Said Aqil: Tolak Negara Khilafah Kecuali Khilafah Nasionalis!

KIBLAT.NET, Jakarta – Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj menolak aliran maupun bentuk negara khilafah di Indonesia, kecuali jika itu khilafah nasionalis. Menurutnya, dalam berbangsa dan bernegara mengemban dua amanah, yakni amanah agama dan kebangsaan.

”Artinya kita semua harus menolak bentuk aliran dan bentuk negara serta khilafah apapun kecuali khilafah nasionalis, karena kita sebagai bangsa Indonesia mengemban dua amanah itu, yaitu amanah agama dan amanah kebangsaan. Apalagi, ISIS sudah jelas bertentangan dengan Islam, sehingga tak mungkin dibiarkan berkembang di negeri ini,” terang Said diskusi publik ’Indonesia Menolak ISIS’ bersama Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj, dan Sekjen DPP PKB Abdul Kadir Karding di ruang Fraksi PKB, Selasa (4/11).

Said menambahkan, banyaknya negara Islam khususnya di Timur Tengah seperti IraQ, Suriah, Libya, Afghanistan, dan Yaman yang dilanda konflik berdarah akibat tidak punya komitmen untuk menyelamatkan bangsanya.

“Jadi, pertumpahan darah atas nama Islam termasuk yang dilakukan ISIS sangat memalukan sekaligus merontokkan peradaban Islam itu sendiri. Karena itu kita wajib mengawal dan menjaga NKRI ini,” pungkas Said Aqil.

Hal serupa sebelumnya telah ditegaskan Said, ia menegaskan nasionalisme merupakan konsep yang cukup sempurna untuk kekhalifahan atau kepemimpinan bagi negara yang penuh dengan keragaman agama, suku dan budaya keragaman seperti Indonesia.

“Bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, sudah final, tidak bisa diganggu gugat,” ujar Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siraj dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta, Ahad (2/10) seusai Munas dan Konbes NU seperti dikutip dari republika.

BACA JUGA  DSKS Kukuhkan Struktur Kepengurusan Baru

Untuk itu, ide Khilafah Islamiyah harus menyesuaikan dengan kondisi yang ada di sebuah negara. “Bahwa Indonesia harus ada kholifah, itu iya. Namun juga harus ada sinergi Khilafah dengan semangat wathoniah, kebangsaan dan nasionalisme,” ujar Said.

Penekanan NU terhadap ide nasionalisme kebangsaan inilah yang membedakan gagasan Khilafah Islamiyah NU dan Khilafah Islamiyah organisasi lain. “Khilafah harus tetap nasionalis, memiliki semangat kebangsaan. Dan ini berbeda dengan konsep khilafah HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dan ISIS,” ujar Said.

Untuk diketahui, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Sutarman mengklaim puluhan warga negara Indonesia telah bergabung dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Beberapa di antaranya telah terbunuh dalam pertempuran.

Hal itu dikatakannya, dalam acara Rakornas Kabinet Kerja di Kemeterian Dalam Negeri, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (4/11).

Menurut Sutarman, informasi yang diperoleh kepolisian menunjukkan baru 10 dari 97 WNI itu telah kembali ke Indonesia. Karenanya, perlu ada kesamaan gerak langkah antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan kepolisian guna membendung gerakan radikalisme yang bisa berubah menjadi terorisme, seperti dikutip dari Vivanews.

 

Sumber: Tribun, VivaNews

Penulis: Qathrunnada

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat