... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Waspada! Strategi Kontra Media

Foto: Ilustrasi

Nampaknya, perang informasi masih terus berlaku di era ini. Ketersediaan jaringan internet, telepon, sinyal TV dan radio dapat menjadi sebuah senjata andalan. Serangan publikasi dapat menjadi alat untuk merubah paradigma, kebijakan, pola pikir dan tindakan pencapaian. Inilah yang mulai disadari oleh mujahidin sebagai upaya penyebaran ideologi dan fikiran.

Serangan publikasi bukan lantas bebas tanpa perlawanan. Sebuah konsep terus dirancang dan dijalankan guna menangkal serbuan informasi dari mujahidin. Hal ini diakui sendiri oleh Menteri Dalam Negeri Inggris, Theresa May. Dikatakan dalam pidato terbarunya bahwa hal ini –publikasi oleh “teroris”—memiliki tingkat masalah tersendiri. Oleh karena itu ia berujar, “Kita perlu strategi penanggulangan terorisme yang komprehensif dan koheren.”

Pernyataan tersebut langsung disambut oleh oposisi Taliban. Para wartawan Afghanistan mulai mengurangi publikasi atas video-video serangan Taliban. Diantara tujuannya untuk membatasi dampak pesan yang ditularkan dalam video. Mereka juga akan meminta kepada Presiden Afghan untuk memblokir situs-situs publikasi Taliban.

Tindakan preventif ini memang meniru apa yang dilakukan Inggris. Pihak pemerintah Inggris sudah lama membatasi penggunaan internet dan sosial media. Media-media tersebut seringkali digunakan oleh mujahidin sebagai sarana publikasi dan perekrutan. Di samping itu, pesan-pesan mujahidin mudah tersampaikan dengan salauran media-media seperti ini.

Keuntungan lain yang didapat dari tersebarnya “pesan” lewat media adalah memiliki jangkauan yang lebih luas. Apalagi jika situs-situs web yang populer ikut serta memuat rilisan-rilisan para mujahidin. Situs-situs populer cenderung lebih digandrungi daripada situs-situs lokal yang baru rilis. Di samping, akses yang mudah untuk mengakses situs tersebut.

BACA JUGA  Peluang di Balik Wabah Corona, Pelajaran dari Jatuhnya Konstantinopel

Sebagaimana diungkapkan oleh sekretaris dalam negeri Inggris, “Penggunaan canggih mereka dari internet dan media sosial menjadikan mereka memiliki jangkauan propaganda yang signifikan di seluruh dunia.”

Seorang wartawan Afghan memberi komentar bahwa dengan mempublikasikan informasi mereka, justru dapat menjadi saluran komunikasi diantara mereka. Sebuah hasil operasi atau seruan yang dikeluarkan oleh komandan mereka dapat mendorong seseorang berbuat sesuai arahan sang komandan.

Dari sinilah kebebasan media dapat digunakan untuk berbicara sesuai dengan prinsip ideologi yang diinginkan. Selain itu, menyebarkan pesan-pesan moral bisa saja dapat dengan mudah diterima publik. Maka dari itu, terjadi dilema antara membiarkan paham kebebasan berbicara dan berpendapat dengan efek yang timbul darinya.

Seorang peneliti media, Dr Massoumeh Torfeh mengusulkan penanggulangan dengan cara lain, yaitu kontra opini berbentuk narasi. Salah satu yang menjadi contoh adalah mengumpulkan data –baik real atau mengada-ada—bahwa “para teroris” Taliban dalam aksinya juga membunuhi rakyat sipil. Selain itu menunjukkan permintaan mereka yang kontradiktif; mereka ingin tentara asing keluar dari Afghanistan, namun justru mereka malah memasukkan pejuang asing ke wilayah Afghan.

Upaya lain dalam bentuk narasi adalah adalah mengungkap kepalsuan-kepalsuan pernyataan teroris. Bahwa para penyampai atau pesan itu sendiri keluar dari sumber palsu yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Upaya-upaya seperti ini outputnya bisa dikeluarkan dalam bentuk siaran ke publik, membuat drama, diskusi, debat, dan berita liputan.

BACA JUGA  Peluang di Balik Wabah Corona, Pelajaran dari Jatuhnya Konstantinopel

Dr Torfeh menyoroti sebuah efek yang tak terlihat nyata dalam perang ini, yaitu terusiknya “keamanan psikologis” manusia. Ibarat batu yang ditetesi air. Kerasnya batu tidak dapat menghalangi tekanan berturut-turut dan kontinyu dari tetesan air. Lama-lama batu itupun menjadi cekung, bahkan bisa pecah.

Untuk itu, dia menyarankan perlu adanya koordinasi antar media. Sebuah rencana global yang terkoordinasi untuk melawan propaganda mujahidin. Hal ini nantinya akan berguna bagi wartawan untuk menangkal serangan mereka lewat jalur media. Hasil akhirnya tergantung masing-masing pihak. Bak hukum rimba, siapa yang kuat dan sanggup bertahan di belantara media, maka dialah rajanya.

 

Penulis: Ibas

Sumber: aljazeera.com

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

TPM: Langkah Polri Tetapkan Pemred Jakarta Post Sebagai Tersangka Sudah Tepat

KIBLAT.NET, Jakarta – Ketua Pelaksana Harian Tim Pembela Muslim, Ahmad Michdan,SH menilai langkah penyidik Polda...

Sabtu, 13/12/2014 10:17 0

Indonesia

Legalkan Miras, Ahok Dituding Dukung Kerusakan Masyarakat

KIBLAT.NET, Jakarta – Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas merasa aneh dengan tindakan Gubernur...

Sabtu, 13/12/2014 10:00 0

Artikel

Dr Iyad Qunaibi: Apa Keuntungan AS Merilis Kebiadaban CIA?

KIBLAT.NET – Laporan penyiksaan tahanan Muslim oleh CIA yang dirilis oleh pemerintah Amerik Serikat pada...

Sabtu, 13/12/2014 09:46 0

Irak

Daulah Eksekusi Anggotanya Sendiri Atas Tuduhan Spionase

KIBLAT.NET, Mosul – Daulah Islamiyah (IS) telah mengeksekusi beberapa anggotanya sendiri–termasuk di dalamnya para pejabat...

Sabtu, 13/12/2014 09:33 3

Investigasi

Bervisi Madinatul Iman, Kehidupan Islam di Balikpapan Sebenarnya Sangat Kondusif

KIBLAT.NET, Balikpapan – Kehidupan Islam di Balikpapan ini berlangsung sangat kondusif. Hampir rata-rata persoalan-persoalan kecil...

Sabtu, 13/12/2014 09:00 0

Wilayah Lain

OTK Tembaki Kedutaan Besar Israel di Athena dengan Kalashnikov

KIBLAT.NET, Athena – Orang tak dikenal (OTK) menembaki kedutaan besar Israel di Athena dengan menggunakan...

Sabtu, 13/12/2014 08:35 0

Afghanistan

Pesawat Tak Berawak AS Kembali Bunuhi Anak-anak di Afghanistan

KIBLAT.NET, Kabul – Setidaknya 15 orang tewas dalam serangan pesawat tak berawak (Drone) AS pada...

Sabtu, 13/12/2014 08:22 0

Indonesia

Aneh, PBNU Merasa Wajar Intelejen Barat Ikut Pemberantasan Terorisme di Indonesia

KIBLAT.NET, Jakarta – Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), Slamet Effendy Yusuf menilai sangat wajar bila...

Sabtu, 13/12/2014 08:00 0

Indonesia

Ancaman Hukuman Bagi Pemred The Jakarta Post Dianggap Terlalu Ringan

KIBLAT.NET, Jakarta – Direktur An-Nashr Institute, Munarman, SH mengapresiasi langkah penyidik Polda Metro Jaya yang...

Sabtu, 13/12/2014 07:25 0

Investigasi

MUI Balikpapan: Ngeri Juga Ini, Balikpapan Didatangi Pengungsi Syiah

KIBLAT.NET, Balikpapan – Sekretaris MUI Kota Balikpapan, Drs. HM. Jaelani mengungkapkan, belakangan ini situasi kondusif...

Sabtu, 13/12/2014 07:00 0

Close