Parlemen Libya Umumkan Beraliansi dengan Khalifah Haftar

KIBLAT.NET, Tobruk – Parlemen Libya menyatakan telah beraliansi secara formal dengan mantan jenderal Khalifah Haftar, Pengumuman itu dikeluarkan saat parlemen tengah berjuang untuk menegaskan kembali otoritas mereka di negara yang tengah bergolak itu.

Tiga tahun setelah penggulingan Muammar Qaddafi, negara gurun penghasil minyak itu jatuh dalam kekacauan. Sejumlah milisi saling berperang memperebutkan wilayah dan pengaruh. Sementara, angkatan bersenjata reguler telah menyusut secara drastis kemampuannya.

Salah satu faksi bersenjata telah menguasai Tripoli, menyiapkan dewan negara dan administrasi sendiri di ibukota serta memaksa pemerintah yang diakui secara internasional melarikan diri dan berlindung di wilayah timur Libya.

Khalifah Haftar, seorang mantan jenderal di era Qaddafi, adalah salah satu dari puluhan komandan pasukan yang menyerukan agar digelarnya operasi militer di negara itu. Pekan lalu, pasukannya melancarkan serangan baru terhadap milisi Islamis di kota timur Benghazi.

Parlemen resmi Libya yang telah pindah ke kota Tobruk di wilayah timur jauh, menyetujui ‘operasi karamah’ yang dilancarkan Haftar. Parlemen Libya memberikan peran resmi kepada Haftar, demikian juru bicara parlemen Farraj Hashem mengatakan.

“Operasi Karamah dipimpin oleh para petugas dan tentara dari militer Libya… Operasi karamah adalah sebuah operasi militer Libya,” katanya pada Ahad malam (19/10).

Langkah ini bertentangan dengan seruan terakhir parlemen, yang mengajak kepada semua milisi agar melucuti senjatanya untuk membantu memulihkan ketertiban dan membangun kembali negara.

Keputusan untuk mendukung Haftar kemungkinan akan memperburuk konflik antara parlemen yang bersekutu dengan pemerintah Perdana Menteri Abdullah al-Thinni yang diakui secara internasional, dengan penguasa baru Tripoli.

Kedua lembaga yang diakui internasional saat ini berbasis di Libya timur, sejak kelompok bersenjata dari kota barat Misrata menguasai Tripoli pada bulan Agustus dan mendirikan dewan negara dan pemerintah sendiri di sana.

Faksi Misrata menuding Haftar sebagai loyalis Qaddafi yang mencoba melancarkan kontra revolusi bersama mantan pejabat rezim Qaddafi lainnya. Haftar membantu Qaddafi merebut kekuasaan pada tahun 1969, tetapi berselisih dengan Qaddafi pada tahun 1980-an.

Negara-negara Barat dan negara Arab tetangga khawatir konflik di Libya akan menyeret negara Afrika Utara itu menuju perang saudara sangat besar.

Bulan lalu, PBB menggencarkan pembicaraan antara parlemen dan anggota parlemen Misrata yang memboikot parlemen dan yang memiliki hubungan dengan dewan negara di Tripoli. Sejauh ini, belum ada laporan kemajuan dari pembicaraan itu.

 

Sumber: Worldbulletin

Penulis: Qathrunnada

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat