... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Khalid Syaikh Muhammad, “Mastermind” Operasi Al-Qaidah

Foto: Khalid Syaikh Muhammad

Kongres Amerika Serikat, Rabu (10/12/2014) membahas penyiksaan oleh CIA (Central Intelligence Agency) yang dilakukan terhadap para tahanan Muslim di penjara AS ataupun penjara-penjara misterius di luar wilayahnya. Guantanamo di Kuba, Abu Ghuraib di Irak dan mungkin masih banyak lagi penjara-penjara “hantu” yang disembunyikan AS untuk menjalankan aksi kejamnya.

Hal ini sebenarnya pernah diungkap seorang jurnalis AS, Dana Priest, pada 2005 silam. Ia mengatakan kepada Washington Post, “CIA selama ini telah menyembunyikan dan menginterogasi beberapa tahanan penting yang didakwa sebagai Al-Qaidah di kamp-kamp zaman Soviet di Eropa Timur, sebagaimana pejabat AS dan pejabat asing telah akrab dengan sistem ini.”

Salah satu kamp penyiksaan milik CIA yang terletak di Teluk Guantanamo

Salah satu kamp penyiksaan milik CIA yang terletak di Teluk Guantanamo

Namun, apa yang dilakukan AS bukan suatu hal yang mengherankan. Kejahatan demi kejahatan seolah menjadi hobi tak terpisahkan dari negeri Paman Sam ini. Negara ini akrab dengan bentuk muka dua, satu sisi menyuarakan kebebasan dan kemerdekaan, tetapi kenyataannya bermain siksaan di belakang layar.

Salah seorang yang masih merasakan pedihnya siksaan itu hingga kini adalah Syaikh Khalid Muhammad. Ia memiliki pengalaman luas dalam jihad, sehingga dijuluki oleh Amir AQAP sebagai Khalid Al-Ashr (Khalidnya zaman ini). Namanya langsung menggaung pasca peristiwa 9/11. Ia digadang-gadang sebagai “mastermind” dalam serangan tersebut.

Syaikh Khalid memiliki pengetahuan luas dalam politik dan militer. Ia lahir di Pakistan pada 14 April 1965 (sumber lain mengatakan 1 Maret 1964) di Balochistan, Pakistan. Ia juga dikenal dengan nama Khalid Al-Balusy –dinisbatkan dari tempat kelahirannya.

Pihak intelijen mengenalnya dengan banyak nama; yaitu Mukhtar Al-Balusy, The Brain, Ashraf Refaat Nabith Hen, Khalid Abdul Wadud, Salim Ali, Fahd bin Abdallah bin Khalid, dan Abdul Rahman Abdullah Faqasi Al-Ghamdi.

Keluarga dan Pendidikan

Khalid Syaikh hidup di lingkungan keluarga yang terhormat dan intelek. Ayahnya bernama Maulana Abdul Karim. Setelah ayahnya lulus dari Universitas Darul Ulum Deoband India, ia membawa keluarganya pindah ke Kuwait. Jadi, meski Khalid terlahir di Pakistan tetapi ia tumbuh di Kuwait.

Mengingat ayahnya seorang yang berpendidikan, asupan pengetahuannya pun banyak. Ia dikenal sebagai seorang yang fasih berbahasa Arab, Inggris, Urdu dan Balochi. Putra Maulana Abdul Karim ini mengenyam pendidikan hingga lulus dari sekolah tinggi di Kuwait pada 1983.

Ketertarikannya terhadap dunia jihad sudah mulai tampak saat berumur 16 tahun. Pada usia itu ia sudah bergabung dengan Ikhwanul Muslimin. Selama mengeyam pendidikan di sekolah tinggi, tepatnya pada 1982, Khalid muda sudah mulai mendengarkan pidato Abdul Rasul Sayyaf yang berisi panggilan jihad melawan komunis Soviet.

Pasca lulus dari sekolah tinggi di Kuwait, calon mujahid besar ini melanjutkan studinya ke AS. Ia terdaftar di Chowan College di Murfreesboro, North Carolina. Kemudian dari sana ia pindah ke North Carolina Agricultural dan Technical State University. Studinya selesai pada tahun 1986, gelar BS (Bachelor of Science) pun berhasil diraihnya.

North Carolina Agricultural dan Technical State University

North Carolina Agricultural dan Technical State University

Setahun kemudian, minatnya kepada dunia jihad semakin tampak. Khalid Syaikh pergi ke Peshawar, Pakistan beserta saudaranya Zahid. Tujuannya adalah bergabung dengan mujahidin dan menghadiri kamp pelatihan Sada yang dikelola oleh Syaikh Abdullah Azzam. Setelah itu, ia bekerja untuk majalah Al-Bunyan Al-Marsus milik kelompok Uni Islam Pembebasan Afghanistan.

BACA JUGA  Mengejutkan! Anak-anak yang Menjadi Korban Meninggal Kerusuhan 22 Mei Bukan Cuma Harun Ar-Rasyid

Di akhir 1987-1988, Khalid sempat menggunakan keahliannya sebagai insinyur untuk bekerja di sebuah perusahaan hidrolik Jepang yang bernama MARUZEN –sebenarnya hal ini hanya digunakan untuk belajar manajemen perusahaan saja.

Selang satu bulan kemudian, Khalid Syaikh kembali ke pegunungan Afghanistan. Pengalaman bekerja di perusahaan hidrolik ternyata berguna ketika di Afghan. Ia mampu menggunakan pengalamannya untuk memperbaiki hidrolik yang rusak di front jihad garis depan di tanah Khurasan ini.

Tahun 1992, Khalid menerima gelar master dalam bidang sejarah dan budaya Islam melalui kelas korespondensi di Univesitas Punjab Pakistan. Setahun berikutnya ia menikah, kemudian memindahkan keluarga kecilnya ke Qatar karena faktor pekerjaan.

Kepindahannya ini atas saran Menteri Urusan Islami Qatar, Syaikh Abdallah bin Khalid bin Hamad Al-Thani yang menempatkan dia sebagai insinyur dalam proyek Departemen Qatar untuk pelistrikan dan air. Karena keterlibatannya dalam proyek ini, Khalid melakukan perjalanan internasional sampai awal tahun 1996.

Dari Filipina kembali ke Afghanistan

Filipina: Akhir 1994 hingga awal 1995, Khalid berada di Filipina. Di negara lumbung padi ini ia teridentifikasi sebagai seorang eksportir kayu lapis dari Qatar serta menggunakan nama Abdul Majid dan Salem Ali.

Di Filipina, Khalid bekerja sama dengan Ramzi Yusuf untuk melaksanakan operasi Bojinka. Rencana ini adalah serangan skala besar yang menargetkan Paus Yohanes Paul II pada 14 Januari 1995. Selain itu, mereka berencana meledakkan 12 pesawat penumpang AS di Asia beberapa hari kemudian. Namun, operasi ini tidak berhasil.

Atas keterlibatannya ini, Khalid mulai dilirik AS sebagai orang yang berbahaya. FBI mulai menggali informasi tentangnya tetapi belum memasukkannya ke dalam daftar pencarian.

Bosnia Herzegovina: Khalid benar-benar memanfaatkan kesempatan lawatan internasional ini. Ia mengunjungi Bosnia pada 1995 dan bekerja sebagai pekerja bantuan kemanusiaan di bawah nama Mesir. Bahkan, Khalid berhasil mendapatkan kewarganegaraan Bosnia pada November 1995.

Kembali ke Afghanistan: Pada awal 1996, Khalid mengendus akan ada penangkapan terhadap dirinya. Melalui penerbangan dari Qatar, ia melawat ke Afghanistan untuk menghindari penangkapan AS. AS mulai memburu Khalid karena keterkaitannya dengan operasi Bojinka yang gagal.

Mujahidin di Afghanistan

Mujahidin di Afghanistan

Di Afghanistan, Khalid bertemu dengan pimpinan utama Al-Qaidah, Syaikh Usamah bin Ladin. Mereka membicarakan rencana-rencana yang lebih besar dari Bojinka. Namun, pada saat itu Khalid belum menjadi anggota resmi Al-Qaidah.

Tahun 1997, Khalid berencana ingin bergabung dengan Jenderal Khattab di Chechnya. Namun, usaha ini tidak membuahkan hasil. Ia akhirnya menerima usulan Syaikh Usamah untuk berpindah ke Kandahar dan bergabung sebagai anggota Al-Qaidah. Di sini, ia diangkat sebagai Ketua Komite Media Al-Qaidah.

Serangan 11 September 2001

Pada awalnya, Khalid membicarakan rencana ini dengan pimpinan pusat Al-Qaidah. Sama seperti Operasi Bojinka yang melakukan pembajakan pesawat. Namun, Syaikh Usamah tidak menyetujui target potensial yang disarankan Khalid, yaitu menara Bank AS di Los Angeles.

BACA JUGA  Mereka yang Merugi di Bulan Ramadhan

Planning operasi besar ini sudah mulai dirancang sejak akhir 1998 atau awal 1999. Syaikh Usamah memberi dana dan persetujuan untuk mengatur segalanya. Untuk target yang ditentukan adalah World Trade Center, lambang perekonomian AS, Pentagon lambang militer AS dan US Capitol sebagai sumber kebijakan AS dalam mendukung Israel. Gedung Putih pun masuk dalam target yang akan dihancurkan.

Teknis dan aktor serangan telah ditentukan oleh Khalid. Sebelum serangan dilakukan, semua aktor yang ditunjuk bertemu langsung dengan pimpinan Al-Qaidah ini untuk membicarakan masalah target.

Akhirnya, Selasa 11 September 2001 operasi itu berhasil dilaksanakan. Dunia gempar dan AS merasa kecolongan akan sistem keamanannya. Karena kejadian ini ditambah dengan operasi Bojinka, Khalid Syaikh Muhammad masuk ke dalam daftar orang yang dicari AS tertanggal sejak 10 Oktober 2001.

Ilustrasi dalam bentuk gambar serangan 11 September 2001 terhadap menara kembar WTC

Ilustrasi dalam bentuk gambar serangan 11 September 2001 terhadap menara kembar WTC

Pada bulan April 2002, Khalid Syaikh Muhammad diwawancarai oleh wartawan Al-Jazeera Yosri Fouda. Ia mengaku terlibat dalam serangan 9/11 bersama dengan Ramzi bin Al-Shibh. Namun, ia menolak klaim bahwa dirinya adalah Kepala Komite Militer Al-Qaidah.

Khalid pun Tertangkap

Peristiwa 9/11 merupakan pukulan telak dan mematikan bagi AS. Jadi tak heran, AS benar-benar memburu siapapun dalang di balik kejadian itu. Khalid termasuk orang yang paling diburu karena diyakini sebagai “mastermind” 9/11 –walaupun dirinya mengelak ketika diwaancarai wartawan Al-Jazeera.

Akhirnya, Khalid Syaikh Muhammad ditangkap oleh ISI ( Inter-Services Intelligence) intelijen Pakistan yang kooperatif dengan CIA pada 1 Maret 2003. Penangkapan itu terjadi sekitar 20 km dari ibu kota Islamabad sebelah barat daya. Tepatnya di Rawalpindi, Pakistan.

Mulailah penyiksaan demi penyiksaan dilakukan AS kepada Khalid Syaikh. Terhitung sejak 2003, ia menjadi tahanan AS yang berkali-kali dipindahkan ke penjara-penjara “hantu” milik CIA. Khalid pernah merasakan penjara di Polandia, kemudian dipindahkan ke Rumania.

Pada September 2006, AS mengumumkan kepindahan Khalid ke penjara AS yang terkenal kejam penyiksaannya, Guantanamo. Sebuah penyiksaan yang sebenarnya telah dilarang dan AS pun setuju dengan pelarangannya. Yaitu penyiksaan waterboarding.

Model penyiksaaan waterboarding, membuat tahanan seolah-olah tenggelam

Model penyiksaaan waterboarding, membuat tahanan seolah-olah tenggelam

Model penyiksaan dengan menggunakan air ini tetap dilakukan CIA, padahal Amerika merupakan salah satu negara yang menandatangani “Konvensi Menentang Penyiksaan, Perlakuan Keji, Sanksi yang Kejam, atau Tidak Manusiawi”. Konvensi ini ditandatangani oleh Presiden Ronald Reagan pada 18 April 1988 dan disahkan oleh Senat pada tanggal 27 Oktober 1990.

Masih banyak model-model penyiksaan yang diterima Khalid di Guantanamo. Berbagai penyiksaan yang membuat bulu kuduk merinding. Dalam persidangan tahun 2007, Khalid mengaku diinterogasi menggunakan metode waterboarding sebanyak 183 kali. Ini di luar model-model interogasi lain yang lebih mengerikan.

Hingga saat ini, Khalid Syaikh Muhammad masih berada dalam penjara Guantanamo di Kuba. Mudah-mudahan Allah selalu meneguhkan iman dan islam-nya.

Hal ini mengingatan pada perkataan Ibnu Taimiyah saat di penjara, “Apa yang dilakukan oleh musuhku terhadap diriku? Surgaku dan kebunku berada di dalam hatiku, kemana pun aku pergi, ia selalu bersamaku. Penjaraku adalah khalwah (kesendirian)-ku. kematianku adalah syahidku. Pengasinganku dari negeriku adalah perjalanan wisataku.”

Bersabarlah wahai mujahid mulia…

Kemenangan dan pertolongan Allah sudah di depan mata…

 

Penulis: Dhani el_Ashim

Sumber:

http://www.muslm.org/

http://www.skynewsarabia.com/

https://justpaste.it/

https://www.wikipedia.org/

http://projects.nytimes.com/

http://www.theguardian.com/

http://www.biography.com/

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Opini

Opini Media dan Tragedi Sistemik Akhir Tahun 2014

KIBLAT.NET – Akhir tahun 2014 hampir menjelang, rentetan peristiwa terjadi silih berganti. Belum usai persoalan...

Jum'at, 19/12/2014 13:39 0

Indonesia

Warga Poso Ikut Pelatihan Militer Akibat Kegagalan Aparat Berikan Jaminan Keamanan

KIBLAT.NET, Jakarta – Penasihat hukum terdakwa kasus terorisme Poso membenarkan pelatihan militer yang dilakukan oleh...

Jum'at, 19/12/2014 11:16 0

Palestina

Jundu Ansharullah Gaza Akui Serangan Bom di Pusat Kebudayaan Perancis

KIBLAT.NET, Gaza – Jundu Ansharullah Palestina mengaku bertanggung jawab atas serangan bom di Pusat Kebudayaan...

Jum'at, 19/12/2014 10:45 0

Indonesia

Mustar Mengaku Simpan Senjata dan Ikut Pelatihan Bikin Bom Karena Takut Diserang

KIBLAT.NET, Jakarta – Saksi sekaligus terpidana kasus terorisme Poso mengatakan bahwa alasan dia menyimpan senjata...

Jum'at, 19/12/2014 10:25 0

Suriah

Bantu Assad, Milisi Syiah Afghanistan Telah Berada di Suriah Selama Berbulan-bulan

KIBLAT.NET, Damaskus – Milisi Syiah Afghanistan ternyata telah ikut berperang membela rezim Bashar Assad. Mereka...

Jum'at, 19/12/2014 10:10 0

Indonesia

Simpan Senjata, Mustar Diajak Hakim Bertanya kepada Tuhan

KIBLAT.NET, Jakarta – Salah seorang terdakwa kasus terorisme Poso mengaku menyimpan senjata karena ketakutan akan...

Jum'at, 19/12/2014 09:48 0

Qatar

Ratusan Tokoh Islam Desak Interpol Keluarkan Syaikh Yusuf Qardhawi dari Daftar Buronan

KIBLAT.NET, Doha – Ratusan tokoh dari berbagai negara baru-baru ini menggalang solidaritas untuk Syaikh Yusuf...

Jum'at, 19/12/2014 09:35 0

Indonesia

Divonis 5 Tahun, Kurir Mujahidin Indonesia Timur Minta Jalani Hukuman di Poso

KIBLAT.NET, Jakarta – Seorang terdakwa kasus terorisme Poso divonis hakim dengan hukuman penjara 5 tahun....

Jum'at, 19/12/2014 09:20 0

Suriah

Milisi Syiah Afghanistan Bertempur di Seluruh Wilayah di Suriah

KIBLAT.NET, Aleppo – Lembaga Pengawas HAM mengungkap bahwa milisi Syiah Afghanistan bertempur di barisan rezim...

Jum'at, 19/12/2014 09:10 0

Opini

9 Alasan untuk Tidak Mengucapkan Selamat Natal

Setiap masuk Bulan Desember, polemik ucapan selamat Natal senantiasa terulang. Memang, di bulan inilah hari...

Jum'at, 19/12/2014 09:00 0

Close