Oposisi Sekuler Suriah Tetapkan Pemimpin Baru

KIBLAT.NET, Istanbul – Koalisi Nasional untuk Revolusi Suriah dan Pasukan Oposisi (NSC), Ahad malam (04/12), akhirnya menetapkan Khalid Khawajah sebagai pemimpin baru, menggantikan pemimpin sebelumnya Hadi Al-Bahrah. Khawajah mendapatkan suara terbanyak sehingga berhak memenangkan jabatan utama di kekuatan oposisi sekuler Suriah itu.

Dalam pemilihan yang digelar di sela-sela konferensi NSC yang berlangsung selama 3 hari (Jumat sampai Ahad) itu, oposisi sekuler Suriah tersebut juga menetapkan posisi lima menteri dalam pemerintahan sementara Suriah. Posisi lima menteri itu menyempurnakan kementerian sebelumnya yang telah ditetapkan pemerintahan sementara Suriah.

Khawajah mendapatkan 56 suara dari total 109 anggota NSC yang memberikan suara. Sementara rival Khuwaijah, Nasr Al-Hariri, mendapatkan 50 suara.

Sementara wakil kepala NSC dimenangi Hisyam Marwa dengan 56 suara. Ia unggul sedikit dari lawannya, Nagha Al-Ghadri, yang mendapatkan 53 suara.

Di sisi lain, wakil kepala khusus untuk Kurdi masih kosong. Hal itu karena suku Kurdi tidak mencalonkan siapapun dalam pemilihan terbaru tersebut.

Sementara itu, posisi Sekretaris Jenderal NSC masih belum final. Hal itu karena pemilih belum bisa dikonfirmasi.

NSC terdiri dari posisi kepala, sekjen dan tiga wakil kepala termasuk di antaranya perempuan. Mereka mencoba membawa Suriah, selepas pemerintahan Bashar Assad, ke negara sekuler berlandaskan demokrasi.

Perlu diketahui, Khuwaijah sebelumnya menjabat sebagai Dubes NSC untuk Turki.

BACA JUGA  Yuk, Ikuti! Serial Webinar: Kiat Selamat Meski Hirup Udara Hoaks

Selain memilih pemimpin baru, Konferensi yang digelar NSC di Istanbul tersebut juga membahas perkembangan terakhir mengenai Suriah. Terutama tentang inisiatif Rusia yang berencana mempertemukan oposisi dan rezim di Moskow.

Sampai saat ini, oposisi sekuler Suriah masih belum memutuskan apakah menerima inisiatif Rusia itu. Masih banyak perbedaan di tubuh oposisi sekuler menanggapi rencana yang akan dilaksanakan pada akhir bulan ini tersebut.

Di sisi lain, Ikhwanul Muslimin Suriah dengan tegas menolak inisiatif Rusia itu. Mereka menganggap hal itu hanya menguntungkan rezim, mengingat Rusia adalah sekutu utama Bashar Assad.
Sumber: Al-Jazeera
Penulis: Hunef

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat