Jamaah Anshar Syariah: Charlie Hebdo Menyerang Umat Islam!

KIBLAT.NET, Jakarta – Amir Jamaaah Anshar Syariah, Ustadz Muhammad Achwan menilai banyak pihak memandang penembakan terhadap majalah penghina Nabi SAW secara parsial. Mereka hanya melihat Charlie Hebdo berurusan dengan pelaku penembakan, Kouachi bersaudara. Sehingga, mereka bukan menyambut gembira malah mengutuk para pelaku penyerangan.

“Mereka tidak menilai secara komprehensif, Charlie Hebdo itu menyerang umat Islam. Jangan hanya melihat secara individu, harus melihatnya secara kolektif. Karena, pelaku ingin membalas serangan yang dilakukan kepada Islam dan kaum Muslimin,” tegasnya kepada Kiblat.net, pada Ahad (11/01) di Jakarta.

Mengukur secara komprehensif peristiwa penyerangan Charlie Hebdo, menurut Ustadz Achwan sangat penting, sebab seseorang dapat melihat latar belakang peristiwa itu secara utuh, mengapa serangan seperti itu harus diterima majalah Perancis itu.

“Banyak umat Islam dibantai di mana-mana yang dipicu penghinaan seperti itu, kenapa banyak yang diam. Tetapi, ketika umat Islam melakukan pembalasan atas serangan terhadap Islam malah ikut-ikutan mencela, kadang umat Islam latah,” tuturnya.

Seperti diketahui, sejumlah pria bertopeng menyerbu kantor majalah Charlie Hebdo di Paris, Prancis, Rabu (7/1/2015) ketika sedang menggelar rapat redaksi. Mereka menembaki orang-orang yang ada di kantor bersebut, termasuk penjaga keamanan, sehingga menewaskan 12 orang.

Majalah Charlie Hebdo memang dikenal kerap menerbitkan kartun-kartun yang menghina dan melecehkan umat Islam serta simbol-simbolnya. Pada tahun 2007 Charlie Hebdo diperkarakan karena memuat kartun Nabi Muhammad, sehingga membuat marah umat Muslim dunia.

BACA JUGA  Disuntik Vaksin Sinovac, Jokowi Mengaku Agak Pegal

Majalah ini terbit sejak 1970, mendapat inspirasi namanya dari tokoh kartun Amerika, Charlie Brown. Sejak awal majalah ini diterbitkan untuk ?meledek? selebriti, politisi bahkan agama.

Pada 2006, Charlie Hebdo menjadi target utama umat Islam yang tidak menerima agamanya dilecehkan, setelah mencetak ulang 12 kartun Nabi Muhammad yang sempat diterbitkan harian Denmark, Jyllands-Posten.

Salah satu kartun menampilkan sebuah bom yang ditempatkan dalam sebuah surban memicu protes di negara-negara muslim. Namun, redaksi majalah ini selalu berkilah bahwa apa yang mereka lakukan adalah bagian dari kebebasan berekspresi.

 

Reporter: Bilal

Editor: Fajar Shadiq

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat