AS dan Negara Eropa Sepakat Takkan Ambil Opsi Militer di Libya

KIBLAT.NET, Benghazi – Amerika Serikat dan empat negara Eropa menyerukan diakhirinya kekerasan yang berlangsung di Libya.

Dalam sebuah pernyataan, pemerintah Perancis, Italia, Jerman, Inggris dan Amerika Serikat mengatakan bahwa mereka “sepakat tidak akan melakukan solusi militer untuk krisis Libya”. AS dan Eropa juga kecewa atas tidak dihormatinya seruan gencatan senjata.

Puluhan orang telah tewas di Benghazi pada hari-hari pertempuran antara aliansi milisi Islam Fajar Libya dengan pasukan pro-pemerintah yang dipimpin oleh mantan Jenderal Khalifa Haftar, yang memulai serangan pada hari Rabu.

Pernyataan bersama menyuarakan keprihatinan atas serangan Haftar dan mengatakan, “memerangi organisasi teroris hanya dapat berkelanjutan jika ditangani oleh angkatan bersenjata reguler di bawah kendali pemerintah pusat”.

Libya telah gagal membangun pasukan keamanan negaranya dan melucuti milisi yang membantu penggulingan Muammar Gaddafi, yang memerintah negara itu selama 42 tahun sampai kejatuhannya pada tahun 2011.

Haftar telah meminta warga sipil untuk bergabung dengan pasukannya menyerang milisi di kota barat Kikla, selain di Benghazi di wilayah timur Libya.

Warga sipil terjebak di tengah pertempuran, sementara persediaan logistik menipis di wilayah yang terkena pertempuran. PBB telah mengusulkan gencatan senjata selama empat hari di Kikla untuk memfasilitasi pengiriman bantuan kemanusiaan.

Namun, AS dan empat sekutu Eropa itu mengecam Ansar al-Sharia, anggota dari Fajar Libya, dan mengatakan “kebebasan di Libya sangat beresiko, jika kelompok jihad di Libya dan internasional diperbolehkan menggunakan Libya sebagai ‘basis aman'”.

Pernyataan itu juga mengancam akan memberi sanksi kepada individu yang “mengancam perdamaian, stabilitas, keamanan Libya, menghalangi atau melemahkan proses politik”.

Libya memiliki dua pemerintah yang bersaing untuk mengontrol negara. Setelah kelompok bersenjata dari kota barat Misrata merebut ibukota Tripoli pada bulan Agustus, pemerintah Perdana Menteri Abdullah al-Thinni terpaksa menarik diri ke timur.

Seperti diketahui, Khalifa Haftar yang didukung barat telah melancarkan kampanye militer bersandi ‘Operasi Karamah’ untuk memerangi mujahidin libya yang ingin menegakkan syariat Islam di Benghazi.

 

Sumber: Aljazeera

Penulis: Qathrunnada

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat