... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Hari Ibu, Menolak Feminisme Sejak Dahulu

Foto: Komite Kongres Perempuan Indonesia 1928. Sumber foto: thisisgender.com

KIBLAT.NET – 76 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1938, organisasi-organisasi perempuan Indonesia mengadakan Kongres Perempuan di Bandung. Kongres tersebut memutuskan agar setiap tanggal 22 Desember dijadikan sebagai Hari Ibu dengan semboyan “Merdeka Melaksanakan Dharma”. Maka, tulis Sujatin Kartowijono dalam bukunya Perkembangan Pergerakan Wanita Indonesia, kaum wanita mulai menghayati cita-cita Ibu Keluarga, Ibu Masyarakat, dan Ibu Bangsa.

Dengan adanya Hari Ibu, fungsi dan peran perempuan, oleh organisasi-organisasi perempuan Indonesia, dikembalikan pada tempatnya semula. Pasalnya, pada tahun-tahun tersebut telah lahir gerakan-gerakan feminisme yang menuntut persamaan hak antara laki-laki dengan perempuan, seperti Poetri Merdika yang didirikan pada tahun 1912 di Jakarta dengan bantuan Budi Utomo dan mempropagandakan gagasan-gagasannya mengenai emansipasi melalui koran mereka Poetri Merdika. Kemudian Istri Sedar, yang didirikan di Bandung pada tahun 1930, yang akhirnya berganti nama menjadi Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) setelah sembilan tahun Indonesia merdeka.

Corak feminis yang melekat pada Istri Sedar terlihat dari berbagai tulisan para anggotanya yang dimuat dalam koran mereka bernama Sedar, salah satunya dalam tulisan berjudul “Persamaan Hak dan Persamaan Kewadjiban”, bulan September-Oktober 1931, “Apakah kewadjiban dari perempoean Indonesia sekarang? Ialah bekerdja soepaja sebagai manoesia sepenoeh-penoehnja sebagai manoesia, jaitu soepaya diakui bahwa haknja haroes sama dengan lelaki,” tulis Sedar pada waktu itu.

Beberapa surat kabar perempuan dimasa silam. Sumber foto: Dok. pribadi Sarah Mantovani.

Beberapa surat kabar perempuan dimasa silam. Sumber foto: Dok. pribadi Sarah Mantovani.

Kemudian, seiring dengan pergantian rezim dan semakin berkembangnya pergerakan perempuan Indonesia yang ditandai dengan munculnya organisasi, lembaga-lembaga maupun pusat studi wanita yang beraliran feminisme, Hari Ibu seakan-akan telah tergantikan dengan Hari Perempuan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 08 Maret. Hari Perempuan dianggap lebih patut diperingati daripada Hari Ibu, karena kata “ibu” sendiri dituding mencerminkan penindasan bagi perempuan dan dianggap mempersempit ruang gerak perempuan.

Penolakan feminis terhadap domestikasi perempuan atau peran perempuan sebagai Ibu Rumah Tangga menuai dukungan dari seorang feminis Indonesia dengan melahirkan istilah “Ibuisme negara”. Istilah ini juga disebut-sebut sebagai respon atas Pancadharma yang dibuat pada era pemerintahan Soeharto.

BACA JUGA  Peran Ulama dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

Pemerintahaan pada era Soeharto saat itu, sebagaimana yang ditulis Dewi Candraningrum, dalam makalahnya yang berjudul “Negara, Seksualitas dan Pembajakan Narasi Ibu”, merumuskan peran kaum wanita ke dalam lima kewajiban (Pancadharma, pen) yaitu, pertama, wanita sebagai istri pendamping suami. Kedua, wanita sebagai ibu pendidik dan pembina generasi muda. Ketiga, wanita sebagai pengatur ekonomi rumah tangga. Keempat, wanita sebagai pencari nafkah tambahan. Kelima, wanita sebagai anggota masyarakat, terutama organisasi wanita, badan-badan sosial, dan sebagainya yang menyumbangkan tenaga kepada masyarakat.

Ibuisme negara dalam perspektif feminis merupakan Weltanschauung (pandangan dunia, pen) yang memangkas identitas eksistensial perempuan sebagai manusia seutuhnya. Darinya perempuan dibonsai, dipangkas, dikerdilkan, direduksi, pada arena domestik – sebagai istri, sebagai ibu, sebagai pendidik dan penanggung jawab terhadap anak, dan penyokong negara. Memenjara Ibu hanya pada fungsi-fungsi di atas juga dianggap feminis bersifat sangat Freudian, ekslusif, tidak egaliter, subordinatif dan represif terhadap perempuan.

Faktanya, gerakan-gerakan perempuan Indonesia pada masa lampau menolak persamaan hak berbungkus emansipasi, di sisi lain mereka tidak merasa disubordinasi, dieksklusifkan, diperlakukan represif, direndahkan maupun ditindas karena peran mereka sebagai Ibu Rumah Tangga maupun sebagai Ibu Pendidik.

Penolakan ini tercermin dalam koran-koran yang mereka tulis, seperti Soenting Melajoe pada edisi 31 Desember 1914, koran yang didirikan oleh Ruhana Kudus – Jurnalis Muslimah pertama di Indonesia asal Sumatera Barat. Intinya tertulis bahwa memuliakan perempuan tidak boleh melebihi martabat laki-laki,

“Maka dari sebab itoe haroeslah pada pikiran saja yang hina lagi bodoh ini soepaja kita bersama-sama memoeliakan perempoean kita itoe (tetapi) tidak boleh melebihi martabat laki-laki, soepaja perboeatan maasiat itoe tiada dilakoekan dengan begitoe gampang sekali dan dengan demikian ini terselamat bangsa kita dari pada kehinaan doenia dan nista bangsa-bangsa lain serta terpelihara mereka itoe daripada hoekoeman achirat jang siksa dan sengsara itoe.”

BACA JUGA  Peran Ulama dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

Kemudian, koran Isteri edisi Desember 1929 milik Perikatan Perempuan Indonesia (PPI), yang di dalamnya tergabung Jong Islamieten Bond Dames Afdeeling (JIB perempuan) dan Aisiyah, ikut menolak feminisme, “Dari sebab orang perempoean itoe dititahkan haloes badannja, lemboet pikirannja, lemah perasaannja, tidak sama dengan laki-laki, adalah kasar, koewat, keras, teristimewa perempoean itoe mengoeroes kewadjibannja sendiri seperti: mengandoeng anak, melahirkan, memberi air soesoe anak, mengasoeh, mendidik, dsb, maka tentoelah tidak dapat sempoerna akan mendjalankannja kewadjibannja sendiri. apakah baik kesehatan iboe jang sedang sedang dirinja mengandoeng anak, dengan beres bolehnja bekerdja di goedang-goedang? Apa kiranja bisa menggali goenoeng dengan berhenti melahirkan anak?? Apakah dapat berbaris dengan memberi air soesoe anaknja??? Apakah sempoerna bolehnja mengasoeh anaknja djika ia mendjadi poelitie (Polisi, red) atau resisir???. Soedahlah soedah!! Soenggoeh moestahil sekali dan tidak dapat, karena bertentangan dengan natuur.”

Selain itu, Pengurus Ibu Sibolga, Medan, melalui korannya Soeara Iboe edisi Juni 1932 juga menekankan agar pergerakan perempuan Indonesia jangan sampai seperti perempuan Barat.“Djadi semestinja bagi kita kaoem perempoean tentangan jang hendak madjoe dalam pergerakan itoe, hendaklah djangan sampai sebagai mereka (perempoean Barat)”.

Salah satu Panitia Peringatan Hari Lahir R.A Kartini, Soekarsih, juga menuturkan dalam artikelnya di koran Merdeka edisi 20 April 1946, bahwa perempuan Indonesia tidak perlu mengejar emansipasi. “Kini kita tidak begitoe perloe mengedjar “emansipasi” atau “persamaan hak” karena sebagian besar dari masjarakat kita telah menghargai kedoedoekan wanita.”

Penolakan-penolakan tersebut memperlihatkan bahwa organisasi-organisasi perempuan Indonesia yang pada tahun 1938 mengadakan kongres di Bandung membawa semangat anti-feminisme, selain menyerukan semangat anti imperalisme dan kolonialisme. Kalaulah para organisasi perempuan saat itu tidak membawa semangat anti-feminisme, pastilah mereka tidak menamakan hari perempuan dengan hari ibu.

 

Oleh: Sarah Mantovani – Mahasiswi pasca sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Dilansir dari: Situs Jejak Islam ~ http://jejakislam.net/?p=544

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Wilayah Terakhir Mujahidin di Homs Dihujani Bom Napalm

KIBLAT.NET, Homs – Militer Suriah kembali menggempur lingkungan Al-Wa’ar, wilayah terakhir yang masih dikontrol mujahidin...

Senin, 22/12/2014 15:00 0

Tarbiyah Jihadiyah

Serial Tazkiyatun Nafs Mujahid (2/7): Tiga Tanda Kemurnian Mahabbah

Artikel di bawah ini adalah lanjutan dari Serial Tazkiyatun Nafs Mujahid 1   Amalan hati...

Senin, 22/12/2014 14:10 0

Indonesia

Penjelasan Jilbab Syar’i Harus Dilakukan dengan Cara Bijak

KIBLAT.NET, Jakarta – Penjelasan terkait jilbab yang sesuai dengan syariat Islam atau jilbab syar’i tidak...

Senin, 22/12/2014 14:04 0

Indonesia

Pakar Fiqh: Penjelasan Jilbab Syar’i Itu Perlu

KIBLAT.NET, Jakarta – Wakil Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyoroti istilah jilbab syar’i, yang...

Senin, 22/12/2014 13:05 0

Irak

Sekjen Syiah Hizbullah Iraq Tewas di Diyala

KIBLAT.NET, Diyala – Sekretaris Jenderal Syiah Hizbullah Iraq sekaligus komandan Milisi Syiah Al-Mukhtar, Watsiq Al-Bathath...

Senin, 22/12/2014 12:30 0

Palestina

2 Hari Dibuka, Gerbang Rafah Dilintasi Ratusan Warga Gaza yang Hendak Berobat

KIBLAT.NET, Rafah – Ratusan warga Jalur Gaza, Ahad (21/12), berbondong-bondong menyeberang ke Mesir melalui perlintasan...

Senin, 22/12/2014 11:02 0

Indonesia

Mantan Pendeta Nilai Pemerintah Jokowi Mulai Pinggirkan Islam

KIBLAT.NET, Jakarta – Kristolog nasional sekaligus mantan pendeta, Ustaz Syamsul Arifin Nababan menilai beberapa wacana...

Senin, 22/12/2014 10:51 0

Konsultasi

Hukum Belanja saat Diskon Natal dan Tahun Baru

Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh Pada bulan Desember ini pusat-pusat perbelanjaan biasanya sering mengadakan diskon besar-besaran....

Senin, 22/12/2014 10:12 1

Info Event

Hadirilah Tabligh Akbar ‘Mewaspadai Kesesatan Syiah’ di Masjid Agung An-Nuur Riau

KIBLAT.NET – Hadirilah Tabligh Akbar “Mewaspadai Kesesatan Syiah” bersama para tokoh Islam, – Habib Achmad Zein...

Senin, 22/12/2014 10:11 0

Foto

Setelah Kontrol Wadi Dhaif, Inilah yang Dilakukan Mujahidin

KIBLAT.NET, Idlib – Minggu kemarin, mujahidin meraih kemenangan besar di pedesaan Idlib. Sebuah markas militer...

Senin, 22/12/2014 10:07 0

Close