Usai Serangan Peshawar, Pakistan Bentuk Pengadilan Militer untuk Kasus Terorisme

KIBLAT.NET, Islamabad – Pakistan bertindak semakin agresif dengan membentuk pengadilan militer untuk mengadili sejumlah kasus terorisme menyusul peristiwa penyerangan Taliban Pakistan ke sekolah militer beberapa waktu lalu.

Perdana Menteri Nawaz Sharif mengatakan langkah itu akan membantu memastikan bahwa “para teroris akan membayar harga” atas semua tindakan Taliban.

Partai-partai politik Pakistan menyepakati pembentukan pengadilan baru dalam sebuah pertemuan yang membahas penanganan terorisme.

Sharif yang menjadi pembicara dalam pertemuan itu menjelaskan sedikit tentang pembentukan sejumlah pengadilan militer. Ia mengatakan kesepakatan itu telah menandai sebuah prestasi bersejarah bagi Pakistan.

Sebelumnya, ia mengatakan negara itu dalam “situasi luar biasa” yang membutuhkan “tindakan luar biasa,”. “Bangsa ini dan sejarahnya tidak akan mengampuni kita jika kita tidak melakukan apa-apa sekarang,” tambahnya

Ia mengatakan para politisi Pakistan “tidak harus menunggu tragedi lain menyerang sebelum kami akhirnya bangkit”.

Langkah-langkah lain yang telah disepakati diantaranya mengambil tindakan keras terhadap pidato yang dituding menyebarkan kebencian dan pendanaan sejumlah organisasi teroris.

Pemimpin oposisi Syed Khursheed Shah mengatakan pengadilan militer akan dibentuk dalam jangka waktu dua tahun.

“Hanya para teroris yang akan diadili di pengadilan tersebut dan ini tidak akan digunakan untuk tujuan politik,” katanya kepada kantor berita AFP.

Pakistan telah meningkatkan operasi anti-teror sejak serangan terhadap sekolah yang dikelola militer di Peshawar pada tanggal 16 Desember.

BACA JUGA  Human Rights Watch: Vaksinasi Warga Palestina Tanggung Jawab Israel

Pemerintah juga telah mencabut moratorium hukuman mati tak lama setelah serangan itu dan sejak itu Pakistan mengeksekusi enam tahanan.

Pihak militer juga meningkatkan kampanye melawan para kelompok militan di kawasan barat laut negara itu.

Pekan lalu, para pejuang Taliban menyerang sebuah sekolah yang dikelola militer di Peshawar, menewaskan 152 orang, termasuk diantaranya 133 anak-anak.

“Setelah tragedi Peshawar, Pakistan berubah menjadi negara yang tidak memberi tempat untuk terorisme, ekstremisme, sektarianisme dan intoleransi,” kata PM Sharif.

Namun PM Sharif lupa, semenjak operasi militer Pakistan digelar di wilayah tribal area enam tahun lalu, ribuan orang telah terbunuh. Sementara jutaan lainnya terlunta karena kehilangan tempat tinggal.

Operasi itu juga telah menangkap sekitar 600 mujahidin. Mereka kemudian dibunuh dan jasadnya dibuang begitu saja di padang pasir. Sementara dunia diam membisu. Ketidakadilan itulah yang kemudian memaksa Taliban Pakistan (TTP) membalas dendam.

 

Sumber: BBC

Penulis: Fajar Shadiq

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat