !!!” Kalo ada, coba sebutkan satu saja kalam as salaf ash sholih ttg ijtihad pada perkara darah muslim.

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Jamaah Anshar Syariah: Charlie Hebdo Menyerang Umat Islam!

KIBLAT.NET, Jakarta – Amir Jamaaah Anshar Syariah, Ustadz Muhammad Achwan menilai banyak pihak memandang penembakan...

Senin, 12/01/2015 09:00 0

Indonesia

Kongres Ketiga JITU, Tetapkan Agus Abdullah Sebagai Ketua

KIBLAT.NET, Jakarta –  Setelah berlalunya masa kepengurusan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) periode 2012-2015, Kongres ke III...

Senin, 12/01/2015 08:08 0

Eropa

Walikota dan Politikus Kristen Ajak Warga Jerman Lawan Gerakan Anti-Islam

KIBLAT.NET, Dresden – Ribuan imigran dan warga Jerman turun ke jalan pada Sabtu, (10/01) untuk memprotes...

Senin, 12/01/2015 07:34 0

Indonesia

Bantahan Bagi Pembela Charlie Hebdo, Ini Alasan Nabi SAW Pernah Memaafkan Penghina Dirinya

KIBLAT.NET, Jakarta – Di tengah hebohnya kasus penembakan terhadap majalah penghina Nabi, Charlie Hebdo, banyak...

Senin, 12/01/2015 07:00 2

Prancis

Isteri Penyerang Supermarket Yahudi Diduga Kabur ke Suriah

KIBLAT.NET, Paris – Polisi Perancis masih terus melakukan pengejaran terhadap Hayat Boumeddiene (26), yang merupakan istri...

Senin, 12/01/2015 06:24 0

Yaman

Syiah Houtsi Sesumbar Ancam Serbu Basis Utama Al-Qaidah di Yaman

KIBLAT.NET, Sanaa – Milisi pemberontak Syiah Houtsi telah mengancam akan menyerbu basis Al-Qaidah di wilayah timur Yaman...

Senin, 12/01/2015 06:00 0

Indonesia

Atas Dasar Kebebasan Pers, Charlie Hebdo Boleh Hina Nabi? Ini Reaksi Munarman

KIBLAT.NET, Jakarta – “Yang menyatakan Charlie Hebdo tidak bersalah karena alasan kebebasan pers, maka sudah pantas...

Senin, 12/01/2015 05:31 0

Asia

Hendak ke Malaysia, 98 Pengungsi Rohingya Ditangkap di Thailand

KIBLAT.NET, Bangkok – Polisi Thailand, pada Ahad, (11/01) mencegat konvoi kendaraan yang mengangkut 98 pengungsi Rohingya melalui...

Senin, 12/01/2015 05:00 0

Indonesia

Soal Charlie Hebdo, FUI: Eksekusi Mati Penghina Rasul Implementasi dari Al Quran

KIBLAT.NET, Jakarta – Sekjen Forum Umat Islam (FUI), Muhammad Al Khaththath menilai pandangan bahwa penghinaan...

Ahad, 11/01/2015 22:29 0

Manhaj

Khawarij menurut Syaikh Ibnu Taimiyah (3/5): Beberapa Perilaku Khawarij

Syaikh Ibnu Taimiyah menunjukkan beberapa perilaku Khawarij dan ibadah mereka. Sadar atau tidak, perilaku ini...

Ahad, 11/01/2015 20:00 1

Close